
Kecepatan Sabrang terus meningkat ketika menggunakan ajian inti lebur saketi tingkat akhir, dia terpaksa menggunakan ajian itu karena menggunakan jurus pedang Sabdo Palon dalam pertarungan sesungguhnya sangat berbeda dengan latihan.
Selain lawan yang dihadapinya kali ini jauh lebih kuat, Sabrang juga harus menyesuaikan kecepatan tubuhnya yang terkadang sedikit terlambat bereaksi ketika Mata bulan menemukan celah dalam pertahanan Hanggareksa.
"Kau harus lebih berhati hati nak, dia bukan lawan yang mudah dihadapi. Mungkin kecepatan kalian mulai seimbang tapi pengalaman dan tehnik pedangnya berada di atasmu," ucap Anom memperingatkan.
Anom yang terus mengamati pertarungan tuannya akhirnya menyadari satu hal, pengalaman bertarung tidak bisa di kejar hanya dengan energi besar Naga api bahkan jurus pedang terhebat Sabdo Palon sekalipun.
Hanggareksa mungkin memiliki tenaga dalam yang sedikit di bawah Sabrang, tapi dia mampu menutupinya dengan pergerakan yang tepat dalam bertahan maupun menyerang sambil membaca alur pertarungan, dan semua itu hanya bisa didapatkan dari pengalaman bertarungnya selama ini.
Saat ini, Anom merasa khawatir sekaligus senang karena pertarungan dengan Hanggareksa secara tidak langsung akan mematangkan dan mengatasi kelemahan terbesar Sabrang saat ini.
Kelemahan yang selama ini tidak bisa diatasi hanya dari latihan, kelemahan yang hanya bisa di terlihat ketika menghadapi lawan yang kuat.
Dengan semakin meningkatnya kekuatan Mata bulan, kecepatan tubuh Sabrang seolah tidak mampu untuk mengimbanginya. Itu terlihat dari beberapa serangan yang seharusnya mampu mendesak Hanggareksa dapat dihindari karena tubuhnya terlambat bereaksi.
Sabrang kembali merubah gerakannya saat Hanggareksa mencoba mendesaknya, dia bergerak ke sisi kiri sebelum melepaskan jurus pedang pemusnah raga. Namun seperti yang terjadi sebelumnya, serangannya seolah terlambat sehingga lawannya mampu menutup celahnya lebih dulu.
Hanggareksa tampak terkejut untuk sesaat, melihat gerakan Sabrang yang tidak biasa tadi, dia yakin lawannya itu telah membaca serangannya namun entah mengapa serangan Sabrang melambat di detik terakhir.
"Apa yang sebenarnya di rencanakan anak ini? jelas tadi dia mampu membaca gerakanku," ucap Hanggareksa dalam hati.
Hanggareksa kembali menyerang, setiap serangannya kini jauh lebih mematikan dan dalam sekejap menyudutkan Sabrang.
"Apa yang kau pikirkan bodoh? cepat gunakan jurus barumu," ucap Naga Api tiba tiba.
"Jika menggunakan jurus itu mudah, aku sudah menyerang dia sejak awal. Kitab Sabdo palon membutuhkan waktu yang tepat agar efeknya bisa mematikan dan aku belum terbiasa menggunakannya dalam pertempuran sesungguhnya," bongkahan es kembali muncul di sekitar Sabrang saat ayunan pedang Hanggareksa hampir mengenainya.
Bongkahan es itu hancur berkeping keping ketika terkena serangan Hanggareksa.
"Sial, serangannya semakin cepat," Sabrang melompat mundur diantara serpihan es yang beterbangan di udara sambil mengatur ulang kuda kudanya.
Sabrang terus melemparkan pisau pisau es untuk memberinya waktu menghindar namun Hanggareksa tidak tinggal diam, dia terus menyerang tanpa memberi waktu Sabrang mengatur nafas.
Goresan demi goresan mulai menghiasi tubuh Sabrang, matanya memang mampu membaca serangan cepat itu tapi lagi lagi tubuhnya terlambat menghindar.
Saat Sabrang hendak memaksakan menggunakan jurus pedang Sabdo Palon karena sudah sangat terdesak, sebuah tusukan pedang tiba menghujam tubuhnya.
