
"Gaya bertarungnya berubah dan bagaimana dia mendapatkan kepercayaan dirinya lagi?" ucap Agam kesal saat hampir semua serangannya mampu di hindari Sabrang.
Gerakan yang dilakukan Sabrang berhasil membuat Agam sedikit terguncang, walau masih kalah dalam hal kecepatan tapi dia mampu bergerak di saat yang tepat dan menghindari serangan serangan yang tadi hampir membunuhnya.
"Mau sampai kapan kau bermain main? sudah saatnya menyerang balik," ucap Naga Api.
Naga Api melihat Sabrang seolah sengaja menghindar di saat terakhir dan tidak menyerang balik saat ada kesempatan.
"Aku tidak sedang bermain main bodoh, ada yang ingin aku tiru dari gerakannya karena menyerangnya sekarang akan percuma, perbedaan kecepatan diantara kami masih terlalu jauh," balas Sabrang sebelum menghindari serangan Agam.
"Kau ingin menirunya? semua jurus yang dia gunakan hampir kau kuasai, apa yang sebenarnya kau rencanakan?"
"Sial, kecepatannya terus meningkat," Sabrang tersentak kaget saat Agam merubah gerakannya, dia meningkatkan kecepatannya dan berusaha menghindari serangan.
"Kau sepertinya meremehkan aku tapi kau lupa perbedaan kekuatan kita," serangan tiba tiba Agam berhasil mengenai tubuh Sabrang yang membuat kuda kudanya goyah.
Tak ingin melewatkan kesempatan itu, Agam langsung melepaskan beberapa jurus untuk menghabisinya.
"Jadi begitu," ucap Sabrang saat serangan Agam kembali mengenai tubuhnya.
"Perisai es..." belum sempat Sabrang menghindar, sebuah serangan tapak menghantam tubuhnya dengan keras yang membuatnya terlempar dan membentur pohon besar.
Sabrang terbatuk dan muntah darah, nafasnya tersenggal saat merasakan sakit yang luar biasa.
"Itu adalah tapak penghancur langit, aku cukup terkejut kau masih mampu berdiri setelah terkena jurus itu," ucap Agam sambil tersenyum.
"Apa kau sudah sadar bodoh? jika terus bertarung seperti itu kau akan mati di tangannya," umpat Naga Api kesal.
"Kau berisik sekali! apa kau pikir dengan kecepatanku tadi bisa melukainya?" balas Sabrang cepat.
Selain ingin memancing amarah Agam, Sabrang memang sengaja tidak melakukan serangan serangan yang bisa menguras tenaganya karena dia menganggap percuma. Dengan perbedaan kecepatan, Agam pasti dengan mudah menghindari serangan seperti sebelumnya.
"Anom bersiaplah," ucap Sabrang sebelum kembali menyerang.
"Harus kuakui kau sangat merepotkan, tapi kali ini akan aku pastikan kau terbunuh," Agam menyambut serangan Sabrang dengan penuh percaya diri terlebih dia melihat kecepatan Sabrang masih sama seperti sebelumnya.
Sabrang tersenyum sinis lalu melepaskan aura besar dari tubuhnya yang membuat Agam sedikit terkejut.
"Kau... bagaimana masih memiliki tenaga dalam sekuat ini?"
"Terlalu cepat untuk terkejut," Sabrang merubah gerakan kakinya dan dalam sekejap menghilang dari pandangan sebelum muncul dari sisi yang berlawanan dan langsung menyerang.
"Apa? bagaimana mungkin..." Agam berhasil menghindar di detik terakhir namun serangan serangan beruntun Sabrang berikutnya membuat dia terkejut.
Sabrang terus menyerang dan tidak membiarkan Agam mengambil jarak, setiap serangan serangannya mengandung kekuatan besar.
Mendapat tekanan terus menerus membuat Agam melakukan kesalahan kecil yang langsung dimanfaatkan Sabrang.
"Tarian Rajawali," Sabrang mengayunkan pedangnya dan untuk pertama kalinya serangan dia mengenai sasaran.
Tubuh Agam terlempar beberapa meter, beruntung dia sempat menggunakan perisai tenaga dalam untuk melindungi tubuhnya.
"Bagaimana kau bisa menguasai Ajian Langkah dewa milikku?" teriak Agam.
