
"Siapa yang anda maksud dengan mereka tetua?". Sulis menatap pria tersebut bingung. Sabrang masih memperhatikan mereka tanpa berbicara apapun.
"Pergilah dan tolong sampaikan pada tetua aliran putih untuk berhati hati, Lembah siluman sedang berusaha bangkit".
Sulis terkejut mendengar perkataan pria tersebut, Lembah siluman adalah sekte kuno yang telah hancur ratusan tahun lalu bagaimana bisa mereka bangkit kembali.
"Tetua aku diutus oleh nona Arkadewi untuk membawa anda pergi dari sini, kita bicarakan nanti masalah itu".
"Ah nona Arka terlalu baik hati namum semua tidak semudah yang kalian bayangkan. Kalian tidak akan mampu keluar dari sini".
"Mundurlah paman, biar kuhancurkan pintu ini". Sabrang melangkah mendekat dan menempelkan telapak tangannya di pintu.
"Percuma anak muda, kalaupun kau berhasil menghancurkan pintu itu namun kita tetap tidak akan bisa keluar dari sini" Pria tersebut berbicara pelan.
"Kita tidak akan pernah tau jika tidak mencobanya paman".
Aura ditubuh Sabrang perlahan muncul dibarengi dengan kobaran api yang menyelimuti tubuhnya.
Raut wajah pria tua itu berubah seketika, dia mengernyitkan dahinya.
Sulis mundur beberapa langkah, hawa panas yang berasal dari api di tubuh Sabrang benar benar membuat kulitnya hampir meleleh.
"Aura aneh apa ini?" Sulis menatap takjub ke arah Sabrang.
Tiba tiba pintu yang disentuh Sabrang hancur dan menjadi abu. Sulis dengan cepat masuk kedalam dan melepaskan ikatan yang melilit pria tua tersebut.
Pria itu menatap Sulis sesaat kemudian menoleh ke arah Sabrang.
"Aura tadi berasal dari anak ini?" Pria itu sempat melihat api kecil menyelimuti tubuh Sabrang sebelum menghilang.
"Kau pengguna Naga Api?" Pria tersebut menatap Sabrang tak percaya.
"Tetua tau pedangku?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
Pria itu mengangguk pelan "Ada apa sebenarnya ini? Semua muncul di waktu yang hampir bersamaan". Pria itu memejamkan matanya sesaat
"Apa hubunganmu dengan Suliwa?".
"Anda kenal dengan guruku?" Sabrang menaikan alisnya.
"Oh jadi kau muridnya? apakah dia sudah menyadari ada yang tidak beres di dunia persilatan ini sehingga menyerahkan pedangnya padamu?".
"Tetua kita bicarakan ini diluar, aku takut mereka curiga kita harus secepatnya keluar dari tempat ini". Sulis merasa harus secepatnya membawa mereka keluar.
"Penjara ini bukan tempat yang mudah kau datangi, Segel kabut akan menutup dengan sendirinya sehingga kita harus keluar dengan jalan yang berbeda dari kita masuk tadi, ikuti aku".
__ADS_1
Bahadur bangkit dan berjalan pelan, tubuhnya masih terasa sakit akibat pertarungan dengan Batara.
"Batara adalah salah satu murid kesayanganku, bakatnya yang besar membuatku yakin anak ini akan menjadi pendekar hebat kelak namun ambisinya terlalu besar".
"Dan sebulan lalu dia mengejutkanku dengan ilmu anehnya. dia dengan lantang mengatakan padaku untuk menyerahkan posisi ketua Kelelawar hijau padanya. dan akhirnya aku berakhir disini".
"Apakah kakek tau jurus itu dari mana?".
"Itulah yang aku takutkan nak, Jika perkiraanku tidak salah jurusnya adalah jurus terlarang yang harusnya sudah musnah ratusan tahun lalu. Jurus itu milik Lembah Siluman" Bahadur menggeleng pelan.
"Memangnya semenakutkan itukah lembah siluman kek?".
"Mereka bukan hanya menakutkan namun juga kejam dan bengis, konon mereka adalah sekumpulan pendekar yang berhasil menguasai jurus abadi".
"Tunggu, kita masuk perangkap" Tiba tiba Bahadur menghentikan langkahnya.
