
Semua memandang heran saat Sabrang tiba tiba mematung, bahkan Wulan sari dan Maruta saling mengambil jarak dan menghentikan serangannya demi melihat situasi terlebih dahulu. Tak ada yang berani menyerang, semua tak ingin gegabah setelah melihat kecepatan yang ditunjukan Sabrang tadi.
"Apa yang sebenarnya direncanakannya? dia membuka semua celah pertahannya". Wulan sari berkata dalam hati.
Lingga memanfaatkan kesempatan itu untuk memulihkan tenaga dalamnya. Sedikit banyak tenaga dalamnya terkuras akibat mengalirkannya ketubuh Sabrang. Mentari medekati Ciha dan memapah tubuhnya menjauhi area pertarungan.
"Apa maksudmu Anom? aku tidak berniat merebut tubuhnya selamanya. Setelah keluar dari Dieng aku akan mengembalikan kesadarannya". Naga api terlihat tidak senang Anom berusaha merebut kembali kesadaran Sabrang darinya.
Naga api merasa dia harus merasuki Sabrang agar tidak terpengaruh jurus malih raga seperti sebelumnya dan dia berniat mengembalikan kesadarannya setelah keluar dai Dieng.
"Aku yang menginginkan kesadaranku kembali Naga api". Ucap Sabrang tiba tiba.
"Jadi kekuatan yang menekanku tadi?". Naga api terlihat terkejut mendengar ucapan Sabrang.
"Aku yang meminta Anom membantuku merebut kembali kesadaranku darimu. Aku tau niat mu baik, namun aku akan menyelesaikan sendiri masalah ini Naga api". Sabrang menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Saat aku terkena jurus malih raga aku melihat semuanya, aku melihat kesalahpahaman ini dan dosa leluhurku. Mahendra dan Lembah siluman diciptakan oleh leluhurku secara tidak langsung.
Aku melihat ken panca membunuh ratusan orang tak berdosa saat mata bulan mengendalikannya. Malih raga memicu Mata bulan berkembang pesat sehingga Ken Panca tidak mampu lagi mengendalikannya.
Saat dia tersadar semua sudah terlambat, seluruh tangannya sudah berlumur darah. Setelah mengetahui betapa mengerikannya mata bulan berkembang pesat di tempat ini dia memutuskan mengubur tempat ini selamanya. Dia tidak ingin Iblis petarung yang memiliki mata bulan sempurna bangkit kembali. Apa yang dia lakukan semua demi kebaikan dunia persilatan namun caranya salah.
Dia membunuh semua pengikutnya termasuk murid kesayangannya Mahendra karena takut mereka membocorkan tempat ini. Mahendra berhasil selamat dari pembantaian Ken panca namun dia akhirnya membawa dendam kusumat pada Ken Panca dan pada dunia persilatan, itu yang memicunya membentuk Lembah siluman dan bertekad mengubah tatanan dunia persilatan dengan mengincar pusaka kelima Suling Raja setan, sebuah pusaka yang sebenarnya tidak pernah ada.
Semua kejadian ini sudah diatur sedemikian rupa oleh Iblis petarung dari dalam gerbang kegelapan itu. Mereka membuat Ken Panca tergila gila pada Mata bulan melalui mimpi dan dilain pihak mereka mempengaruhi pendekar paling berbakat saat itu Mahendra dengan air kehidupannya. Semua demi tujuan hari ini, membuka segel gerbang kegelapan". Ucap Sabrang lirih. Dia benar benar tidak menyangka trah Dwipa memiliki andil paling besar dalam kekacauan ini.
"Jadi naga api?". Anom tak melanjutkan ucapannya.
"Benar, Naga api adalah kepingan terakhir rencana Iblis petarung. Ken Panca membuat Pedang Naga api dalam keadaan terpengaruh jurus malih rupa. Mereka membutuhkan energi Banaspati untuk membuka segel gerbang kegelapan. Namun kesadaran Ken Panca di ujung hidupnya membuyarkan semuanya. Ken panca justru membuat segel tambahan menggunakan pusakanya untuk memperkuat segel sebelumnya.
Namun leluhurku melakukan kesalahan kecil yang sangat fatal yaitu menciptakan Lembah siluman yang kini kembali dimanfaatkan oleh Iblis petarung untuk membuka gerbang itu. Aku akan menyelesaikan semua kesalahpaman yang dibuat leluhurku. Jadi percayalah padaku Naga api, aku tak akan sudi dikendalikan pusaka apapun termasuk mata bulan".
Naga api terdiam mendengar ucapan Sabrang, dia benar benar tidak menyangka Panca menciptakannya untuk rencana membuka gerbang kegelapan.
"Jadi apa rencanamu nak?". Anom bertanya pelan.
__ADS_1
"Kita akan memastikan Iblis petarung tidak pernah bangkit kembali". Mata Sabrang terlihat bersinar namun kini tidak ada lagi lingkaran kecil berwarna merah darah.
"Dengarkan aku naga api, jika kau diciptakan untuk rencana kebangkitan mereka maka aku akan memastikan kekuatanmu akan kugunakan untuk menghancurkan mereka. Jadi berikan seluruh kekuatanmu". Ucap Sabrang.
"Kau memang bodoh bocah, namun kali ini akan aku ikuti kemauanmu". Ucap Naga api.
Lingga terlihat memegang erat pedangnya. "Dia mulai bergerak, berhati hatilah kita tidak tau dia akan menyerang siapa". Lingga merasakan aura yang sangat besar meluap dari tubuh Sabrang.
