Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Menyusup ke Ibukota Arkantara


__ADS_3

"Yang mulia," teriak Emmy sambil melompat dari atas pohon. Sabrang yang terkejut langsungmenangkap tubuh selirnya itu tapi karena pijakan kakinya tidak cukup kuat, mereka berdua terpeleset dan berguling di tanah.


"Emmy, apa yang kau lakukan?" ucap Sabrang kesal.


"Aku bosan, sudah beberapa hari kita berada di dalam hutan dan belum juga menemukan desa satupun," rengek Emmy manja.


Sabrang menggeleng pelan melihat tingkah kekanak-kanakan Emmy, "Bukankah kau dulu seorang pendekar? bagaimana mungkin tidak terbiasa berada di dalam hutan?"


"Ini semua salahmu yang selalu mengurungku di keraton," sungut Emmy.


"Salahmu?" Sabrang mengernyitkan dahinya saat mendengar Emmy memanggilnya dengan sebutan "mu".


"Apa aku akan dihukum karena tidak sopan pada raja Malwageni? bukankah anda sendiri yang memintaku untuk bersikap wajar agar tidak ada yang curiga?" ejek Emmy.


Sabrang tersenyum lembut sambil mengusap rambut panjang wanita dihadapannya itu. Walau Emmy berusaha mengibaskan tangannya, Sabrang terus membelai rambutnya sampai wanita itu diam.


"Apa kau sedang marah padaku?"


"Anda terlalu sibuk dengan dunia persilatan dan sering mengabaikan aku selama di keraton, anda selalu memiliki waktu mengunjungi gusti ratu dan Tari tapi tidak denganku," rengek Emmy sambil memalingkan wajahnya.


Perjalanan bersama Sabrang selama beberapa hari di hutan Swarna Dwipa membuat mereka semakin dekat, dan Emmy memanfaatkan itu untuk melakukan protes.


"Jadi karena itu kau marah padaku?" jawab Sabrang sambil terkekeh.


"Marah? siapa yang berani marah pada raja Malwageni yang saat ini mungkin adalah pendekar terkuat," raut wajah kesal mulai tampak di wajah cantik Emmy.


"Apa aku terlihat tidak mencintaimu? kau tau, hidup dalam pelarian di sekte Pedang Naga Api membuatku lupa bagaimana caranya bahagia. Kematian ayah dan fakta bahwa leluhurku adalah penyebab semua kekacauan dunia persilatan hampir membuatku gila.


Hanya sedikit hal yang bisa membuatku bahagia dan melupakan sejenak masalah berat di pundak ini, dan salah satunya adalah saat aku mengenal seorang wanita cantik di daratan Celebes. Entah mengapa aku begitu mencintainya walau dia hampir membunuhku," ucap Sabrang.


"Aku tidak pernah berniat membunuhmu, salah siapa mencuri lihat latihan orang lain?" balas Emmy cepat.


"Kau tau, aku tak pernah bicara bohong pada siapapun. Aku minta maaf jika kau merasa terabaikan, tak ada sedikitpun pikiran untuk mengabaikan mu, hanya situasinya yang belum memungkinkan," lengan kanan Sabrang mengeluarkan hawa dingin, tak lama bongkahan es ditangannya membentuk sebuah bunga.


"Sebagai permintaan maaf dariku, terimalah hadiah dariku," ucap Sabrang lembut.


"Apa ini?" tanya Emmy bingung, dia terus memperhatikan bongkahan es yang sebenarnya lebih mirip sebuah batu daripada bunga.


"Bunga untukmu," jawab Sabrang yang disambut tawa Emmy.


"Terus saja tertawa, jika kau ingin aku membentuk sebuah bunga yang sempurna itu akan memakan waktu ribuan tahun," balas Sabrang pelan.


Emmy kembali tertawa keras saat mendengar ucapan Sabrang, dia merasa Sabrang benar benar polos.


"Simpan saja bunga itu, aku takut menggunakannya untuk melempar anda saat kesal," Emmy terus tertawa.


"Kau benar benar aneh," balas Sabrang bingung.


"Bagaimana mungkin seorang pendekar terkuat bisa melakukan hal bodoh seperti itu,* ucap Emmy dalam hati.


Setelah puas tertawa, Emmy kemudian membuka gulungannya dan memperhatikan sekitarnya.


