Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Misteri Peradaban Gropak Waton


__ADS_3

Wardhana terlihat mematung cukup lama di pinggir jurang dengan wajah kecut, walau dia tadi dengan yakin mengatakan jika pembuat batu kenteng songo pasti membuat kunci cadangan namun tak mudah mencari sesuatu tanpa petunjuk apapun.


"Dengan sistem serumit ini, mereka tak mungkin tidak menyiapkan kunci cadangan karena jika batu kehidupan itu sampai hilang maka sesuatu yang ada didalam sana akan terkubur selamanya," gumam Wardhana.


Ciha terlihat berjalan mendekati Wardhana yang masih belum bergerak dari tempatnya berdiri.


"Sebaiknya dipikirkan sambil berteduh tuan, hujan makin lebat dan suhu udara yang sangat dingin bisa membahayakan anda," bujuk Ciha pelan.


"Tak perlu khawatir, aku bisa menjaga diri, tolong tinggalkan aku sendiri," balas Wardhana.


Ciha menghela nafas panjang sebelum kembali menjauh, dia benar benar sangat khawatir akan kesehatan Wardhana.


"Biarkan dia sendiri, saat ini dia sedang melawan sesuatu dalam dirinya. Jika dia berhasil mengungkap apa yang selama ini tak mampu dilakukan Naraya maka dia akan menancapkan namanya sebagai naga Malwageni, yang bisa kita lakukan saat ini adalah bersiap jika dia berhasil memecahkannya," ucap Wulan.


Ciha hanya mengangguk pelan, dia merebahkan tubuhnya di dedaunan yang sebenarnya dipersiapkan untuk Wardhana beristirahat.


"Jika aku yang membuat sistem rumit ini, maka aku akan meletakkan kunci cadangan ditempat yang tak mudah ditemukan namun juga tak sulit untuk kujangkau," Wardhana terus memperhatikan sekitarnya, termasuk empat batu kenteng songo yang tersusun di tengah.


"Sinar bulan, batu kenteng songo dan cuaca yang tidak menentu, apa ada yang kulewatkan?" Wardhana terus bergumam sepanjang malam dan tanpa sadar pagi mulai tiba.


Saat hujan mulai reda dan sinar matahari perlahan mulai menyapa mereka, Wardhana masih berdiri dengan tatapan kosong.


"Tuan, pagi telah datang, sebaiknya anda beristirahat. Jika semua petunjuk diarahkan melalui sinar bulan maka kita harus menunggu malam kembali," ucap Ciha.


"Kau benar, terima kasih sudah mengingatkanku," balas Wardhana pelan.


Kali ini Wardhana mengikuti saran Ciha karena percuma dia mencari petunjuk tanpa sinar bulan.


Namun langkah Wardhana terhenti saat melihat pantulan sinar matahari mengenai salah satu dari empat batu kenteng songo yang berjajar rapih.


"Batu pemantul juga memantulkan sinar Matahari?" Wardhana mengernyitkan dahinya.


"Arah pantulannya berbeda?," Wardhana menoleh kearah batu pemantul.


"Arah sinar bulan dan matahari berbeda, jadi titik lain dari batu itu juga berfungsi untuk memantulkan sinar matahari? tapi untuk apa?" Wardhana mengikuti arah pantulan sinar yang hampir tidak terlihat karena suasana yang mulai terang.


"Sinar ini mengarah ke batu itu," Wardhana berjalan ke batu penampung embun yang terlihat paling kecil dari batu lainnya.


"Ciha, bawa semua dedauan yang ada dan tutupi batu itu," ucap Wardhana keras.


"Batu itu?" Ciha tampak bingung dengan perintah Wardhana.


"Batu pemantul juga berfungsi sebagai pemantul sinar matahari namun karena kalah oleh suasana terang, sinar itu tak terlihat. Mereka benar benar pandai menyembunyikan rahasia," balas Wardhana.


Wulan bergerak cepat sambil tersenyum, dia membawa beberapa dedaunan untuk menutup batu yang ditunjukkan Wardhana.


"Jadi kau sudah menemukannya?" tanya Wulan sambil menutupi batu itu.


