Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Misteri kelompok Teratai Merah dan Dieng II


__ADS_3

Wulan sari mematung memandang batu tulis yang ada ditengah ruangan. Dia benar benar tidak menyangka jika leluhurnya berhasil masuk gerbang kedua Dieng. Dia merasa aneh karena sebenarnya leluhurnya adalah sekumpulan pedagang yang selalu berpindah tempat dan bukan pendekar.


Mereka baru memiliki Ilmu kanuragan saat secara tidak sengaja menemukan gerbang Dieng. Bagaimana mereka bisa masuk gerbang kedua tanpa ilmu kanuragan sedikitpun.


"Mereka benar benar pernah menginjakan kaki disini, bagaimana mungkin seorang pedagang tanpa ilmu kanuragan bisa masuk kesini". Ujar Wulan sari pelan.


"Secara tidak sengaja menemukan gerbang? bagaimana jika mereka sudah tau gerbang itu dari awal". Wulan sari seperti menyadari sesuatu, dia bergegas mendekati batu tulis dan berusaha membacanya.


"Apa kau benar benar bisa membacanya?". Ciha mendekati Wulan sari.


"Diamlah, aku sedang berusaha membacanya". Wulan sari meraba tulisan di batu itu.


"(Mimpi itu membawaku ketempat ini, Sebuah tempat yang sangat indah dan mengerikan namun yang membuatku paling terkejut adalah tulisan yang dibuat ken panca pada batu tulis mengenai mimpinya sama persis dengan mimpiku. Rasa penasaranku membimbingku masuk lebih dalam melalui sungai itu. Kami mulai mengikuti petunjuk Ken Panca dan langkah kakiku berhenti didanau kehidupan. Bagai tersambar petir, aku menemukan fakta yang membuat kami hampir mati berdiri. Mimpi itu mendatangi kami bukan kebetulan namun karena teratai merah adalah keturunan Mahendra yang dibantai dengan keji oleh Ken Panca demi ambisinya. Setidaknya itu yang kupukirkan jika tidak membaca batu tulis ken panca. Siapapun yang mengerti tulisan ini berarti kalian adalah keturunanku, pergi ke danau kehidupan dan segel tempat terkutuk ini selamanya)"


Wajah Wulan sari tersentak kaget. Dia tidak pernah berfikir jika orang yang ingin dibunuhnya saat ini adalah leluhurnya. Dia tidak pernah membayangkan jika ketua Lembah siluman adalah leluhurnya.


"Ken Panca pun menemukan tempat ini lewat pesan yang dia dapat dari mimpinya, begitu juga leluhurmu. Leluhurmu tidak menemukan gerbang secara kebetulan namun dibimbing mimpi itu". Ucap Ciha tiba tiba.


"Jadi maksudmu?". Wulan sari menatap bingung Ciha.


"Ken Panca menyadari itu setelah membantai para pengikutnya. Dia berhasil sadar dari pengaruh malih raga namun tidak dengan Mahendra. Malih raga terus memupuk kebencian Mahendra pada ken panca agar dia membuka gerbang kegelapan. kita harus segera ke danau kehidupan, jika Mahendra tidak bisa dihentikan setidaknya kita bisa menyegel tempat ini selamanya sesuai pesan leluhurmu".


Wulan sari mengangguk cepat "Jika di tempat itu benar benar bisa menyegel Dieng selamanya, kita tak boleh membuang waktu. Ayo kita pergi".


"Kau benar benar bisa disegel selamanya?". Lingga yang dari tadi hanya diam bertanya pada Ciha saat menggendongnya.


"Itu yang dikatakan batu tulis itu, semoga saja". Ucap Ciha pelan.


"Sekecil apapun kemungkinannya aku ingin kau pastikan tempat ini tak pernah terbuka lagi".


"Kau bisa mengandalkanku". Ciha tersenyum kecil.


