
Senyum kemenangan mahluk itu menghilang seketika saat Pedang Naga api hanya menghancurkan bongkahan es yang menyelimuti tubuh Sabrang namun tidak menembus tubuhnya.
Dia masih berusaha memahami situasinya saat Mentari memutar tubuhnya dan menyerang mahluk itu.
"Kau?" Mahluk itu membentuk perisai es dan melompat mundur.
Mentari melesat cepat kearah Sabrang dan menyentuh tubuhnya untuk menyalurkan energi Naga api ketubuh Sabrang.
"Bagaimana kau bisa tau?" tanya mahluk itu geram sambil merapal sebuah jurus.
"Tuan muda tak pernah memanggilku gila apalagi memintaku membunuh seseorang" ucap Mentari sambil terus menyalurkan energi Naga api.
Mahluk itu tertawa lantang sebelum bersiap bergerak dengan kecepatan tinggi, tubuhnya mulai diselimuti kobaran api.
"Gawat, aku belum selesai menyalurkan energi naga api" ucap Mentari panik saat mahluk itu bergerak menyerangnya.
"Pusatkan tenaga dalam pada telapak tanganmu, gunakan tenaga dalam itu untuk menekan udara disekitarmu lalu tempelkan telapak tangan ditanah sebelum kau lepaskan seluruh energi yang kau rasakan ditanganmu" ucap Sabramg tiba tiba.
"Tuan muda?" Mentari tampak bingung dengan ucapan Sabrang.
"Lakukan sekarang" perintah Sabrang.
Mentari mengangguk pelan dan mengikuti semua perintah Sabrang, dia memusatkan tenaga dalam miliknya di lengan kiri dan mulai menempelkan telapak tangannya di tanah sebelum melepaskan semua tenaga ditangannya.
Saat mahluk itu mengayunkan pedangnya kearah Mentari tiba tiba dinding es terbentuk dihadapan Mentari dan melindunginya.
"Kau! bagaimana bisa menguasai jurus itu?" mahluk itu tersentak kaget saat pedangnya mengenai perisai es.
"Itulah jurus tingkat II Dewa es abadi, kini kau sudah menguasainya" ucap Sabrang sambil tersenyum pada Mentari.
"Aku, menguasai jurus es?" Mentari masih tampak bingung.
"Terima kasih atas bantuanmu, kini beristirahatlah biar aku yang menghadapinya". Sabrang mengambil pedang naga api dan berjalan mendekati mahluk itu.
"Awalnya aku sangat membencimu namun perlahan aku sadar jika kau bisa membantuku menghancurkan para pemimpin dunia".
"Aku ingin meminta bantuanku?" mahluk itu tertawa mengejek.
"Kau salah paham, aku tidak meminta bantuanmu namun memerintahkanmu memberikan seluruh energi gelapmu" balas Sabrang.
"Apa kau membual? bukankah hasilnya akan sama saja?" mahluk itu mulai merapal jurus yang sangat dikenali Sabrang.
"Jurus pedang pemusnah raga? kau bahkan bisa menguasai jurus itu" Sabrang tersenyum sinis sebelum merapal jurus yang sama.
__ADS_1
"Tuan muda, energi naga api hanya bisa digunakan satu kali ditempat ini" ucap Mentari khawatir.
"Itu sudah cukup, akan kubuat dia takluk dalam satu serangan" Sabrang mulai bergerak dengan kecepatan tinggi. Mata bulannya mulai aktif dan bersinar terang, puluhan energi keris terbentuk diudara bersamaan dengan gerakan Sabrang yang semakin cepat.
Mahluk itu tersentak kaget saat melihat mata biru Sabrang semakin bersinar. Dia menyambut serangan Sabrang dengan seluruh kekuatannya.
"Jurus pedang pemusnah raga" ucap mereka berbarengan.
Mahluk itu terlihat bergerak lebih cepat dan mengayunkan pedangnya kearah Sabrang namun saat dia merasa sudah memenangkan pertempuran Sabrang merubah gerakannya sedikit dan menambah kecepatannya.
"Pedang pemusnah raga tingkat IV : Segel jiwa" Aura merah darah meluap dari tubuh Sabrang sebelum pedangnya menghantam tubuh mahluk itu. Mahluk itu terpental sebelum Sabrang mengarahkan tangannya kearah mahluk itu dan menyerapnya.
"Jurus apa yang kau gunakan?" umpat mahluk itu kesal. Perlahan energinya masuk kedalam tubuh Sabrang, dia berusaha sekuat tenaga menahannya namun tidak berhasil.
"Aku sempat terkejut kau mampu menguasai seluruh ilmu kanuraganku namun akhirnya aku mengerti. Selama ini kau mengamati dari dalam tubuhku dan mempelajarinya untuk mempersiapkan kebangkitanmu.
Tapi kau lupa satu hal, aku bisa meniru jurus yang belum kupelajari. Segel jiwa adalah jurus tingkat IV yang belum pernah kugunakan. Kau sudah kalah dari awal saat meremehkanku dan teman temanku".
Mahluk itu tampak kesal sebelum seluruh energinya masuk kedalam tubuh Sabrang.
Sabrang memejamkan matanya saat merasakan energi ditubuhnya meledak dan menyebar keseluruh tubuhnya.
Mata bulannya membentuk garis seperti mata kucing menandakan mata bulan telah berevolusi menjadi sempurna.
Saat jurusnya mulai aktif untuk membawa mereka kembali, Sabrang menarik lengan Mentari dan memeluknya. Belum sempat Mentari bereaksi apapun sebuah ciuman mendarat dibibirnya dengan lembut.