"Sepertinya begitu tetua, jika aku yang membuat misteri ini maka aku akan meletakkan kunci cadangan ditempat yang tak mudah ditemukan namun juga tak sulit untuk kujangkau.


Sinar matahari yang dipantulkan tak mudah terlihat oleh mata kita karena kalah oleh terangnya pagi hari, aku yakin sinar itu menunjukkan letak kunci cadangannya," balas Wardaha yang terus memperhatikan batu yang sudah ditutupi dedaunan itu.


"Tetua, sebaiknya anda melihat ini," tunjuk Wardhana pada tulisan yang sedikit terlihat dari pantulan sinar matahari.


"(Putar berlawanan dengan arah matahari)" ucap Wulan sambil menoleh kearah Wardhana.


"Bantu aku memutar batu ini," ucap Wardhana cepat.


Wardhana dan Candrakurama kembali memutar batu itu, berbeda dengan sebelumnya, kali ini mereka terlihat lebih mudah memutarnya.


Batu yang diputar tadi mulai bergerak pelan, bagian yang selama ini terpendam didalam tanah naik keatas.


Sebuah batu Marjan berwarna merah darah tampak berada di cekungan batu itu.


Wardhana mengambil batu itu perlahan, wajahnya tampak bersemangat.


"Batu ini akan menuntun kita pada sesuatu," ucapnya pelan.


"Kalian siap?" Wardhana menatap mereka bergantian.


Semua mengangguk bersamaan tanpa menjawab pertanyaan Wardhana.


Mereka berjalan kearah batu penampung embun yang berada didekat batu pemantul dan memasukkan batu kehidupan kedalam cekungan yang tadi malam mereka temukan.


Saat Wardhana menekan batu itu dengan kuat, terdengar suara gemuruh dari arah lain. Suara besar seperti suara batu berjatuhan mengejutkan mereka semua.

__ADS_1


"Jangan katakan pintu masuk berada di dinding jurang," ucap Wardhana pelan, pengalaman hampir jatuh ke jurang kemarin malam masih membekas dipikirannya.


"Permintaan anda tidak dikabulkan tuan, sepertinya kita harus kembali bergantungan di jurang ini," balas Wulan sambil menunjuk kebawah.


Sebuah lubang besar tampak menganga di dinding jurang.


"Kenapa mereka tidak membuat pintu masuk yang lebih mudah," umpat Wardhana.


Wulan tersenyum sambil memeluk tubuh Wardhana tiba tiba.


"Tetua?" wajah Wardhana tampak memerah karena mendapat pelukan yang cukup erat.


"Hei! tenaga dalammu cukup besar bukan? kau bawa dia dan jangan sampai jatuh," Wulan melompat kedalam jurang tanpa menunggu jawaban Candrakurama.


Wardhana berteriak seketika, dia menutup matanya dan membalas pelukan Wulan.


Wulan melepaskan tenaga dalamnya untuk memperlambat jatuhnya, dia dengan cepat mencabut pedangnya dan menancapkan tepat di mulut gua yang baru saja terbuka itu.


Wulan memutar tubuhnya sedikit sebelum memanjat dan masuk kedalam gua itu.


"Apa anda tidak bisa permisi dulu sebelum mengajakku terjun?" ucap Wardhana kesal, tubuhnya masih gemetaran.


"Kenapa dengan wajahmu tuan? jangan katakan kau belum pernah dipeluk seorang wanita?" tanya Wulan menggoda.


"Ah.. itu..." Wardhana tampak gugup menjawab pertanyaan Wulan.


Tak lama Candrakurama muncul bersama Ciha yang wajahnya tak kalah pucat dari Wardhana.


"Jangan libatkan aku dengan trah Masalembo kain kali," ucap Ciha terbata bata.


Wulan hanya tersenyum mendengar ucapan Ciha, dia menoleh kearah Wardhana.


"Baik tuan yang tak pernah memiliki kekasih, apa kita hanya perlu masuk?" tanya Wulan.


"Maaf jika mengecewakan anda, aku hanya tak sempat memikirkan hal rumit hubungan antara dua manusia," balas Wardhana kesal yang disambut tawa Wulan.


