
Rombongan sekte Rajawali emas mulai memasuki perbatasan wilayah tapak es utara, mereka terlihat membawa rombongan yang cukup banyak.
“Kita istirahat sejenak, lokasi sekte tapak es utara tak jauh dari sini” Perintah Tungga dewi pada rombongannya.
“Baik ketua”. Jawab mereka hampir berbarengan. Sejak kematian Ajisaka, sekte rajawali emas terpaksa melakukan pemilihan ketua secara mendadak dan Tungga dewi yang merupakan cucu Sudarta terpilih menggantikan Ajisaka.
“Sebaiknya kau juga beristirahat”. Ucap Lasmini lembut pada Tungga dewi .
“Aku baik biak saja bibi”. Jawab Tungga dewi sambil bersiap bermeditasi, hal yang selalu dia lakukan setelah kematian Sudarta. Sejak dia mendengar kematian kakeknya, Tungga dewi bertekad untuk menjadi kuat dan membalaskan dendam pada Sabrang.
Kesalahpahaman ini diakibatkan karena Tungga dewi belum mengetahui kenyataan yang sebenarnya jika Sudarta sudah mati puluhan tahun lalu dan ruh yang ada ditubuh kakeknya itu adalah Ajisaka.
“Bibi, apa menurutmu dia akan datang?”. Tanya Dewi lirih.
“Melihat hubungannya dengan tetua Mantili sepertinya dia pasti datang”. Jawab Lasmini.
Lasmini menarik nafas panjang sambil menatap murid kesayangannya itu, walaupun Tungga dewi tidak mengatakan siapa yang ditanyakannya namun dia sudah paham jika yang dimaksud Tungga dewi adalah Sabrang.
Pemuda yang paling dicintainya sejak menyelamatkan nyawanya dari serangan racun selatan itu kini menjadi musuh utama Sekte Rajawali Emas. Lasmini sangat mengerti jika saat ini perasaan Tungga dewi sedang hancur lebur.
“Aku harus membalaskan dendam kakek, harus!”. Ucap Tungga dewi pelan, kedua bola mata indahnya mulai mengeluarkan air mata.
“Dewi, aku tau kau adalah ketua Sekte rajawali emas sekarang namun kau tak harus terlihat kuat dihadapan bibimu ini”. Lasmini mengelus rambut panjang Tungga dewi.
“Kenapa dia melakukan ini padaku bi, kenapa dia membunuh kakek?”. Tangis Tungga dewi akhirnya pecah dipelukan Lasmini.
Lasmini tak bisa berkata apa apa, dia hanya diam sambil memeluk muridnya itu. Kematian Sudarta memang merupakan pukulan terberat bagi sekte rajawali emas namun dia tidak pernah membayangkan jika yang membunuh Sudarta adalah Sabrang Damar, anggota Sekte Pedang naga api sekaligus Putra mahkota malwageni.
Keraajaan yang selama ini dibela oleh Rajawali emas walau harus bertaruh nyawa. Dia masih belum memahami apa yang sebenarnya menjadi alas an Sabrang membunuh Sudarta.
“Apa masalah ini akan selesai dengan membunuhnya?, bukankah sebaiknya kita cari tau dulu apa yang dipikirkan pangeran sampai tega membalas kebaikan Rajawali emas dengan membunuh Ketua”.
“Apa maksud bibi?”. Tungga dewi terlihat tidak senang melihat Lasmini seperti membela Sabrang.
__ADS_1
“Kali ini dengarkan ucapanku sebagai bibimu bukan anggota rajawali emas”. Lasmini menatap lembut Tungga dewi sebelum melanjutkan ucapannya. “Apa hatimu percaya dia membunuh ketua tanpa alasan? Terlepas dari kenyataan kau sangat mencintai anak itu aku yakin kau pun ragu jika dia tidak memiliki alasan yang kuat untuk melakukan itu. Kematian ketua membuat kondisi Rajawali emas tidak stabil, banyak orang orang disekelilingmu yang berusaha merebut posisi ketua dengan cara apapun termasuk mencoba mengadu domba kita dengan sekte pedang naga api. Terlepas benar tidaknya anak itu membunuh ketua, aku merasa kita perlu menyelidiki kembali masalah ini”. Ucap Lasmini setengah berbisik.
Lasmini tidak ingin pembicaraannya dengan Tungga dewi terdengar oleh Tirta, salah satu orang yang paling menginginkan posisi ketua sekte dan merupakan orang pertama yang membisikan tentang kematian Sudarta ditelinga Tungga dewi.
“Bagaimana jika alasannya tidak dapat kuterima?”.
“Aku akan membantumu membalaskan dendam pada anak itu walau sepertinya hal itu sedikit mustahil.
“Maksud bibi?”. Tungga dewi mengernyitkan dahinya.
“Kudengar kini kemampuannya telah jauh diatas Kertasura sekalipun, apakah kita bisa mengalahkannya?”. Ucap Lasmini pelan.
Tungga dewi menarik nafas panjang, jika dengan kemampuan Lasmini yang merupakan salah satu pendekar wanita terkuat tidak mampu mengalahkan Sabrang bagaimana dengan kemampuannya yang masih jauh dibawah Lasmini.
***
“Jadi Pendekar daratan Hujung tanahpun sudah menginjakkan kakinya di tanah jawata?”. Tanya Sabrang pada Arung.
Arung menganggukan kepalanya “Aku pernah bertemu dengan mereka beberapa waktu lalu, mereka dijuluki sepasang pendekar langit karena kemampuannya yang sangat tinggi”.
