Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Perang Besar VII


__ADS_3

Hal pertama yang dirasakan Wardhana saat menginjakkan kaki di dasar lubang setelah menuruni tangga adalah wangi menyengat bunga Wijaya Kusuma yang berasal dari lorong gelap dihadapannya.


Dengan wangi yang sangat menyengat ini, dia memperkirakan ada puluhan bahkan mungkin ratusan bunga Wijaya kusuma di ujung lorong.


"Apa sebenarnya hubungan bunga itu dengan peradaban mereka? hampir di setiap sudut tersembunyi Kuil Khayangan ditumbuhi bunga Wijayakusuma," ucap Wardhana dalam hati.


"Lorong ini gelap sekali, apa tidak ada sumber cahaya atau apapun yang menerangi?" tanya Sekar bingung.


"Seharusnya ada Ibu ratu, jika bangunan dan Puncak kenteng Songo dibuat oleh peradaban yang sama maka sistem pencahayaannya pun sama," Wardhana meraba dinding gua itu, dia masih mengingat jika pencahayaan di gua Kenteng Songo berupa siringan kecil di dinding gua yang berisi minyak untuk menghantarkan api.


Dan benar saja, begitu Wardhana membuat percikan api dari dua buah batu di dekat dinding gua, api langsung menyambar dan merambat ke seluruh dinding gua.


Semua terdiam setelah kobaran api menerangi gua, mata mereka tak berkedip menatap dinding gua yang berwarna hitam pekat dengan hiasan gambar bunga teratai di atas air.


"Bunga teratai?" Sekar Pitaloka mengernyitkan dahinya bingung. Dalam pikirannya, dinding gua itu akan dipenuhi oleh petunjuk petunjuk mengenai peradaban terlarang namun perkiraannya salah, seluruh dinding gua hanya dipenuhi gambar bunga teratai yang sedang mekar di atas air.


"Sepertinya mereka ingin menunjukkan bahwa peradaban Lemuria hidup seperti bunga teratai. Bunga teratai membutuhkan air dan lumpur untuk bertahan hidup. Meskipun lingkungannya bisa dibilang kotor dan berbau tak sedap, tapi keadaan itu tak menghalangi dirinya untuk menunjukkan keindahan bunganya dan terjaga untuk tetap bersih.


Hal ini seperti menggambarkan bahwa manusia sejatinya memang tetap saling membutuhkan satu sama lain, meski pada orang yang jahat sekalipun. Makna hidup yang mereka jalani begitu tinggi," jawab Wardhana pelan.


Wardhana mendekati dinding gua dan kembali menyentuhnya, entah kenapa dia lebih tertarik bebatuan dinding gua itu daripada gambar bunga teratai itu.


"Batu ini seolah mengeluarkan energi aneh, apa hanya perasaanku?" ucap Wardhana dalam hati.


"Kau juga merasakannya bukan? pendekar Kalang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain, kita seolah bisa merasakan jika ada sesuatu yang aneh dengan alam dan batu ini seperti menjadi pusat keanehan yang selama ini terjadi," ucap Hanggareksa pelan.


"Pusat keanehan?" Wardhana menoleh kearah Hanggareksa meminta penjelasan.


"Apa kau pernah mendengar jika dulunya daratan Nuswantoro adalah tempat yang kering dan tidak ada satupun tanaman yang bisa hidup di sini sebelum kekuatan tujuh mustika merah Delima membuat daratan ini kembali subur? pasti ada alasan mengapa dulunya Nuswantoro begitu kering dan mungkin saja tempat inilah penyebabnya," jawab Hanggareksa.


"Jadi maksud anda bebatuan ini menyerap energi alam hingga membuatnya mengering?" tanya Wardhana cepat.


"Itu hanya perkiraan tapi yang pasti aku merasakan bebatuan ini memang menyerap energi disekitarnya," balas Hanggareksa pelan.


Mereka terus melangkah masuk kedalam gua dengan hati hati, keanehan mulai terjadi saat Wardhana dan yang lainnya sudah masuk lebih dalam. Tubuh mereka menjadi berat seolah tertimpa batu besar, keadaan menjadi semakin sulit karena gua itu seolah mengarah keatas.


Wardhana dan yang lainnya merasa seperti mendaki sebuah gunung tinggi namun melalui jalur bawah tanah.


