
Sabrang terlihat mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh untuk menekan rasa sakit akibat sayatan pedang ditubuhnya.
"Bagaimana dia bisa menarik tubuhku ke ruang dan waktunya saat aku tidak merasakan energi di sekitarku? apa dia juga menyamarkan ruang dan waktunya?" gumam Sabrang bingung.
Dia semakin bingung karena luka sayatan ditubuhnya didapat saat berada di dimensi ruang dan waktu Lakeswara.
"Mungkin mata bulan milikmu lebih istimewa dari mataku namun tanpa kekuatan, mata itu hanya akan menjadi hiasan," Lakeswara kembali mengambil inisiatif menyerang.
"Hei pak tua! aku lawanmu," Rubah Putih mencoba bergerak menghadang namun Bima muncul tiba tiba dan langsung menyerang membuat Rubah Putih kembali mundur untuk menghindari serangan.
"Bima? tak kusangka ilmu kanuraganmu meningkat pesat," Rubah Putih mencabut goloknya dan menangkis serangan Bima.
"Anda tidak berfikir aku akan diam saja setelah dikalahkan dulu? aku sudah jauh lebih kuat dari terakhir kita bertemu," Bima terus menyerang Rubah Putih dengan seluruh tenaga dalamnya.
Sedangkan Candrakurama pun tak luput dari serangan lawan, dua orang pendekar Masalembo langsung menyerangnya.
Pertarungan Sabrang dengan Lakeswara terlihat sedikit tidak seimbang, walau Sabrang sudah menggunakan ajian inti lebur saketi tingkat dua namun gerakannya mampu di baca Lakeswara.
Tak ada celah yang diperlihatkan Lakeswara, mata bulan miliknya seolah membuat pertahanannya absolut dan tidak bisa ditembus.
Setelah selalu gagal dalam pertarungan jarak dekat, Sabrang mencoba mengatur jarak, dia melepaskan beberapa jurus pedang jarak jauh sambil memikirkan cara untuk mendekati lawannya.
Sabrang sadar dengan ilmu kanuragan yang dimiliki Lakeswara, bertarung jarak dekat tanpa persiapan hanya akan membuatnya terluka lebih parah.
Di sisi lain, Lakeswara terus terus menekan sambil menangkis serangan serangan Sabrang, beberapa serangan energi keris sebenarnya berhasil menembus tubuh Lakeswara namun anehnya dia sama sekali tidak merasa sakit.
Energi keris itu seolah hanya menembus tubuh Lakeswara begitu saja tanpa melukainya sama sekali.
"Jurus itu tak akan berpengaruh padaku," Lakeswara merubah arah pedangnya saat melihat celah yang ditinggalkan Sabrang, dia memiringkan tubuhnya sebelum mengayunkan pedang pusakanya.
"Jurus pedang cahaya : Energi pedang penghancur."
Sabrang tersentak kaget, dia sudah berusaha membaca gerakan Lakeswara dengan matanya namun tak berhasil. Sabrang bergerak mundur secepat yang dia bisa sambil mencoba menangkis serangan yang terarah padanya tetapi tebasan itu tetap mengenainya.
Pedang Lakeswara seolah memanjang dan menembus Pedang Naga Api.
Tubuh Sabrang terpental beberapa langkah kebelakang sebelum kembali terhisap kedalam ruang dan waktu Lakeswara dan muncul kembali di dekatnya.
"Kau bahkan lebih lemah Naraya, aku sepertinya terlalu memandang mu tinggi," ejek Lakeswara sambil mengayunkan pedangnya.
Sabrang yang tidak siap hanya bisa mengalirkan energi Naga Api untuk melindungi tubuhnya, dia kembali terpental dan membentur salah satu pohon besar.
Sabrang meringis kesakitan sambil mengatur nafasnya, luka sayatan ditubuhnya mulai mengalirkan darah.
"Jurus itu lagi? bagaimana aku tidak bisa merasakan adanya energi saat ruang dan waktunya terbuka?" gumam Sabrang dalam hati.
"Mau sampai kapan kau menyimpan kekuatanmu? dia bukan orang yang bisa kau lawan dengan mudah," ucap Naga Api kesal.
Sabrang memang masih menyimpan separuh kekuatannya selama pertarungan, dia seolah meremehkan Lakeswara Dwipa.
