
Wardhana menatap pedang pemberian Arya Wijaya cukup lama sebelum memejamkan matanya, wajahnya tampak gelisah dan sesekali dia memijat keningnya.
"Tak kusangka efek dari kejahatan yang dilakukan Masalembo memunculkan kelompok lain yang tak kalah berbahaya," ucap Wardhana dalam hati.
"Kau sebaiknya beristirahat sejenak karena hari masih siang, pulihkan tenagamu karena malam ini akan sangat panjang," Paksi muncul dari balik pintu sambil menundukkan kepalanya.
"Guru," Wardhana berdiri dan memberi hormat.
"Yang mulia memintaku untuk menemuimu karena sejak pertemuan berakhir kau belum pernah keluar ruangan. Apa apa yang kau pikirkan?" tanya Paksi sambil duduk dihadapan Wardhana.
Wardhana menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Paksi.
"Apa guru pernah kalah dalam pertempuran?" tanya Wardhana pelan.
"Hanya dewa mungkin yang tidak pernah kalah, aku sampai tidak bisa berapa kali aku kalah karena sangat banyak," jawab Paksi tenang.
"Lalu apa yang guru lakukan?" balas Wardhana.
"Merenung, cari apa yang salah dengan strategi yang aku buat kemudian memperbaikinya agar lain kali tidak mengalami pahitnya kekalahan," ucap Paksi pelan.
"Hanya itu? apa guru tidak merasa bersalah dengan para prajurit yang gugur?"
"Tak ada yang ingin terbunuh dalam perang namun saat kau memutuskan menjadi prajurit manapun maka kau harus siap dengan kematian yang akan datang kapanpun.
Strategi bertempur adalah sebuah seni perang yang saling memperkirakan pergerakan lawan dan memanfaatkan kelemahan mereka untuk memenangkan pertempuran. Semua hanya perkiraan karena tak ada yang pasti dalam berperang.
Ketika kau memenangkan pertempuran melawan aku dan Majasari di Rogo Geni, kau jauh lebih unggul dalam membaca pergerakan lawan. Jika kita bertempur lagi apa kau pasti akan menang? belum tentu karena aku sudah mempelajari apa kesalahanku saat itu.
Yang ingin aku katakan padamu adalah jangan pernah takut kalah dalam pertempuran, perbaiki semua kesalahan yang pernah kau lakukan dulu dan jadikan senjata barumu," ucap Paksi.
Wardhana terdiam setelah mendengar ucapan Paksi sambil menatap wajah gurunya itu.
"Bayangan kehancuran Malwageni entah kenapa muncul kembali dalam pikiranku, aku takut Cakra Tumapel tidak ingin bernegosiasi."
"Apa kau ingat pesanku jika kau sedang bernegosiasi dengan lawan? Pastikan posisimu berada di atas mereka. Kekuatan dan membaca psikologis lawan adalah hal yang paling utama dalam keberhasilan negosiasi.
Manusia cenderung tidak akan berfikir jernih jika dalam posisi tertekan melihat kekuatan lawan, saat itulah kau harus memastikan menguasai keadaan. Jika kau sudah mengontrol keadaan maka semua dalam genggaman mu. Jadilah Iblis kejam saat bernegosiasi dan jangan sekalipun tunjukkan kelemahan dihadapan mereka, lawan harus melihat jika kau adalah dewa yang tidak bisa dikalahkan," balas Paksi
"Jika negosiasi buntu?" tanya Wardhana.
"Negosiasi buntu menandakan kekuatan kalian berimbang, maka jangan berikan celah untuk lawan memiliki posisi tawar di hadapanmu, hancurkan rasa percaya diri mereka secepat mungkin.
Dengar Wardhana, aku tidak suka berbasa basi, saat ini jika ada orang yang bisa menundukkan Cakra Tumapel maka orang itu adalah dirimu, tunjukkan jika Yang mulia Arya Dwipa tidak salah memilihmu," jawab Paksi tegas.
