
Lingga terus mengalirkan tenaga dalam untuk menekan energi Kanagara, dia berusaha sekuat tenaga agar aliran darah ditubuhnya tidak kacau.
Namun sekuat apapun Lingga dan Ken Panca berusaha, tenaga dalam Kanagara yang terus masuk melalui udara mampu merusak aliran darah mereka berdua perlahan, itu terlihat dari wajah Lingga dan Ken Panca yang mulai membiru menandakan organ dalamnya mulai terluka.
Candrakurama bukan tidak mengetahui jika Lingga saat ini berada dalam bahaya, tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena serangan Kawanda dan pendekar Guntur api sangat menyulitkannya.
Disaat yang sama dia harus memastikan Wulan tidak diganggu sedikitpun selama melakukan pengobatan pada Wardhana.
Situasi semakin sulit bagi mereka karena beberapa pendekar Guntur Api terlihat memisahkan diri dan masuk kedalam ruangan keempat sambil membawa lempengan kunci.
Candrakurama jelas paham jika mereka berniat membuka gerbang terakhir Nagari Siang padang yang itu artinya mereka semakin dekat untuk melepaskan wabah penyakit yang paling mematikan di Nuswantoro itu.
Kawanda bukan pendekar biasa walau mungkin ilmu kanuragannya lebih rendah dari Kanagara namun ditambah beberapa pendekar yang membantunya menyerang membuat Candrakurama semakin terdesak.
"Nona Wulan, aku bukan bermaksud mengganggu namun jika anda tidak cepat, akan ada banyak orang mati ditempat ini," ucap Candrakurama sambil terus berusaha lepas dari tekanan lawannya.
"Apa aku terlihat sedang bersantai?" balas Wulan sinis.
"Baiklah, sepertinya aku salah bicara," jawab Candrakurama sambil melompat mundur perlahan, dia terlihat sengaja menggiring lawannya menjauhi Wulan.
"Bayangan pedang Iblis," Kanagara menarik sesuatu dari udara saat merasakan tenaga dalam Lingga terus menekannya.
"Kau benar benar menarik, tak ada rasa takut sama sekali di wajahmu, sayang aku harus membunuhmu."
Tak lama puluhan energi pedang melesat kearah Lingga dengan cepat.
"Tuan Lingga!" teriak Ken Panca panik, dia berusaha menggerakkan tubuhnya namun tak berhasil, darah segar mulai keluar dari hidungnya.
Lingga memejamkan matanya sesaat, dia menarik nafas panjang sebelum menggigit bibirnya sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari jurus Kanagara.
Teriakan kesakitan Lingga terdengar bersamaan dengan datangnya serangan energi pedang yang melesat cepat.
"Jurus Pedang Langit tingkat II" Lingga menarik pedangnya dan berputar cepat, dia menangkis serangan energi pedang itu sebelum melompat mundur.
"Kau melukai dirimu sendiri demi lepas dari jurus Kalacakra milikku? kau selalu berhasil membuatku terkejut," ucap Kanagara pelan, dia menarik pedangnya dan bergerak menyerang Lingga.
"Jurus Kalacakra sepertinya membutuhkan tenaga dalam yang besar, aku bisa merasakan pengaruh jurus itu melemah sebelum aku terbebas. Jika perkiraan ku benar dia membutuhkan waktu untuk menggunakannya kembali dan saat itulah waktu yang tepat bagiku untuk menyerang," gumam Lingga dalam hati sambil menyambut serangan Kanagara.
Lingga dan Kanagara saling bertukar jurus di udara dan dalam waktu singkat sudah belasan jurus yang mereka keluarkan.
Lingga sebenarnya terlihat lebih unggul dalam hal kecepatan namun konsentrasinya terpecah karena harus mengamati gerakan tangan Kawanda untuk memperkirakan kapan lawannya itu menggunakan jurus Kalacakra.
Gerakan Lingga semakin cepat karena dia terus menarik tenaga dalamnya perlahan, dia ingin segera mengakhiri pertarungan sebelum Kanagara kembali menggunakan jurus aneh itu.
"Bersabarlah sedikit tuan Panca, aku akan mencari cara mengalahkannya," Lingga yang sedang mengatur kuda kudanya terpaksa harus menelan ludahnya kembali saat tubuhnya kembali kaku.
Belum sempat dia berfikir panjang, sebuah energi pedang menghantam tubuhnya.
"Sejak kapan dia menggunakan jurus itu? aku sudah mengamati jurus itu dan harusnya ada jeda beberapa menit sebelum dia kembali bisa menggunakannya," ucap Lingga sebelum pandangan matanya mulai memudar, dia terus berusaha menekan energi khas Latimojong untuk mempertahankan kesadarannya.
