Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kemunculan Pendekar Rambut Putih


__ADS_3

"Airlangga ditemukan!" teriak Wijaya dari dalam ruangan, beberapa pasukan angin selatan yang sedang mengobati luka teman temannya langsung berteriak kencang.


"Hidup Malwageni!" suara riuh tiba tiba mengisi area keraton dalam, semua seolah larut dalam kemenangan kecuali Jaladara.


Jaladara tampak tidak suka dengan riuh teriakan Malwageni, puluhan panji kebesaran Malwageni berkibar di setiap sudut keraton menggantikan panji Majasari yang selama ratusan tahun berkibar di langit Majasari.


Suasana kemenangan yang penuh teriakkan dan air mata itu seolah mengucilkan Saung galah, tak ada satupun yang menyebut nama Saung galah.


Terbersit dipikiran Jaladara untuk menyerang balik Malwageni karena ini saat yang paling tepat menguasai dua kerajaan sekaligus namun dia mengurungkan niatnya ketika menatap Sabrang.


Jaladara tentu berhitung, walaupun saat ini dia mungkin bisa menundukkan Malwageni dengan ratusan ribu pasukannya namun dengan kemampuan Sabrang ditambah dukungan Wardhana dan Paksi jelas akan membuat kerugian besar bagi Saung galah.


Jaladara melihat sendiri bagaimana pasukan tangan besi tak berdaya dihadapan ilmu kanuragan Sabrang.


Jaladara menoleh kearah Wijaya yang berjalan mendekatinya sambil membawa Airlangga.


Raja Majasari yang masih mengenakan pakaian lengkap kebesarannya itu tampak terikat, dia sesekali memberontak dan memaki Wijaya.


"Kau akan merasakan akibatnya, kalian akan hancur," umpat Airlangga kesal.


"Sebaiknya jaga bicara anda dihadapan Yang mulia," Wijaya melepaskan sebuah pukulan keras di perut Airlangga yang membuatnya tak sadarkan diri.


"Bawa dia keruang tahanan, aku akan mengurusnya nanti," perintah Wijaya.


Saat Wijaya berjalan mendekati Sabrang, tiba tiba Jaladara bereaksi, dia mencabut pedangnya dan mengarahkan ke Wijaya.


"Apa apaan ini? anda menghunuskan pedang padaku?" suara Wijaya meninggi, dia sangat tersingung dengan sikap Jaladara.


"Airlangga adalah tahanan perang Saung galah, dia akan ditahan di Saung galah," balas Jaladara tegas.


Dia sudah tidak bisa menahan hinaan yang dirasakannya, apalagi Airlangga adalah simbol Majasari. Menahan Airlangga akan mengukuhkan posisi Saung galah sebagai kerajaan besar di Nuswantoro.


Suasana tiba tiba menjadi tegang, pasukan Angin selatan langsung bereaksi dan mengepung Jaladara, begitu juga dengan pasukan Saung galah yang dengan sigap melindungi patihnya.


Pedang kedua pasukan sama sama terhunus dan siap menyerang, dua pasukan yang baru saja bekerja sama menundukkan Majasari kini terlihat saling bermusuhan.


Pasukan angin selatan jelas kalah jumlah namun kehadiran Sabrang dan beberapa teua sekte aliran putih pendukung Sabrang mampu menutupi kekurangan jumlah.


"Tahanan perang Saung galah?" Wijaya tertawa mengejek.


"Aku baru saja menikmati kemenangan ku merebut kembali Malwageni, kuharap anda tidak merusaknya," ratusan energi keris muncul di udara diikuti luapan energi yang menekan seluruh area keraton dalam.


Ancaman Sabrang membuahkan hasil, tekanan auranya membuat prajurit Saung galah mengendur, tubuh mereka bahkan sulit digerakan dan beberapa lainnya langsung tak sadarkan diri.