"Kau harus mulai memikirkannya tuan, rajamu sudah memiliki tiga wanita disampingnya dan kau?" Wulan masih terus menggoda Wardhana.


Wardhana tak membalas ejekan Wulan, dia meraba dinding gua sebelum mencium tangannya.


Percikan api langsung menyambar dinding gua dan langsung menyebar kedalam gua.


Semua terdiam setelah gua menjadi sangat terang, mata mereka tak berkedip menatap dinding gua yang seluruhnya dilapisi emas.


Wulan tampak menatap sebuah tulisan yang cukup besar yang berada di langit gua.


"Tulisan itu seolah ucapan selamat datang," ucap Wulan sambil menunjuk langit gua.


"Anda tau artinya?" Wardhana menatap tulisan yang berada langit gua.


"Gropak Waton," jawab Wulan pelan.


"Gropak Waton?" Wardhana tampak berfikir sejenak.


Wardhana berjalan kearah salah satu dinding dan menatap gambar berwarna emas yang membuat matanya tertarik.


"Bukankah ini sangat menarik?" ucap Wulan yang sejak awal juga tertarik dengan gambar yang dilihat Wardhana.


"Gambar ini seperti sebuah kerajaan," balas Wardhana pelan.


"Tiga trah besar Masalembo muncul begitu saja di suatu malam, tak ada yang mengenali mereka sebelumnya, bahkan pendekar terkuat saat itu yang sudah puluhan tahun menguasai dunia persilatan tak mengenali mereka.


Bagaimana jika mereka ternyata berasal dari sini? bukankah petunjuk yang ditulis Naraya dia dapatkan dari catatan ayahnya?" ujar Wulan.


"Mungkin," jawab Wardhana singkat, dia masih memperhatikan gambar yang paling mencolok dari yang lainnya.


"Apa ada yang aneh dengan gambar itu?" Wulan bertanya penasaran, dia melihat Wardhana seolah tidak tertarik dengan gambar lainnya.


"Aku merasa ada yang janggal dengan gambar ini," balas Wardhana.


"Janggal?" Wulan mengernyitkan dahinya.


"Aku belum bisa menjelaskannya namun jika anda memperhatikan ada ratusan bangunan yang ada digambar ini tapi hanya sembilan bangunan ini yang emasnya terkelupas, rusak karena alam atau?" Wardhana menunjuk sembilan gambar bangunan yang sudah terlihat rusak.


"Sembilan? sembilan batu kenteng songo, sembilan penjaga Masalembo, apa mungkin angka sembilan yang selalu berkaitan dengan mereka hanya kebetulan?" jawab Wulan.

__ADS_1


"Tuan, sebaiknya anda cepat kemari!" teriak Candrakurama dari dalam gua.


Wardhana dan Wulan saling menatap sebelum berlari kearah suara Candrakurama.


Wajah mereka tampak berubah seketika saat melihat sebuah jurang yang sangat dalam. Bukan jurang itu yang membuat mereka takjub namun susunan tangga dari kayu yang mengarah rapih ke dasar jurang.


"Tuan," ucap Ciha pelan.


"Butuh waktu yang tidak sebentar membuat anak tangga ini untuk sampai ke dasar jurang, bagaimana mereka bisa membangun tempat ini?" ujar Wardhana takjub.


Semua mengangguk setuju dengan pendapat Wardhana, susunan anak tangga yang begitu rapih mengarah ke dasar jurang yang dasarnya tidak dapat dilihat oleh mereka. Jika tanpa perhitungan dan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi, tak mungkin anak tangga itu bisa dibuat.


"Jadi ilmu pengetahuan yang dimiliki Masalembo berasal dari sini?," ucap Wulan.


"Kita tidak akan tau jika tidak memeriksa ke mana anak tangga itu berakhir, berhati hatilah karena tempat ini sudah lama terkubur, tidak ada yang tau apa yang ada dibawah sana dan aku yakin tangga kayu ini mulai rapuh," Wardhana mulai menginjak anak tangga itu perlahan.


"Krak," sebuah suara kayu patah mengejutkan mereka semua, tubuh Wardhana tampak hilang keseimbangan. Tubuhnya hampir tergelincir kedalam jurang jika Wulan tidak cepat menyambar lengannya dan menariknya kepinggir.


