Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sebuah Hukuman


__ADS_3

Minak Jinggo dan Wicaksana tampak bingung saat Sabrang membawa dua buah penampung air dan menaruhnya dihadapan mereka. Dia kemudian melubangi masing masing penampung air seukuran gagang pedang sebelum duduk dihadapan mereka.


Senyum penuh percaya diri tampak mengembang di bibir Minak Jinggo saat melihat Sabrang melubangi kedua penampung air itu, dia sudah mengerti hukuman apa yang akan diberikan padanya dan Wicaksana.


Bukan tanpa alasan jika Minak Jinggo sangat percaya diri kali ini karena hukuman seperti itu sudah sering diberikan Ageng padanya dan dengan kemampuannya, dia hanya butuh waktu beberapa jam untuk membuat penampung air itu terisi penuh.


"Apa yang kalian lakukan kemarin benar benar membuatmu marah, andai aku terlambat datang, mungkin akan ada yang terbunuh,," ucap Sabrang dingin sambil menatap tajam keduanya.


Wicaksana langsung menundukkan kepala dan tak berani membalas tatapan Sabrang, dia belum cukup gila untuk membantah orang yang paling hormati Wardhana yang merupakan ketua sekte Angin biru.


Namun berbeda dengan Wicaksana, Minak Jinggo tampak tidak terlalu perduli dengan apa yang dikatakan Sabrang, dia masih menganggap semua tak adil baginya.


"Bukankah para pendekar akan selalu dekat dengan kematian? jika takut mati seharusnya mereka tidak memilih jalan menjadi seorang pendekar," jawab Minak Jinggo mengejek.


"Sepertinya kau sangat percaya diri dengan bakat dan kemampuanmu sampai berani merendahkan orang lain, apa kau sudah merasa kuat saat ini?" tanya Sabrang tajam.


"Apakah sebuah kesalahan jika aku bangga dan percaya diri dengan bakat ini?" jawab Minak Jinggo penuh percaya diri.


"Tidak ada yang salah dengan semua itu tapi caramu menggunakan bakat besar untuk bersenang senang dan merendahkan orang lain itulah yang salah. Apa kau pikir hanya dirimu yang memiliki bakat besar? aku bahkan bisa membunuhmu hanya dengan satu serangan," ucap Sabrang pelan.


"Semua pendekar akan menjadi hebat dan tak terkalahkan jika memiliki kekuatan pedang Naga Api, termasuk aku," jawab Minak Jinggo mengejek.


Tantri yang ikut mendampingi Sabrang langsung tersulut emosinya saat mendengar ejekan Minak Jinggo,


"Kata katamu sudah sangat keterlaluan Jinggo, apa kau tau siapa yang sedang bicara padamu?" bentak Tantri kesal.


"Seorang pendekar yang beruntung karena mendapatkan kekuatan Naga Api, apa aku salah?"


"Kau..." Tantri hampir saja mencabut pedangnya andai Sabrang tidak memberinya tanda untuk diam.


"Jadi kau menganggap bisa mengalahkan aku andai menggunakan pedang Naga Api?" Sabrang tiba tiba mengeluarkan pedang Naga Api dan menancapkan nya di tanah.


Semua tersentak kaget saat Sabrang menancapkan pedang itu di tanah, mereka benar benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya.


"Yang mulia..." ucap Tantri khawatir.


"Bagaimana jika kita bertarung sebelum aku menghukum kalian? kau gunakan pedang Naga api dan aku akan menggunakan ranting ini. Jika kau bisa mengalahkan aku, selain terbebas dari hukuman, pedang itu akan jadi milikmu," ejek Sabrang sambil menyambar ranting pohon didekatnya.


"Apa kau sedang bercanda? kau bisa menangis darah jika sampai kehilangan pusaka terkuat itu," jawab Minak Jinggo cepat.