"Kuharap anda mengerti pangeran, perjanjian kita hanya sebatas membagi dua wilayah Majasari. Sebaiknya anda tak memutuskan sepihak penahanan Airlangga, kita harus duduk bersama," Jaladara akhirnya melunak, dia tidak ingin mencari masalah dengan Sabrang.


"Saung galah sejak awal hanya membantu kami setengah hati dan merencanakan sesuatu, apa kau pikir aku tidak bisa membaca gerakanmu Jaladara? kau lupa tak pernah menang saat menghadapi ku," Paksi tiba tiba muncul sambil menundukkan kepalanya pada Sabrang.


"Paman Paksi? di mana paman Wardhana? bukankah sudah terlalu lama dia tertahan di gerbang utama?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


***


Saat keraton Majasari berhasil dikuasai dan panji panji kebesaran Malwageni telah berkibar menandakan runtuhnya Majasari, suasana digerbang kota jauh lebih buruk.


puluhan mayat prajurit Saung galah yang dipimpin Wardhana bergelimpangan, sebagian lainnya hanya berjaga mengelilingi Prabaya tanpa berani menyerang.


Pedang taring merah digenggaman Prabaya meneteskan darah menandakan sudah banyak nyawa yang dicabutnya.


Prabaya tampak berdiri dengan penuh percaya diri ditengah kepungan Candrakurama dan yang lainnya, tubuhnya memang terluka dibeberapa bagian namun luka lawannya jauh lebih parah.


Para pendekar yang mengepungnya bukan lawan sembarangan, Tungga dewi, Wulan sari, Mentari dan Emmy saat ini adalah pendekar pilih tanding namun seolah tak berdaya dihadapan Prabaya dengan energi Mariabannya.


"Gusti ratu sebaiknya pergi bersama yang lainnya, aku akan menahannya sebentar," ucap Candrakurama pelan, tubuhnya terlihat sudah dipenuhi luka sabetan pedang.


"Cukup, aku tidak ingin mendengar ucapanmu. Aku telah memutuskan ikut berperang maka akan kuselesaikan," jawab Tungga dewi kesal.


Candrakurama tersenyum kecut mendengar jawaban Tungga dewi, dia menjadi serba salah karena saat ini Hibata ditugaskan Sabrang untuk melindungi Tungga dewi.


Candrakurama terus memutar otaknya untuk menyelamatkan Tungga dewi, dengan sisa tenaga dalamnya dia mungkin hanya sanggup menahan Prabaya sebentar.


"Sebaiknya kau pergi, Majasari telah runtuh saat ini, untuk apa lagi kau bertarung?" ucap Candrakurama pelan, dia mencoba menyelesaikan pertarungan dengan cara lain.


Candrakurama bukan pendekar yang takut mati namun keberadaan Tungga dewi dan selir Sabrang membuatnya tak bisa bertindak gegabah.

__ADS_1


"Kau salah menilaiku Cadrakurama, aku tak pernah tertarik dengan uang dan kekuasaan," balas Prabaya sambil mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya.


Candrakurama tersentak kaget, dia mengira selama pertarungan Prabaya sudah menggunakan seluruh tenaga dalamnya namun ternyata dia salah. Aura yang meluap dari tubuh Prabaya jauh lebih besar dari sebelumnya.


Prabaya melesat tiba tiba sambil merapal jurus andalannya, dia ingin menghabisi semua lawannya dengan satu serangan.


Aura merah khas Mariaban menyelimuti seluruh tubuhnya seiring dengan kecepatannya yang semakin meningkat.


"Tari lindungi aku dengan jurus es mu, aku akan mencoba menyerang dengan pedang pemusnah raga," Tungga dewi tiba tiba bergerak menyambut serangan dengan sisa tenaga dalamnya, dia ingin bertaruh dengan jurus terakhirnya, pedang pemusnah raga tungkat akhir.


"Gusti ratu," Mentari mencoba mencegah namun tak sempat, dia langsung membentuk dinding es untuk melindungi Tungga dewi.