Belum hilang rasa terkejut mereka, beberapa pedang tiba tiba muncul dari dinding gua yang berlubang dan menyerang mereka.


Wulan menghentakkan kakinya dan melepaskan energi murni sambil memaksa Wardhana menunduk, dia mencabut pedangnya dan menangkis semua pedang yang terarah pada mereka.


Candrakurama tak kalah cepat, saat salah satu pedang lepas dari pengamatan Wulan dan hampir mengenai tubuhnya, Candrakurama bergerak cepat dan menangkis serangan itu tepat sebelum mengenai Wulan.


"Hampir saja, terima kasih," ucap Wulan pada Candrakurama.


"Musuh?" Candrakurama menarik pedangnya dan menatap sekelilingnya.


"Bukan, itu jebakan, tapi ada yang aneh dengan jebakan ini," balas Wardhana cepat.


"Aneh?" tanya Ciha bingung.


"Jebakan ini tepat dipasang di pinggir jurang dan bukan tangga itu sebagai pemicunya tapi ini," Wardhana menunjuk sisi jurang yang tadi diinjaknya.


"Jika tangga itu tidak rapuh, aku sudah menuruninya dan jebakan pedang itu tak akan mengenai tubuhku. Namun akan berbeda jika kita dari bawah, ketika aku hendak melangkah keluar dan menyentuh lantai ini maka seperti yang tadi terjadi. Jebakan ini dibuat bukan untuk mencegah orang masuk namun mencegah orang keluar," ucap Wardhana menjelaskan.


***


Pradana terlihat bergerak cepat menaiki gunung Damalung, ilmu kanuragan yang dimilikinya sedikit memudahkan bergerak di jalur yang cukup sulit. Setelah berjalan hampir semalaman dia akhirnya sampai dipuncak Kenteng Songo, dia melesat keatas salah satu pohon sambil mengamati situasi.


Pradana menatap susunan batu Kenteng Songo yang seperti habis digeser.


"Mereka sepertinya ada disini," gumam Pradana dalam hati.


Pradana memperhatikan jejak kaki yang berakhir dipinggir jurang.


"Aku harus memeriksanya," gumam Pradana sambil bersiap melompat turun.


"Apa kau sedang mencari sesuatu?" sebuah suara mengejutkan Pradana, dia menoleh kearah suara sambil mencabut pedangnya.


"Hei! pedang itu sangat berbahaya," sesosok tubuh bergerak cepat dan menangkis pedang pradana dengan tangan kosong, dia mencengkram lengan Pradana dan melemparnya ke bawah.


"Siapa dia? bagaimana aku tidak merasakan hawa kehadirannya?" umpat Pradana sambil menatap sesosok tubuh berambut putih.


"Kupikir dia akan mengirim seorang pendekar kuat, bagaimana kau begitu lemah," ucap Rubah putih sambil tersenyum kecil.


"Siapa kau sebenarnya? berani sekali ikut campur urusanku," bentak Pradana kesal.


"Siapa aku itu tak penting, yang ingin kutanyakan apa tujuanmu datang ketempat ini?" tanya Rubah putih.


"Pertanyaan itu juga yang ingin kutanyakan padamu," jawab Pradana.


"Sepertinya aku harus memaksamu bicara," jawab Rubah putih pelan sambil mencabut golok pusakanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dirgahayu Negaraku tercinta INDONESIA ke 75


Kemerdekaan bukan tanda untuk berhenti berjuang, tapi tanda untuk berjuang dengan lebih keras lagi.


Kecintaanku padamu kutuangkan dalam cerita Pedang Naga api. Semangat pantang menyerah para pejuang ku gambarkan dalam sosok Sabrang Damar dan Wardhana.


Kekayaan alammu ku gunakan sebagai latar dunia persilatan PNA dan Prinsip untuk tidak mau tunduk pada penjajah kugambarkan pada Malwageni yang berjuang melawan Majasari.


Selamat ulang tahun tanah airku!

__ADS_1


MERDEKA!!!!!


__ADS_2