
"Sektemu masih menunjukkan permusuhan pada aliran putih di saat kau meminta kami bekerjasama denganmu Kertasura". Ucap Suliwa setelah melumpuhkan beberapa pendekar didepan Gerbang sekte Iblis hitam.
Dongkel yang baru selesai latihan hendak menyerang Suliwa namun Kertasura menahannya.
"Mereka hanya pingsan". Kertasura menundukkan kepalanya menyambut Suliwa.
"Harap anda mengerti, kami hanya berjaga untuk melindungi sekte kami dari Lembah siluman. Bukankah sudah aku katakan jika salah satu ketua aliran putih adalah pendekar Lembah siluman?".
Suliwa melangkah mendekati Kertasura sambil tersenyum "Kau memang selalu siaga seperti biasanya".
"Untuk seorang mantan pendekar yang sebagian tenaga dalamnya telah musnah anda terlihat tidak kehilangan insting bertarung". Ucap Kertasura sambil mempersilahkan Suliwa masuk keruangan nya.
"Jadi apakah anda menemukan sesuatu?". Kertasura bertanya seletah mereka duduk di ruangannya.
"Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan padamu namun sepertinya kau ingin lebih dulu menyampaikan padaku Kertasura".
"Apa maksud anda? semua yang kutahu telah kukatakan padamu saat di gua kegelapan". Kertasura mengernyitkan dahinya.
"Jika kau masih ingin melanjutkan kerjasama sebaiknya kau tidak menutupi sesuatu dari ku namun jika kau masih menyimpan ambisi terhadap apa yang ada didalam Dieng sebaiknya aku mundur". Suliwa bersiap pergi namun Kertasura menahannya.
"Jika ini mengenai segel kabut maka aku merasa tidak perlu menjelaskan pada anda namun jika itu membuat anda tersinggung aku akan meminta maaf".
Suliwa mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali duduk dengan senyum di bibirnya.
"Bagaimana anda mengetahui aku menguasai segel kabut?". Kertasura kembali bertanya pada Suliwa.
"Pertarungan puluhan tahun lalu sangat membekas di ingatanku, untuk pertama kalinya aliran putih dan hitam bersatu untuk menghentikanku. Saat pedangmu mengenaiku waktu itu aku menyadari jika seranganmu tidak biasa. Segel kabut dapat menipu mata semua orang namun tidak mataku karena aku hampir membangkitkan mata bulan saat itu".
"Hmm mata bulan ya, seperti muridmu". Kertasura berkata pelan.
Tiba tiba raut wajah Suliwa berubah seketika setelah mendengar ucapan Kertasura.
"Maksudmu Sabrang?".
"Itu yang kudengar dari Lingga saat mereka berada di gua keramat. Mata terkutuk dengan warna yang mencolok itu yang dilihat Lingga saat itu namun aku belum memastikannya".
"Bagaimana bisa anak itu......". Suliwa menggeleng pelan. Suliwa sebenarnya tidak terlalu terkejut melihat perkembangan Sabrang saat ini namun jika sampai bisa membangkitkan mata bulan secepat ini itu sangat mengejutkan.
"Aku tidak tau apakah harus berterima kasih pada anda atau sebaliknya namun yang bisa kukatakan pada anda saat ini adalah jika Naga api berhasil merasukinya maka dia akan menjadi Iblis yang tak akan bisa dikalahkan bahkan oleh pedang langitku. Kuharap keputusanmu tepat mengenai anak itu".
Suliwa terdiam mendengar ucapan Kertasura, Mata bulan akan sangat berbahaya jika benar benar bisa diaktifkan.
"Aku telah menjelaskan mengenai segel kabut dan tidak ada yang kututupi dari anda, sekarang apa yang ingin anda sampaikan?".
"Ini mengenai sekte Bintang langit". Suliwa menarik nafas panjang sebelum melanjutkan. "Sabrang saat ini sedang bergerak menuju Cetho untuk mencari Bintang langit. Kudengar mereka adalah kumpulan manusia abadi yang telah meminum air kehidupan. Keunggulan mereka dari yang lainnya adalah mereka pencipta segel kehidupan sehingga efek air abadi tidak akan berpengaruh.