Mereka berempat melesat cepat menuju Danau kehidupan sesuai petunjuk yang ditinggalkan di kuil itu.

__ADS_1


***


"Kenapa kau tidak membunuhku? Jika kau tidak membunuhku saat ini aku akan membunuhmu suatu saat". Maruta berteriak saat Sabrang tiba tiba melangkah pergi. Dia tidak habis pikir dengan sikap yang ditunjukan Sabrang. Tubuhnya saat ini tidak bisa digerakkan akibat diselimuti bongkah es, Sabrang bisa saja membunuhnya dengan mudah namun Sabrang lebih memilih pergi tanpa bicara apa apa.


Sabrang menghentikan langkahnya, dia menoleh sambil tersenyum sinis.


"Apa membunuhmu akan menghentikan semua ini? Jika kau tidak bisa diajak bicara biar aku sendiri yang menghentikan semuanya". Ucap Sabrang pelan.


"Apakah semua itu penting bagimu? Kau memiliki kekuatan yang bisa menguasai dunia persilatan namun kau lebih memilih hal seperti ini. Dunia persilatan sudah hancur sebelum kau dilahirkan, sekuat apapun kau melindunginya mereka tetap tak akan menghargaimu".


"Kekuatan dan kekuasan bukan yang terpenting dalam hidupku. Jika leluhurku lebih mementingkan semuanya dia tidak akan berusaha memutup tempat ini sampai mengorbankan semuanya. Es itu akan mencair dalam beberapa jam kedepan, kau bebas memilih jalanmu. Saranku jangan pernah menghalangi jalanku, hasilnya akan tetap sama". Ucap Sabrang dingin.


"Tunggu, Apa Iblis petarung benar benar ada di gerbang itu?". Pertanyaan Maruta menghentikan langkah Sabrang.


"Kau ingin memeriksanya sendiri?". Tanya Sabrang sinis.


Maruta tersenyum kecut mendengar ejekan Sabrang. Mana mungkin dirinya nekat membuka gerbang itu jika Iblis petarung benar benar terkurung disana. Jika mereka sampai bebas dia yak yakin ada yang bisa menghentikan mereka.


"Dia ada di sekte Rajawali emas".


"Kau pernah mendengar sepasang Pendekar api dari langit? (Ada di chapter 58 : Rahasia tanah para dewa)".


Sabrang mengangguk pelan, dia pernah mendengar cerita itu dari ki Gandana saat memperingatkannya untuk menjauhi Dieng.


"Dunia persilatan pernah digegerkan dengan kemunculan sepasang pendekar hebat yang misterius bernama Giri patih dan Ajisaka. Mereka dengan mudahnya mengalahkan semua pendekar dunia persilatan. Tidak ada yang tau dari mana mereka berasal dan ilmu apa yang digunakannya.


Mereka terkenal dengan julukan pendekar api dari langit karena kehebatan jurus yang mereka gunakan seolah berasal dari dunia lain. Salah satu pendekar yang bernama Ajisaka menggunakan pedang Naga Api".


"Aku sudah tau cerita itu, yang ingin kutau apa hubungan ceritamu dengan sekte Rajawali Emas?". Sabrang terlihat tidak sabar.


"Ajisaka tak benar benar mati saat Giri patih membunuhnya. Sebelum pertarungan hidup mati mereka, Ajisaka melanggar janji untuk tidak menginjakkan kakinya di Dieng. Ajisaka diam diam masuk Dieng dan mempelajari ilmu rogo sukmo milik Ken Panca. Rogo sukmo digunakan ken Panca untuk memindahkan roh ke pusaka ciptaannya. Dia Ratusan tahun dia bersembunyi di Lembah merah untuk menunggu bangkit.


