
Pertempuran di danau kehidupan semakin sengit, meskipun kedatangan pasukan angin selatan dan beberapa pendekar kelelawar hijau membuat jumlah hampir berimbang namun nyatanya kemampuan bertarung mereka jauh berbeda.
Para pendekar Dieng yang kerasukan air kehidupan adalah pendekar pendekar kelas tinggi dimasanya. Selain itu pendekar Dieng diuntungkan dengan tidak terbatasnya tenaga dalam mereka.
"Terus lakukan rotasi perpindahan formasi, jangan sampai mereka berhasil mengejar tuan Adipati". Teriak lembu sora.
Wardhana menghentikan langkahnya didalam gua ketika menemukan beberapa batu tulis di sudut gua.
"Ayo berfikir, ayo berfikir!". Gumam Wardhana dalam hati sambil terus mengamati dalam gua.
"(Geser batu perlahan saat air mulai naik.....)". Wardhana mulai membaca semua tulisan di batu tulis. Dia berdecak kagum dengan teknologi yang digunakan untuk membangun Dieng.
"Mereka benar benar membangun tempat ini dengan memperkirakan semua kemungkinan yang akan terjadi".
Wardhana terus mencari cara untuk mengatasi pendekar Dieng. Ini pertama kalinya bagi dia bertempur tanpa mengenali medan pertempuran terlebih dahulu.
Biasanya Wardhana akan mendatangi tempat yang diperkirakan menjadi medan pertempuran. Dia akan duduk berhari hari disana sebelum pertempuran hanya untuk mempelajari situasi dan membuat simulasi simulasi perang dikepalanya dengan segala kemungkinan. Namun pertempuran kali ini sangat berbeda, dia dituntut berfikir cepat di dunia yang belum pernah dia tau sebelumnya dengan pendekar pendekar sakti yang dikendalikan sesuatu.
"Mereka tau tempat ini tak selamanya mampu meredam gejala alam gunung api, harusnya ada jalur evakuasi darurat atau ruangan khusus untuk memyelamatkan diri sementara". Gumam Wardhana.
Saat Wardhana tengah berfikir, gempa bumi kembali bergetar namun kali ini dibarengi dengan aroma belerang yang menyengat.
"Gempa bumi dan belerang? Sepertinya tetua Bahadur mulai menutup lubang lubang resapan itu. Aku harus cepat".
"Dimana kalian menyembunyikan tempat rahasia itu?. Jika tempat ini adalah pusat kontrol untuk meredam Magma harusnya tempat ini mendapat perlindungan lebih andai ada seseorang yang berusaha merusak danau kehidupan. Anehnya tempat ini terasa mudah dimasuki". Wardhana terus berfikir namun tetap belum mendapatkan petunjuk apapun.
Wardhana melangkah kesudut gua dan berdiri mematung menatap sekitarnya. Hal yang selalu dia lakukan jika rencananya buntu adalah berfikir ulang dengan sudut pandang yang berbeda.
Dia mulai berfikir dan membuat perkiraan perkiraan tentang letak ruang rahasia atau apapun yang berhubungan dengan Danau kehidupan.
Setelah Wardhana berdiri disudut gua, dia bisa melihat ruangan gua itu dengan sudut yang lebih luas. Tatapan matanya terarah pada beberapa batu beberapa batu berundak yang tadi lepas dari pandangan.
"Tempat ini menipu mataku". Wardhana mulai menyadari sesuatu.
"Pusat ****** kehidupan.... Menipu mata". Wardhana memejamkan matanya sambil terus berfikir.
"Tempat ini dibangun dengan sistem alur dan blok untuk melindungi Danau kehidupan yang menjadi pusat kehidupan Dieng. Jika perkiraanku tidak salah harusnya ada pemicu yang bisa menutup tempat ini". Wardhana berlari kearah dinding gua dan mencari sesuatu yang mereka gunakan untuk tuas".
Wardhana kembali teringat tulisan di batu pertama yang dibacanya.
"(Geser batu perlahan saat air mulai naik atau turun, tuas akan terbuka di ujung gua. Tarik tuas selamanya untuk menutup angkara murka dan jauhkan pusaka dari lembah ketiga)".