"Benar dugaanku, bebatuan ini memang menyerap energi alam," ucap Hanggareksa dalam hati.


Wardhana kembali menghentikan langkahnya untuk beristirahat sejenak, berbeda dengan Sekar dan Hanggareksa yang memiliki tenaga dalam besar sehingga bisa mengatasi tekanan aura dinding gua, Wardhana merasa tulangnya hampir hancur.


Wardhana mengatur nafasnya perlahan sebelum kembali melangkah, dia bahkan harus dibantu oleh Cokro untuk berjalan.


"Anda baik baik saja tuan? apa tidak sebaiknya anda menunggu disini dan biarkan kami yang memeriksa tempat ini," ucap Cokro khawatir.


"Apa kau pikir aku akan melewatkan begitu saja melihat peradaban yang mungkin paling maju yang sudah terkubur lama?" balas Wardhana pelan.


"Tapi tubuh anda..."


"Aku baik baik saja," potong Wardhana cepat.


Penderitaan yang dirasakan Wardhana seolah terbayar saat melihat sebuah pintu yang terukir dengan sangat indah di ujung gua.


"Kita sudah hampir sampai," ucap Wardhana bersemangat.

__ADS_1


(Ilustrasi gerbang utama peradaban terlarang)



"Jadi ini gerbang yang selama ini menyembunyikan peradaban Lemuria?" ucap Hanggareksa kagum.


"Sebaiknya kita cepat masuk," Sekar Pitaloka yang sudah tidak sabar langsung melesat masuk melewati pintu yang terbuat dari batu hitam pekat itu.


"Jadi peradaban terlarang memang ada di dalam sini?" Sekar Pitaloka berhenti tepat di ujung pintu sambil menatap takjub reruntuhan bekas pemukiman.


(Ilustrasi sisa reruntuhan peradaban Lemuria, note : Bayangin semua bangunan itu berwarna hitam pekat)



"Selamat datang di tempat Kitab Sabdo Loji berasal, Puncak Suroloyo," ucap Wardhana tak kalah takjub.


Walau sebagian bangunan telah hancur namun tidak mampu menutup megahnya peradaban itu. Sistem perairan yang sangat detail dan rumit dari sebuah danau besar yang mengelilingi bangunan bangunan itu menandakan mereka sangat bersahabat dengan alam.


"Lalu kemana perginya semua orang yang pernah tinggal di sini?" tanya Sekar Pitaloka bingung.


"Mungkin di suatu tempat yang jauh lebih tersembunyi dari tempat ini," balas Wardhana sambil melangkah masuk.


"Sebaiknya kita tidak berpisah selama berada di sini, aku takut masih ada yang tersisa diantara mereka dan bersembunyi di tempat ini kemudian mencari kesempatan menyerang tiba tiba. Temukan apa yang kau cari secepatnya dan kita keluar dari tempat ini," ucap Sekar Pitaloka pelan.


"Baik, ibu ratu," jawab Wardhana cepat, dia kemudian melangkah kesebuah bangunan yang paling megah diantara yang lainnya.


Sudah menjadi kebiasaan Wardhana untuk memeriksa bangunan yang paling megah jika menemukan sebuah peradaban kuno yang terkubur karena dia yakin catatan catatan penting akan disimpan di tempat yang paling kokoh agar tidak mudah rusak.


Namun kali ini tebakannya salah, bangunan itu hanya berisi sebuah peti mati mewah yang tertutup kain putih, tak ada catatan apapun disekitarnya.


"Dia pasti bukan orang biasa jika sampai dibuatkan bangunan sebesar ini untuk menyimpan mayatnya, apa mungkin dia pemimpin tertinggi peradaban Lemuria?" ucap Hanggareksa sambil melangkah mendekati peti mati itu dan membuka kain putih yang menutupinya.


Wajahnya berubah saat melihat tulisan yang cukup panjang terukir di atas peti mati itu.


"Hei, apa ini yang kau cari?" ucap Hanggareksa cepat.


Wardhana yang sedang memperhatikan dinding ruangan untuk mencari petunjuk peradaban Lemuria langsung berjalan mendekat, dia meraba tulisan itu sebelum membacanya.


