Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pengorbanan Mentari


__ADS_3

"Arrrhgggh" Sabrang kembali merasakan sakit yang sangat di kepalanya. Matanya kembali berubah menjadi merah darah.


Sabrang kemudian memejamkan matanya dan mengalirkan tenaga dalamnya untuk menekan sakit yang menyerang kepalanya.


Perlahan tubuhnya kembali normal dan sakit di kepalanya mulai menghilang. Dia mengatur nafasnya perlahan sambil sesekali memijat kepalanya.


"Rasa sakit itu datang lagi, apa yang sebenarnya terjadi padaku".


Sabrang perlahan membuka matanya, ada sedikit rasa perih dimatanya namun warna bola matanya kembali normal.


"Kau harus mencari tau apa yang terjadi denganku Naga api".


"Apa yang terjadi pada tubuhmu sangat membingungkan, gejala yang kau alami beberapa hari belakangan ini sangat mirip dengan efek Air kehidupan namun bagaimana bisa tubuhmu bereaksi demikian jika kau bahkan tidak pernah menyentuh air itu".


"Air kehidupan?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Air kehidupan adalah sebuah air ajaib yang dapat membantu tubuh meregenerasi sel tubuh dengan sangat cepat sehingga kau tak akan cepat menua. Itulah kenapa air itu disebut juga air abadi. Namun dibalik khasiatnya yang luar biasa terdapat efek yang sangat mematikan.


Air kehidupan mengandung roh roh jahat penghuni Dieng yang setiap saat siap merebut tubuh peminum air tersebut. Tidak ada manusia yang abadi di dunia ini, roh air kehidupan lah yang akan abadi dalam tubuh barunya. Perlahan mereka akan memakan jiwamu kemudian menguasai tubuhmu dan menggunakannya untuk mencapai tujuan mereka".


"Tujuan mereka? siapa yang kau maksud dengan mereka?". Sabrang bertanya pelan.


"Nanti kau akan mengetahuinya sendiri, yang terpenting sekarang adalah mencari tau apa yang terjadi dengan tubuhmu".


"Namun anehnya aku tidak merasakan kehadiran energi lain selain milik anom dalam tubuhmu. Jika ada roh yang ingin merebut kesadaranmu harusnya aku sudah bisa merasakannya".


Sabrang terdiam mendengar penjelasan Naga api.


"Maaf Pangeran, anda baik baik saja?". Terdengar suara Wardhana dari balik pintu.


"Masuklah paman". Ucap Sabrang dari dalam kamarnya.


Tak lama Wardhana bersama Kertapari memasuki kamar Sabrang.


"Hormat pada Pangeran". Wardhana dan Kertapati berlutut di hadapan Sabrang.


"Bangunlah paman". Sabrang berbicara pelan sambil mempersilahkan mereka duduk.


"Tadi hamba mendengar anda berteriak, jadi hamba langsung datang kemari" Ucap Wardhana penuh khawatir.


"Aku tidak apa apa paman tadi sakit di kepalaku kambuh lagi".


"Apakah terjadi sesuatu pada anda?" Wardhana berbicara pelan.

__ADS_1


"Saat di Kadipaten Sukasari bola mata anda berubah menjadi merah darah saat anda merasakan sakit di kepala". Lanjut Wardhana penuh khawatir.


Sabrang mengernyitkan dahinya "Mataku menjadi merah?".


Wardhana menganggukkan kepalanya.


"Aku belum tau apa yang terjadi denganku namun sudah dua kali dalam tiga hari ini aku merasakan sakit di kepalaku".


"Maaf pangeran...." Kertapati memberanikan diri ikut berbicara.


"Ada apa paman? katakanlah". Sabrang menoleh kearah Kertapati.


"Anda pernah mendengar Ajian sukma papat unsur?".


Sabrang mengernyitkan dahinya kemudian menggeleng pelan.


"Sebelum hamba menjadi prajurit Malwageni hamba adalah pendekar dari sekte Kelabang ungu. Guruku pernah berkata jika semua manusia memiliki papat (Empat) unsur di tubuhnya yaitu (Tanah - Air - Api - Angin).


Jika manusia bisa memaksimalkan Ajian sukma papat unsur dia bisa menyatu dengan alam. Pendekar yang menguasai ajian ini sangat sulit untuk ditaklukan karena Tanah, Air, Api dan angin akan menjadi matanya dalam pertarungan sehingga gerakan musuh akan mudah terbaca.


Namun sayangnya jurus ini tidak bisa dipelajari ataupun dilatih. Dia akan muncul secara alami jika kita sedang bertarung. Tidak ada yang tau apa yang memicu ajian ini bangkit dalam tubuh kita bahkan banyak pertapa sakti sampai akhir hayatnya tidak bisa membangkitkan ajian ini.


Guru pernah mengatakan Ajian sukma papat unsur ada didalam diri semua manusia namun hanya beberapa orang yang beruntung merasakan jurus ini salah satunya adalah Kertasura, pemimpin tertinggi Iblis hitam".


"Jadi maksud tuan....?" Wardhana menatap Kertapati.


"Jika begitu hebatnya ajian itu kenapa Naga api sampai tidak mengetahuinya?".