Senyum kemenangan yang sebelumnya terus menghiasi wajahnya perlahan sirna, dia sangat yakin Sabrang tadi menggunakan Ajian Langkah dewa miliknya.
"Ajian langkah dewa? jadi itu yang kau rencanakan sejak awal," ucap Naga Api terkejut.
"Aku sempat bingung bagaimana serangan dengan tenaga dalam yang tidak terlalu besar bisa begitu mematikan, ternyata ini kuncinya," balas Sabrang pelan.
"Tidak mungkin! kau bahkan tidak pernah membaca kitab Sabdo Loji, bagaimana kau bisa menguasai jurus itu?" Agam masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Anggap saja seperti kau meniru jurus milikku," ejek Sabrang.
__ADS_1
"Akan kubunuh kau!" Agam bergerak menyerang dengan seluruh kekuatannya.
"Kau menjadi sangat terburu buru, apa ada yang membuatmu khawatir?"
Agam tidak menjawab ejekan Sabrang, dia terus menyerang dengan menggunakan Ajian Langkah dewa namun kali ini semua serangannya mampu dihindari dengan sempurna.
Kecepatan Sabrang yang juga menggunakan ajian yang sama seolah menyatu dengan insting dan mata bulannya, dia mulai bisa membaca kemana Agam akan bergerak.
Ketenangan Agam perlahan hilang dan berganti menjadi amarah karena secepat apapun dia menyerang, Sabrang selalu bisa menghindarinya.
Sabrang sebenarnya mampu lebih cepat dari Agam andai tubuhnya tidak terluka, rasa sakit yang kadang muncul sedikit memperlambat gerakannya.
"Anak ini kembali berkembang, benar benar mengejutkan dia bisa terus menjadi kuat dalam setiap pertarungan," ucap Anom dalam hati.
"Aku tak mungkin kalah olehmu, apa kau pikir hanya ajian Langkah dewa yang ada di kitab Sabdo Loji?" Agam terus memaksakan tubuhnya bergerak, serangan serangannya mulai bervariasi dan mengimbangi Sabrang.
"Seberapa banyak sebenarnya ilmu kanuragan yang terdapat di kitab itu," umpat Sabrang kesal.
Serangan serangan yang terarah pada Sabrang semakin cepat namun anehnya tubuhnya pun bereaksi semakin cepat sehingga mampu menghindari serangan Agam.
"Tidak mungkin, gerakan itu..." Agam tampak terkejut saat melihat gerakan Sabrang bergerak seolah mengikuti serangannya, dia seolah bisa melihat beberapa detik ke depan.
"Aku yang seharusnya berada ditingkatan itu bukan kau," Agam semakin kalap saat serangannya tak pernah mengenai lawannya.
Dia kembali teringat ucapan Mandala saat mengajarkan beberapa jurus pedang di kitab Sabdo Loji tepat setahun setelah mereka menemukan kitab itu di Danau Sidihoni, saat itu Agam masih berusia sebelas tahun.
"Apakah kitab itu begitu hebat ayah?" tanya Agam polos saat Mandala terus memaksanya berlatih ilmu kanuragan.
"Tergantung bagaimana kau memahami makna yang tertulis di dalam kitab ini, Sabdo Loji tidak menjelaskan secara detail apa yang mereka sebut sebagai ilmu kanuragan, tapi hanya memberi penjelasan jika sebenarnya setiap manusia memiliki kekuatan tersembunyi yang jika mampu dimaksimalkan akan menciptakan apa yang disebut Ilmu kanuragan," jawab Mandala lembut.
"Ilmu kanuragan? aku tidak mengerti," balas Agam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mandala terkekeh mendengar jawaban polos anaknya seraya menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
"Ayah hari ini akan mengajarimu apa yang ayah sebut sebagai Ajian Langkah dewa, apakah jurus ini berasal dari kitab Sabdo Loji? tidak, ini jurus ciptaan ayah sendiri hasil dari memahami salah satu kata kata yang tertulis di kitab ini," Mandala menunjukkan tulisan di dalam kitab Sabdo Loji.
"Jadi tidak ada ilmu kanuragan apapun di kitab itu?" tanya Agam semakin bingung.