__ADS_1
Beberapa tahun lalu saat Kelompok teratai merah sedang menyelidiki keberadaan Bintang langit mereka menemukan seseorang sedang mendalami ilmu yang sangat mirip dengan Pancageni di hutan sekitar bukit Cetho. Kau tau jurus terlarang itu hanya ada di Dieng, jadi pendekar itu pasti pernah ke Dieng.
Saat ini hanya beberapa orang yang pernah ke Dieng, selain pertapa aneh dari Cetho hanya Kumbara yang pernah memasuki Dieng, jadi besar kemungkinan pendekar yang dilihat Teratai merah saat itu adalah orang dari Sekte bintang langit".
"Jadi jurus terlarang itu pun mulai muncul? sebenarnya apa yang akan terjadi pada dunia persilatan ini?". Kertasura mendengus kesal.
"Tenaga dalamku saat ini telah berkurang jauh, hanya kau yang bisa membantuku anak itu di Cetho. Selain karena kau cukup kuat untuk menghadapi mereka kau juga menguasai segel kabut. Kita tidak tau apa yang disembunyikan Sekte bintang langit di sana namun apapun itu anak itu dalam bahaya saat ini".
"Aku tidak menyangka semua serumit ini namun aku telah mengutus Lingga ke Cetho. Jika Lembah siluman tidak ikut campur sepertinya kemampuan mereka berdua sudah cukup untuk menghadapi Bintang langit". Kertasura memejamkan matanya sebelum kembali melanjutkan.
"Kita harus segera masuk ke Dieng dan memastikannya saat gerbang Dieng terbuka sebelum semuanya terlambat".
"Baik, kali ini aku ikuti rencanamu". Ucap Suliwa.
***
Setelah berjalan hampir dua hari akhirnya Sabrang dan Mentari memasuki sebuah desa. Mereka mempercepat langkahnya untuk mencari penginapan.
Namun tiba tiba langkah mereka terhenti saat beberapa bayangan melesat cepat dan menghadang jalan mereka.
"Akhirnya aku bisa menyusulmu". Waranggana tersenyum dingin.
"Lembah tengkorak". Sabrang menggeleng pelan, raut wajahnya menjadi buruk. Baru beberapa saat lalu dia berfikir untuk beristirahat dengan tenang setelah beberapa hari menginap di alam terbuka.
"Berhati hatilah". Sabrang memperingatkan Mentari setelah merasakan hawa membunuh yang besar.
"Mereka mati karena kesalahan mereka sendiri, kami hanya membela diri". Sabrang masih berusaha menjelaskan situasinya.
Dia merasakan aura yang sangat besar di tubuh Waranggana. Akan sedikit merepotkan jika mereka semua menyerang bersamaan.
"Apapun alasannya nyawa di bayar nyawa itulah aturan dunia persilatan".
"Lalu bagaimana dengan orang orang yang kalian bunuh saat menyerang Sekte pisau terbang? Apakah aturan dunia persilatan hanya berlaku untuk kalian?". Sabrang tersenyum mengejek.
"Kau!". Waranggana tiba tiba bergerak menyerang Sabrang. Pukulannya menghantam perisai es yang muncul dihadapan Sabrang.
Sabrang sedikit terdorong akibat pukulan Waranggana.
"Tenaga dalamnya besar sekali". Sabrang berguman dalam hati.
Setelah menerima serangan Waranggana Sabrang langsung mengetahui jika ilmu kanuragan orang yang ada di hadapannnya itu sangat tinggi.
"Pengguna jurus es ya, sepertinya akan sangat merepotkan". Waranggana memberi tanda pada anggotanya untuk menyerang Mentari, dia berharap konsentrasi Sabrang akan terpecah karena berusaha melindungi Mentari.
Sepuluh orang pendekar termasuk Sakuta melompat ke arah Mentari dan bersiap menyerangnya. Aura hijau meluap dari tubuh sesaat sebelum dia mencabut pedangnya dan menangkis serangan yang terarah padanya.
__ADS_1
"Cih, dia mengincar Mentari". Sabrang bergerak cepat ikut menangkis serangan pendekar itu dengan perisai es yang dibuatnya.