Beruntung Sabrang mampu menggunakan jurus menghentikan waktu di detik terakhir sehingga tusukan itu tidak terlalu dalam.
Sabrang mencengkram pedang itu dengan tangan kirinya sebelum mengayunkan pedangnya sekuat tenaga dan menyerang balik.
"Tarian rajawali," ayunan pedang Sabrang menghantam tubuh Hanggareksa, dan disaat bersamaan kobaran api yang menyelimuti tubuhnya berusaha membakar tubuh lawannya itu.
"Kau pikir serangan itu bisa menghentikan aku?" tubuh Hanggareksa yang hampir hangus terbakar tiba tiba menghilang dan muncul dibelakangnya tepat setelah waktu kembali bergerak.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" Sabrang memutar tubuhnya sambil melepaskan aura naga api namun terlambat, yang dirasakannya berikutnya adalah rasa sakit yang luar biasa sebelum tubuhnya terlempar dan membentur pepohonan.
"Jadi mata itu bisa menghentikan waktu? sepertinya aku terlalu meremehkan dirimu nak," ucap Hanggareksa dingin. Tak ada lagi senyum di wajahnya, pada akhirnya dia menyadari Sabrang bukan lawan yang mudah di hadapi.
"Sedikit lagi," ucap Sabrang dalam hati, dia terlihat mengatur nafasnya sambil mengalirkan energi Naga Api ke seluruh tubuhnya untuk mengurangi rasa sakit akibat luka di tubuhnya.
"Serahkan kitab itu nak, aku memberimu satu kesempatan terakhir," Hanggareksa menghunuskan pedangnya dan bersiap menyerang.
Sabrang tersenyum kecil saat mendengar ancaman Hanggareksa, dia menarik pedang Naga Api ke depan dan di saat bersaman puluhan energi keris muncul di udara.
"Kau benar benar membuatku kesal, sudah kukatakan berkali kali aku tidak tau kitab apa yang kau maksud, tapi saat ini hal itu tidak penting lagi. Akan kuberi kau pelajaran atas semua kelancanganmu," Sabrang kembali menyerang.
Keduanya kembali bertukar serangan di udara, kali ini Hanggareksa menggunakan hampir seluruh tenaga dalamnya karena yakin Sabrang sudah dalam kondisi kelelahan, dia berniat melumpuhkan lawannya itu dalam satu serangan cepat.
"Naga api, bersiaplah," ucap Sabrang dalam pikirannya.
"Kau yakin akan melakukannya? tubuhmu sudah penuh luka," balas Naga Api.
"Dengar, aku tidak meminta pendapatmu, lakukan saja apa yang kuperintankan," Sabrang menarik energi keris di udara untuk mengacaukan gerakan Hanggareksa dan di saat bersamaan dia menggunakan jurus pedang pemusnah raga.
Tebasan Sabrang kali ini mengenai sasarannya, ledakan besar akibat benturan kedua pusaka itu memaksa Hanggareksa terlempar mundur.
Sabrang tidak berhenti di sana, dia kembali bergerak mendekat sambil mengayunkan pedangnya.
"Harus diakui kau adalah salah satu lawan paling menarik yang pernah aku hadapi selama ini, sangat disayangkan aku harus melumpuhkan mu nak."
Ketika Hanggareksa yakin bisa membaca gerakan lawannya, Sabrang tiba tiba merubah arah pedangnya.
"Jurus pedang Sabdo Palon tingkat I : Sayatan pedang kegelapan," Aura hitam meluap dari pedang Sabrang bersamaan dengan menghilangnya tubuh Sabrang.
"Jurus Pedang Sabdo Palon? bagaimana anak ini bisa menguasai jurus itu," merasa dalam bahaya, Hanggareksa menarik kembali serangannya, dia memutar pedangnya untuk membentuk perisai energi pedang.
Tepat setelah Hanggareksa menancapkan pedangnya di tanah, sebuah energi pedang berwarna hitam yang diselimuti kobaran api menghantam perisai tenaga dalamnya.
Perisai pelindung itu memang tidak bertahan lama tapi memberi waktu Hanggareksa untuk menghindar.