"Sial, aku tak mengira gusti ratu akan langsung menyerang," Candrakurama mencoba membantu namun tubuhnya tiba tiba roboh ketanah, luka dalam membuatnya tak bisa bergerak.


"Kau pikir dinding es mu dapat menahan Mariaban?" Prabaya mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga, beberapa detik berikutnya Tungga dewi muncul dari balik es dengan pedang pemusnah raga.


Prabaya sedikit terkejut dengan kecepatan Tungga dewi namun dia tetap bisa menangkis jurus pedang pemusnah raga dengan mudah.


Ujung pedang taring merah menyentuh pedang Tungga dewi membuat pedang terlepas dari tangannya, Prabaya menarik pedangnya dan menghunuskan ketubuh Tungga dewi.


"Pergilah ke neraka," Saat pedang taring merah hampir menyentuh tubuh Tungga dewi, tiba tiba sesosok tubuh melesat cepat sambil melempar sebuah golok berwarna emas.


Prabaya menarik pedangnya dan melompat mundur saat menyadari golok yang mendekatinya mengandung tenaga dalam yang sangat besar.


Pendekar misterius itu bergerak sangat cepat dan dalam beberapa detik sudah berada dibelakang Prabaya, lengannya menyentuh punggung Prabaya sambil melepaskan tenaga dalamnya.


"Ledakan tenaga dalam Iblis," tubuh Prabaya terpental beberapa meter sebelum mendarat kembali di tanah.


"Siapa kau berani ikut campur urusanku?" bentak Prabaya sambil menatap pendekar berambut putih dan menggunakan topeng emas.


Candrakurama dan yang lainnya hanya terdiam, tenaga dalam yang tadi diperlihatkan pendekar misterius itu sangat besar bahkan mungkin jauh lebih besar dari energi Mariaban.


"Mariaban?" pendekar itu mengernyitkan dahinya sambil menatap telapak tangannya.


Golok yang tadi dilemparnya kembali berputar mendekatinya dan mendarat tepat di lengan kanannya.


"Sepertinya aku sudah lama terkurung, tak kusangka kau mampu menaklukkan Mariaban," ucap pendekar itu kagum.


Pendekar itu menatap tubuh Tungga dewi yang tergeletak di tanah tak sadarkan diri, dia menoleh kearah Wardhana sambil tersenyum dari balik topengnya.


Wardhana langsung bergerak menyambar tubuh Tungga dewi dan membawanya menjauh.


Tak lama wajah pendekar itu tampak terkejut saat merasakan energi dari dalam keraton.


"Energi Megantara dalam tubuh trah Dwipa? dunia persilatan benar benar menarik setelah aku lama terkurung," ucapnya bersemangat.


"Maaf jika aku menyinggung, seingat ku sekte elang hitam tak pernah memiliki masalah dengan anda, mengapa anda menyerangku?" tanya Prabaya.


Pendekar itu tersenyum kecil, dia menatap langit untuk beberapa saat.


"Generasi kalian tak akan mengenalku namun kau boleh memanggilku Rubah putih. Tak sulit untuk bermasalah denganku karena aku sangat membenci Masalembo dan kau salah satu orang yang mengincar ramuan Amrita dan soma.


Aku ditakdirkan hidup abadi namun tugasku mencegah ramuan itu dimiliki oleh siapapun, tak boleh ada lagi yang melakukan kesalahan seperti yang kulakukan. Aku akan membunuh siapapun yang mencoba bekerja sama dengan Masalembo, kau harus mati di tanganku," ucap Rubah putih sambil merapal jurusnya.


"Prabaya kita bukan lawannya, cepat cari cara untuk pergi dari sini," ucap Mariaban tiba tiba.


"Bukan lawanmu? apa kau sedang merendah?" ucap Prabaya kesal, dia merasa Mariaban bercanda disaat yang tidak tepat.


