Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pasukan Angin Selatan


__ADS_3

"Setelah melewati bukit itu kita akan sampai di Kadipaten Sukasari Pangeran". Wardhana berbicara setelah menyantap habis makanan yang ada dimejanya.


Sabrang mengangguk sambil sesekali membaca kitab yang diberikan Mantili padanya. Dia masih belum memahami beberapa gerakan aneh yang tergambar di kitab itu.


Tak jauh dari tempat mereka duduk, empat pendekar memperhatikan mereka sejak pertama mereka masuk penginapan tersebut.


Sabrang telah menyadarinya dari pertama dia masuk penginapan namun dia memilih diam karena merasa tidak terancam.


"Paman, ceritakan padaku seperti apa paman Kertapati dan pasukan angin selatan?". Sabrang menutup kitabnya dan memasukan dalam sakunya.


"Pasukan angin selatan adalah sebuah pasukan elit yang dibentuk untuk melindungi Yang mulia raja beserta keluarganya. Pasukan angin selatan dibentuk dari beberapa pendekar kelas menengah ditambah prajurit terbaik kerajaan.


Saat itu ada satu orang prajurit kerajaan yang paling menonjol baik kepintaran maupun bakat bela dirinya bahkan diantara para pendekar yang direkrut Yang mulia. Perkembangan ilmu kanuragannya berkembang pesat di bawah bimbingan Patih Wijaya. Setelah menyelesaikan misi menyusup ke salah satu sekte aliran hitam yang berusahan menghancurkan Malwageni dia diangkat menjadi komandan Angin selatan dan orang itulah yang bernama tuan Kertapati".


Wardhana menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. "Dia adalah seorang pendekar jenius yang begitu setia pada Malwageni. Ku dengar Yang mulia memerintahkannya untuk menyerah saat tak ada lagi harapan Malwageni untuk menang, tuan Kertapati diperintahkan untuk menyusun kembali kekuatan kelak saat anda memutuskan merebut kembali Malwageni. Tak ada penghinaan yang lebih besar bagi seorang pendekar selalin menyerah pada musuhnya namun tuan Kertapati memutuskan menelan dan menerima segala hinaan yang tertuju padanya demi merebut Malwageni kembali".


Sabrang terdiam mendengar cerita tentang Kertapati, dia merasa ayahnya dikelilingi orang orang yang begitu hebat dan setia.


"Terima kasih paman atas segala kesetiaan yang kalian tunjukan bahkan saat Malegeni sudah runtuh" Sabrang tiba tiba menundukan kepalanya pada Wardhana.


Raut wajah Wardhana berubah seketika melihat apa yang dilakukan Sabrang.


"Mohon Pangeran jangan melakukan itu, sudah menjadi tugas kami untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik Pangeran".


Beberapa saat kemudian Wardhana menoleh kearah pendekar yang memperhatikannya dari tadi.


"Pangeran.....". Belum sempat Wardhana menyelesaikan perkataannya Sabrang memberinya tanda untuk diam.


"Aku sudah menyadarinya dari kita pertama masuk penginapan. Lebih baik kita segera pergi dari sini aku tidak ingin membuat masalah yang dapat memancing prajurit Majasari". Sabrang berkata setengah berbisik.


Wardhana mengangguk pelan kemudian mengikuti Sabrang melangkah keluar penginapan.


***


"Berhenti di sana" Sebuah suara mengagetkan Sabrang dan Wardhana setelah berjalan agak jauh dari penginapan.


Beberapa pendekar yang tadi dipenginapan muncul dari balik pepohonan.


Wardhana terlihat bersiaga dengan memegang pedangnya.


"Jatuhkan barang yang kalian bawa" Salah seorang pendekar berjalan maju mendekati Sabrang.


"Kami hanya ingin lewat tuan, mohon jangan menghalangi kami". Sabrang berbicara pelan.

__ADS_1


"Jatuhkan barang yang kau bawa maka akan kubiarkan kalian lewat", Pendekar itu kembali berbicara dengan suara meninggi.


"Sepertinya aku tidak dapat mengabulkannya tuan" Sabrang menggeleng pelan.


"Kalian yang memaksanya". Pendekar itu menjentikan jarinya. Tak lama kemudian sepuluh pendekar lainnya muncul dari balik pohon dan mengepung Sabrang dan Wardhana.


"Serang mereka".


Para pendekar itu langsung bergerak menyerang Sabrang dan Wardhana.


"Mundurlah paman" Sabrang terlihat merapal sebuah jurus.


"Tapi Pangeran...". Wardhana tidak melanjutkan perkataannya ketika merasa suhu udara turun dengan cepat. Dia melompat mundur menjauhi Sabrang.


"Hembusan Dewa es abadi" Sabrang menghentakan telapak tangannya ke tanah. Tak lama seluruh permukaan tanah disekitar Sabrang dilapisi es tebal membuat para pendekar yang menyerangnya tak bisa bergerak karena pergelangan kakinya terkunci es yang menyelimuti tanah.


"Bagaimana mungkin tiba tiba es ini muncul dan mencengkram kakiku". Raut wajah pendekar itu berubah mengetahui kesalahannya telah memilih lawan yang salah.


