
Rubah Putih baru saja selesai mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Tungga Dewi ketika Ciha melangkah mendekatinya. Wajah Ciha datar tanpa ekspresi saat melihat ratu Malwageni itu tak sadarkan diri dengan wajah pucat.
"Gusti ratu..." ucap Ciha lirih.
"Dia akan baik baik saja, menggunakan jurus dimensi ruang waktu dan menarik kita semua ke dalam dimensinya tanpa mata bulan membutuhkan tenaga dalam yang sangat besar dan bisa membunuhnya seketika, beruntung dia memiliki energi murni dalam tubuhnya," jawab Rubah Putih sambil mengatur nafasnya perlahan.
"Syukurlah, terima kasih tuan," Ciha berlutut dihadapan Rubah Putih sambil menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat sedikit lega setelah mengetahui kondisi Tungga Dewi.
"Dimensi ruang dan waktu ya...tak kusangka aku akan kembali lagi ke tempat ini," Rubah Putih tersenyum kecut, bayangan terkurung selama ribuan tahun di tempat itu kembali terlintas dalam pikirannya.
"Tuan, apa sebenarnya yang sedang terjadi di luar sana? sebelum Gusti ratu menarik tubuhku kedalam dimensinya aku merasakan sesuatu menghisap tenagaku," tanya Ciha pelan.
Rubah Putih menggeleng pelan, "Aku masih belum tau, tapi apapun itu dunia dan seisinya akan hancur jika tidak dihentikan," jawab Rubah Putih.
"Pintu Langit akan terbuka dan menghisap apapun yang ada di dunia ini saat garis dimensi terkoyak, saat itu terjadi kehancuran adalah pasti."
"Aku pernah membaca tulisan itu disalah satu ruangan kuil khayangan, sepertinya situasi saat inilah yang dimaksud tulisan itu," sahut Hanggareksa.
Rubah Putih dan Ciha langsung menoleh dengan wajah terkejut.
"Semua sudah selesai tuan, mereka sepertinya sudah memperingatkan untuk tidak bermain dengan dimensi waktu karena jika itu terjadi tak akan ada yang bisa menghentikan kehancuran itu," Hanggareksa membuang pedangnya ketanah.
"Apa kau pernah merasakan terkurung selama ribuan tahun di tempat ini dan tidak tau kapan bisa keluar lagi? Kau bahkan harus berusaha keras membuat pikiranmu tetap jernih karena ribuan kali aku berusaha membunuh diriku sendiri untuk mengakhiri penderitaan yang setiap detik dirasakan.
"Namun pada akhirnya aku bisa bertahan dan keluar dari dimensi waktu karena berhasil menjaga api harapan tetap hidup didalam hatiku. Manusia bisa bertahan hidup karena memiliki harapan dan aku akan tetap menjaga harapan itu walau harus berhadapan dengan seseorang yang ribuan kali lebih kuat dariku!" balas Rubah Putih cepat.
"Harapan terkadang akan menyakiti dirimu saat anda tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkannya tuan, ada waktunya kita menyerah pada alam."
"Ini bukan keinginan alam, ini ulah manusia yang menentang alam dan aku bersumpah akan melakukan apapun untuk mengembalikan semuanya. Jangan pernah salahkan alam atas ketidakmampuan manusia mengeluarkan semua potensinya. Ciha, bukankah kau pernah mengatakan sedang meneliti dimensi waktu bersama Wardhana? apa yang kau temukan?" Rubah Putih terlihat sudah tidak perduli lagi dengan kehadiran Hanggareksa.
"Ada beberapa hal menarik yang aku temukan tuan termasuk kemungkinan dimensi para pengguna jurus ruang dan waktu saling berhubungan tapi aku belum berhasil menemukan gerbang penghubung itu," jawab Ciha cepat.
"Gerbang penghubung? apa kau tidak bisa mencarinya sekarang, jika kau bisa menemukan ruang dimensi Sabrang mungkin ada yang bisa kita lakukan?" balas Rubah Putih.
"Mungkin aku bisa menggunakan catatan tuan Wardhana dan segel udara untuk mendeteksi keanehan ruangan ini tapi itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar tuan."
