Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Makam Tua di Punthuk Setumbu


__ADS_3

Setelah ditunjuk sebagai ketua tim pemeriksa laporan penggunaan keuangan kerajaan bersama pangeran Pancaka, Tungga Dewi langsung menggebrak keraton. Dia meminta bantuan pasukan kerajaan pada Arung untuk mengamankan aula Menteri Penegak Paningkah (sejenis Menteri hukum kerajaan) yang dipimpin oleh Adiwilaga.


Suasana di depan gerbang aula Menteri Penegak Paningkah sempat panas karena Adiwilaga dan para pengikutnya melakukan perlawanan, mereka berkilah jika keputusan Sekar Pitaloka kemarin hanya untuk menyelidiki laporan keuangan bukan menutup aula tersebut untuk sementara waktu.


Adiwilaga jelas melawan, karena beberapa catatan penting yang menjadi bukti kejahatannya berada di ruangan pribadinya.


"Berani sekali kalian mengepung aula menteri, titah Gusti ratu sudah sangat jelas, tugas kalian hanya menyelidiki laporan keuangan kerajaan bukan menutup aula ini seenaknya. ," bentak Adiwilaga pada para prajurit yang mencoba masuk aula.


"Maaf tuan, kami hanya menjalankan perintah," jawab salah satu prajurit sopan.


"Perintah? siapa yang berani memerintah menutup aula para menteri?" teriak Adiwilaga kesal, dia benar benar merasa di pojokan kali ini.


"Aku yang memberi perintah tuan," Tungga Dewi muncul bersama Pancaka sambil menunjukkan lempengan batu simbol kebesaran Malwageni.


"Ratu?" Adiwilaga menundukkan kepalanya memberi hormat, dia berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya.


"Sebaiknya anda tidak mempersulit situasi tuan, aku membutuhkan catatan lainnya untuk melengkapi penyelidikan kali ini," balas Tungga Dewi tegas.


"Tapi bukankah..." belum selesai Adiwilaga bicara, Tungga Dewi kembali memotong ucapannya.


"Apa yang kalian tunggu? ini perintah Yang mulia, tutup tempat ini sekarang dan tangkap siapa saja yang melawan," teriak Tungga Dewi.


Semua prajurit angin selatan langsung bergerak setelah Tungga Dewi berteriak, mereka bergerak masuk. Adiwilaga tampak memejamkan matanya sesaat sebelum memberi tanda pada pasukannya untuk mundur, dia sadar kali ini tidak akan bisa melawan lagi karena hampir semua menteri telah meninggalkannya.


Wajahnya memerah menahan amarah, kebanggan dan kekuasaan yang selama ini dia bangun hancur seketika saat ruang kerjanya di tutup paksa dengan alasan penyelidikan.


"Tuan, bagaimana dengan catatan itu?" bisik salah satu prajurit kepercayaannya.


"Cari cara untuk masuk ke ruanganku malam ini karena jika sampai aku terseret maka kalian semua akan ikut terseret jadi pastikan catatan itu hilang selamanya," jawab Adiwilaga.


"Baik tuan, hamba akan meminta beberapa prajurit untuk menyusup malam ini."


Sementara itu di penjara utama, Arung yang ditugaskan untuk mengungkap dalang sebenarnya pemberontakan di masa lalu mulai memanggil para pejabat yang dulu terlibat. Dia menempatkan ratusan pasukan untuk menjaga penjara utama Malwageni yang digunakan sebagai ruang interogasi.


Wardhana memang memerintahkan Arung untuk menggunakan pasukan angin selatan sebanyak banyaknya untuk menekan perlawanan dari pihak Adiwilaga.


Wardhana bahkan mengeluarkan perintah untuk menahan siapapun yang mencoba melawan proses penyelidikan. Setelah beberapa waktu sempat kehilangan kontrol atas keraton, hari ini Wardhana kembali mencengkram kan pengaruhnya, dia menyingkirkan semua lawan tanpa menimbulkan gejolak apapun.


Puluhan pejabat termasuk Adiwilaga dan Pandita ikut dipanggil bergantian, mereka semua dicecar pertanyaan tentang keterlibatan selir Anjani dalam pemberontakan kala itu.