"Aku tidak bercanda, dia bukan pendekar sembarangan, aku merasa pernah mendengar nama Rubah putih disuatu tempat. Kekuatannya jauh lebih besar dari yang kau kira, dan golok pusaka yang ada digenggamannya itu memancarkan aura aneh saat berada didekatmu.


Kau tak mungkin bisa mengalahkannya walau menggunakan seluruh energiku, mundurlah sementara waktu," balas Mariaban pelan.


Wajah Prabaya berubah seketika, baru kali ini dia melihat Mariaban sedikit takut, dengan kekuatan yang setara Naga api bahkan mungkin sedikit lebih besar harusnya Mariaban dapat menghancurkan siapapun.


"Sekuat itukah dia?."


Tubuh Prabaya langsung bereaksi ketika tiba tiba Rubah putih sudah berada didekatnya, dia melepaskan aura Mariaban untuk memperlambat gerak Rubah putih namun tak berhasil.


Rubah putih seolah tak terpengaruh aura merah Mariaban, gerakannya semakin lama justru semakin cepat.


Benturan pusaka kembali terdengar di udara, Rubah putih terlihat terus mendesak Prabaya. Hanya dalam beberapa tarikan nafas, Rubah putih sudah melepaskan belasan jurus yang sebagian mengenai tubuh Prabaya.


Semua yang melihat pertarungan itu hanya mampu berdecak kagum, pendekar yang tadi hampir membunuh Candrakurama dan aliansinya saat ini terdesak dengan cepat oleh pendekar berambut putih itu.

__ADS_1


"Terkurung diruang dan waktu membuat tubuhku kaku, kau beruntung aku belum bisa menggunakan seluruh kekuatanku," Rubah putih merubah gerakan golok pusakanya, dia memindahkan golok ketagan kirinya dengan sangat cepat sebelum menebaskan sekuat tenaga.


"Golok penghancur naga," kedua benda pusaka itu berbenturan dan menghasilkan ledakan yang sangat besar, lengan kanan Rubah putih tampak bersinar sebelum melepaskan energi aneh dan berusaha menjangkau tubuh Prabaya.


"Cakar membalik langit," Mariaban langsung bereaksi terhadap serangan Rubah putih, dia melindungi tubuh Prabaya dengan energinya. Sebuah perisai merah terbentuk ditubuh Prabaha menyerupai sebuah jubah perang.


"Kau benar benar merepotkan Mariaban," Rubah putih menambah tenaga dalam ditangannya.


Sebuah ledakan kembali terjadi sesaat sebelum perisai Mariaban hancur dan serangan rubah putih menghantam tubuh Prabaya.


"Cepat sekali," ucap Candrakurama takjub.


Prabaya kembali terpental sambil memuntahkan darah dari mulutnya.


"Lupakan ramuan Amrita dan soma, kau tidak tau seberapa mengerikannya efek ditubuhmu," Rubah putih kembali menyerang, kali ini dia menggunakan hampir separuh tenaga dalamnya untuk mengakhiri perlawanan Prabaya.


"Mariaban" teriak Prabaya sambil merapal sebuah jurus.


"Kekuatanku tak akan mampu menahan serangannya, gunakan jurus itu," balas Mariaban cepat.


"Sial, tak kusangka jurus yang kuciptakan untuk melawan Umbara harus kugunakan saat ini," tubuh Prabaya terlihat diselimuti aura merah darah sesaat sebelum menghilang di udara.


"Ah gerakanku semakin melambat, aku harus melatih kembali ledakan tenaga dalam iblis," umpat Rubah putih sambil menarik kembali serangannya.


"Energi mariaban memang selalu membuatku terkejut, dia bahkan bisa membuka lubang dimensi untuk menciptakan jurus yang mirip dengan ruang dan waktu milik trah Dwipa."


Setelah mengatur kembali tenaga dalamnya, Rubah putih berjalan mendekati rombongan Candrakurama.


Wardhana dan Mentari langsung bereaksi, mereka tidak tau pendekar dihadapannya berada dipihak siapa.