"Maka, lakukan sekarang."
"Tapi bagaimana jika kita terlambat dan dunia persilatan sudah hancur?"
"Ada perbedaan waktu antara ruang dimensi dengan dunia kita, lalukan apapun untuk menemukan tempat itu. Aku akan mempersiapkan sesuatu sambil menunggu Tungga Dewi sadar." Rubah Putih bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Ciha.
"Tak ada kebetulan di dunia ini termasuk bergabungnya kau dengan Malwageni karena aku yakin semua memiliki peran masing masing. Saat ini Sabrang mungkin pendekar terkuat melebihi kita semua tapi bahunya terlalu kecil untuk menanggung semua beban ini, mari berbagi beban dan kita hadapi semuanya bersama dan biarkan alam bekerja," ucap Rubah Putih sebelum melangkah pergi.
"Kenapa kau masih bersikeras? apa kau tak pernah berhitung kemampuan lawan? apa yang kau lakukan saat ini hanya memberi harapan semu pada semua orang!" ucap Hanggareksa tiba tiba, dia masih tidak habis pikir Rubah Putih masih memiliki keyakinan besar setelah melihat sendiri kekuatannya terhisap oleh lubang aneh di atas langit keraton tadi.
"Berhitung kemampuan lawan? pertarungan bukan hanya soal kekuatan. Kuberi tau satu hal padamu, Kau mungkin belum sehebat harapanmu namun kau tidak selemah yang kau pikirkan. Kau menjadi lemah karena pikiranmu sendiri," Rubah Putih mengepalkan tangannya ke udara seolah menunjukan pada Hanggareksa jika dia adalah yang terkuat.
"Kau!" Hanggareksa menatap kepergian Rubah Putih tajam.
Namun baru beberapa langkah Rubah Putih berjalan, puluhan pendekar bermata merah tiba tiba muncul dari lubang dimensi yang terbentuk tepat di tengah dua pohon yang paling besar di hutan itu.
Kemunculan para pendekar misterius itu membuat semua orang terkejut, Arung yang sedang memulihkan tenaga dalamnya langsung bergerak kearah Tungga Dewi untuk melindunginya. Sedangkan Ardhani melesat cepat untuk membantu Rubah Putih, hanya Hanggareksa yang masih terdiam sambil memandang puluhan pendekar itu.
__ADS_1
Wajah Rubah Putih terlihat berubah seketika saat mengenali salah saru pendekar misterius itu.
"Kasta bagaimana kau..."
"Anda mengenal mereka?" tanya Ardhani yang sudah berdiri di samping Rubah Putih.
"Bukan hanya mengenal tapi dia adalah salah satu pendekar paling berbakat dari trah Ampeng yang juga mantan ketua dewa pelindung Masalembo. Bagaimana mungkin dia masih hidup, bukankah seharusnya dia sudah tewas di dalam ruang dimensi."
"Aku pernah mendengar dari nyonya Purwati tentang orang orang yang terjebak di dimensi ruang dan waktu dalam waktu lama menjadi gila dan hilang kesadaran, kami menyebutnya sebagai Iblis Loji," jawab Ardhani sambil menelan ludahnya saat mengenali beberapa pendekar terbaik Lembayung Hitam yang ikut bertarung bersama Purwati menghadapi Li You Fei.
"Kehilangan kesadaran? mereka tidak terlihat seperti itu, sesuatu sudah mengendalikan tubuh mereka," jawab Rubah Putih cepat.
"Aku tidak tau, seharusnya..." Ardhani menghentikan ucapannya saat para pendekar misterius itu tiba tiba bergerak menyerang.
"Arung, lindungi Tungga Dewi dan Ciha, aku sepertinya menemukan gerbang dimensi penghubung itu tapi sepertinya tidak mudah untuk membukanya." Rubah Putih bergerak menyambut serangan para pendekar itu bersama Ardhani.
"Suanggi, dengarkan aku, untuk kali ini aku akan mengizinkan kau mengamuk!" Rubah putih menggunakan ledakan tenaga dalam Iblis sebelum mengayunkan goloknya.