Adiwilaga dan Pandita bahkan di periksa bersamaan sehingga mereka bisa saling bantah dan menjatuhkan. Wardhana sejak awal memang tidak ingin membebaskan Pandita sepenuhnya, dia masih memerlukan pengaruhnya untuk mengendalikan situasi di Saung Galah.

__ADS_1


Sudah menjadi rahasia umum jika Pandita dekat dengan beberapa menteri berpengaruh Saung Galah. Dengan situasi yang belum membaik, Wardhana ingin Pandita membantunya mengendalikan para menteri Saung Galah.


"Arung, aku ingin semua kesalahan pemberontakan saat itu dibebankan pada Adiwilaga dan Pandita apapun caranya. Tangkap semua menteri dan para prajurit yang terlibat," pinta Wardhana pada Arung.


"Baik tuan, beberapa catatan yang kutemukan memang mengarah pada mereka, sepertinya selir Anjani memang dijadikan kambing hitam saat itu," jawab Arung cepat.


"Jangan hilangkan tuduhan pada selir Anjani sepenuhnya, itu satu satunya cara untuk mengendalikan pangeran Pancaka. Kau kini adalah komandan utama pasukan kerajaan, pastikan semua prajuritmu setia pada Malwageni," balas Wardhana.


"Baik tuan," jawab Arung cepat.


"Sora, mulai persiapkan semua keperluan untuk penobatan ratu Tungga Dewi, dengan kondisi saat ini tak akan ada yang berani menentang keputusan gusti ratu," ucap Wardhana pada Lembu sora.


"Tuan, maksud anda?" Lembu Sora tampak terkejut setelah mendengar perintah Wardhana.


"Ini perintah Gusti ratu, setelah semua masalah ini selesai, beliau ingin menyerahkan tahta pada ratu Tungga Dewi sesuai dengan pesan Yang mulia karena bagaimanapun yang berhak atas tahta Malwageni kelak adalah pangeran dalam kandungannya.


Aku akan pergi ke Saung Galah dalam beberapa hari ini untuk menyelesaikan masalah yang ada di sana bersama Pandita, jadi tolong pastikan persiapan penobatan ratu selesai saat aku kembali," jawab Wardhana pelan.


"Baik tuan," jawab Lembu Sora cepat.


"Satu persatu masalah telah selesai, semoga anda secepatnya kembali Yang mulia," ucap Wardhana dalam hati.


***


"Kau tidak tidur semalaman?" tanya Wahyu Tama.


"Aku tidak bisa tidur memikirkan ucapan kakek kemarin tapi kini aku tau jalan pedangku," jawab Sabrang yakin.


Wahyu Tama menatap Sabrang terkejut, dia tidak menyangka pemuda dihadapannya itu mendapatkan jawabannya hanya dalam waktu satu malam.


"Tak terlihat sedikitpun keraguan di matanya, dia benar benar mendapatkan jawabannya," ucap Wahyu Tama dalam hati.


"Bisa kau tunjukkan jawabannya padaku?" Wahyu Tama menarik pedangnya dan bersiap menyerang Sabrang.


"Selama ini aku terlalu sombong, sejak berhasil mengendalikan kekuatan Dewa api aku merasa telah menjadi yang terkuat tapi ternyata semua salah. Aku belum mencapai apapun, aku belum menguasai jurus apapun karena jurus terkuat dalam ilmu pedang berasal dari hati. Aku sudah memutuskan menjadi lebih kuat untuk membaktikan diri dijalan pedangku," Sabrang bergerak menyerang lebih dulu, kobaran api mulai menyelimuti tubuhnya perlahan bersamaan dengan kecepatannya yang terus meningkat


"Gerakannya berbeda dari biasanya, tak ada keraguan sedikitpun dalam gerakannya, dia seolah sangat yakin tak meninggalkan celah apapun. Mari kita lihat sekuat apa dirimu sebenarnya," Wahyu Tama menyambut serangan Sabrang.


Sabrang dan Wahyu Tama saling bertukar jurus di udara, suara ledakan akibat benturan tenaga dalam saat kedua pedang beradu terdengar di gunung Ciremai.