"Ribuan tahun sejak Batu langit Satam menghantam daratan Nuswantoro, kami mulai merasakan efek mengerikan batu itu. Energi daratan ini mulai mengering karena dihisap habis oleh batu itu. Kekeringan mulai terasa karena hampir semua sumber air mengering kecuali danau besar akibat benturan batu Satam.


"Batu Satam memang membuat peradaban Lemuria dan suku Atlantis yang hidup berdampingan menjadi berkembang namun juga perlahan menghancurkannya kembali. Energi alam yang dihisap selama ribuan tahun oleh setiap kepingan batu langit itu menciptakan energi energi kuat yang mulai meneror kami. Iblis api adalah energi terkuat yang tercipta dari batu Satam.


"Atas saran licik suku Atlantis, kami mulai melakukan persembahan dengan tumbal untuk mengendalikan Iblis api dan energi jahat lainnya namun mereka justru semakin kuat dan membunuh hampir separuh penduduk kami.


*Kami tidak menyadari jika suku Atlantis ternyata diam diam menciptakan sebuah ajian yang bisa mengendalikan energi jahat itu dan memasukkan semua**nya kedalam sebuah pusaka yang mereka buat dari batu Satam termasuk Iblis Api*.


"Suku Atlantis dengan mudah menundukkan Lemuria, pusaka yang berisi gabungan energi jahat itu benar benar kuat dan tidak memberi kesempatan sedikitpun pada kami untuk melawan. Saat semua harapan sudah hampir sirna, Iblis api yang awalnya berhasil mereka kendalikan tiba tiba melawan, energi terkuat itu justru menyerang balik suku Atlantis hingga semuanya tewas.


"Pemimpin tertinggi kami akhirnya memutuskan mengorbankan diri dan menyegel tempat ini dengan ajian Serat Jawi untuk mengurung semua energi jahat di tempat ini sebelum kami pergi mencari tempat baru dan melupakan semua kejadian buruk ini. Dengan Segel Serat Jawi, batu Satam tak akan bisa menyerap energi alam kembali dan semua iblis akan ikut terkurung di tempat ini bersama ambisi suku Atlantis."


Wardhana terlihat menahan nafasnya untuk beberapa saat begitu juga Sekar dan yang lainnya. Mereka akhirnya mengetahui pangkal dari semua permasalahan yang terjadi selama ini berasal dari tempat ini termasuk Kitab Sabdo Loji.


"Jadi Naga Api tercipta dari energi jahat yang diserap batu ini selama ribuan tahun?" tanya Sekar Pitaloka tak percaya.


"Bukan hanya Naga api, tapi semua ruh pedang yang ada di dunia persilatan termasuk milik nyonya selir. Kita benar benar dalam masalah," jawab Wardhana dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Dalam masalah?" Hanggareksa mengernyitkan dahinya.


"Catatan ini mengatakan jika Segel serat Jawi akan mengurung semua energi jahat di tempat ini bukan? lalu bagaimana mungkin Naga Api dan energi lainnya sekarang berada di dunia persilatan? sepertinya segel Serat Jawi sudah melemah atau sengaja dilemahkan oleh seseorang sehingga Naga Api bisa keluar dari tempat ini," sahut Wardhana cepat.


"Bagaimana kau bisa berfikir seseorang melemahkan segel itu? bukankah setiap ilmu segel apapun akan melemah seiring waktu," balas Sekar Pitaloka.


"Hamba pernah mendengar jika bunga Wijaya kusuma konon bisa melemahkan ilmu segel dan itulah alasannya sekte Bintang Langit melarang bunga itu tumbuh disekitar sekte nya.


"Ratusan bunga wijayakusuma yang tumbuh di sepanjang gua ini tidak tumbuh dengan sendirinya, ada seseorang yang menanam dan merawat bunga ini dengan tujuan melemahkan segel Serat Jawi dan sepertinya berhasil karena daratan kita saat ini perlahan mengering kembali," jawab Wardhana pelan.


"Tunggu dulu, jika ada yang kembali mengincar energi Jahat termasuk Naga Api bukankah akan lebih mudah menangkapnya saat dia terkurung di tempat ini daripada melemahkan segel itu dan membuat Naga Api keluar dari tempat ini?" tanya Hanggareksa bingung.