Tak lama muncul seorang pendekar memakai topeng hitam dari arah depan. Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Kalian pikir bisa keluar dengan mudah?" pendekar tersebut menatap tajam Bahadur.
"Siapa kau sebenarnya? kau bukan bagian dari Kelelawar hijau".
"Anda tidak diijinkan keluar sebelum upacara penobatan ketua baru selesai".
Pendekar itu tiba tiba menyerang dengan cepat ke arah Bahadur.
"Cepat sekali" Bahadur memandang Sabrang yang ada didepannya.
"Mundurlah kek, biar aku yang menghadapinya" Perlahan kobaran api menyelimuti dirinya.
"Berhati hatilah nak dia bukan pendekar sekte kami" Bahadur mundur beberapa langkah diikuti Sulis beberapa saat kemudian.
Sulis dapat melihat kecepatan pendekar itu, dia sadar bukan tandingan pendekar tersebut.
"Kuakui kau memang cepat namun itu tidak mengubah apapun" Pendekar tersebut kembali menyerang dengan cepat.
Beberapa serangannya dapat dimentahkan Sabrang, Namun terlihat Sabrang dipaksa bertahan tanpa bisa menyerang.
"Gerakannya sangat cepat" Sabrang mencoba menghindar, dia melompat kebelakang.
Sabrang meningkatkan kembali kecepatannya dengan menggunakan Jurus Cakra manggilingan, dia menarik dan mengalirkan tenaga dalamnya keseluruh tubuhnya.
Sabrang kini mencoba menyerang dengan cepat namun pendekar tersebut lebih cepat darinya.
"Tiupan Kipas Iblis" Serangannya tepat mengenai Sabrang yang membuatnya terpental.
__ADS_1
Terlihat Bongkahan es menyelimuti tubuh Sabrang.
"Untung saja perisai ini melindungi tubuhku" Sabrang menggeleng pelan.
"Aku harus cepat atau bantuan akan segera datang" Sabrang merapal sebuah jurus.
Tubuhnya menghilang dari pandangan pendekar itu dan muncul tepat di belakangnya. Pendekar itu menggunakan Pedangnya menangkis cakar Sabrang.
Tepat saat dia akan mundur Sabrang muncul dibelakangnya
"Dia semakin cepat" Pendekar tersebut terpental terkena Cakar es utara.
Sabrang mundur beberapa langkah dan merapal sebuah jurus
"Jurus pedang pemusnah raga" Saat Sabrang bergerak seolah waktu disekitarnya berhenti beberapa detik.
"Perasaan ini kembali lagi, Semua terlihat lambat dimataku" Sabrang mengingat kembali pertarungannya dengan Ketua sekte Serigala hitam. Saat itu dia juga menggunakan Jurus pemusnah raga.
Beberapa saat kemudian Pedang Naga api telah bersarang di tubuh pendekar itu.
"Bagaimana dia bisa bergerak secepat itu" Bahadur tak berkedip menatap Sabrang. dia dapat merasakan kecepatan pendekar tersebut namun di hadapan Sabrang semua seolah bergerak lambat.
"Dan jurus aneh itu sepertinya aku pernah melihatnya".
***
"Nona kita harus segera pergi" Wira muncul dipintu kamar Mentari dengan wajah cemas.
"Apakah tuan muda telah kembali?" Mentari bertanya kebingungan.
"Belum nona tapi kita harus cepat pergi, nanti aku jelaskan dalam perjalanan".
Mentari bergegas membereskan barangnya setelah melihat Wajah Wira yang terlihat sangat cemas.
Saat mereka akan beranjak pergi tiba tiba beberapa orang menghadang di depan pintu.
"Mau kemana kalian?" Salah seorang pendekar membentak Mentari.
Wira mengeluarkan pedangnya dan menyerang Pendekar tersebut namun dengan mudah dipatahkan. "Berani sekali kau menyusup di wilayah kami" Tubuh Wira terpental terkena serangan cepat pendekar tersebut.
***Sekali lagi saya mengharapkan dukungan teman teman semua baik dalam bentuk like maupun Vote 🙏
Kunjungi juga novel ke dua Saya berjudul
"Tentang kita (Komedi Romantis)"
__ADS_1
Terima kasih dan semoga sukses selalu untuk kita semua***