Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sabrang Menyerang


__ADS_3

Masalembo, sebuah daratan tersembunyi yang sangat maju terlihat berbeda pagi itu. Tempat yang biasanya cukup tenang itu kini mendadak ramai suara tabuh gendang yang menandakan perang dimulai.


Wardhana terpaksa memulai perang lebih cepat karena lorong yang mereka lalui berakhir tepat di dekat pos penjagaan prajurit Masalembo.


Wardhana langsung memanfaatkan ketidaksiapan pasukan Masalembo dengan menyerang cepat. Dia memecah pasukan menjadi tiga dan bergerak berpencar.


Tim pertama yang dipimpin Lingga menghalau pasukan yang berada dihadapan mereka, sedangkan dua tim yang pimpin oleh Sabrang dan Suliwa memisahkan diri dan bergerak maju diantara kepungan pasukan Masalembo.


"Temukan ruang penelitian, aku yakin tubuh para pemimpin dunia disimpan di sana sambil menunggu dibangkitkan. Hancurkan tubuh mereka agar tidak bisa bangkit lagi," ucap Wardhana sebelum memisahkan diri dari Lingga dan bergerak bersama Sabrang.


"Aku akan membuka jalan untuk kalian, paman pimpin pasukan untuk bergerak maju," ucap Sabrang sambil melepaskan aura dari tubuhnya.


"Baik Yang mulia," Wardhana memberi tanda untuk membentuk formasi Padma Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bunga teratai).


"Kalian pikir bisa menghentikanku?," Sabrang bergerak maju sambil memunculkan puluhan energi keris di udara. Mata bulannya bersinar terang sesaat sebelum merapal sebua jurus.


"Jurus api abadi tingkat II : Tarian api abadi," Sabrang bergerak cepat diantara puluhan pendekar yang mengepungnya.


Aura yang menekan membuat para pendekar yang mengepungnya kesulitan bergerak dan Sabrang memanfaatkannya untuk menghabisi mereka sebanyak mungkin.


Sabrang sadar jika dia tidak boleh bertarung terlalu lama untuk menghemat tenaganya, dia tidak tau apa yang akan dihadapi didepan sana.


"Anom, alirkan seluruh energimu ke tubuhku, aku ingin menghancurkan mereka dalam satu serangan," ucap Sabrang sambil terus bergerak maju.


Sabrang menarik tubuh salah satu pendekar untuk menjadikannya pijakan sebelum melompat di udara.


"Badai api neraka," seketika aura merah melesat dari pedangnya dan membakar semua yang dilewatinya.


Ledakan ledakan besar terdengar dipenjuru Masalembo saat Sabrang mengayunkan pedangnya, dia terus bergerak ke depan dan membakar semua yang dilewatinya.


Wardhana yang memimpin pasukan mulai bergerak maju sambil membantu Sabrang.


Dia bersama Mentari dan Tungga dewi bergerak didepan pasukan gabungan angin selatan.


Saat Sabrang sedang bergerak sambil membuka jalan tiba tiba dua orang pendekar melesat cepat mendekatinya.


Sabrang menarik pedangnya dan bersiap menyambut serangan yang terarah padanya namun pendekar satunya tiba tiba muncul dibelakangnya dan langsung menghujamkan pedangnya.


Tubuh Sabrang tertusuk pedang dan tembus hingga kedadanya.


Tungga dewi tampak tersentak kaget karena sangat jarang ada yang bisa lebih cepat dari Sabrang.

__ADS_1


"Yang mulia," Tungga dewi dan Mentari bergerak bersamaan namun pendekar satunya sudah muncul dihadapan mereka.


"Cepat sekali," ucap Mentari terkejut.


"Aku sangat terkejut kalian bisa menemukan tempat ini namun sepertinya percuma, kalian hanya mengantarkan nyawa kemari," ucap Ahsan, salah satu dari sembilan dewa penjaga Masalembo sambil mencengkram leher Sabrang.


"Aku pun tak kalah terkejut kau mampu mengimbangi kecepatanku namun kau tak secepat Umbara," Sabrang menghilang dari hadapan Ahsan dan muncul didekatnya dengan ayunan pedang Naga apinya.


"Ruang dan waktu?," Ahsan tersentak kaget sambil melompat mundur namun Sabrang tak memberinya kesempatan, dia terus menyerang sambil sesekali menarik energi keris yang berputar mengikutinya untuk mengacaukan gerakan Ahsan.


Pertarungan keduanya cukup sengit dengan saling menyerang dan menekan dengan ilmu terbaik yang dimiliki masing masing. Hanya dalam beberapa tarikan nafas saja mereka sudah bertukar puluhan jurus.


Keadaan terlihat seperti seimbang namun tanpa Ahsan sadari Sabrang mengulur waktu untuk memberi kesempatan Wardhana mengatur pasukannya.


Ahsan memang mampu melepaskan beberapa serangan yang mampu mengenai tubuh Sabrang dengan kecepatan yang dimilikinya namun serangan Sabrang jauh lebih mematikan membuat luka ditubuhnya lebih parah dari Sabrang.