"Tidak, Ilmu kanuragan yang kitab Sabdo Loji sebutkan sebenarnya kita sendiri yang menciptakan dari memahami tulisan tulisan ini, bahkan kalimat yang baru saja ayah bacakan tadi bisa menciptakan ribuan Ajian langkah dewa yang berbeda tergantung bagaimana pemahaman si pembaca, tapi sebenarnya inilah kehebatan dari kitab Sabdo Loji.
"Kitab ini berisi Ilmu kanuragan dan ilmu pengetahuan yang tidak terbatas dan mampu menciptakan ribuan jurus tergantung pemahaman kita. Kali ini ayah akan mengajarimu beberapa jurus saja, nanti jika kau sudah besar, kau harus menciptakan sendiri jurus yang sesuai dengan tubuhmu sampai kau mencapai tingkat tertinggi yang disebut Ajian tanpa wujud dengan membaca kitab ini," jawab Mandala pelan.
"Ajian tanpa wujud? kenapa ayah tidak mengajarkan itu saja padaku, aku tidak sepintar ayah dalam memahami sesuatu," rengek Agam.
"Ajian tanpa Wujud tidak bisa dipelajari dan hanya bisa didapatkan ketika seseorang sudah mencapai puncak tertinggi dalam memaksimalkan tubuh dan bakatnya. Saat itu terjadi pikiran, mata, tubuh dan ilmu kanuragan akan menyatu dengan alam dan menutup semua celah dengan sempurna," balas Mandala sambil mengelus rambut anaknya.
"Aku tidak ingin mempelajari jurus apapun ayah, aku lebih suka berdagang agar selalu dekat dengan ayah," jawab Agam pelan.
"Dasar anak bodoh," Mandala memeluk tubuh anaknya erat.
"Dengar nak, kehilangan ibumu adalah hal paling menakutkan bagi ayah dan ayah tidak ingin merasakannya lagi. Pada titik tertentu, kitab Sabdo Loji sepertinya bisa membangkitkan ibumu lagi dalam tubuh lainnya. Jika ayah gagal, kau yang harus bisa membangkitkan ayah dan ibumu suatu saat karena dia sedang menunggu untuk berkumpul kembali dengan kita," ucap Mandala lembut.
"Ibu bisa hidup lagi?" wajah Agam berubah seketika saat mendengar nama Ibunya yang bahkan belum pernah dia temui.
"Kau ingin bertemu dengan ibumu bukan?"
Agam mengangguk cepat dan bangkit dari duduknya.
"Ayah ajari aku sekarang," ucap Agam bersemangat.
"Kau mungkin sudah berada di tingkat tertinggi seperti yang disebutkan ayah tapi aku tak boleh kalah karena ibu sedang menungguku, selain itu dunia persilatan harus merasakan atas apa yang mereka lakukan pada ayah dulu," Agam kembali memaksakan tubuhnya bergerak, tekadnya untuk menang dan bertemu ibunya tanpa sadar mengeluarkan semua energi tersembunyi yang ada di dalam tubuhnya.
"Jurus apa lagi ini?" Sabrang terlihat mengambil jarak, dia ingin mengamati lawannya lebih dahulu sebelum menyerang balik.
__ADS_1
"Dia sudah mencapai batasnya, kau harus membunuhnya sekarang atau dia akan mengeluarkan jurus aneh lainnya," ucap Naga Api sambil mengalirkan energinya ke tubuh Sabrang untuk serangan terakhir.
Sabrang dan Agam kembali bertukar jurus di udara, suara keras disertai ledakan terus terdengar setiap kali pusaka keduanya berbenturan di udara.
Namun, perlahan tapi pasti gerakan Agam mulai melambat karena tubuhnya sudah mencapai batasnya. Secepat apapun serangannya mampu dihindari oleh Sabrang yang kemudian dibalas dengan serangan lainnya.
"Sekarang," Sabrang tiba tiba memunculkan energi keris di udara sebelum menyerang balik.
Lesatan Energi keris membuat konsentrasi Agam sedikit terpecah, terlebih kecepatan Sabrang mulai mengimbanginya.
"Kudengar sumber masalah di dunia ini adalah kitab Sabdo Loji yang kau pegang, hari ini akan kuhancurkan kitab itu."
Sabrang terus menarik energi keris Anom dan berusaha mempersempit jarak karena Agam kini memilih bertarung jarak jauh dengan jurus jurusnya.