Namun tenaga dalamnya sudah lebih dulu habis karena sejak awal, Lingga bertarung dengan menahan sakit akibat jurus Kanagara yang terus merusak aliran darahnya dari dalam.
__ADS_1
Tubuh Lingga terbujur kaku dan menggantung di dinding ruangan saat kesadarannya benar benar menghilang.
"Gawat, jika terus seperti ini semua bisa tewas. Ilmu kanuragannya mungkin lebih tinggi dari Kawanda namun tidak dari Rubah Putih, aku bisa saja memberi perlawanan berarti andai bisa mengatasi jurus aneh itu," ucap Ken Panca yang masih belum bisa bergerak.
Kanagara melangkah mendekati Ken Panca perlahan sambil tersenyum dingin.
"Aku tak menyangka bisa bertemu dengan keturunan Dwipa ditempat ini, sepertinya ini hari keberuntunganku."
"Aku pernah mendengar jika dulu Masalembo terdiri dari empat trah besar hingga suatu saat trah keempat itu menghilang. Trah dengan kemampuan istimewa yang dapat mengalirkan tenaga dalam melalui udara dan merusak aliran darah lawannya saat tenaga dalam itu masuk diam diam kedalam tubuh lawan.
Aku sempat bingung saat mendengar Lakeswara membantai habis anggota trah itu namun kini aku jadi mengerti alasannya membantai trah Latimojong, kalian bertarung dengan cara pengecut," ejek Ken Panca.
Wajah Kanagara berubah seketika, dia tidak menyangka Ken Panca mengetahui jati dirinya.
"Bertarung dengan cara pengecut? kau membuatku tertawa, apa bedanya Kalacakra dengan mata bulan kalian?" balas Kanagara sinis.
"Jangan samakan mata bulan dengan jurus rendahan milikmu, Lakeswara mungkin iblis tapi dia selalu bertarung adil dan tidak pernah menggunakan wabah penyakit seperti dirimu," jawab Ken Panca.
"Apa kau bermaksud mengulur waktu dan membuatku marah? aku tidak sebodoh Kawanda yang terpancing oleh rencana kalian. Kau boleh berkata apapun tentang kami namun dalam pertarungan yang terpenting adalah kemenangan," Kanagara menarik pedangnya dan mengayunkan sekuat tenaga.
"Kau tau apa kelemahan terbesar manusia? dia akan mengendurkan kewaspadaannya saat merasa sudah menang, dan itu terjadi padamu," Ken Panca menoleh keatas bersamaan dengan munculnya Rubah Putih.
"Rubah Putih?" Kanagara yang terlambat menyadari kedatangan Rubah Putih menarik pedangnya dengan cepat dan berusaha mengarahkan lengan kirinya keatas.
Namun dia tersentak kaget saat tubuhnya tak bisa digerakkan.
"Tubuhku memang tak bisa bergerak namun segel bayanganku tak akan bisa kau hentikan," ucap Ken Panca tersenyum dingin.
"Sial, aku terjebak," umpat Kanagara kesal.
"Hampir saja aku terlambat," ucap Rubah Putih pelan.
"Tuan Rubah Putih anda...," belum selesai Ken Panca bicara, Rubah Putih sudah memotong ucapannya.
"Tidak, dia belum mati," Rubah Putih menunjuk Kanagara yang sudah bangkit lagi.
"Rubah Putih, aku sering mendengar kehebatan ilmu Kanuragan mu, sepertinya itu bukan isapan jempol," Kanagara mengatur nafasnya sambil menahan rasa sakit.
"Aku tersanjung dengan pujian yang kau berikan tapi itu tak akan merubah apapun, aku tetap akan membunuhmu," Rubah Putih tiba tiba bergerak kembali.
"Tuan, berhati hatilah dengan tangan kirinya," teriak Ken panca.
"Kau pikir bisa terus menyerang ku seperti tadi?" Kanagara mengarahkan lengan kirinya kearah Rubah putih dan dalam sekejap gerakan Rubah Putih berhenti.
"Sial, jurus itu sangat menyulitkan," umpat Ken Panca kesal. Harapan yang sempat melambung karena kemunculan Rubah Putih kembali menghilang.
"Apa tubuhmu tak bisa digerakkan? atau tubuhmu saat ini merasakan sakit akibat kacaunya aliran darahmu?" ejek Kanagara sambil berjalan mendekati Rubah Putih.
Rubah Putih terlihat menatap tajam pria dihadapannya, dia diam diam mengalirkan tenaga dalam ke golok pusaka nya.
"Aku pernah mendengar seorang pemuda berambut putih bertarung dengan Lakeswara dimasa lalu, saat itu aku sangat mengagumimu. Tak kusangka hari ini aku bisa menghadapi pendekar itu bahkan membunuhnya," ejek Kanagara.