"Tak kusangka Jurus dewa es tingkat dasar bisa sehebat ini". Sabrang tersenyum kecil.


"Pukulan Angin selatan". Tiba tiba seorang pria melesat menyerang Sabrang dari atas pohon. Sabrang dengan cepat mengarahkan telapak tangannya kearah pendekar yang menyerangnya.


Sebuah dinding es terbentuk tepat di depan Pendekar tersebut membuat pukulannya mengenai dinding tersebut.


"Bagaimana ada pendekar hebat di tempat terpencil ini?" Pendekar tersebut mengatur nafasnya, tak lama darah mengalir dari hidungnya.


"Hentikan!!!!" Wardhana seperti menyadari sesuatu, dia mendekat kearah pendekar yang terluka tadi.


"Siapa kau? bagaimana kau bisa menguasai Pukulan angin selatan".


"Tuan Wardhana?". Pendekar tersebut terkejut menatap Wardhana.


"Benar dugaanku kalian adalah Prajurit angin selatan".


"Maafkan kami tuan, aku kira anda pendekar Iblis hitam yang sering lewat sini". Pendekar tersebut menundukan kepalanya.


Wardhana menggeleng pelan, "Kalian harusnya meminta maaf pada Pangeran, apa yang kalian lakukan sudah sangat melewati batas".


"Pangeran?" Pendekar itu menoleh ke arah Sabrang kemudian berlutut dan menundukan kepalanya.


"Hamba pantas mati Pangeran". Wajah pendekar itu pucat pasi.


***

__ADS_1


"Kami sudah lama menunggu anda tuan" Pendekar itu masih menundukan kepalanya, dia tidak berani menatap Sabrang.


"Jadi kalian bersembunyi di sini". Wardhana menatap Pendekar itu sesaat.


"Siapa namamu paman?". Suara pelan Sabrang bagaikan pisau yang menusuk dadanya. Pendekar itu menyadari dia telah melakukan kesalahan yang sangat besar dengan menyerang Putra Mahkota Malwageni.


"Hamba Restu dari resimen pedang pasukan Angin selatan". Suara Restu bergetar menjawab pertanyaan Sabrang.


"Jadi ada berapa prajurit yang selamat dari penyerangan saat itu?" Wardhana berkata pelan.


"Hanya resimen Pedang dan panah yang berhasil selamat tuan, itupun tidak banyak sekitar 150 orang. Kami diperintahkan tuan Kertapati untuk menyebar agar tidak menimbulkan kecurigaan. Kami bertugas di Kadipaten ini untuk memastikan keselamatan tuan Kertapati".


"Kalian telah melakukan tugas dengan baik, aku sangat menghargainya". Wardhana menatap beberapa pendekar yang mulai menunjukan raut wajah menua.


"Sudah menjadi tugas kami tuan". Restu masih menundukan kepalanya.


"Ah sepertinya aku membutuhkan bantuanmu". Wardhana menceritakan rencana yang dibuatnya untuk menyelamatkan Kertapati.


"Tuan?" Restu hampir tidak mempercayai apa yang di sampaikan Wardhana padanya.


"Penjagaan di penjara Sukasari sangat ketat tuan bahkan beberapa pendekar tingkat ahli ditempatkan di beberapa posisi. Bagaimana anda akan menyusup kesana?".


"Kali ini kita akan bertaruh, Jika dugaanku benar saat pergantian petugas penjaga maka penjagaan akan sedikit longgar. Aku akan menyusup bersama Pangeran untuk membawa tuan Kertapati. Kau dan pasukanmu bertugas membuka jalur pelarian agar tidak menimbulkan keributan besar.


Namun sebelum itu aku ingin kau menempatkan beberapa orang disekitar pos penjagaan Sukasari untuk mengamati pergerakan pendekar Iblis hitam. Jika mereka terlihat meninggalkan Kadipaten Sukasari maka saat itu kita bergerak". Wardhana berbicara pelan.


"Bagaimana anda mengetahui jika mereka akan meninggalkan Kadipaten Sukasari?" Restu mengernyirkan dahinya.


"Firasatku mengatakan demikian". Wardhana tersenyum penuh makna.


Restu terdiam menatap pria yang ada dihadapannya.


"Sang Naga yang tertidur milik Malwageni telah kembali, sepertinya kita kembali memiliki harapan tuan Kertapati" Restu bergumam dalam hati.


***


Seorang pria terduduk di dalam penjara dengan luka hampir disekujur tubuhnya. Tangan dan kakinya terikat membuatnya nyaris tidak bisa bergerak. Hampir setiap hari Kertapati mendapat siksaan agar mengatakan dimana sisa pasukan angin selatan berada.


"Jika tubuhku tak mampu lagi menahan siksaan ini kuharap kalian tetap berjuang merebut kembali Malwageni dari tangan Majasari sesuai dengan perintah Yang mulia raja walau tanpa diriku".


Kertapati tersenyum kecil, dia kembali mengingat saat terakhir kali dia bertemu dengan Arya Dwipa.


"Seharusnya saat ini Pangeran telah dewasa, ku harap anda dapat menjadi raja yang hebat seperti Yang mulia raja".

__ADS_1


__ADS_2