"Kau benar benar membuatku bersemangat," Sabrang merubah gerakannya saat berada didekat Ahsan.


"Jurus Angin pembasmi iblis tingkat II : Angin kegelapan," Sabrang merendahkan sedikit tubuhnya sambil mengayunkan pedangnya kearah Ahsan.


"Jurus ini?," Ahsan mencoba menghindar namun sebuah keris yang luput dari pengamatannya melesat kearahnya.


Ahsan terdorong beberapa langkah dan hampir kehilangan kepalanya andai tak berhasil menghindari energi keris disaat terakhir.


"Pergilah paman aku akan menahan mereka sejenak," ucap Sabrang pelan.


"Baik Yang mulia," Wardhana bergerak maju sambil terus menyerang musuh yang masih mengepungnya.


"Arung buka jalan," teriak Wardhana.


"Kalian pikir bisa pergi begitu saja dari hadapan dewa penjaga Masalembo?", Arnika yang juga salah satu anggota sembilan dewa penjaga Masalembo berusaha menghadang namun serangan bersamaan Mentari dan Tungga dewi memaksanya mundur.


"Kami lawanmu," Mentari menciptakan beberapa dinding es dan disaat bersamaan merapal segel bayangan untuk menangkap Arnika.


Arunh bergerak diikuti Wijaya dan Lembusora untuk membuka jalan. Gerakan mereka begitu teratur dan mematikan dalam formasi Padma Wyuha.


Formasi berbentuk bunga teratai itu mampu menekan lawan, dua tim sayap yang dipimpin Arung dan Wijaya mampu menjalankan tugas dengan sangat baik.


Perlahan namun pasti pasukan Wardhana mulai bergerak maju.


"Pertahankan formasi," teriak Wardhana yang bergerak paling depan. Pedang pemberian Arya dwipa sudah basah terkena darah lawan.

__ADS_1


***


Sabrang terus menekan untuk memberi jalan bagi pasukan Wardhana. Setiap serangannya begitu mematikan dan semakin cepat memaksa Ahsan terus bertahan.


"Mata itu membaca semua gerakan ku," umpat Ahsan dalam hati saat serangan Sabrang kembali melukai tubuhnya.


"Apa dewa penjaga Masalembo hanya diajarkan berlari tanpa bisa menyerang?, dimana kesombonganmu tadi?," ejek Sabrang.


Sabrang berusaha memancing emosi Ahsan karena gerakan lincahnya menyulitkan Sabrang menyerang.


"Dalam pertempuran yang terpenting adalah menang, apapun caranya," balas Ahsan sambil mengulur waktu.


"Apa yang kau tunggu? kau sedang mengulur waktu bukan? maka aku akan menunggumu," ucap Sabrang dingin, dia cukup lega setelah melihat tim Wardhana sudah mampu menjauh.


"Rasa percaya dirimu mengingatkanku pada Naraya, namun kau tau apa yang terjadi dengannya? dia mati ditangan kami."


"Kau bisa mencobanya jika yakin bisa mengalahkanku", Sabrang kembali menciptakan energi keris diudara.


***


"Kau tidak berniat membatu temanmu? kalian terlalu meremehkan Yang mulia hanya dengan mengirim dua dewa penjaga Masalembo," ucap Tungga dewi sinis.


Arnika yang juga salah satu anggota sembilan dewa penjaga Masalembo terdiam sambil menatap tajam Tungga dewi.


Setelah melihat kekuatan Sabrang kini dia sadar jika dua dewa penjaga Masalembo tak akan mampu menghentikan Sabrang dan butuh waktu baginya untuk memanggil enam dewa lainnya.


Anrika bukan tidak ingin membantu Ahsan namun dua gadis dihadapannya juga sangat merepotkannya.


"Kemampuan kalian membuatku kagum, sayang kalian lebih memilih menjadi lawan Masalembo. Jika kalian berfikir dewa lainnya sama dengan kami maka kusarankan membuang jauh pikiran kalian. Mereka jauh lebih menakutkan dariku karena telah selesai melewati puluhan kali percobaan." ucap Anrika sambil bergerak menyerang.


Wajah Ahsan kembali cerah setelah sebelumnya menjadi bulan bulanan Sabrang. Kehadiran sepuluh pendekar kilat hitam Masalembo kembali memberinya harapan.


Terlihat sepuluh pendekar kilat hitam mendekat dengan cepat dan langsung mengepung Sabrang.


Pendekar kilat hitam adalah sebuah pasukan tempur yang terdiri dari beberapa pendekar berbakat hasil ujicoba yang gagal masuk kedalam dewa penjaga Masalembo.


Mereka berada dibawah perintah komandan Dewa penjaga.


"Jadi mereka yang kau tunggu?," ucap Sabrang sambil melepaskan aura ditubuhnya.


"Saatnya aku mencoba ilmu pedang jiwaku."

__ADS_1


__ADS_2