"Tak perlu takut, untuk saat ini lawan kita sama jadi aku tak akan membunuh kalian" ucap Rubah putih seolah tau kegelisahan Wardhana.


"Aku tak tau siapa anda tapi terima kasih telah menyelamatkan gusti ratu," Wardhana menurunkan pedangnya.


"Ratu? apa keturunan trah dwipa itu rajanya?" tanya Rubah putih pelan.


Wardhana mengangguk pelan, "Anda mengenali Yang mulia? jika aku boleh tau siapa anda sebenarnya? kemampuan anda sangat tinggi namun aku tak pernah mendengar nama anda," balas Wardhana kemudian.


"Aku memiliki aturan sendiri, siapa saja yang mengetahui identitasku harus mati ditanganku. Sebaiknya jangan cari tau yang yang tak perlu kau tau."


Rubah putih mengambil beberapa buah gulungan didalam pakaiannya dan melemparkan kearah Wardhana.


"Aku melihat pertarungan kalian di Masalembo, kuakui rajamu memiliki bakat yang mengejutkan walau dia belum bisa memaksimalkannya, dengan kekuatannya saat ini dia akan mati ditangan para pemimpin dunia.


Itu adalah ramuan untuk mengobati luka dalam, berikan pada teman temanmu. Aku sedang melacak keberadaan para pemimpin dunia, katakan pada keturunan trah dwipa itu aku akan menemuinya jika sudah berhasil melacak keberadaan mereka," ucap Rubah putih.


"Jika anda berada di Masalembo saat itu mengapa tidak membantu kami? dengan kekuatan anda tadi seharusnya kita berhasil menemukan mereka," tanya Wardhana tiba tiba saat Rubah putih bersiap pergi.


"Terkurung di ruang dan waktu membuat tenaga dalamku hilang, butuh waktu bagiku untuk mengembalikannya. Jika saat itu aku muncul akan percuma.


Yang akan kita hadapi adalah pendiri trah Dwipa, kau tak akan mau membayangkan seberapa mengerikannya dia. Berlatih dan bersiaplah, tak lama lagi aku akan menemui kalian," Rubah putih melesat pergi dan dalam sekejap hilang diatara rimbunnya hutan dekat gerbang ibukota.


"Tuan," ucap Candrakurama pelan, dia mulai bisa berdiri walau masih terhuyung sesekali.


"Minumlah ramuan ini, kita masuk ke keraton untuk memulihkan luka dalam sambil mengobati gusti ratu," ucap Wardhana pelan.


"Anda mempercayainya?" tanya Wulan sari.


"Dia bisa membunuh kita semua dengan cepat tanpa harus meracuni, aku yakin musuh kita sama dan dari bahasanya dia membutuhkan kawan untuk menghancurkan Masalembo," Wardhana mendekati tubuh Tungga dewi ragu.


"Tetua bisakah kau memapah tubuh gusti ratu? peraturan Malwageni melarang ratu dan selir raja disentuh oleh kami. Aku sudah melakukan kesalahan besar saat tadi membawa tubuh gusti ratu menjauh area pertarungan dan aku tak ingin melakukan kesalahan lagi."


"Tak masalah, aku masih bisa membantu," ucap Emmy dan Mentari berbarengan.


"Terima kasih nyonya," Wardhana menundukkan kepalanya sebelum memapah tubuh Candrakurama.


Mereka berjalan dengan tertatih tatih kearah keraton Majasari.


Kemenangan besar kali ini memang berhasil merebut Malwageni namun muncul ribuan pertanyaan dikepala Wardhana.


Rubah putih, seorang pendekar misterius berambut putih muncul tiba tiba dan membantu mereka, dia mengaku sebagai musuh Masalembo.


"Terkurung diruang dan waktu? apa maksud ucapannya?" gumam Wardhana dalam hati.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mengejutkan? suka? Vote


__ADS_2