"Pedang Naga Api tak lebih dari sebuah alat untuk menyalurkan kekuatanku, lalu apa yang harus aku khawatirkan? energi Naga api mungkin yang terkuat di dunia persilatan tapi tanpa tubuhku, pedang itu hanya akan menjadi besi tua," balas Sabrang.


"Apa aku boleh membakarnya? sepertinya otaknya sedikit terganggu setelah bertarung dengan Mandala," ucap Naga Api kesal.


"Kau harus bersabar bodoh, dia sedang menjelaskan jika seorang pendekar tidak boleh hanya mengandalkan sebuah pusaka," jawab Anom sambil terkekeh.


"Tapi apa harus menyebutku besi tua?" jawab Naga Api kesal.


Minak Jinggo menatap Sabrang cukup lama sebelum mengangguk sebagai tanda setuju, tak ada yang akan menyianyiakan kesempatan mendapatkan pusaka yang paling diinginkan semua pendekar di dunia persilatan itu.


Walau Minak Jinggo menyadari Sabrang jauh lebih kuat darinya saat ini tapi dengan pedang Naga Api dan jurus api abadi dia cukup yakin mampu mengimbanginya.


"Jangan pernah kau menyesali keputusanmu hari ini!" Minak Jinggo bangkit dan menyambar pedang itu.


"Apa aku bermimpi?...Pedang Naga api berada di genggamanku?" Minak Jinggo menatap pedang itu tak percaya, hiasan Naga kembar di gagang pedang yang seolah siap menyemburkan api membuat kesan pusaka itu semakin menakutkan.


"Mundur!" ucap Sabrang pada Tantri dan Wicaksana.

__ADS_1


Mereka berdua hanya mengangguk pelan sambil melompat mundur, mereka sadar sebentar lagi pertarungan dahsyat akan segera terjadi.


"Aku tidak tau apa yang sedang kau rencanakan tapi kau melakukan kesalahan besar dengan menyerahkan pedang ini padaku," ucap Minak Jinggo sebelum bergerak menyerang.


"Lihatlah guru, aku akan mengalahkan murid kesayanganmu ini," Minak Jinggo terlihat akan menggunakan jurus Api abadi tingkat lima sebelum tiba tiba lengannya terasa panas saat pedang Naga Api menguarkan kobaran api merah.


"Apa yang terjadi?" ucap Minak Jinggo sebelum melempar pedang itu ke tanah.


"Tarian Rajawali," Sabrang memutar tubuhnya dan menyabetkan ranting pohon itu ke beberapa bagian tubuh Minak Jinggo yang membuatnya terlempar beberapa langkah.


Minak Jinggo bukan tidak berusaha menghindar namun gerakan pedang yang diperlihatkan Sabrang benar benar membuatnya terdesak.


Hal yang membuat Minak Jinggo semakin terkejut adalah setiap serangan Sabrang tidak mengandung tenaga dalam besar tapi sangat mematikan.


"Apa yang sudah kau perintahkan pada pedang itu?" teriak Minak Jinggo kesal sambil menatap telapak tangannya yang memerah akibat terbakar.


"Apa yang aku lakukan? jangan bilang kau tidak tau bahwa pedang Naga Api adalah satu satunya pusaka yang memilih tuannya sendiri dan jika kau terbakar saat menggunakannya itu artinya dia tidak memilihmu," jawab Sabrang sambil mengambil pedang Naga Api dan melemparkannya kembali kearah Minak Jinggo.


Minak Jinggo menatap Sabrang dan pedang naga Api bergantian, dia terlihat ragu untuk menggenggam pedang itu lagi.


"Jadi kabar tentang pusaka Naga Api yang memilih sendiri tuannya benar? pedang itu bahkan tidak ingin disentuh selain tuannya," ucap Minak Jinggo dalam hati.


"Apa kau takut? kemana perginya bakat yang tadi kau banggakan? ambil pedang itu atau kau akan terbunuh," ejek Sabrang sebelum kembali bergerak menyerang.


Minak Jinggo kembali menyambar pedang Naga Api, dia masih yakin mampu menaklukkan Naga api dengan kemampuannya.