"Bagaimana jika bukan Naga Api yang mereka incar? catatan ini jelas mengatakan jika Naga Api tidak bisa di kendalikan dan menjadi penyebab kehancuran mereka sendiri. Mereka mungkin ingin menciptakan energi baru yang lebih mudah dikendalikan dan jauh lebih kuat dengan membuat segel pelindung menipis sehingga batu Satam kembali menyerap energi alam," jawab Wardhana.


"Lebih kuat? apa ada yang lebih kuat dari pusaka milik anak itu?" ucap Hanggareksa.


"Jika energi Nuswantoro dulu saja bisa menciptakan Naga Api sekuat ini lalu bagaimana dengan Nuswantoro yang energinya saat ini sudah menyatu dengan pusaka Merah Delima? apa kau bisa bayangkan seberapa kuat energi yang sudah diserap batu Satam selama ini?"


"Akan jauh lebih kuat dari Naga Api," sahut Sekar Pitaloka.


Wardhana mengangguk cepat dan meminta semuanya meninggalkan tempat itu secepatnya.


"Ibu ratu, saat ini dimana suku Lemuria berada tidak penting lagi karena dari catatan ini mereka adalah orang yang tidak suka bertarung jadi tidak mungkin membahayakan kita, sekarang tugas kita adalah menghancurkan pintu masuk ke tempat ini dan mencabut semua bunga Wijaya Kusuma agar segel ini kembali tertutup," ucap Wardhana cepat.


***


Putri Andini duduk mematung di dalam ruang tahanan dengan wajah pucat, kedua matanya tampak masih berair menandakan tekanan besar yang dia rasakan selama terkurung di kerajaannya sendiri.


Bagi Andini yang sudah terbiasa hidup mewah, berada di dalam penjara jelas membuatnya tersiksa. Balas dendam adalah satu satunya alasan yang membuat dia terus bertahan dalam penderitaan itu.


Andini masih berharap Malwageni mengetahui kondisinya saat ini dan mengirim utusan untuk membebaskannya walau itu sangat sulit karena penjagaan di sekitar ruang tahanan sangat ketat.


"Apa anda nona Andini?" sebuah suara membuyarkan lamunannya, dia menatap pria bertopeng itu dengan wajah bingung.


"Sepertinya aku sudah mendapatkan jawabannya, mohon mundur sedikit nona," ucap Candrakurama sebelum menebas jeruji besi dihadapannya menggunakan pedang yang penuh dengan tenaga dalam.


"Siapa anda tuan? apa kita saling mengenal?" tanya Andini takut.


"Tuan Wardhana memintaku menyelamatkan anda dan membawa ke medan perang untuk mencegah pasukan Saung Galah menyerang Malwageni, sebaiknya kita cepat sebelum terlambat," jawab Candrakurama pelan.


"Menyerang Malwageni?" Andini tampak terkejut, setelah dikurung secara paksa oleh Pancaka beberapa hari lalu, dia memang tidak mendengar kabar apapun lagi.


"Aku akan menceritakan secara lengkap dalam perjalanan tapi yang pasti saat ini kita harus cepat karena Pancaka sedang memimpin pasukan Saung Galah untuk menyerang Malwageni bersama Arkantara," balas Candrakurama.


***


Batu Satam


Batu Satam adalah batuan khas Indonesia yang ditemukan di pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Batu ini berwarna hitam dan memiliki urat-urat yang khas.


Batu Satam termasuk kedalam batuan langka karena terbentuk dari hasil proses alam atas reaksi tabrakan meteor dengan lapisan bumi yang mengandung timah tinggi jutaan tahun lalu. Serpihan batu meteor itu tersebar ke seluruh pelosok dunia seperti Australia, Cekoslovakia, Arab, dan di Indonesia tepatnya di pulau Belitung.


Saat jatuh di atas tanah pulau Belitung, meteor ini bereaksi dengan kandungan timah yang sangat banyak yang terdapat di pulau Belitung dan menyerapnya, sehingga membentuk batu hitam yang kemudian dinamakan Batu Satam. Karena proses inilah Batu Satam hanya terdapat di Indonesia dan menjadi batuan langka yang diburu para kolektor batu di seluruh dunia.


Dalam cerita PNA, batu Satam atau "Vibranium wakanda" nya indonesia ini menjadi pusat semua kekacauan di Nunswantoro.

__ADS_1


Terakhir seperti biasa.. Vote


__ADS_2