"Sabarlah Naga Api, saat ini kakek sedang melakukan persiapan, ini satu satunya cara untuk berkomunikasi dengan paman Wardhana dan mengeluarkannya dari ruang dimensi itu," balas Sabrang dalam pikirannya.
"Apa kau pikir Panca mampu menembus dimensi Lakeswara? dia bahkan hanya menarik tubuhmu sampai gerbang utama dimensi sebelum mengeluarkan kembali, selama dia tidak membuka lorong dimensinya Panca tak akan bisa masuk," jawab Naga Api.
"Jika dia mampu menciptakan pusaka sehebat Pedang Naga Api maka aku yakin dia memiliki cara menyelamatkan paman Wardhana," balas Sabrang.
"Aku tidak tau jalan pikiranmu, saat kau sendiri belum tentu mampu menghadapinya, kau masih bisa memikirkan keselamatan orang lain," balas Naga Api.
"Mungkin saat ini kau belum mengerti Naga Api namun kuharap suatu saat kau bisa menyadari jika kau akan terus bertambah kuat saat ingin melindungi orang yang kau sayangi.
Paman Wardhana bukan sekedar patih dan bawahan untukku, dia adalah seorang ayah yang selalu membimbingku. Akan aku pastikan dia selamat seperti ayah yang dulu mengorbankan nyawa untuk melindungi ku," ucap Sabrang sambil memunculkan pusaka Pengilon kembar di tangan kirinya.
"Cepatlah kek, aku sudah tidak sabar untuk menghajarnya," Sabrang kali ini memilih menyerang lebih dulu, dia mulai menggunakan Ajian inti lebur saketi tingkat III untuk menarik separuh energi murninya.
"Energi murni khas Tumerah? bagaimana keturunanku bisa memiliki energi murni? Lakeswara tampak terkejut melihat luapan energi murni dari tubuh Sabrang.
Pertarungan kembali terjadi di udara, Sabrang kini bergerak lebih cepat, serangan serangannya kini mengandung tenaga dalam yang lebih besar.
Dalam sekejap dia mampu sedikit menekan Lakeswara dengan dua pusaka ditangannya, kobaran api yang menyelimuti tubuh Sabrang tampak semakin membesar.
"Apa mungkin dia adalah campuran darah Dwipa dan Tumerah?" wajah Lakeswara berubah seketika, aura membunuh terlihat dari pancaran matanya.
__ADS_1
"Kau memang harus segera dibunuh, kesalahanmu sudah sangat besar," Lakeswara meningkatkan kecepatannya kembali dan berhasil mengimbangi gerakan Sabrang.
"Sepertinya sudah akan dimulai, inilah saat yang paling menentukan," Rubah Putih tiba tiba mundur beberapa langkah saat dia mulai bisa menekan Bima, dia menarik pedangnya ke depan dan menempelkan didepan wajahnya, seperti sedang membidik sesuatu.
"Jurus ini? sudah lama aku tidak melihatnya, sepertinya anda mulai serius menghadapi ku tuan," Bima mengatur kuda kudanya kembali, dia sadar Rubah Putih mulai menggunakan jurus yang dulu hampir membuatnya tewas.
"Maaf jika mengecewakanmu namun kali ini hasilnya akan sama," Rubah Putih kembali bergerak, dia bergerak dengan seluruh tenaganya dan dengan cepat menekan Bima.
"Dia menyimpan kekuatannya? apa yang sebenarnya dia rencanakan?" Bima tersentak kaget ketika melihat kecepatan Rubah Putih yang terus meningkat.
Sayatan demi sayatan pedang mulai terlihat ditubuhnya akibat serangan Rubah Putih, kecepatannya yang terus meningkat tak mampu diimbangi Bima.
Bima sudah berusaha menghindar sekuat yang dia bisa namun hasilnya sama, Rubah Putih selalu bisa mendekat. Angin kemenangan mulai terlihat berpihak pada Rubah Putih, dalam beberapa kali gerakan saja sudan terlihat jika Bima kalah segala hal, kecepatan, pengalaman bertarung dan tenaga dalam Rubah Putih jauh diatasnya.