"Sial, siapa sebenarnya yang mengendalikan mereka," Ardhani langsung bergerak ketengah area pertempuran seolah membuka jalan bagi Rubah Putih, dia berputar dan menyerang semua yang ada dalam jangkauannya.
"Tuan, sebaiknya anda segera mencari cara untuk membuka gerbang penghubung itu, bertarung di tempat ini tak akan mudah terlebih lawan seolah tidak memiliki kekuatan tak terbatas," ucap Arung sambil menoleh kearah Hanggareka yang masih belum bergerak sedikitpun.
"Ledakan tenaga dalam Iblis," Rubah Putih bergerak kearah Kasta, goloknya menebas semua pendekar yang ada dihadapannya.
Rubah Putih memperlambat gerakannya saat instingnya merasakan serangan yang sangat cepat datang dari belakang, dia melepaskan aura yang cukup besar sebelum memutar tubuhnya dan menangkis serangan itu.
Ledakan energi akibat benturan dua tenaga dalam itu mengejutkan Rubah Putih, dia tidak menyangka Iblis Loji memiliki kekuatan yang sangat besar.
Rubah Putih terdorong beberapa langkah, belum sempat dia mengatur kembali kuda kudanya belasan pendekar yang mengepungnya menyerang bersamaan, mereka tidak memberi waktu sedikitpun padanya untuk bernapas.
"Sial, darimana mereka mendapatkan tenaga dalam sekuat ini," umpat Ardhani kesal.
Mendapat serangan bertubi tubi dari berbagai arah tak membuat Rubah Putih panik, dia membuka sedikit celah pertahanan dan memusatkan tenaga dalam di kaki kanannya, saat serangan para pendekar itu hanya berjarak beberapa jengkal dari tubuhnya, dia menghentakkan kakinya ketanah dan menghasilkan energi kejut luar biasa yang membuat tubuh para pendekar Iblis Loji terhenti seketika.
Ardhani bahkan harus bergerak sedikit menjauh karena merasakan tubuhnya seperti tertimpa batu besar.
"Golok penghancur gunung : Kemarahan iblis kegelapan," tubuh Rubah Putih menghilang bersamaan dengan robohnya para pendekar Iblis Loji tanpa tau apa yang menyerang mereka.
"Aku tidak tau apa yang merasuki tubuhmu tapi aku terpaksa membunuhmu untuk menghentikan semua kekacauan ini," Rubah Putih tiba tiba muncul di sisi kiri Kasta yang masih belum bergerak, dia mengayunkan goloknya sekuat tenaga.
"Golok penghancur gunung..." Gerakan Rubah Putih terhenti seketika saat udara di sekitarnya memadat.
"Sial, aku melupakan jurus dinding pelindung udara trah Ampleng," Rubah Putih langsung membentuk perisai tenaga dalam tepat sebelum sabetan pedang Kasta menghantam tubuhnya.
Tubuh Rubah Putih terlempar keluar dari dinding udara, dia berubah gerakannya di udara dan mendarat dengan sempurna.
Kasta terlihat tersenyum sambil menunjuk beberapa pendekar Iblis Loji yang berhasil lolos dari hadangan Ardhani dan bergerak kearah Arung dan Tungga Dewi.
"Gawat, aku melupakan mereka," Rubah Putih kembali bergerak cepat untuk menghadang mereka namun lagi lagi tubuhnya terhenti seketika.
"Tidak mungkin...dia masih bisa menggunakan jurus dinding pelindung udara dari jarak yang cukup jauh?"
Belum hilang rasa terkejut Rubah Putih, Kasta sudah muncul di udara, dia mengalirkan hampir seluruh energinya ke dalam pedang dan melepaskan jurus Pedang Kilat Penghancur.
__ADS_1
"Jurus pedang kilat, kau masih yang terbaik dalam menguasai jurus itu," Rubah Putih masih berusaha menggerakkan tubuhnya saat energi pedang menghantamnya dan membuat ledakan yang sangat besar.
"Tuan Rubah Putih!" teriak Arung cemas.
"Arung, di belakangmu!" teriakkan Ardani mengejutkan Arung. Saat dia menoleh, sebuah sabetan pedang sudah berjarak beberapa jengkal dilehernya.