“Aku tidak tau namun aku yakin merekalah yang menghancurkan sekte kelelawar hijau beberapa saat lalu”.
“Kau mengetahui masalah pembantaian Sekte kelelawar hijau?”. Sabrang mengernyitkan dahinya.
“Sudah kukatakan jika para pendekar dari daratan lainnya sudah lama berada ditanah Jawata, kami semua membaur untuk menyembunyikan identitas kami sambil menunggu kebangkitan Banaspati. Runtuhnya Dieng membuatmu tanpa sadar menyerap energi banaspati, itulah yang membuat mereka mulai bermunculan. Untuk kasus Kelelawar hijau agak sedikit berbeda, aku yakin mereka bukanlah sasaran serangan para pendekar Hujung tanah namun mungkin kelelawar hijau membawa sesuatu yang selama ini dicari keluar dari Dieng”.
“Maksudmu kitab Paraton?”. Tanya Sabrang pelan.
Arung menganggukan kepalanya “Hanya kitab itu yang mampu menarik perhatian mereka. Jika benar kitab Paraton sudah ada ditangan mereka harapan kita satu satunya adalah kitab Dewa es abadi. Jika mereka berhasil mendapatkan kedua kitab itu maka hanya masalah waktu sampai mereka menemukan Telaga khayangan api dan membuat kekacauan didunia persilatan”.
Raut wajah Sabrang terkejut mendengar Arung menyebut kitab Dewa es abadi yang kini berada ditangannya setelah Mantili memberikannya tempo hari.
“KItab Dewa es abadi ciptaan mereka juga?”.
__ADS_1
“Sepertinya begitu karena konon ada beberapa petunjuk mengenai ramalan Sabdo palon dan gua khayangan disamarkan dibeberapa jurus kitab Dewa es abadi”.
Langkah mereka terhenti ketika bertemu satu rombongan yang sedang beristirahat di perbatasan wilayah sekte Tapak es utara.
“SIapa mereka?”. Arung menjadi waspada karena melihat sambutan yang kurang menyenangkan dari para pendekar itu.
“Ah bibi Lasmini”. Sabrang melambaikan tangannya kearah Lasmini dan Tungga dewi yang menatapnya dengan wajah terkejut. “Tidak apa apa mereka temanku”. Sabrang berlari menghampiri lasmini yang masih menatapnya khawatir.
Saat Sabrang hampir mendekat tiba tiba dua pendekar tinggi rajawali emas menyerangnya tiba tiba yang membuat Sabrang tersentak kaget. Sabrang merendahkan sedikit tubuhnya untuk menarik dua pendekar itu mendekat kemudian kedua tangannya mengeluarkan dua pedang es bersamaan dan menangkis serangan jurus tarian rajawali milik dua pendekar itu.
Melihat dua pendekar yang terdorong mundur masih berusaha menyerang, Sabrang menciptakan pisau pisau es kecil dan melemparkannya kearah dua pendekar yang bergerak menyerang.
Saat para pendekar itu melompat mundur untuk menghindar, Sabrang muncul dibelakang salah satu pendekar dan menggunakan Hembusan dewa es abadi untuk membekukannya.
“Aku harus membantunya”. Arung berniat ikut menyerang namun Sabrang memberikan tanda untuk tidak ikut campur.
“Bibi kenapa kalian menyerangku?”. Tanya Sabrang bingung.
“Kau harus Mati”. Salah satu pendekar yang menyerangnya tadi muncul dihadapannya sambil mengayunkan pedangnya. Sabrang menangkap pedang itu dengan mudah dan mengalirkan hawa es ketubuh pendekar itu melalui pedangnya yang membuat tubuhnya ikut membeku.
“Aku tidak membunuh mereka, mereka hanya kubekukan sementara. Katakan bibi kenapa kalian menyerangku”. Sabrang melepaskan aura hitam pekat yang menekan semua pendekar yang berada didekatnya. Dia sengaja melakukan itu untuk mencegah pendekar rajawali emas menyerangnya karena Sabrang takut melukai mereka.
“Kekuatannya jauh berkembang dari saat terakhir kali bertemu di kadipaten Wanajaya”. Gumam Lasmini dalam hati. Mereka semua mematung menatap sosok tubuh yang diselimuti aura hitam pekat berjalan mendekati mereka.
“Bibi, tubuhku tidak bisa digerakan”. Tengku dewi berbicara setengah berbisik.
“Aku tau, akan kucari cara untuk lepas dari tekanan aura ini”. Lasmini menelan ludahnya.
“Kenapa mereka menyerangnya? Bukankah dia tadi mengatakan jika mereka adalah temannya?”. Arung bertanya heran.
“Aku tidak tau namun sepertinya ada kesalahpahaman akibat ajian rogo sukmo”. Ucap mentari pelan.
“Kenapa kau membunuh kakekku? Apa salah kakek padamu?’. Air mata menetes kembali dari bola mata Tungga dewi.
__ADS_1
“Jadi ini semua karena hal itu”. Raut wajah Sabrang berubah seketika ketika menyadari kesalahpahaman itu namun dia bingung harus mulai menjelaskan dari mana. “DIa bukan kakek Sudarta”. Ucap Sabrang lirih.
“Bukan kakek?lalu siapa? Kau jangan mencari pembenaran atas apa yang telah kau lakukan”. Tungga dewi tiba tiba berteriak pada Sabrang.