__ADS_1
"Aku tidak tau siapa kau sebenarnya tapi jika kau menyamakan diri dengan Lakeswara itu sebuah mimpi yang sangat mustahil. Kekuatanmu bahkan jauh lebih lemah dari pada pendekar Sorik Merapi yang kubunuh saat itu jika tanpa jurus aneh ini," balas Rubah Putih.
"Teruslah mengejekku selagi kau bisa karena sebentar lagi orang yang kau sebut lemah ini akan membunuhmu," Kanagara mengalirkan tenaga dalam ke pedang pusaka miliknya.
"Matilah dengan tenang dan lihatlah bagaimana aku mengatur ulang tatanan dunia baru tanpa perang dan air mata."
"Ledakan tenaga dalam iblis memanfaatkan tenaga dalam yang saling bertabrakan ditubuh dan jurus yang kau gunakan mengacaukan aliran darah untuk menghentikan gerakan lawan dan menghancurkannya perlahan.
Satu yang kau lupakan, aliran darahku sudah kacau sejak aku mempelajari ledakan tenaga dalam iblis dan jurusmu tidak akan berguna di hadapanku," Rubah Putih kembali bergerak, dia merubah sedikit gerakannya saat berada di dekat Kanagara.
"Bagaimana dia masih bisa bergerak setelah terkena jurusku?" Kanagara yang tidak siap dengan serangan tiba tiba itu berusaha menghindar namun terlambat.
"Cakar pembalik langit," lengan kiri Rubah Putih menghantam tubuh Kanagara dengan keras.
Tubuh Kanagara kembali terlempar, dia berputar di udara sebelum bergerak menyerang balik.
"Lambat, kau bahkan lebih lemah dari Ciha sekali pun," Rubah Putih muncul dibelakangnya sambil mengayunkan goloknya.
"Ledakan tenaga dalam Iblis," Kanagara hanya bisa pasrah saat merasakan sakit di punggungnya sebelum terlempar dan membentur reruntuhan gerbang keempat.
"Jika kau mengira kekuatanmu sama dengan Lakeswara maka buang jauh pikiran itu, dia adalah monster terkuat yang pernah ku hadapi," Lingga berjalan mendekati Kanagara yang terus mengarahkan lengan kirinya kearah Rubah Putih.
"Percuma saja, apa yang kau lakukan itu sia sia, saatnya membunuhmu," ucap Rubah Putih dingin.
"Gerbang kelima terbuka," teriak beberapa pendekar Guntur Api dari jauh.
"Apa?" wajah Rubah Putih menjadi panik, dia langsung melesat cepat kearah suara berasal.
"Akulah pemenangnya, kini Pagebluk Lampor telah bebas. Ketua, saatnya mencoba mata kutukan itu," teriak Kanagara sebelum tubuhnya roboh dan tak sadarkan diri.
Kawanda melompat mundur saat mendengar teriakan Kanagara, dia mengalirkan tenaga dalam ke matanya dan berusaha merusak segel kegelapan abadi dimensi ruang dan waktu.
***
Sabrang mengernyitkan dahinya saat melihat hamparan rumput hijau dihadapannya, dia terlihat bingung karena seharusnya padang rumput itu adalah letak Gunung padang.
Sudah berkali kali Sabrang bersama Tungga Dewi dan Mentari memutar jalan namun hasilnya sama, gunung padang yang menjulang tinggi seolah berubah menjadi padang rumput.
"Yang mulia?" ucap Mentari bingung.
"Apa mungkin ini segel kabut? tapi seharusnya aku merasakan energi segel itu disini," jawab Sabrang bingung.
"Sepertinya ini segel kabut yang telah disempurnakan oleh Ciha Yang mulia, saat di air terjun tadi ibu ratu mengatakan jika sedang menunggu Ciha untuk menyegel gunung ini," ucap Tungga Dewi tiba tiba.
"Gawat, sepertinya Ciha tidak menyadari kita masih tertinggal di lereng gunung dan langsung menyegel gunung ini. Jika segel kabut ini telah disempurnakan olehnya, bagaimana kita bisa masuk ke gunung itu?" balas Sabrang pelan.
"Naga Api, apa kau merasakan energi api di tubuh Emmy?" tanya Sabrang.
"Aku sangat terkejut jika ini memang segel kabut, aku tidak merasakan energi apapun di tempat ini. Sepertinya segel ini tidak hanya mampu menyembunyikan gunung padang tapi juga mengurung kekuatan yang ada didalamnya," jawab Naga Api.
"Pertarungan di gerbang air terjun itu memang diluar rencana paman Wardhana, wajar jika Ciha tidak menyadarinya, sekarang kira harus memikirkan cara untuk memberi tanda pada Ciha," Sabrang menghela nafas panjang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=
Bonus chapter telah saya tepati.. yuk Vote....