__ADS_1
"Orang yang membangun tempat ini benar benar gila, aku hampir tertipu mentah metah. Aku sempat berfikir tuas ini untuk menguras Danau kehidupan yang mengalir ke kantung kantung magma namun ternyata tuas ini untuk melindungi Danau kehidupan. Baiklah akan kukabulkan keinginan kalian, akan kulindungi pusat kehidupan kalian". Wardhana berlari keluar gua dan menemukan mereka sudah sangat terdesak. Terlihat Wulan sari terpental saat serangan salah satu pendekar menghantam tubuhnya.
"Sora Lindungi tetua Wulan, yang lainnya tetap dalam formasi dan perlahan masuk gua itu". Ucap Wardhana ketika sudah berada di dekat Lembu sora.
"Masuk gua? Anda yakin tuan?". Tanya Lembu sora pelan. Jika ditempat terbuka saja mereka kewalahan apalagi ditempat sempit seperti gua.
"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya, Cepat bawa tetua masuk dan yang lainnya. Aku akan mengikuti bersama pasukan angin selatan dibelakangmu". Perintah Wardhana.
Lembu sora bergerak mundur mendekati Wulan sari yang sudah kehabisan tenaga. Dia menyambar tubuh Wulan sari dan membawanya mundur masuk gua. Mentari mengikuti Lembu sora sambil berusaha melindungi serangan yang masih mengejar mereka.
"Apakah tuan Adipati menemukan sesuatu?". Tanya Wulan sari pelan.
"Aku tidak tau tetua namun sepertinya dia telah menemukan kelemahan tempat ini". Ucap Lembu sora yakin.
***
Sabrang terlihat berusaha memejamkan matanya dan merasakan energi kehidupan yang dikatakan Suliwa namun sekuat apapun usahanya semua sia sia. Sampai saat ini dia tidak bisa merasakan apapun.
Sabrang benar benar terkurung ditempat aneh dan ini pertama kalinya dia terpisah dari Naga api dan Anom yang biasanya melindunginya. Kali ini dia harus memutuska seorang diri tanpa ada orang disekitarnya yang memberi masukan.
"Andai Naga api atau Anom ada disini, mereka pasti memberi solusi padaku". Umpat Sabrang dalam hati.
Sabrang kembali memejamkan matanya dan berusaha mencerna kata kata Suliwa sebelum menghilang.
Tak lama dia mengernyitkan dahinya disusul dengan senyum yang terbentuk di bibirnya. Sabrang seperti menyadari sesuatu yang selama ini masih mengganjal dihatinya. Sesuatu dalam hatinya yang menurut Rakiti Sang pertapa aneh menghambat perkembangan ilmu kanuragannya.
***
Madrim berusaha mengambil jarak ketika aura ditubuh Lian berubah seketika. Lian mengangkat pedangnya sambil tersenyum dingin.
"Kau akan mendapatkan balasan karena telah meruntuhkan tempat ini".
"Kertasura yang menyadari perubahan Lian mencoba membantu Madrim namun Kertasura sendiri dalam keadaan yang sama tidak baiknya dari Madrim. Dia disibukkan dengan pendekar lainnya yang tak kalah hebat dari Lian.
Ketika Lian mulai bergerak, Madrim memutuskan menggunakan seluruh tenaga dalamnya.
"Kau masih berfikir bisa menahanku?". Lian Menggeleng pelan.
Lian tiba tiba bergerak cepat dan sudah berdiri didepan Madrim dan mengayunkan pedangnya. Madrim yang tidak sempat menghindar membentuk perisai tenaga dalam untuk menahan serangan Lian.
Tubuh Madrim terpental dan membentur dinding gua, saat dia mencoba bangkit sebuah pedang tiba tiba melesat cepat kearahnya dan menusuk dadanya hingga tembus dan menancap didinding gua.
__ADS_1
Tubuh Madrim tertahan di dinding tak bisa bergerak, luka ditubuhnya benar benar parah.
Lian melangkah santai mendekati Madrim dengan tatapan tajam.