"Aku lawanmu". Waranggana tiba tiba muncul dihadapannya dan mengayunkan pedangnya kearah Sabrang. Sesaat Sabrang ingin menangkis serangan itu dengan perisai es miliknya namun instingnya mengatakan jika itu sangat berbahaya. Ada aura aneh yang menyelimuti pedang itu.
Sabrang memutuskan melompat mundur untuk bersiap dengan serangannya namun gerakan cepat Waranggana membuat jarak antara keduanya tidak berubah. Waranggana terus berusaha menekan Sabrang dengan gerakan pedangnya.
"Anom". Sesaat setelah Sabrang berteriak aura hitam berbentuk keris keluar dari tubuhnya.
"Trang". Pedang Waranggana beradu dengan keris penguasa kegelapan di udara. Keduanya sama sama terdorong mundur beberapa langkah.
Keduanya kembali bertukar jurus seolah tidak ada yang ingin mengalah. Dalam waktu singkat mereka telah bertukar belasan jurus.
Beberapa saat kemudian mereka sama - sama mengambil jarak untuk mengambil nafas.
"Sesuai dugaanku, kalian telah menjadi budak Lembah siluman". Sesosok tubuh melesat kearah Mentari yang mulai terdesak oleh Sakuta dan pendekar lainnya.
"Tarian Iblis pedang". Gerakan pedang pendekar itu begitu cepat hingga membuat para pendekar Lembah tengkorak terpaksa mundur beberapa langkah.
Sorot mata Lingga menatap tajam Waranggana.
"Kau". Sabrang melesat kearah Mentari dan mengarahkan kerisnya ke arah Lingga.
"Keris penguasa malam memang sangat mengerikan, suatu saat aku akan merebutnya darimu". Lingga tersenyum dingin kearah Sabrang.
"Teruslah bermimpi". Sabrang bersiap merapal sebuah jurus.
"Aku tau kau ingin sekali membunuhku namun kali ini kubur keinginan mu sementara waktu. Aku diperintah ketua untuk membantumu mencari bintang langit, tak kusangka aku bertemu orang yang paling kubenci". Lingga melepaskan auranya mencoba menekan Waranggana.
"Apakah Iblis hitam kini bergabung dengan Aliran putih?". Waranggana terkekeh mengejek.
"Setidaknya aku tidak menjadi budak Lembah siluman". Lingga membalas ejekan Waranggana.
"Menarik, sudah lama aku ingin memberi pelajaran pada Kertasura, akan kuperlihatkan padamu betapa menakutkannya Lembah tengkorak". Sesaat setelah Waranggana berbicara tubuhnya menghilang dari pandangan.
"Aku akan urus dia, kuserahkan sisanya padamu". Lingga bersiap menangkis serangan Waranggana dengan pedannya.
Sabrang tidak menjawab ucapan Lingga, dia memejamkan matanya sesaat sebelum mengarahkan keris penguasa kegelapan pada Sakuta.
"Sepertinya aku harus segera melumpuhkan kalian sebelum kalian menggunakan jurus menyebalkan itu lagi". Sabrang bergerak cepat menyerang Sakuta diikuti Mentari dibelakangnya.
"Walau aku tidak ingin mengakuinya namun kedatangannya membuatku bisa fokus menghabisi mereka, aku yakin dia mampu mengatasi ketua Lembah tengkorak itu". Gumam Sabrang dalam hati sambil melirik kearah pertarungan Lingga dan Waranggana.
Namun raut wajah Sabrang berubah seketika saat melihat Lingga terdesak oleh serangan Waranggana, bahkan beberapa luka terlihat ditubuhnya.
"Bagaimana secepat itu dia terdesak?". Sabrang seperti tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Dia sangat mengetahui seberapa besar kekuatan Lingga Maheswara.
__ADS_1
"Apakah kau sudah mengerti jika ilmu Kanuragan mu jauh di bawahku?". Waranggana berkata congkak sesaat setelah Lingga terpental terkena serangannya.
"Kecepatannya sangat mengerikan". Lingga mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya untuk menekan rasa sakit akibat luka sayatan pedang ditubuhnya.