"Sepertinya kita sudah hampir sampai Yang mulia, jika melihat titik ini seharusnya kita tinggal melewati sebuah gunung sebelum sampai di perbatasan Arkantara. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana melewati pemeriksaan berlapis mereka."

__ADS_1


Sabrang tiba tiba menempelkan jari telunjuk di bibir dan meminta Emmy diam.


"Ada yang mengawasi kita," ucap Sabrang pelan, dia membentuk sebuah pisau es di tangan kanan dan dalam posisi siap menyerang.


"Mengawasi kita, mungkinkah?" rasa penasaran Emmy segera terjawab saat puluhan orang mengenakan pakaian serba hitam dan penutup wajah muncul dan mengepung mereka.


"Yang mulia?" ucap Emmy pelan sambil mencabut pedangnya.


"Tenanglah, kita lihat dulu situasinya. Sepertinya mereka bukan prajurit Arkantara," Balas Sabrang menenangkan.


"Apa yang kalian lakukan di tempat ini?" teriak salah satu pendekar.


"Maaf tuan, kami sedang menuju ke Artantara dan tidak sengaja beristirahat di sini dan jika itu mengganggu kalian, kami akan pergi," jawab Sabrang sopan.


"Arkantara? ada keperluan apa kalian di sana?" tanya pendekar itu lagi.


"Kami hanya ingin mengunjungi teman lama tuan," balas Sabrang.


"Mengunjungi teman lama dengan membawa pisau? kau pikir aku bodoh?" pendekar itu menatap pisau es yang berusaha disembunyikan Sabrang.


"Aku mohon maaf jika anda tersinggung tapi ini adalah reaksi wajar saat kami dihadang tiba tiba," balas Sabrang.


"Jangan percaya ucapannya, dia adalah antek antek Saragi," teriak pendekar lainnya.


"Antek antek Saragi? jadi mereka bukan prajurit Arkantara," Sabrang mulai menganalisa situasi, dia tidak ingin kehadirannya tercium oleh Arkantara dan pasukan Kuil Suci.


Sabrang berusaha meminimalisir pertarungan selama penyusupan kali ini.


"Pangeran?" ucap pendekar yang tadi berteriak pada seseorang yang ada di sampingnya seolah menunggu perintah.


Situasi mulai memanas, para pendekar itu mencabut pedang dan bersiap menyerang saat Emmy mulai merapal kuda kuda.


"Bersabarlah, sepertinya mereka juga musuh Arkantara," Sabrang menyentuh pedang Emmy dan menurunkannya kebawah.


"Tapi Yang mulia lihat sendiri, mereka tidak bisa di ajak bicara baik baik," jawab Emmy kesal.


"Tenanglah, aku punya rencana," Sabrang memperhatikan seorang pendekar berbadan kecil, bentuk tubuhnya tidak menunjukkan seorang pendekar tapi dia sangat dihormati oleh pendekar lainnya.


"Pangeran, kami menunggu perintah," bisik pendekar itu kembali.


Pendekar yang dipanggil pangeran itu terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan.


"Tangkap dia," ucapnya pelan.


Setelah mendengar perintah itu, mereka langsung bergerak bersamaan,


"Emmy, jangan bergerak dari tempatmu," Sabrang mengalirkan energi Naga Api ke matanya sebelum melepaskan jurus menghentikan waktu.


Puluhan pendekar yang berusaha menyerang Sabrang tersentak kaget saat waktu disekitarnya seolah terhenti. Mereka masih bisa melihat Sabrang bergerak sambil memunculkan puluhan energi keris tepat di hadapan mereka semua namun namun tak ada satupun yang mampu menggerakkan tubuhnya.


"Jurus aneh apa yang sebenarnya digunakannya?"ucap salah satu pendekar sebelum merasakan hawa dingin di lehernya.


"Jika aku adalah antek antek Arkantara maka kalian semua sudah mati saat ini, bersikaplah pintar karena aku hanya ingin bicara baik baik," Sabrang mengalungkan pisau esnya di leher salah satu pendekar misterius itu.

__ADS_1


"Pangeran," teriak pendekar lainnya saat waktu kembali berputar.


"Kalian sebaiknya tidak bergerak karena energi Anom bisa membunuh kalian dalam sekejap," ancam Sabrang.