Puluhan tahun lalu Sudarta berhasil menemukan Dieng, ketamakan Sudarta membawanya kepada kematian. Malang baginya dia bertemu Ajisaka yang menjanjikannya kekuatan yang sangat besar. Ajisaka kemudian menggunakan rogo sukmo untuk mengambil alih tubuh Sudarta. Sudarta sudah mati puluhan tahun lalu, yang sekarang ada di Rajawali emas adalah Ajisaka".

__ADS_1


Raut wajah Sabrang berubah seketika, tubuhnya tiba tiba menghilang dan muncul tepat dihadapan Maruta dengan keris menempel dileher Maruta.


"Aku bisa membunuhmu kapan saja jika kau membohongiku". Ancam Sabrang pada Maruta.


"Aku bekerja untuknya, Kami memanfaatkan Mahendra dan Lembah siluman untuk membuka gerbang kegelepan itu. Tuan Ajisaka membutuhkan tubuh Mahendra untuk hidup abadi namun ilmu kanuragan Mahendra jauh diatas Sudarta. Tak mudah bagi tuan Ajisaka mengambil alih tubuh Mahendra, itulah kenapa dia menunggu Mahendra dirasuki air kehidupan. Kau boleh tidak percaya padaku namun seperti yang kau katakan jika Iblis petarung ada didalam sana, saat ini yang lebih berbahaya bukan Mahendra namun Ajisaka".


Sabrang terus menatap tajam Maruta, Kesabarannya benar benar telah habis.


"Kau sudah berani mengadu domba sesama aliran putih dengan mengarang cerita ini. Aku harus membunuh orang sepertimu". Sabang mengayunkan keris penguasa kegelapan sekuat tenaga namun sesaat sebelum keris menghujam tubuh Maruta sebuah serangan melesat kearahnya.


Sabrang menghilang tepat saat serangan itu mengenai tubuhnya.


"Apa kau selalu ikut campur urusan orang lain". Sabrang muncul dibelakang Kertasura dan langsung menyerang.


"Dia bisa membaca gerakanku" Kertasura terus menghindar serangan tanpa bisa menyerang balik.


"Hentikan". Suara Suliwa mengagetkan Sabrang. Dia melompat mudur setelah melepaskan beberapa pukulan.


"Kakek guru". Sabrang memandang heran Suliwa.


"Apa yang dikatakan dia benar, seseorang berhasil menguasai rogo sukmo. Saat Kertasura memperingatkanku tentang kemungkinan pendekar lembah siluman menyusup diantara aliran putih, aku bersama Wulan sari mulai menyelidikinya namun aku tidak menyangka jika tetua Sudarta adalah orangnya". Suliwa menggeleng pelan.


"Jadi benar apa yang dikatakannya?". Tanya Sabrang memastikan.


Suliwa menarik nafas panjang. "Jika benar pendekar Ajisaka bangkit kembali kita benar benar dalam masalah. Selain menguasai ilmu panca geni dia juga menguasai jurus terlarang pedang pemusnah raga. Akan sangat sulit menghadapinya. Tak kusangka semua menjadi lebih rumit, kupikir masalah ini hanya sebatas Lembah siluman".


"Sebaiknya kalian segera cari cara untuk menyegel tempat ini karena tuan Ajisaka juga mengincar Suling raja setan. Dia akan melakukan apapun untuk membuka gerbang itu". Maruta tiba tiba ikut bicara.


"Apak maksudmu?". Kertasura mendekati Maruta yang masih terkunci dalam bongkahan es.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Author mohon maaf kemarin hanya udpate 1 Chapter karena sedang dalam perjalanan.

__ADS_1


Beberapa chapter kedepan teman teman akan dibuat mengingat ingat kembali chapter sebelumnya karena mulai menyambungnya beberapa misteri masa lalu. Jadi klo lupa atau bingung mulai diingat ingat kembali alurnya.


Yang selanjutnya mengenai permintaan Crazy up.. untuk beberapa hari ini Author benar benar belum bisa mengabulkan. Minggu minggu ini benar benar padat.


__ADS_2