"Energi keris penghancur," Sabrang menarik semua energi keris yang berputar di udara dan di saat bersamaan dia mendekat dengan cepat.
"Sudah kukatakan sejak awal, selama aku bisa menghentikan waktu kau tak akan bisa menyentuhku," ucap Agam dalam hati, dia sengaja melonggarkan pertahanannya agar Sabrang mendekat dan diam diam mulai mengalirkan tenaga dalam ke matanya untuk menggunakan jurus menghentikan waktu.
Namun betapa terkejutnya dia ketika tubuhnya tak bisa bergerak.
"Kau?"
"Aku tidak tau bagaimana caramu menggunakan jurus itu tapi tubuhku kini bereaksi dengan semua bahaya dan itu memudahkan aku untuk menggunakan jurus menghentikan waktu lebih cepat darimu," Sabrang memutar sedikit tubuhnya sebelum mengayunkan pedangnya.
"Jurus pedang Sabdo Palon tingkat dua : Cahaya penghancur Iblis."
Agam memusatkan semua tenaga dalam ke tubuhnya untuk menahan serangan Sabrang walau dia yakin akan percuma tapi tekadnya untuk terus hidup membuat dia melakukan apapun untuk lepas dari serangan itu.
Saat tebasan pedang Sabrang hampir memotong tubuh Agam, sesosok tubuh muncul dan menangkis serangan Sabrang.
Tubuh mereka bertiga terpental akibat benturan tenaga dalam yang sangat besar.
"Mandala?" Sabrang menatap seorang pria bertopeng yang menggendong tubuh Agam.
"Pendekar muda, jurus apa yang kau gunakan tadi?" ucap pria itu takjub.
"Siapa kau? seenaknya saja mengganggu pertarungan orang lain?" balas Sabrang kesal.
"Anggap saja aku iblis yang baru saja bangkit, sangat menyenangkan melihat pemuda sepertimu memiliki ilmu yang sangat tinggi, sepertinya aku bisa bermain main sebentar," ucap Pria itu sambil bersiap menyerang.
"Berhati hatilah, aku merasakan aura besar tersembunyi dalam tubuhnya," ucap Naga Api pelan.
Saat keduanya hendak bergerak bersamaan, kabut putih tiba tiba muncul dan menyelimuti area pertarungan.
"Segel Kabut?"
"Yang mulia kita harus cepat pergi," Ciha tiba tiba muncul didekatnya bersama Tungga Dewi.
"Kalian? pergilah dulu, aku akan membereskan dia lebih dulu," balas Sabrang cepat.
"Tidak Yang mulia, Mandala saat ini muncul di medan perang, aku diminta tuan Rubah Putih untuk menjemput anda," jawab Tungga Dewi sopan.
"Tapi..."
"Sebaiknya kita pergi Yang mulia, apa anda masih ingat apa yang membuatku takut saat menyegel Lakeswara dalam pertarungan di Trowulan? aku melihat seorang pendekar membunuh empat pemimpin tertinggi Masalembo dengan mudah di dimensi ruang waktu dan aku yakin pendekar tadi pelakunya, kondisi tubuh anda sudah kelelahan, hamba mohon kita mundur dulu," potong Ciha dengan suara bergetar takut.
"Dia pelakunya?" balas Sabrang terkejut.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ada beberapa hal yang kembali ingin saya sampaikan terkait protes seorang Reader yang menganggap seharusnya Sabrang sekarang sudah menjadi yang terkuat dan bisa menghancurkan Arkantara dengan mudah bersama Rubah Putih dan Darin jadi tidak perlu susah susah membawa pasukan.
Eh Jomblo, dari awal gua menciptakan karakter Sabrang se"Manusia" mungkin. Dia memang kuat tapi semua kekuatannya akan didapatkan dari pertarungan ke pertarungan lain.. bukan dari mejemin mata trus tring bukan sulap bukan sihir jadi kuat. Lu pikir pak tarno prok prok jadi apa?
__ADS_1
Lagian kalo Sabrang bisa mengalahkan semua pendekar dunia persilatan sendirian, enak Rubah Putih, Wardhana, Wulan, Darin dll dong makan gaji buta duduk di kerajaan doang wkwkwkkw
Terakhir, serius ni gw mau tanya sama kalian.. menurut kalian, apa sih ALAM SEMESTA PARALEL ITU ATAU MULTIVERSE?