"Guru...," Wardhana tampak mulai percaya diri kembali setelah mendengar ucapan Paksi, dia bangkit dari duduknya dan memberi hormat cukup lama.
"Terima kasih atas segala bimbingan yang anda berikan," ucap Wardhana tulus.
"Jangan berterima kasih padaku, jika kau merasa ucapanku benar maka buktikan dengan membawa kejayaan pada Malwageni. Kita dipertemukan di keraton ini dan aku menemukan jalan hidup juga di sini jadi pastikan keraton Malwageni tidak hancur," balas Paksi cepat.
Wardhana hanya menganggukkan kepalanya, kini perasaannya jauh lebih lega.
"Tuan aku mohon menghadap," suara Arung terdengar dari luar ruangan.
"Masuklah," jawab Wardhana cepat.
Arung melangkah masuk dan memberi hormat pada Wardhana.
"Tuan, menurut beberapa Telik sandi yang kusebar, ada sepuluh orang tak dikenal bergerak kearah Malwageni, kemungkinan malam mereka sudah sampai," ucap Arung pelan.
"Mereka sudah mulai bergerak, pastikan semua berada di posisinya dan jangan bergerak sebelum ada perintahku. Aku akan menemui Rakiti untuk mempersiapkan sesuatu," ucap Wardhana.
"Baik tuan," jawab Arung cepat sebelum melangkah pergi.
__ADS_1
"Aku akan menemui Yang mulia dan Ibu ratu, ingat pesanku, jangan buka negosiasi sebelum kau memastikan posisimu!" ucap Paksi mengingatkan.
"Baik guru, aku mohon diri."
***
Di sebuah ruangan bawah tanah, Rakiti terlihat duduk bersemedi sambil memejamkan matanya. Dia berusaha menarik tenaga dalamnya namun tak berhasil, tenaga dalam yang sudah dilatih hampir seumur hidupnya itu seolah menghilang tanpa sisa.
"Sial! wanita itu benar benar memusnahkan seluruh ilmu kanuraganku," umpat Rakiti kesal.
Rakiti membuka matanya saat merasakan ada yang menatapnya, tampak Wardhana berdiri dari balik jeruji sambil tersenyum.
"Apa kau datang ingin mengejekku? jika benar maka lakukan selagi kau bisa, karena walaupun kau menghukum mati aku, Cakra Tumapel tidak akan tinggal diam, kalian akan dihancurkan," ucap Rakiti sinis.
"Anda tak perlu khawatir karena aku sudah mempersiapkan sesuatu untuk menyambut mereka datang," balas Wardhana pelan.
"Menyambut? jadi kau sengaja memancing kami datang? apa yang sebenarnya kau rencanakan!" Rakiti tampak terkejut setelah mendengar ucapan Wardhana.
"Apa kau pikir aku begitu kejam dengan menghukum mati lawan yang sudah tidak berdaya? aku sengaja menyebarkan kabar akan menghukum mati kalian untuk memancing mereka keluar," balas Wardhana.
"Bukankah kau terlalu percaya diri Wardhana? apa kau pikir ketua Cakra Tumapel selemah itu sampai kau dengan sangat yakin mengundangnya datang?"
"Apa yang harus kami takutkan jika mengalahkan manusia terkuat bernama Lakeswara pun mampu. Kau tidak berpikir ketua Cakra Tumapel jauh lebih kuat dari pemimpin tertinggi Masalembo itu bukan?" jawab Wardhana mengejek.
"Kau!" Rakiti menatap tajam Wardhana sambil mengepalkan tangannya.
"Kau tau tuan, aku sangat ingin sekali membunuhmu karena kebodohan kalian selama ini namun Yang mulia melarang ku," ucap Wardana sambil melempar gulungan kecil pada Rakiti.
"Bacalah, itu adalah catatan yang kubuat tentang rahasia dari Pagebluk Lampor yang berhasil kuketahui. Aku akan sabar menunggu disini sampai kau selesai membacanya. Jika kau menganggap aku berbohong maka aku akan pergi dan menghancurkan Cakra Tumapel dengan tanganku sendiri," ucap Wardhana.