Para pendekar misterius itu mematung seketika saat energi keris mulai mendekati mereka perlahan.


"Namaku adalah Maruli, pangeran sekaligus pewaris sah tahta Arkantara. Aku mohon maaf jika kami menyinggung anda," ucap pendekar yang berada dalam cengkraman Sabrang.


"Ilmu kanuragannya sangat tinggi, para pasukan terlatih milikku bahkan bukan tandingannya, jika pertarungan ini diteruskan kami hanya akan mati sia sia," ujar Maruli dalam hati.


"Pewaris tahta Arkantara? jadi kabar yang kudengar tentang terusir nya putra mahkota dari istana benar," Sabrang menarik pisau es dari leher Maruli.


"Itulah yang terjadi, lalu siapa anda sebenarnya?" tanya Maruli sopan.


"Namaku Damar dan itu istriku, kami tidak berniat membuat keributan dengan siapapun karena tujuan kami hanya mengunjungi kerajaan yang konon makmur," jawab Sabrang pelan, dia mengarahkan tangannya ke energi keris dan menarik kembali masuk ke tubuhnya.


"Keris keris itu masuk ke tubuhnya?" Maruli tampak terkejut melihat keris penguasa kegelapan seolah menembus tubuh Sabrang dan menghilang.


"Sebaiknya anda urungkan niat untuk masuk ke ibukota, ikut denganku, akan ku ceritakan apa yang terjadi di Arkantara saat ini," ajak Maruli setelah yakin Sabrang bukan pengikut adik tirinya.


***


"Di sinilah kami bersembunyi dari kejaran pasukan Saragi, mohon maaf jika anda tidak nyaman karena kami menutup mata kalian selama perjalanan tapi kami harus melakukannya demi kerahasiaan tempat ini," Maruli membuka penutup mata Sabrang dan Emmy bergantian.


Beberapa bangunan sederhana dan puluhan prajurit menyambut mereka sopan.


"Selamat datang pangeran," sapa para prajurit itu.


"Mereka adalah tamuku, ambilkan makanan untuk mereka," perintah Maruli sambil mempersilahkan Sabrang dan Emmy duduk di dekat salah satu bangunan.


"Tinggalkan kami sebentar," pinta Maruli pada pasukannya.


"Baik pangeran," balas mereka cepat.


"Maaf jika tempatnya sederhana tapi kami terpaksa bersembunyi di tempat ini," ucap Maruli pelan.


"Jangan sungkan pangeran, kami para pendekar sudah terbiasa bermalam di hutan," jawab Sabrang sambil tersenyum.


"Melihat ilmu kanuragan anda tadi, sepertinya kalian bukan pendekar biasa, dan mengunjungi teman lama adalah alasan yang tidak masuk akal. Saat ini aku ragu kalian bisa masuk ibukota karena semua perbatasan di jaga oleh pendekar kuil suci tapi jika percaya padaku, aku bisa menyusupkan kalian masuk ibukota," balas Maruli.


"Pendekar Kuil suci? apa yang anda ketahui tentang mereka?" tanya Emmy tertarik.


Maruli tersenyum kecil, kini dia mulai mengerti tujuan Sabrang menuju Arkantara.


"Sudah kuduga kalian bukan ingin mengunjungi teman lama, jika kalian mengincar pasukan kuil suci, kita berada di pihak yang sama. Bagaimana jika kita bekerja sama? aku tidak tau ada dendam apa kalian dengan mereka tapi saat ini musuh kita sama. Aku akan membantu kalian masuk ibukota namun bantu aku menghancurkan mereka," jawab Maruli.


"Kalian tidak dalam posisi tawar tinggi tuan jadi tolong jangan mencoba menekan kami, jika tuanku ingin, kalian sudah tewas semua," balas Emmy sinis.


Maruli terdiam seketika, dia tidak menyangka Emmy akan bicara seperti itu.


"Kami yang menentukan aturan mainnya, bantu kami masuk ibukota dan kita lihat apa yang bisa kalian dapatkan," ucap Emmy tegas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Jangan lupa Vote...


Ada yang jahil lagi menurunkan rating bintang PNA ke 4,7.. tolong bantu naikin lagi dengan memberi bintang 5 ya.. GRATIS KOK


__ADS_2