
Para pendekar pilar langit yang menyadari Sabrang bergerak kearahnya mulai merasa cemas setelah melihat Sabrang mampu melumpuhkan temannya dengan mudah.
Beberap pendekar yang mencoba menghadang Sabrang berakhir dengan menjadi abu, kobaran api hitam yang menyelimuti tubuh Sabrang semakin membesar seiring dengan langkah kakinya yang semakin cepat.
Setiap ayunan pedang yang dia lakukan membakar habis semua yang berada dalam jangkauan pedangnya. Gerakan pedang, kecepatannya dan mata bulannya yang semakin bersinar menarik perhatian semua yang ada disekitarnya termasuk Suliwa dan ki Ageng.
Mereka begitu takjub sekaligus takut melihat peningkatan ilmu kanuragan murid yang dulu terlihat paling lemah itu berkembang begitu menakutkan. Namun yang membuat Sabrang terlihat sangat menakutkan adalah Mata bulannya, mata biru itu seolah meruntuhkan seluruh semangat dan keyakinan lawannya.
"Kepung dia". Salah satu pendekar memberi tanda untuk membentuk formasi andalan 40 pendekar pilar langit yaitu Formasi angin penghancur yang selama ini paling ditakuti di daratan Hujung tanah.
Puluhan pendekar bergerak mengepung Sabrang, beberapa pendekar yang semula menyerang Suliwa dan Ageng ikut mengepung Sabrang. Hal ini membuat Suliwa dan Ageng bisa sedikir bernafas lega.
Puluhan pendekar bergerak cepat mengelilingi Sabrang, saking cepat gerakannya membuat mereka terlihat seperti bertambah dua kali lipat.
"Mereka bertambah banyak? Apakah ada ilmu memperbanyak diri?". Tungga dewi terlihat khawatir.
"Apa kau siap Naga api?". Ucap Sabrang pelan.
"Kapanpun kau memberi perintah".
"Kuharap kalian tidak menahan kekuatan kali ini, ayo kita hancurkan mereka". Sabrang sedikit menyindir Anom yang selalu bertindak hati hati.
Anom tersenyum dingin seolah mengetahui sindiran Sabrang tertuju padanya. "Kuharap tubuhmu sudah siap menerima kekuatanku nak". Ucap Anom pelan.
Sabrang mengangguk pelan "Kalian pikir ada yang bisa lepas dari mataku?". Aura besar tiba tiba meluap dari tubuh Sabrang seolah tubuhnya tidak mampu menerima energi sebesar itu. Mata bulannya mulai melihat gerakan para pendekar yang mengepungnya, mereka semua kini terlihat lambat dimatanya.
Aura besar itu memenuhi seluruh area Tapak es utara dengam cepat. Tungga dewi bahkan harus bersusah payah mengalirkan tenaga dalamnya untuk menekan aura yang membuatnya sesak nafas.
"Bagaimana tubuhnya mampu menerima aura sebesar ini?". Ki Ageng menggeleng pelan.
"Hanya tubuh 7 bintang yang dapat menerima energi sebesar ini Ageng, kini kau akan menjadi saksi lahirnya pendekar terkuat dunia persilatan". Suliwa menggeleng pelan sebelum melanjutkan ucapannya. "Waktu berlalu begitu cepat, beberapa tahun lalu aku baru mengajarinya kuda kuda dasar ilmu kanuragan dan kini dia sudah jauh melampaui kita".
"Jangan takut tekanan auranya, selama formasi angin penghancur terbentuk tidak ada pendekar manapun yang perlu ditakuti".
Sabrang menarik nafas panjang sebelum mulai begerak "Kalian yang memaksaku".
Kedua pusaka dieng kembali muncul ditangannya dengan kobaran api hitam namun kali ini ada yang sedikit berbeda, keris penguasa kegelapan yang selama ini selalu menolak diselimuti kobaran api kini Anom mulai menerima kehadiran Naga api.
Tanpa sadar dua pusaka Dieng yang selama ini selalu bertentangan mulai menyatu karena kehadiran Sabrang, satu satunya keturunan Ken Panca pembuat Empat pusaka Dieng.
__ADS_1
Sabrang mengayunkan pedangnya ketika beberapa pendekar mulai menyerang, puluhan tubuh ilusi milik para pendekar itu bergerak bersamaan untuk mengecoh mata Sabrang.
Sabrang menyambut serangan itu tanpa gentar karena mata bulannya dapat membedakan mana tubuh asli dan yang hanya ilusi. Ketika tebasan Naga api hanya mengenai udara, beberapa pendekar mulai tersenyum congkak karena merasa Sabrang masuk perangkapnya. Tubuh Asli mereka bergerak dari arah belakang dengan pedang dialiri tenaga dalam yang besar.
Sabrang memutar tubuhnya sedikit kesamping dengan senyum dinginnya. Senyum diwajah para pendekar itu seketika menghilang saat melihat keris penguasa kegelapan sudah hilang dari genggaman Sabrang.
"Kerisnya menghilang?". Gumam salah satu pendekar itu.
"Mata bulanku selalu lebih unggul dari gerakan kalian". Percikan api muncul dibelakang mereka membentuk sebuah keris. Belum sempat mereka menyadari apa yang terjadi, keris itu sudah menembus tubuhnya.
"Bakar mereka semua". Sabrang memanfaatkan formasi angin penghancur yang sedikit goyah akibat tumbangnya salah satu pendekar. Dia bergerak cepat menyerang kelemahan formasi yang mulai terlihat. Beberapa pendekar yang mulai menyadari bahaya mendekat berusaha menghindar dan melupakan formasi kebanggananya namun lagi lagi mereka hanya bisa pasrah saat keris itu muncul dari tempat yang tidak bisa diduga menyerang mereka.
