
"Berani sekali kau ikut campur, akan ku bakar roh mu sampai hangus" Naga api menyerang Kakek tua tersebut.
"Serat pelindung".
Kakek tersebut merapal sebuah jurus dan tak lama kemudian tubuhnya diselimuti aura putih menyerupai kabut menahan Serangan Naga Api.
"Kau kira Serat pelindung dapat melindungi mu?". kobaran api besar terus menghantam serat pelindung kakek tersebut.
"Nak aku tidak bisa terlalu lama disini kekuatanku saat ini berada dibawah Naga Api" Kakek tua itu memandang Sabrang.
"Siapa anda?" Sabrang mengernyitkan dahinya, dia berusaha mengenali kakek dihadapannya namun dia yakin belum pernah bertemu dengannya.
"Aku adalah Pusaka penjaga Malwageni, Kau tau trah Malwageni mempunyai pusaka yang secara turun temurun diwariskan pada keturunannya. Jika saatnya tiba aku akan mengikutimu".
Sabrang masih mencoba mencerna apa yang dibicarakan kakek tersebut sebelum tiba tiba kakek tua itu menyentuh telapak tangannya.
"Untuk saat ini itu tidak penting, aku belum bisa mengikutimu karena Naga api bersemayam di tubuhmu. Kau harus percaya pada kemampuanmu sendiri, Jadilah seperti ayahmu yang tidak akan tunduk pada siapapun, kau mempunyai hak untuk menentukan jalanmu sendiri nak".
Perlahan Kabut putih di tubuh kakek itu mulai memudar perlahan.
"Ulurkan tanganmu" Kakek itu memejamkan matanya.
Tiba tiba tangan kakek tersebut mengeluarkan cahaya keemasan dan dengan cepat masuk kedalam tubuh Sabrang sebelum menghilang kembali beberapa saat kemudian.
"Terkutuk kau tua bangka" Naga api berteriak dengan penuh amarah.
"Kau tau Naga api, mungkin kau mempunyai kekuatan yang tidak terbatas namun aku yakin suatu saat anak ini akan menaklukanmu karena dia punya Tekad Malwageni. Sampai saat itu tiba aku akan pastikan kau tidak akan bisa menyentuhnya!".
Perlahan tubuh kakek itu menghilang.
***
__ADS_1
"Kau benar benar telah melepaskan Iblis ke dunia persilatan". Kumbara berkata pelan pada Ki Gandana sesaat sebelum tubuhnya kembali melesat menyerang Sabrang.
Kumbara kembali terlempar sebelum benar benar bisa menyentuh Sabrang.
"Sekuat apapun aku menembusnya tetap tidak bisa, Naga api memang mengerikan".
Beberapa saat setelah Kumbara bicara tiba tiba perlahan Kobaran naga api mengecil dan menghilang.
"Apinya menghilang? Apa yang terjadi?" Kumbara masih mematung melihat Sabrang tetap dalam posisi siaga.
Tak lama Sabrang perlahan membuka matanya. Dia menatap sekelilingnya dengan heran.
"Guru apa yang terjadi?" Dia menatap Kumbara yang tubuhnya sedang terluka.
"Kau tidak apa apa nak?" Ki Gandana mendekati Sabrang.
"Menjauh lah, kau tidak tau apa yang kau hadapi" Kumbara berteriak pada Gandana.
"Tidak perlu khawatir tetua dia muridku".
"Bagaimana anak ini bisa lepas dari pengaruh Naga Api? Atau ini cuma tipuan?" Kumbara menatap tajam Sabrang.
Tiba tiba tubuh Sabrang ambruk, tubuhnya benar benar tidak memiliki tenaga sama sekali.
"Aku lelah sekali guru" Sabrang mencoba mengatur nafasnya.
"Tidak apa apa nak, beristirahatlah" Ki Gandana tersenyum lega.
Kumbara mulai mendekat, dia mengalirkan tenaga dalam ke lengannya.
"Menyingkirlah, aku akan membunuhnya".
__ADS_1
Ki Gandana menatap tajam Kumbara.
"Aku tak akan membiarkan tetua membunuhnya".
"Kau tidak tau apa yang kau lakukan, bukankah kau lihat sendiri bagaimana mengerikannya kekuatan dia?" Suara Kumbara meninggi.
"Aku tau namun bukankah tetua juga melihat dia bisa lepas dari pengaruh Naga api?".
"Aku tidak tau apa yang terjadi dengannya tadi namun aku tidak akan mengambil resiko seperti tadi. Minggirlah atau kau pun akan kubunuh" Aura kembali menyelimuti tubuh Kumbara.
"Jika tetua memaksa aku bisa apa? Aku akan melindungi anak ini walaupun harus mati". Ki Gandana bangkit dan bersiap merapal sebuah jurus.
"Kau tidak tau betapa mengerikannya Dieng, apa kau mau mengambil resiko hanya demi anak ini?".
"Aku tidak tau apakah anak ini kelak akan menemukan Dieng atau tidak tapi bukankah tetua sendiri yang mengatakan jika manusia dikendalikan oleh nafsu dan ambisi bukan oleh sebuah pedang?".
Kumbara menggeleng pelan "Nafsu manusia itulah yang akan dimanfaatkan oleh Naga Api untuk bangkit kembali".
"Aku yakin anak ini dapat mengendalikan Naga Api, aku akan bertaruh seperti gurunya bertaruh padanya!".
"Kau!!!" Wajah Kumbara memerah menahan amarah.
Kumbara menatap Ki Gandana sesaat, tidak ada keraguan di matanya, pandangannya beralih menatap Sabrang yang tak sadarkan diri.
"Baiklah kali ini dia kulepaskan, jika dia kembali terpengaruh Naga Api aku sendiri yang akan membunuhnya" Perlahan aura ditubuhnya menghilang.
"Terima kasih atas kebaikan tetua" Ki Gandana menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Ingatlah hari ini, kuharap kelak kau tidak akan menyesali keputusanmu dan katakan pada anak itu untuk berhati hati dengan Naga Api, sejarah Pedang itu sangat kelam".
Beberapa saat kemudian tubuh Kumbara menghilang dari hadapan Ki Gundana.
__ADS_1
Setelah Kumbara pergi Ki Gandana menatap Sabrang sesaat. Mentari terlihat berlari mendekati Sabrang dengan wajah cemas.
"Aku tidak tau bagaimana kehidupanmu kelak nak, kau mempunyai bakat yang begitu besar namun kau pun akan memikul tanggung jawab yang sangat besar. Seperti yang dikatakan tetua Kumbara semoga keputusanku menyelamatkan mu hari ini tidak menjadikan penyesalan terbesarku kelak".