Melihat musuh sudah sangat dekat, Ciha langsung menyambar tubuh Tungga Dewi dan bergerak menjauh.
"Kalian pikir bisa berbuat seenaknya?" Tebasan pendekar Iblis Loji hanya membelah udara saat tubuh Arung berubah menjadi asap hitam.
"Jurus Pedang Kabut," Asap hitam itu bergerak cepat dan memenggal kepala pendekar itu.
"Apa kau terlalu takut hanya untuk sekedar bergerak? bantu aku jika kau merasa seorang pendekar!" umpat Arung pada Hanggareksa.
"Aku... Aku..." belum sempat Hanggareksa menyelesaikan ucapannya, sebuah ledakan dari dasar lubang membuat bebatuan yang ada disekitarnya melayang.
"Tuan... Syukurlah," ucap Arung saat melihat Rubah Putih keluar dari lubang itu.
"Apa hanya ini kekuatanmu kasta? untuk sesaat aku merasa seperti di gigit nyamuk," ejek Rubah Putih.
"Nyamuk apa yang menggigit sampai mengeluarkan darah sebanyak itu? kau terlalu berlebihan," balas Suanggi cepat.
"Tutup mulutmu bodoh, aku hampir mati andai terlambat membuat perisai tenaga dalam Iblis, lalu apa yang tadi kau lakukan..." bentak Rubah Putih sebelum tubuhnya tiba tiba melayang di udara. Bukan hanya rubah putih, tapi semua orang yang ada di ruang dimensi itu termasuk Tungga Dewi yang belum sadarkan diri.
"Apalagi ini..." umpat Rubah Putih.
"Gawat, ada yang berusaha merusak segel pelindung antar ruang dimensi, kita harus cepat menemukan pengguna Iblis api itu dan menghentikan semua ini," sahut Suanggi cepat.
***
Minak Jinggo terbangun saat merasakan aura besar menekan tubuhnya, dia tampak terkejut saat melihat puluhan pendekar misterius mengepung mereka.
"Tuan..mereka?" tanya Minak Jinggo bingung.
"Syukurlah kau sudah sadar, akan sangat merepotkan bertarung sambil melindungi tubuhmu," jawab Layang Yuda lega.
Minak Jinggo mengernyitkan dahinya bingung, dia masih mencoba memahami situasi yang ada dihadapannya, bagaimana mungkin ada yang bisa masuk kedalam ruang dimensi mata bulan tanpa izin darinya.
"Tuan, bagaimana mereka bisa masuk kedalam ruang dan waktuku?" tanya Minak Jinggo bingung.
"Aku tidak tau, mereka muncul begitu saja saat sebuah lubang dimensi terbuka diantara dua pohon besar itu tapi sepertinya mereka adalah pendekar yang selama ini terkurung di dimensi ruang dan waktu," jawab Layang Yuda pelan, dia mengenali beberapa pendekar Lembayung Hitam yang dulu dipimpinnya.
Wardhana tak kalah terkejut, terlebih setelah mengenali beberapa pendekar misterius itu.
"Empat pemimpin tertinggi Masalembo? bukankah seharusnya kalian sudah mati?" ucap Wardhana terkejut.
Namun bukan hanya kemunculan empat pemimpin tertinggi Masalembo itu yang membuat Wardhana terkejut, tapi seorang pria yang mengenakan topeng emas dan berdiri paling depan, dia merasa mengenali pria bertopeng itu.
Pria bertopeng emas itu tiba tiba mengangkat tangannya sebelum bergerak menyerang.
"Tuan Wardhana, cepat temukan gerbang penghubung antar dimensi, sepertinya kita tidak punya banyak waktu lagi. Aku akan mencoba menahan mereka," Layang Yuda menyambut serangan itu bersama Mentari dan Winara.
"Gerbang dimensi... mereka muncul dari dua pohon besar itu, apa mungkin..." Wardhana berlari kearah pohon besar yang berada tak jauh dari area pertarungan. "Jinggo, ikut aku!"
__ADS_1
"Baik tuan..." jawab Minak Jinggo cepat.