"Pergilah ke gerbang kedua, berikan air kehidupan pada Ciha agar dia selamat, aku membutuhkannya untuk masuk ke Lembah merah. Aku akan segera menyusul setelah membereskan semua ini". Sabrang menoleh kearah Lingga.
"Kau?". Lingga menatap Sabrang tak percaya.
"Tidak akan ada yang pernah bisa merasukiku termasuk tempat ini. Cepat Pergi". Sabrang Menghilang setelah selesai bicara.
"Wasta berhati hatilah". Pradipa mencoba memperingatkan Wasta tetapi Sabrang lebih dulu muncul dihadapan Wasta.
"Jangan pernah berani menyentuhnya". Tebasan Pedang Naga api membuat tubuh Wasta terpental jauh.
Pradipa melesat cepat setelah Wasta roboh, gerakannya kali ini lebih cepat dan mengandung kekuatan yang sangat besar. Dalam sekejap terjadi pertempuran sengit diudara.
"Bagaimana dia bisa berpindah tempat secepat ini". Pradipa melompat mundur demi menjaga jarak dengan Sabrang namun betapa terkejutnya dia saat Keris penguasa kegelapan sudah menghujam tubuhnya.
"Aku tidak berniat membunuhmu, ada yang harus kubicarakan dengan ketuamu". Telapak tangan Sabrang menyentuh punggung Pradipa, dan dalam hitungan detik tubuh Pradipa sudah membeku diselimuti Es.
"Nenek pergilah bersama mereka, aku membutuhkan nenek untuk menjaga Mentari, biar aku yang menghadapinya". Ucap Sabrang saat muncul disamping Wulan sari.
Wulan sari tersentak kaget karena dia yakin beberapa detik lalu Sabrang berdiri agak jauh darinya.
"Berhati hatilah, kemampuannya setingkat diatasku". Wulan sari melesat menyusul Lingga dan lainnya yang berlari kehulu sungai.
"Akulah lawanmu". Sabrang melepaskan beberapa pukulan kearah Maruta saat akan mengejar Wulan sari.
"Kau? Bagaimana bisa". Maruta merasakan seluruh tubuhnya bergidik saat Sabrang seperi memgetahui gerakan yang belum dilakukannya.
"Aku ingin bicara denganmu mengenai tempat ini". Ucap Sabrang pada Maruta.
__ADS_1
"Bicara denganku? tempat ini?". Maruta mengernyitkan dahinya.
***
"Biar aku membantumu". Wulan sari muncul dan memapah tubuh Mentari yang terlihat lemas.
Mereka segera melesat menuju hulu sungai, tempat gerbang kedua itu berada.
"Tuan ... tuan muda....". Mentari Menatap cemas Sabrang dari punggung Wulan sari.
"Biarkan dia menyelesaikan masa lalunya, saat ini tugas kita adalah mencari air kehidupan untuk pemuda ini. Bagaimanapun jika ingin menyingkap lebih jauh rahasia Dieng dan Lembah siluman hanya pemuda ini yang bisa membantu kita".
Lingga menghentikan langkahnya saat tepat berada dipingir tebing. Air terjun yang menjulang tinggi menandakan mereka sudah di hulu sungai.
"Ciha, dimana gerbang kedua berada?". Tanya Lingga pada pemuda yang digendongnya.
"Batu yang berada dibawah air terjun itu kuncinya. bawa aku kebawah air terjun itu, aku akan membuka gerbangnya dengan segel 4 unsur". Ucap Ciha pelan. Tubuhnya sudah sangat lemah akibat darah yang yang kembali mengalir terkena serangan Maruta tadi.
"Bagaimana mungkin didalam gua kecil dipinggir laut ada tempat seindah dan sebesar ini". Wulan sari menatap takjub air terjun dihadapannya. Mereka seolah memasuki dimensi berbeda sejak melangkah masuk dari gua di tebing bukit kelam.
Lingga menurunkan Ciha hati hati disebuah batu dibalik Air terjun. Tubuh mereka semua basah terkena air yang jatuh dari tebing tinggi dihadapan mereka.
"Apa yang ada didalam gerbang kedua itu lebih berbahaya dari tempat ini. Ingat waktu kita tinggal 3 hari lagi jika sampai terlambat keluar dari sini kita akan terkurung sampai gerbang pertama kembali terbuka satu tahun kedepan. Kita harus cepat". Ciha memejamkan matanya dan merapal segel 4 unsur.
Setelah Ciha meletakkan telapak tangannya diatas batu itu sesuatu terjadi pada sungai dihadapan mereka. Perlahan namun pasti muncul pusaran air dibawah air terjun itu. Setelah pusaran air itu menghilang Ciha menunjuk sungai dihadapannya.
"Itulah gerbang kedia Dieng".
Lingga mengernyitkan dahinya bingung, dia masih belum mengerti maksud ucapan Ciha.
"Apa yang kita cari ada dibalik tebing dan sungai ini terhubung dengan sungai dibalik tebing ini. Disanalah tempat yang kita cari selama ini, Tanah para dewa".
"Hah? jadi kita harus berenang dan menyelam kesana?". Lingga langsung lemas. Dia paling membenci sesuatu yang berhubungan dengan sungai karena saat masih kecil dia hampir mati terseret air sungai.
"Kau ingin masuk atau menunggu disini?". Ejek Ciha.
__ADS_1
Lingga menggeleng pelan sesaat sebelum terjun kesungai dan menyelam, tak lama Wulan sari mengikuti bersama Mentari. Akhirnya mereka akan memasuki tempat yang paling misterius di dunia ini.