"Tanamkan dalam hatimu jika kau mampu mengalahkan semua musuh namun di satu sisi kau harus siap menerima kekalahan sebagai tempaan agar kau jauh lebih kuat," Wahyu Tama mulai menyerang balik, dia menggunakan beberapa jurus pedang pencakar langit untuk mengimbangi kecepatan Sabrang.

__ADS_1


"Saat pedang telah menyatu dengan hatimu, maka itulah jurus terkuatmu," Wahyu Tama menarik pedangnya sedikit kebelakang untuk memancing gerakan Sabrang, sebelum melepaskan jurus andalannya.


Saat Wahyu Tama hendak melepaskan jurus pedang pencakar langit tingkat III, dia terkejut melihat perubahan gerakan Sabrang yang sangat aneh.


"Jurusnya tanpa kuda kuda? apakah mungkin?" Wahyu Tama sangat yakin tubuh Sabrang dalam posisi tidak seimbang saat dia menyerangnya namun Sabrang mampu merubah gerakan dari bertahan menjadi menyerang dalam waktu singkat tanpa kuda kuda.


"Jurus pedang pembasmi iblis," Sabrang bergerak sambil mengayunkan kedua pedangnya bersamaan membuat Wahyu Tama tak bisa menghindar tepat waktu.


"Gerakan pedang di kedua tangannya sangat berbeda, pedang di tangan kanannya jauh lebih cepat namun Pengilon kembar di tangan kirinya lebih lembut dan mematikan, seolah saling melengkapi, apa itu mungkin? jurus ini seolah tidak memiliki celah sedikitpun," ucap Wahyu Tama yang hanya bisa merasakan sakit saat Sabrang seolah menembus tubuhnya.


"Aku bahkan tidak bisa membaca gerakannya, jurus apa yang dia gunakan sebenarnya?" ucap Wahyu Tama sebelum terjatuh dalam posisi berlutut.


"Kakek, anda baik baik saja?" ucap Sabrang khawatir.


Wahyu Tama mengangguk pelan, dia masih mengalirkan tenaga dalam untuk mengurangi rasa sakit di tubuhnya.


"Jurus pencakar langit milikku bahkan tak mampu mengimbangi jurus itu," ucap Wahyu Tama dalam hati.


***


Sepertinya ini tempatnya?" ucap Rubah Putih saat melihat sebuah gua yang berada di sisi barat bukit Punthuk Setumbu.


"Benar dugaan ku, ada hubungan antara Punthuk Setumbu dengan bukit menoreh. Letak keduanya seolah menggambarkan dua kekuatan yang saling bertolak belakang, jika bukit Menoreh menggambarkan kitab Sabdo Loji lalu Punthuk Setumbu menggambarkan apa?" ucap Rubah Putih dalam hati.


Rubah Putih mulai berjalan masuk kedalam gua dengan hati hati, beberapa gambar aneh yang ada di dinding gua menyambutnya. Pandangan matanya terhenti saat melihat sebuah gambar kitab berwarna hitam pekat.


"Kitab apa ini? sepertinya bukan kitab Sabdo Loji? ucap Rubah Putih sambil mengernyitkan dahinya.


Gambar dua pedang kembar terlihat di sampul kitab itu dengan tulisan kecil yang tidak dipahami oleh rubah Putih.


"Apa mungkin kitab ini adalah gambaran dari bukit Punthuk Setumbu yang menjadi lawan Sabdo loji?"


Rubah Putih kembali melanjutkan langkahnya menyusuri gua kecil itu, setelah berjalan cukup jauh dia mulai melihat sebuah makam kecil berada tepat di ujung gua.


"Jadi ini makam kuno itu?" Rubah Putih berjalan mendekati makam tua itu sambil melihat sekitarnya. Sebuah kayu tampak tertancap di tengah makam tua itu, dia mencoba membaca tulisan palawa yang terukir di kayu itu.


"Pusat kekuatan pedang?" ucap Rubah Putih pelan.


Saat Rubah Putih hendak memeriksa makan itu, wajahnya tiba tiba berubah, dia melihat sebuah kitab berada tak jauh dari makam itu.


"Kitab Sabdo Loji?" Rubah Putih tampak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, kitab yang ada dihadapannya sama persis dengan yang ada di tangan Sekar Pitaloka.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin kitab Sabdo Loji ada dua?"


__ADS_2