Ketika Bima hendak menggunakan mata bulannya, Rubah Putih lebih dulu berada didekatnya, dia memutar tubuh lawannya dan menghantamnya dengan ledakan tenaga dalam Iblis.
Tubuh Bima terpental di udara sebelum sebuah serangan pedang menghantam tubuhnya dan terbelah dua.
Lakeswara tersentak kaget ketika tiba tiba Rubah Putih masuk dalam pertarungannya, dia menarik pedangnya dan mengayunkan kearah Rubah Putih.
Sabrang yang melihat celah berada didekatnya tak menyianyiakan kesempatan, dia menarik energi keris untuk mengganggu pergerakan Lakeswara.
"Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma," Sabrang mengayunkan kedua pedangnya bersamaan kearah Lakeswara.
Fokus Lakeswara menjadi terbelah saat menerima serangan dari dua sisi, dia melepaskan aura dari tubuhnya untuk memperlambat gerakan keduanya.
"Jurus ini?" Lakeswara sadar serangan Sabrang berbeda dari sebelumnya, dia terpaksa menggunakan mata bulannya kembali.
"Kalian benar benar merepotkan," Lakeswara memutar pedangnya sebelum menghilang.
"Sial jurus itu lagi," Rubah Putih berusaha mundur, dia masih mengingat dengan sangat jelas sesaat sebelum dirinya terkurung di ruang dan waktu selama ribuan tahun, namun belum sempat bergerak, tiba tiba tubuhnya menjadi berat dan terhisap sesuatu di udara.
"Kakek!" Sabrang mencoba menarik kembali Rubah Putih dengan mata bulannya tapi Lakeswara bergerak lebih dulu, dia muncul didekat Sabrang dan melepaskan pukulan yang tepat mengenai matanya.
Sabrang terpaksa menutup matanya dan melompat mundur, ketika dia membuka kembali matanya, sebuah serangan kembali terarah padanya.
Sabrang menangkis serangan itu sekuat tenaga dengan dua pedangnya sambil melompat mundur namun belum sempat dia mengambil nafas, serangan bertubi tubi menghujani tubuhnya.
"Bagaimana mungkin?" Sabrang menarik energi Naga Api untuk mengimbangi kecepatan Lakeswara.
Dia terus menggunakan mata bulannya untuk membaca serangan Lakeswara namun sekuat apapun dia menghindar, ada beberapa serangan yang masih mengenai tubuhnya.
"Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma," Sabrang menyerang salah satu tubuh Lakeswara yang berada didekatnya.
Namun dia mengernyitkan dahinya saat pedangnya hanya menebas udara.
"Ilusi? tapi serangan mereka nyata melukaiku dan bukan ilusi," Sabrang terpaksa menggunakan jurus ruang dan waktu. Dia mengaktifkan mata bulannya untuk menarik tubuhnya sendiri ke dimensi ruang dan waktu.
"Ingin bermain ruang dimensi denganku?" salah satu tubuh Lakeswara menghilang di udara.
Saat tubuh Sabrang hampir menghilang di udara, Lakeswara muncul didekatnya dan mencengkram lengan Sabrang, dia menarik kembali tubuh Sabrang ke udara.
"Dia tau dimana aku membuka gerbang dimensi ku? bagaimana bisa? aku sudah menyamarkan dengan energi Naga Api."
"Pedang Cahaya merah : Api Masalembo," sebuah energi pedang hampir mengenai tubuhnya, beruntung sebuah energi menarinya mundur sesaat sebelum dinding es tebal terbentuk dihadapannya.
"Yang Mulia, anda baik baik saja?" tanya Mentari khawatir.
"Aku baik baik saja, bagaimana persiapannya?" jawab Sabrang pelan.
"Semua sudah si..." belum selesai Mentari bicara, dinding es yang dibuatnya hancur berkeping keping.
"Kau berhasil membuatku terkejut kali ini, namun itu tak akan merubah apapun," ucap Lakeswara pelan.
"Kakek?" gumam Sabrang dalam hati.
"Kau pikir bisa menghentikan aku? kau terlalu percaya diri," ucap Lakeswara sambil tersenyum dingin.
"Dia bahkan bisa menghindari jurus pedang jiwa tingkat V dengan mudah, seberapa tinggi sebenarnya ilmu yang dia miliki."
"Yang mulia, dia?" tanya Mentari khawatir.