"Lalu apa tindakan kita selanjutnya paman?". Sabrang memutuskan tidak memikirkan apa yang terjadi dengan tubuhnya.


"Hmmm ada sedikit perubahan Pangeran, sepertinya Paksi bisa membaca gerakanku selama ini. Sebenarnya beberapa hari ini hamba merasa ada yang janggal. Selain karena perjanjian kita dengan Lingga misi penyelamatan tuan Kertapati terlalu mudah.


Beberapa penjagaan di pos pemeriksaan seperti sengaja diperlonggar sehingga memudahkan kita pengamatan. Penjagaan di ruang tahanan selain pendekar Iblis hitam sepertinya mereka terlalu sedikit menempatkan penjagaan dan terkesan mempermudah langkah kita.


Hamba sangat paham kewaspadaan Paksi sangat tinggi, apa yang dilakukannya beberapa hari ini sangat membingungkan hamba.


Hamba akan pergi menemui Patih Wijaya di Kadipaten Ligung untuk membicarakan ini. Jika Pangeran berkenan hamba mohon Pangeran menemui tuan Mada di Rogo geni bersama tuan Kertapati".


"Aku menerima perintahmu paman". Ucap Sabrang sambil tersenyum.


Raut wajah Wardhana dan Kertapati berubah "Mohon jangan bicara demikian pangeran, maaf jika hamba terlalu banyak bicara". Wardhana menundukkan kepalanya. Wajahnya memucat mendengar perkataan Sabrang.


"Hahahaha Paman terlalu serius, aku hanya bergurau paman. Dengarkan aku paman bukankah kemarin aku sudah memberikan mu mandat untuk memimpin sementara menggantikan paman Wijaya. Aku masih terus belajar tentang strategi perang dan pemerintahan, sampai saatnya aku siap ku harap paman tetap memegang kendali pergerakan kita". Sabrang tersenyum menatap Wardhana.

__ADS_1


"Hamba menerima perintah". Wardhana masih menundukkan kepalanya.


***


"Pengguna Ajian Lebur sukma tidak akan bisa menikah?". Kumbara tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Suara kerasnya bahkan terdengar oleh Mentari.


Tak lama air mata menetes dari bola mata indahnya dan membasahi pipinya.


Sumbi mengangguk pelan "Benar itulah kenapa aku ingin ajian ini ikut mati bersama ku".


"Bagaimana bisa ada ajian seperti itu?" Kumbara mengernyitkan dahinya.


"Inti dari ajian lebur sukma adalah mengikat racun dan memanfaatkannya menjadi serangan. Racun itu akan terus mengalir dalam tubuhnya bersama tenaga dalamnya. Lelaki manapun yang "bercampur" dengan tubuhnya akan terkena racun dan mengakibatkan kematian. Itulah kutukan Lebur sukma".


"Belum selesai satu masalah timbul masalah lain". Kumbara memejamkan matanya.


"Bukan itu saja, saat dia mempelajari ajian Lebur sukma jika dia gagal mengikat racun dengan tenaga dalamnya saat berlatih maka kematian menunggunya".


Kumbara terdiam mendengar penjelasan Sumbi. Kini dia mengerti mengapa selama ini Sumbi tidak pernah menikah.


"Tolong ajarkan aku ajian itu". Mentari tiba tiba sudah ada di samping Kumbara.


"Nona..." Kumbara mencoba menjelaskan tentang ajian pelebur sukma.


"Aku sudah memutuskan kek, apapun resikonya aku ingin menjadi kuat dan membantu seseorang. Berada di sampingnya sudah cukup bagiku".


Sumbi menatap wanita yang mencoba berkorban untuk seseorang yang berarti baginya. Air mata yang mengalir dari matanya memperlihatkan sisi rapuhnya walau dia berusaha bersikap kuat dihadapannya.


"Kau akan kehilangan dia jika nekat mempelajari Lebur sukma". Sumbi berkata lirih.


***


"Dari mana saja kau". Maruta duduk dihadapan seorang pendekar yang duduk sedang menyantap makanan.


"Apa ada tugas yang begitu penting sampai ketua mengirim tuan Maruta langsung menemuiku". Langgeng tersenyum kecil.


"Tindakanmu menghancurkan Sekte Elang putih hampir membuat gerakan kita terbaca oleh mereka. Kuperingatkan kau untuk tidak melakukan hal gila lainnya sebelum ketua benar benar lepas dari pengaruh air kehidupan". Maruta mengeluarkan aura putih yang membuat tubuh Langgeng lemas seketika.


"Ilmunya sangat mengerikan" gumam Langgeng dalam hati sambil mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh untuk menahan efek tekanan.


"Aku bisa membunuhmu dengan satu serangan, ku harap kau tidak mencari masalah denganku". Maruta menatap tajam Langgeng.


"Maafkan aku tuan". Langgeng menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Maruta menarik nafasnya perlahan "Aku ingin kau menyusup ke Sekte Kencana Ungu, ku dengar mereka memiliki kitab Segel Bayangan. Bawakan aku kitab itu namun aku tidak ingin ada pembantaian seperti Sekte Elang putih".


"Baik tuan".


__ADS_2