"Kau tak akan bisa menghentikan ambisi suku Hwuang ho, sudah menjadi takdir kami untuk menguasai tanah bertuah ini". Lian menempelkan telapak tangannya di tubuh Madrim.
"Pergilah keneraka, anggap saja kematianmu sebagai pertanda kebangkitan suku terkuat Hwuang ho". Tiba tiba Madrim merasakan tenaga dalamnya terhisap oleh Lian dalam jumlah yang sangat besar. Madrim berusaha meronta dan menjerit sekuat tenaga namun perlahan suara itu menghilang ketika Madrim telah berubah menjadi tengkorak. Seluruh energinya termasuk energi kehidupannya dihisap habis oleh Lian.
"Ku akui kau cukup merepotkan". Ucap Lian dingin.
Ketika Lian mengincar Kertasura tiba tiba raut wajahnya berubah. Dia menghentikan langkahnya dan menatap ruangan tempat Ciha dan yang lainnya berada.
"Energi Banaspati?". Liat melesat cepat kearah Sabrang yang sedang tergeletak. Saking cepatnya gerakan Lian, Lingga dan Suliwa tak menyadari kehadiran Lian sampai mereka melihatnya berdiri dihadapan Sabrang.
"Iblis petarung?". Lingga dan Suliwa reflek bergerak bersama menyerang Lian namun belum sempat mereka bergerak Aura Lian menekan seluruh ruangan membuat tubuh keduanya kaku tak bisa bergerak.
"Bagaimana anak ini bisa memiliki Energi Banaspati?Kekuatanku akan berlipat jika aku menyerap semua energinya". Lian kembali menempelkan telapak tangannya di tubuh Sabrang, seperti yang dia lakukan pada Madrim tadi.
Dia mulai menghisap energi ditubuh Sabrang dengan cepat namun tiba tiba sesuatu terjadi pada Lian, Energi yang dihisapnya kembali masuk ketubuh Sabrang diikuti energinya sendiri.
"Bagaimana dia bisa menguasai jurus yang sama denganku? tidak! Jurusnya jauh lebih kuat". Lian mencoba melepaskan telapak tangannya sekuat tenaga namun tidak berhasil. Ketika Tenaga dalamnya hampir habis, Lian terpaksa memotong tangannya sendiri untuk melepaskan efek jurus itu.
"Siapa kau? Siapa kau sebenarnya?". Lian menatap tajam tubuh Sabrang.
Lingga dan Suliwa yang tidak menyadari apa yang terjadi pada Lian hanya mengernyitkan dahinya. Mereka bingung melihat Lian tiba tiba memotong tangannya sendiri.
Rasa terkejut Lian makin menjadi ketika Sabrang membuka matanya.
"Bagaimana dia bisa melepaskan diri dari jurus Pecah Raga?". Gumam Lian sambil memegang lengan kirinya yang sudah putus.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan Author :
Sebelumnya Author mohon maaf hari ini hanya bisa Update 1 Chapter karena ada sedikit keperluan mendadak. Tapi jangan takut 1 Chapter lagi akan di ganti up besok.. Jadi besok ada 3 Chapter sebagai pengganti hari ini.
hmm Apa lagi ya...
Pokonya itu dulu untuk sementara waktu. Tetap dukung Pedang Naga api dalam bentuk Like, Vote dan yang lainnya.
Oh iya Novel Api Di Bumi Majapahit rencananya akan diterbitkan tanggal 15 Mei 2020 dengan Catatan lolos Review Mangatoon hehehe kan belum tentu diterima Naskahnya. Dan Rencananya akan saya ikutkan di You are a Writter Season 3 dengan catatan lagi lagi lolos review dan performanya bagus...
__ADS_1
Terkhir jika ada yang bingung mengenai teknologi sistem alur dan blok Bisa Search di Mbah google. Tapi Intinya, sistem alur dan blok adalah Teknologi canggih yang digunakan di Piramida Gaza untuk melindungi makam Firaun yang sangking canggih dijamannya sampai saat ini belum bisa dipecahkan bagaimana mereka membuat jebakan serumit itu sehingga bisa mengelabui mata manusia.
Sekali lagi terima kasih atas dukungannya.