Rakiti tampak terkejut setelah membaca catatan yang dibuat Wardhana, dia teringat kembali ucapan Ciha mengenai Pagebluk Lampor di Trowulan.
"Guntur api? aku baru mendengar nama itu selama hidup di dunia persilatan," ucap Rakiti pelan.
Saat ini musuh kita sama yaitu Guntur api, kegilaan mereka yang ingin melepaskan wabah penyakit itu tak akan kubiarkan. Aku bicara padamu karena ingin mengurangi jumlah musuh tapi jika Cakra Tumapel tetap pada keputusannya aku dengan senang hati menghancurkan kalian lebih dulu sebelum Guntur Api," ucap Wardhana.
Rakiti mulai termakan rencana Wardhana, dia melihat Wardhana tidak main main dengan ucapannya. Rakiti sebenarnya setuju dengan apa yang dikatakan Wardhana, dengan kekuatan yang dimiliki Sabrang saat ini bukan mustahil menghancurkan Cakra tumapel.
"Simpan catatan itu dan pikirkan ucapanku, kuharap kau mampu berfikir jernih. Pagebluk Lampor tidak boleh keluar atau Nuswantoro akan musnah," ucap Wardhana sebelum melangkah pergi.
"Jika benar Pagebluk Lampor adalah wabah penyakit dan anggap aku percaya pada semua ucapanmu, tetap tidak akan mengubah apapun. Aku sendiri tidak yakin mampu merubah sikap ketua dengan cepat karena dendam masa lalunya pada trah Dwipa begitu besar," ucap Rakiti tiba tiba.
Wardhana menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Rakiti.
"Aku sudah memiliki cara untuk bicara dengan ketua Cakra Tumapel, kau hanya perlu sedikit membantuku. Sasaran utamaku bukan kalian tapi Guntur api," ucap Wardhana pelan.
"Membantumu?" Rakiti mengernyitkan dahinya.
***
Suasana keraton Malwageni malam itu tampak sedikit mencekam, sesuai perintah Wardhana ratusan pasukan Angin selatan berjaga di gerbang utama keraton.
Suasana makin mencekam karena malam itu hujan turun cukup besar, kilatan petir dan suara gemuruh seolah menjadi pertanda akan ada pertumpahan darah di keraton Malwageni.
Di sebuah tanah kosong yang berada tepat di belakang aula utama, tampak dua orang berdiri dengan tangan terikat dan penutup kepala.
Wardhana yang berdiri dibawah guyuran hujan bersama Rubah Putih dan Candrakurama terlihat menarik nafas panjang sebelum memberikan perintah untuk memenggal kedua orang itu.
Dua algojo itu saling menatap setelah melihat perintah Wardhana, mereka kemudian menarik pedangnya dan bersiap memenggal kepala dua orag dihadapannya.
Saat kedua pedang itu hampir menyentuh leher para tahanan, sesosok tubuh melesat cepat dan menyerang mereka.
Serangan cepat dan tiba tiba itu membuat dua algojo terlihat tidak siap, tubuh mereka terlempar dengan luka sabetan pedang tanpa bisa bereaksi apapun saat sebuah pedang menghantam.
__ADS_1
"Cepat sekali," Rubah Putih dan Candrakurama langsung bereaksi, mereka bergerak cepat kearah pendekar misterius itu. Namun langkah mereka terhenti ketika sembilan pendekar Cakra tumapel lainnya muncul bersamaan.
"Cakra Tumapel? sepertinya kalian terlalu percaya diri sampai berani datang kemari," ucap Rubah Putih sambil melepaskan aura dari tubuhnya.
"Cakra Tumapel tak pernah takut dengan siapapun termasuk pada Rubah Putih, apalagi jika anggotanya di usik," balas Biantara.
Rubah Putih mengernyitkan dahinya, dia tidak menyangka mereka tau identitasnya.