Minak Jinggo memusatkan tenaga dalam di tangan kanannya untuk menekan api keluar dari pedangnya namun sekuat apapun dia mencoba menekan kobaran api itu justru semakin meluap keluar.


"Lepaskan tangan kotormu dariku!" sebuah suara mengejutkan Minak Jinggo sebelum kobaran api semakin membesar dan membakarnya.


Minak Jinggo terpaksa melepaskan kembali pedang Naga api sambil berusaha menghindari serangan Sabrang yang terarah padanya.


Sabrang tampak tersenyum kecil sebelum merubah gerakan pedangnya, dia terlihat menari seolah memiliki mata di seluruh tubuhnya saat menghindari semua serangan tapak peregang sukma dengan sempurna.


"Bakat besar dan tubuh istimewa tak akan pernah bisa membuatmu menjadi kuat jika tujuanmu hanya untuk bersenang senang dan merendahkan orang lain," Sabrang memutar rantingnya dan meningkatkan kecepatan ketika melihat celah di pertahanan Minak Jinggo.


"Tarian Iblis Pedang," ranting ditangan Sabrang menghantam tubuh Minak Jinggo cukup keras yang membuatnya terlempar beberapa langkah.


"Bagaimana mungkin... dia bahkan tidak menggunakan tenaga dalam sama sekali," umpat Minak Jinggo kesal saat tubuhnya membentur baru besar.


Sabrang berjalan mendekati Minak Jinggo setelah mengambil pedang naga api. Kobaran api tampak kembali membesar sebelum masuk kedalam tubuh Sabrang.


"Naga Api adalah pusaka terkuat yang tidak memilih tuannya hanya dari bakat yang dimiliki karena dia percaya kekuatan terbesar seorang manusia tidak hanya soal bakat tapi tekad untuk terus menjadi yang terkuat demi melindungi sesama. Selama kau masih menganggap ilmu kanuragan hanya untuk kesenangan dan tanpa tujuan jelas maka selamanya kau akan menjadi pendekar lemah!" ucap Sabrang pelan.


"Sepertinya kepalanya tidak terganggu, kau dengar ucapannya tadi? aku adalah pusaka terkuat," ucap Naga Api sombong.


"Dan sekarang isi kepalamu yang terganggu Naga Api, kau begitu mudah berubah hanya dengan sedikit pujian," ejek Anom sinis.


Minak Jinggo terdiam sambil menahan amarah, dia merasa benar benar dipermalukan dihadapan Wicaksana dan Tantri, namun tanpa dia sadari setelah pertarungan tadi, rasa kagum pada Sabrang mulai tumbuh.


"Apa masih ada yang ingin kalian katakan?" tanya Sabrang tajam.


"Hamba siap menerima hukuman, Yang mulia," sahut Wicaksana cepat.


"Kau?" Sabrang menoleh kearah Minak Jinggo yang dengan cepat membuang wajahnya kesal.


"Baik, aku anggap tidak ada lagi yang menentang, sekarang akan kukatakan hukuman kalian," ucap Sabrang sambil berjalan mendekati dua buah penampung air yang tadi dia lubangi.

__ADS_1


"Kalian liat air terjun itu? aku ingin wadah air ini terisi penuh secara bersamaan. Ingat secara bersamaan, jika sampai salah satu terisi penuh lebih dulu maka kalian harus mengulang kembali dan aku akan melubangi lagi bagian lain dari wadah air ini," ucap Sabrang sebelum duduk di dekat penampung air.


"Secara bersamaan? apa kau bercanda? dengan lubang yang ukurannya berbeda, bagaimana mungkin wadah air ini terisi penuh secara bersamaan?" Minak Jinggo langsung protes dengan peraturan yang dibuat Sabrang.


Dia bisa saja mengisi penuh wadah air itu dengan mudah dalam waktu beberapa jam tapi sangat mustahil jika harus bersamaan dengan milik Wicaksana.