"Tu..tuan muda anda bisa terkena racunku" Raut wajah Mentari memerah.
"Aku akan menghilangkan semua racun ditubuhmu saat semua urusan selesai, teruslah berada disisiku". ucap Sabrang pelan.
Mentari mengangguk pelan. "Terima kasih untuk semuanya tuan muda" jawab Mentari sesaat sebelum tubuhnya menghilang.
***
Sementara pertarungan disekte Tapak es utara semakin sengit, puluhan pendekar Pendekar langit tampak mampu memojokkan pendekar Tapak es utara. Kemampuan mereka yang diatas rata rata membuat para pendekar tapak es utara.
Mantili tampak mengamuk diatara kepungan para pendekar langit yang menyerangnya. Bongkahan es berserakan dimana mana, wajahnya sudah penuh oleh darah para pendekar langit.
Namun Mantili bukan tanpa luka, dibeberapa bagian tubuhnya terlihat luka yang cukup dalam. Mantili memang bertarung dengan pikiran terpecah karena harus melindungi muridnya yang bukan tandingan para pendekar langit.
Tungga dewi yang berada disebelah Mantili mampu menutupi lubang saat konsentrasi Mantili terpecah. Ilmu kanuragan Tungga dewi memang berkembang pesat dibawah bimbingan Brajamusti.
Suliwa dan Wulan sari tak beda jauh karena harus menghadapi beberapa tetua Langit merah yang sudah memiliki pengalaman bertarung ribuan tahun. Hanya Arung dan Lingga yang tampak masih bisa mengimbangi mereka. Melalui pertarungan bersama selama beberapa purnama membuat kerjasama mereka padu. Kecepatan Lingga dan variasi jurus pedang Arung membuat lawan kewalahan.
__ADS_1
Arung yang teringat wajah sedih adiknya setelah melihat Sabrang terluka melampiaskan kekesalannya pada Pendekar langit merah.
"Jika kalian berniat membunuh Sabrang maka lupakan" umpatnya geram.
Sedangkan Brajamusti yang sedang bertarung dengan Prabaswara mulai kewalahan. Ilmu ilmu aneh yang digunakan Prabaswara tampak menyulitkan Brajamusti.
Brajamusti memang pendekar terkuat saat ini yang kemampuannya paling mendekati Sabrang namun pedang ilusi milik Prabaswara jelas bukan tandingannya.
"Apa kau pikir bisa mengalahkanku dengan ilmu kanuraganmu?" Prabaswara tersenyum mengejek.
"Tulang tulangku sepertinya sudah menua namun kau salah jika menganggapku ingin mengalahkanmu. Aku hanya sedang mengulur waktu sebentar" Brajamusti tersenyum penuh makna.
"Mengulur waktu?" Prabaswara mengernyitkan dahinya.
"Sebaiknya kau bersiap karena aku merasakan sesuatu bergerak cepat kesini" Brajamusti meningkatkan kecepatannya. Dia mulai mengeluarkan jurus andalan Angin biru untuk menyerang.
Prabaswara memutar pedangnya sesaat sebelum menyerang. Dia terus meningkatkan kecepatannya untuk menyudahi perlawanan Brajamusti.
"Dia masih bisa lebih cepat dari saat ini?" ucap Brajamusti terkejut.
Brajamusti semakin terdesak dengan serangan yang terarah padanya. Dia hanya bisa menghindar dengan sisa sisa tenaga dalamnya. Sekuat apapun dia berusaha menyerang, Prabaswara selalu lebih cepat darinya sehingga memaksa Bejamusti mundur.
"Sudah saatnya membunuhmu, aku tak punya banyak waktu". Prabaswara menghilang dari pandangan dan muncul tepat disisi kiri Brajamusti. Dia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga dan mengincar leher Brajamusti.
"Gawat" Brajamusti berusaha menghindar namun terlambat.
"Mati kau".
Sesaat sebelum kepala Brajamusti terpisah dari tubuhnya, sesosok tubuh muncul dan mencipatakan perisai es untuk mengangkis serangan Prabaswara.
"Kau?". Brajamusti berusaha memperingatkan Mentari saat Prabaswara kembali menyerang namun Mentari tampak tenang dan terus menciptakan perisai perisai es disekelilingnya.
Gerakan Prabaswara semakin sulit ketika Emmy muncul dan ikut menyerang. Walau ilmu kanuragan dua gadis itu jauh dibawah Prabaswara namun kombinasi serangan Emmy dan perisai es Mentari cukup membuatnya repot.
"Bagaimana gadis itu bisa menguasai jurus Tapak es utara?" gumam Mantili saat melihat Mentari bergerak bagai menari diantara es.
"Segel bayangan" Bayangan tubuh Mentari yang sudah dialiri racun tampak bergerak diantara bongkahan es dan mendekati Prabaswara.
Menyadari akan sangat menyulitkan menghindari segel bayangan sambil bertarung dengan dua orang dihadapannya membuat Prabaswara melompat mundur mengambil jarak. Dia ingin mengamati terlebih dahulu jurus aneh milik Mentari.
"Anda baik baik saja guru? maaf aku terlambat". ucap Mentari sambil melompat mundur.
Brajamusti mengangguk pelan "Apa kau berhasil?".
__ADS_1
"Tuan muda akan datang sebentar lagi, saat ini dia sedang berusaha mengendalikan kekuatan barunya". jawab Mentari pelan sambil tersenyum. Dia masih mengingat dengan jelas ciuman yang dilakukan Sabrang tiba tiba.