__ADS_1
"Mundur, tugasmu sudah selesai, biar aku yang menghadapinya," ucap Sabrang tiba tiba.
"Tapi Yang mulia,"
"Mundur!" teriak Sabrang.
Lakeswara terlihat menatap pusaka yang ada digenggaman Mentari.
"Pusaka Tongkat Cahaya Putih? jadi kau adalah keturunan Rakin?"
Tubuh Mentari terlihat gemetar saat aura Lakeswara menekannya.
"Berhati hatilah, aku masih mengingat jelas betapa mengerikannya mata itu," ucap Siren dalam pikiran Mentari.
"Dengarkan ucapan ku Tari, tetap pada rencana awal dan jangan bertindak bodoh," Sabrang bangkit dari duduknya dan merapal jurus ajian inti lebur saketi tingkat IV.
"Yang mulia," ucap Mentari lirih, dia terlihat sangat khawatir dengan keselamatan Sabrang kali ini, entah mengapa penglihatan yang sempat dilihatnya saat pertama kali dirasuki Siren, keadaannya hampir sama dengan saat ini.
Pakaian yang dikenakan Sabrang sama persis dengan apa yang dilihatnya saat Lakeswara memutuskan kedua tangan Sabrang.
"Naga Api, bersiaplah, inilah saat yang menentukan. Kau harus bisa mendeteksi keberadaan Rubah Putih dan menariknya keluar bersama paman Wardhana.
Ini adalah satu satunya kesempatan kita, jangan kecewakan aku," ucap Sabrang sesaat sebelum bergerak menyerang.
"Berhati hatilah, aku merasa dia belum mengeluarkan seluruh kemampuannya," balas Naga Api sambil memejamkan matanya.
"Anom! ayo lakukan," ratusan energi keris muncul di udara seiring dengan kecepatannya yang terus meningkat.
"Sangat disayangkan pendekar berbakat sepertimu harus kubunuh, kau memilih jalan yang salah," ucap Lakeswara.
***
Wardhana tersentak kaget saat sesosok tubuh muncul dari udara dan hampir mengenainya.
"Tuan Rubah Putih?" Wardhana mengernyitkan dahinya.
"Kau masih hidup? syukurlah, anak itu sangat mengkhawatirkan mu," balas Rubah Putih sambil tersenyum kecil.
Dia menatap sekelilingnya sambil mengenang tempat yang pernah mengurungnya selama ribuan tahun.
"Tak kusangka aku kembali ke tempat ini," ucapnya kecut.
"Jika anda bisa berada disini, berarti?"
"Benar, saat aku terhisap jurus ruang dan waktunya, Sabrang sedang bertarung dengan Lakeswara," jawab Rubah Putih.
"Yang mulia," wajah Wardhana terlihat khawatir.
"Tenanglah, semua sudah mengetahui rencana yang kau buat, saat ini dia sedang berusaha mengeluarkan kita dari tempat ini sebelum menyegelnya. Yang harus kita lakukan saat ini adalah menunggu tanda dari Naga Api," ucap Rubah Putih.
"Tanda dari Naga Api?" Wardhana mengernyitkan dahinya.
"Tunggulah, aku akan memeriksa tempat ini sebentar," ucap Rubah Putih pelan.
"Tuan, ada yang ingin kubicarakan dengan anda mengenai ruang dimensi," ujar Wardhana tiba tiba.
"Katakan," balas Rubah Putih penasaran.
"Semoga semua perkiraanku ini salah, namun jika benar maka saat ini Lakeswara telah melakukan kesalahan besar," ucap Wardhana pelan.
"Lakeswara melakukan kesalahan?" tanya Rubah Putih bingung.
"Percobaan yang dilakukan Masalembo telah merusak pelindung dimensi dunia, bangkitnya Mata bulan trah Dwipa telah merusak segalanya. Jika kita tidak bisa menghentikan kegilaan mereka maka akan ada kekacauan dimensi penghubung antar dunia," jawab Wardhana.
"Dimensi penghubung antar dunia?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sore ini saya harus terbang keluar kota, jika besok sempat maka PNA akan update tapi jika tidak memungkinkan maka akan libur sehari...
Doakan perjalanan saya lancar disaat Covid mulai naik lagi....
__ADS_1