Melihat lawannya mencoba menjaga jarak, Sabrang tidak tinggal diam. Dia melepaskan aura yang sangat besar sebelum melesat menyerang.
Tanah di area pertarungan bergetar hebat bersamaan dengan kecepatan Sabrang yang terus meningkat. Kobaran api yang menyelimuti tubuh Sabrang membesar dan membumbung tinggi di udara.
Hanggareksa menatap takjub Sabrang, dia tidak bisa membayangkan seberapa panas berada di dalam kobaran api itu.
Perlahan namun pasti gerakan tubuh Sabrang mulai bisa mengimbangi matanya, tekanan dan serangan cepat Hanggareksa selama pertarungan membuat Sabrang mampu memaksa tubuhnya sampai batas tertinggi.
"Jadi jurus ini yang membuat kau yakin memenangkan pertarungan? baik, kita lihat apa aku mampu menahan seranganmu," Hanggareksa merapal jurus andalannya, dia sudah siap dengan semua kemungkinan yang terjadi.
__ADS_1
"Jurus pedang Sabdo Palon tingkat II : Pedang tanpa wujud," tepat sebelum Sabrang mengayunkan pedangnya, Darin melesat kearahnya. Dia menembus kobaran api yang menyelimuti tubuh Sabrang dan menotok beberapa bagian tubuhnya sebelum melompat mundur.
Sabrang tampak menjerit kesakitan sebelum kobaran api di tubuhnya seolah meledak dan membakar semua yang berada di sekitarnya.
"Hentikan pertarungan ini!" teriak Darin sambil membuat perisai tenaga dalam untuk menahan api yang menyebar ke segala arah.
Hanggareksa langsung bergerak mundur, dia memutar kembali pedangnya sebelum menancapkan ke tanah.
"Sial, api itu terus menyebar," Rubah Putih yang sedang bertarung dengan pendekar Kalang ikut menjauh dan melindungi tubuhnya dengan ledakan tenaga dalam iblis.
"Energi Dewa Api benar benar mengerikan," ucap Darin saat kobaran api itu menghilang perlahan.
"Kakek?" ucap Sabrang bingung, dia merasa energi Naga api kembali masuk ke tubuhnya dengan cepat saat Darin menotok beberapa bagian tubuhnya.
***
"Aura Dewa api?" Durga tampak terkejut saat suhu udara di dalam gua meningkat dengan cepat, dia langsung berlari keluar untuk melihat yang terjadi.
Sebuah pemandangan mengerikan menyambut Durga saat dia keluar gua. Separuh lebih hutan di sekitar pertarungan terbakar habis dan menyisakan abu.
"Ketua," teriak Durga saat melihat Hanggareksa batuk darah.
"Mundur!" teriak Hanggareksa tiba tiba, dia menatap Darin yang berjalan mendekatinya dengan penuh kewaspadaan. Mampu menembus kobaran api milik Dewa api menandakan pria dihadapannya bukan pendekar biasa.
"Jika dia berada di sini berarti enam pendekar kalang api?" Hanggareksa tampak terkejut.
Hanggareksa masih ingat betul sebelum masuk ke dalam Air terjun Lembah pelangi, dia memang bertemu dengan Darin di Hutan larangan dan memerintahkan enam pendekar Kalang api untuk menghentikannya.
"Jika kalian meneruskan pertarungan ini, bukan hanya akan mati sia sia tapi akan memuluskan rencana Mandala," ucap Darin pelan.
"Rencana Mandala?" Hanggareksa mengernyitkan dahinya.
"Ada yang harus kita bicarakan tuan," balas Darin sambil mengajak Hanggareksa masuk kedalam gua.
"Apa yang terjadi dengan teman temanku?" tanya Hanggareksa tiba tiba.
"Mereka baik baik saja, aku hanya membuat mereka tak sadarkan diri untuk beberapa saat," jawab Darin cepat.
"Tak sadarkan diri?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa hari ini sepertinya sistem MT eror jadi bukan PNA tidak update.. kemarin PNA SUDAH update dari jam 12 siang dan baru sukses pagi hari.. Dan Chapter ini saya juga tidak tau apakah akan sukses hari ini atau besok...Jadi mohon dimengerti karena semua novel merasakan hal yang sama.
terima kasih....
__ADS_1