Anom bagai anak panah yang muncul dari mana saja dan siap menyerang diantara tarian pedang Sabrang. Formasi kebanggaan mereka menjadi perlahan hancur karena fokus mereka terpecah antara serangan cepat Sabrang dan serangan tiba tiba Anom yang bisa muncul dari mana saja.
Tungga dewi tanpa sadar ikut menahan nafas melihat Sabrang yang seperti sedang menari diantara lesatan Anom. Dalam sekejap formasi angin penghancur milik 40 Pendekar pilar langit hancur dihadapan pemuda bermata biru itu.
"Pendekar itu memiliki mata bulan, kita harus mundur terlebih dulu untuk menyusun rencana". Teriak salah satu pendekar yang akhirnya menyadari jika Sabrang telah membangkitkan mata bulan.
"Kalian pikir bisa lari setelah menghancurkan sekte bibiku". Sabrang mengadahkan tangannya keatas sesaat setelah membakar pendekar yang berada didekatnya.
"Energi keris penghancur". Anom muncul diudara sambil berputar sebelum mengeluarkan ribuan energi keris dan menghantam para pendekar yang mencoba melarikan diri.
Saat Sabrang sedang mengatur nafasnya karena energi keris penghancur membutuhkan tenaga dalam yang cukup besar, sesosok tubuh keluar dari asap yang ditimbulkan oleh ledakan keris penghancur dan dengan cepat menyerang Sabrang.
"Kali ini kita akan mati bersama". Teriak pendekar yang sudah putus asa itu.
Sabrang tidak berusaha menghindar, dia terlihat menunggu pendekar itu mendekat.
"Kau beruntung menjadi orang pertama yang merasakan Evolusi Anom setelah kekuatanya menyatu dengan Naga api".
Saat jarak antara pendekar itu dengan Sabrang sudah sangat dekat, puluhan keris tiba tiba keluar dari tubuh Sabrang dan menghantam pendekar itu.
"Bagaimana keris itu bisa muncul dari mana saja". Ucap Pendekar itu sebelum tubuhnya ambruk ketanah.
"Kini Anom bisa muncul dari mana saja sesuai keinginanku selama aura hitamnya menyelimuti seluruh area pertarungan". Ucap Sabrang sambil terus mengatur nafasnya.
Sabrang mengarahkan tangannya kearah Tungga dewi ketika seorang pendekar mencoba mengambil kesempatan menyerang Tungga dewi yang sedang terluka. Anom kembali mucul dari punggung Tungga dewi dan membunuh penyerang itu.
Semua terdiam melihat Sabrang begitu mudah mengendalilan pusaka Dieng yang terkenal sulit ditaklukan.
__ADS_1
"Dia bisa dengan mudah mengendalikan pusaka terkuat dieng". Ucap Ki Ageng pelan.
"Pusaka itu mengikuti semua kemauan Sabrang, mereka telah ditaklukan oleh anak itu". Jawab Suliwa takjub.
Beberapa pendekar yang berhasil selamat dari serangan energi penghancur mencoba melarikan diri saat Sabrang sedang mengatur nafasnya.
"40 Pendekar pilar langit, aku selalu ingin menguji kalian". Arung tiba tiba muncul bersama Mentari dan menghabisi mereka yang tersisa.
"Kalian terlambat". Sabrang tersenyum kecut.
"Maaf kami butuh waktu untuk menyalin semuanya". Jawab Arung sambil memberi hormat pada Suliwa.
Suliwa cukup terkejut melihat Arung bisa bersama Sabrang. "Aku berada dipihak kalian tetua". Ucap Arung seolah tau Suliwa masih mencurigainya.
"Sabrang, kita harus cepat membantu yang lain karena puluhan pendekar pilar langit sudah menyebar". Ucap Suliwa pelan.
Sabrang mengangguk sambil berfikir sejenak. Sabrang lalu membagi menjadi beberapa tim untuk menyebar keseluruh penjuru Tapak es utara. Dia dan Suliwa bergerak menuju aula utama sedangkan Arung dan ki ageng menyisir dari pinggir gerbang sekte, tim terakhir adalah Mentari dan Tungga dewi bergerak kearah hutan belakang sekte. Tim terakhir ini dibentuk atas usulan Arung agar mereka menjadi akur. Sabrang yang tidak memahami maksud tersembunyi Arung hanya mengangguk setuju.
"Kau baik baik saja?". Tanya Mentari dingin.
"Bukan urusanmu!". Jawab Tungga dewi ketus.
"Sekarang menjadi urusanku karena kau adalah timku, aku tidak ingin repot melindungimu". Mentari melemparkan beberapa pil yang dia dapatkan dari Wulan sari. "Pil itu akan menyembuhkan lukamu dengan cepat".
"Kau memang aneh!". Ucap Tungga dewi sambil meminum pil yang diberikan Mentari.
"Jangan salah paham, aku melakukan ini demi diriku sendiri". Mentari melesat pergi tanpa menunggu jawaban Tunga dewi.
"Kau akan menyesal telah memberikanku pil ini". Tungga dewi ikut bergerak kearah Mentari pergi.
"Dua pendekar wanita kuat yang sama sama dikuasai emosi, kalian menghadapi lawan yang sangat menakutkan". Arung terkekeh geli.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini PNA akan terbit 3 Chapter sekaligus....Chapter bonus ini dipersembahkan oleh Regina Jamlean....
Buat teman teman yang lainnya, berikan Votenya untuk ikut mendukung kak Regina dan PNA.
Chapter Bonus lebaran? Bonus akan diberikan satu hari sebelum idul Fitri dengan Syarat Posisi PNA berada lebih baik dari saat ini.
__ADS_1