"Aku tidak perduli bagaimana kalian akan melakukannya, ini adalah hukuman dari kekacauan yang kalian buat kemarin dan jika sampai besok belum berhasil, aku akan menambah lubang lainnya," jawab Sabrang enteng.


"Kau sengaja memberi hukuman yang tidak akan bisa kami lakukan!" teriak Minak Jinggo kesal.


"Apa kau menyerah? kemana bakat yang tadi kau banggakan?" ejek Sabrang kembali.


"Apa yang dikatakan Yang mulia benar, dari pada hanya bicara, bukankah lebih baik kalian bekerja sama demi menghindari hukuman yang lebih berat?" sahut Tantri cepat.


"Kalian akan menerima balasannya," umpat Minak Jinggo sebelum melesat pergi kearah air terjun dan mengejar Wicaksana yang lebih dulu berlari.


"Apa mereka akan berhasil Yang mulia? mereka tidak akan pernah bekerja sama karena sejak awal bertemu mereka selalu bertengkar," tanya Tantri pelan.


"Bukan hasilnya yang aku inginkan tapi sesuatu yang ada didalam diri mereka akan membuat Hibata menjadi kuat," jawab Sabrang pelan.


"Walau hamba tidak ingin mengakuinya tapi dengan bakat yang dimiliki, suatu saat mereka akan menjadi pendekar kuat, Yang mulia," jawab Tantri sopan.


"Mereka? apa kau tau, siapa pendekar pertama yang aku minta masuk Hibata? kau orangnya," balas Sabrang.


"Hamba? tapi Yang mulia..." Tantri tampak terkejut setelah mendengar ucapan Sabrang.


"Aku selalu kagum pada kelompok Teratai merah, bakat yang kalian miliki sangat unik walau selain nenek Wulan Sari belum ada yang berhasil memaksimalkan bakat itu dan diantara semua murid nenek, kau yang paling menonjol. Bersama Gendis, kalian akan menjadi kekuatan baru dunia persilatan," ucap Sabrang.


"Tapi Yang Mulia.. hamba..."


"Tenang saja, aku sudah meminta ibu mengajarimu, kau akan menjadi pendekar kuat suatu saat nanti," potong Sabrang cepat.


"Ibu ratu?" wajah Tantri menjadi semakin pucat, tak pernah terbayang dalam pikirannya akan di didik langsung oleh pendekar wanita yang mungkin saat ini adalah yang terkuat.


"Apa kau keberatan?" tanya Sabrang bingung.


"Maaf Yang mulia, bukan seperti itu, tapi hamba takut karena hubungan Ibu ratu dan guru yang kurang baik akan..."


"Kau tenang saja, nenek sihir itu urusanku."


"Suara ini?" Tantri menoleh kebelakang dan menemukan Sekar Pitaloka bersama Mentari sudah berada di dekatnya.


"Ibu ratu? nyonya selir?" Tantri langsung berlutut dihadapan Sekar Pitaloka dan Mentari.


"Kau akan jauh lebih kuat dari nenek sihir itu dibawah bimbingan aku dan Tari," ucap Sekar Pitaloka.


"Kalian sudah sampai?" sapa Sabrang sebelum bangkit dari duduknya.


Sekar Pitaloka mengangguk pelan, sedangkan Mentari tampak menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Apa mereka anggota Hibata yang baru?" tanya Sekar saat melihat Minak Jinggo dan Wicaksana bertengkar di kejauhan.


Sabrang terkekeh saat melihat wajah bingung Ibunya.


"Mereka akan menjadi pendekar kuat suatu saat bu, aku yakin itu," jawab Sabrang sebelum memegang lengan Mentari.


"Ibu, ada yang ingin aku bicarakan dengan Tari, tolong awasi mereka sebentar," Sabrang memeluk tubuh Mentari sebelum membawanya pergi.

__ADS_1


"Yang mulia," wajah Mentari memerah seketika, dia benar benar tidak menyangka Sabrang akan menyambar tubuhnya dan melesat pergi.


__ADS_2