"Baiklah jika begitu, aku tak akan sungkan lagi," Rubah Putih memutuskan menyerang lebih dulu diikuti Candrakurama, dia langsung melepaskan jurus ledakan tenaga dalam Iblis untuk menekan para pendekar yang menghadangnya.
Biantara terlihat terkejut setelah melihat ilmu kanuragan Rubah Putih, walau sudah memperkirakannya namun dia tidak menyangka akan setinggi itu.
"Aku harus cepat membawa mereka pergi," Biantara mendekati dua orang yang tadi hampir dihukum mati.
Wajahnya berubah seketika saat salah satu dari mereka tiba tiba bergerak menyerang.
Kobaran api membakar penutup kepalanya sesaat sebelum sebuah pedang muncul ditangannya.
"Jurus pedang pemusnah raga," Sabrang melesat cepat bersamaan dengan kobaran api yang terus membesar di tubuhnya.
"Dia?" Biantara menarik pedangnya dan melompat mundur namun gerakannya terlambat, Sabrang sudah berada didekatnya.
"Jurus pedang..." tubuh Sabrang tiba tiba berhenti saat udara disekitarnya memadat.
"Jurus dinding udara milik Kuntala," ucap Sabrang terkejut.
"Kau terkejut? kau akan semakin terkejut saat aku mampu mengalahkan keturunan trah Dwipa dengan satu serangan. Lakeswara akan menangis menyesal telah membuang ku," Biantara menyerang balik, dia memutar pedangnya sedikit.
"Jurus pedang kilat penghancur," Biantara mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.
"Bahkan dia menguasai jurus milik Kuntala," Sabrang memejamkan matanya sesaat, dia menggunakan ajian Inti lebur saketi tingkat III untuk menarik energi dewa api.
Suara ledakan terdengar saat dua pusaka berbenturan, terlihat tubuh Biantara terpental diantara bebatuan yang beterbangan akibat efek ledakan.
"Bagaimana dia bisa bergerak di dinding udaraku?" belum hilang rasa terkejut Biantara, Sabrang sudah berada didekatnya.
"Cakar dewa bumi," lengan Sabrang berusaha menjangkau tubuh lawannya namun Biantara lebih sigap, dia menggunakan dinding udara disekitarnya untuk bergerak menghindar sebelum menyerang balik.
Sabrang bergerak lincah menghindari setiap serangan Biantara yang semakin cepat.
Sabrang sebenarnya sedikit lebih unggul namun dinding udara yang ada disekitar Biantara sedikit merepotkan pergerakannya.
Sabrang terpaksa menggunakan energi dewa api lebih banyak untuk membuat tubuhnya bergerak lincah diantara dinding udara.
Beberapa serangan Biantara mampu mengenai tubuh Sabrang namun disaat yang bersamaan tubuhnya pun tak luput dari serangan.
Setelah bertukar belasan jurus, Biantara memutuskan melompat mundur saat kobaran energi Dewa api tiba tiba membesar.
"Api itu benar benar menyulitkan," umpat Biantara pelan.
"Apa kau pikir dinding udara ini mampu menghentikan ku?," ucap Sabrang mengejek.
"Kau terlalu percaya diri nak, jurus itu hanya sebagai salam pembuka, kuharap kau bersiap karena aku tak akan melepaskan keturunan Lakeswara," balas Biantara pelan.
"Terima kasih atas peringatannya, kini giliranku untuk memberikan ucapan selamat datang," jawab Sabrang.
Sabrang dan Biantara bergerak bersamaan, luapan energi dari kedua tubuh mereka menandakan pertarungan dua kekuatan besar akan terjadi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sebenarnya saya akan memberi bonus kembali malam ini tapi ada pekerjaan yang harus saya kerjakan lebih dulu.
Chapter bonus kemungkinan akan saya upload tengah malam nanti. Jadi jangan ditunggu, kalian boleh membacanya esok hari... jangan begadang, begadang itu berat buat jomblo biar Author saja...
__ADS_1