Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kembalinya Wardhana


__ADS_3

"Baik, kalian bukan hanya menolak uluran persahabatan Arkantara tapi juga menghina kami. Akan kuingat semua penghinaan ini Gusti ratu," ucap Agam sambil menoleh kearah Tungga Dewi.


"Bukan kami yang menolak tuan, tapi kalian yang telah salah memilih sahabat," jawab Arina sedikit ketus.


Ucapan Arina yang terus menyudutkan Agam membuat Arung hampir menegurnya andai Tungga Dewi tidak memberinya tanda untuk diam.


"Salah memilih sahabat? apa maksudmu nona?" balas Agam.


"Anda pikir dari mana kami mengetahui kalian mengirim utusan diam diam ke Saung Galah?" tanya Arina pelan.


Raut wajah Agam sedikit berubah, dia mulai mengetahui kemana arah pembicaraan Arina.


"Pangeran Pancaka akan menjadi musuh dalam selimut bagi siapapun termasuk anda, karena ambisi terlalu besar. Dia akan melakukan apapun termasuk mengkhianati anda untuk mencapai tujuannya," lanjut Arina.


"Sial! berani sekali dia bermain di belakang Arkantara!" ucap Agam dalam hati.


"Aku tidak tau apa tujuan kalian mengirim utusan ke Saung Galah tapi kami masih berfikir jika yang di ucapkan Pangeran Pancaka tidak benar karena aku yakin tuan Agam bukan manusia rendahan yang akan melalukan cara licik seperti itu.


Jika kalian ingin mengatakan sesuatu tentang tujuan sebenarnya dari utusan di Saung Galah mungkin masih ada jalan selain perang," ucap Arina sedikit mengancam.


Agam tersenyum kecil setelah mendengar ucapan Arina, wajahnya yang semula mengeras kembali melunak.


"Sepertinya ada sedikit kesalahpahaman diantara kita nona, aku tidak menyangka ada yang mencoba membuat kita bermusuhan. Aku mohon maaf jika hal ini membuat gusti ratu tersinggung tapi tak ada niat sedikitpun untuk menyerang Malwageni dari dalam.


Arkantara tak akan mengkhianati teman yang sudah menerima kami dengan baik dan aku pastikan tidak akan menggunakan cara kotor seperti itu namun mungkin sama seperti Malwageni, kami tidak bisa mengendalikan semua menteri yang memiliki kepentingan sendiri," ucap Agam.


"Jadi menurut anda utusan itu bukan mewakili Arkantara?" pancing Arina.


"Benar nona, Yang mulia Saragi sudah menunjuk hamba untuk mengurus semua masalah kerjasama dua kerajaan ini. Aku akan segera menegur utusan yang diam diam pergi ke Saung Galah dan aku pastikan mereka mendapat hukuman yang setimpal. Mohon maafkan kami," balas Agam pelan.


"Apa anda pikir aku akan percaya begitu saja? seperti perintah Gusti ratu padaku, kepercayaan adalah hal utama dalam sebuah kerjasama dan kami tak akan mau melakukan itu sebelum yakin dengan niat baik kalian," jawab Arin sambil menoleh kearah Tungga Dewi yang dibalas anggukan.


"Aku mengerti nona, apakah ada yang bisa aku lakukan untuk membuat gusti ratu percaya?" tanya Agam.


"Semua masalah ini berawal dari Saung Galah dan pangeran Pancaka dan kami bukan tidak mengetahui itu sejak awal namun posisinya sebagai pangeran Malwageni membuat kami sulit bergerak.


Gusti ratu sejak awal sudah memintaku untuk mencari jalan keluar ini dan sepertinya andalah orangnya. Aku ingin memberi sedikit pelajaran pada pangeran agar tunduk pada Malwageni dan semoga anda bisa membantuku. Jika kami telah mengendalikan dia sepenuhnya maka bangunan ini selalu terbuka untuk menjadi saksi kerjasama dua kerajaan terbesar saat ini," balas Arina.

__ADS_1


"Gadis ini sangat pintar dan berbahaya, dia ingin menggunakan tanganku untuk menyingkirkan Pancaka," ucap Agam dalam hati.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Agam.


"Saat ini pangeran sudah berfikir jika Arkantara berada di pihak mereka, itulah sebabnya dengan banyak alasan mereka tidak mengirim upeti untuk malwageni dan aku ingin dia terus berfikir seperti itu.


Dua purnama lagi adalah hari perayaan kelahiran Yang Mulia Arya Dwipa dan pangeran pasti akan datang, jika perkiraanku benar itu adalah satu satunya kesempatan untuk menyerang karena penjagaan akan terfokus di aula utama. Berpura-pura lah mendukungnya, ketika pangeran mulai menyerang bantu kami melumpuhkannya," Arung yang dari tadi diam ikut bicara.


"Kau adalah komandan tertinggi pasukan Angin selatan bukan? aku sangat kagum dengan siasat mu untuk memukul orang yang tidak bisa kau jangkau karena posisinya sebagai pangeran Mawlwageni," Agam menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"Jika itu bisa menebus kesalahan mereka, akan kulakukan namun kuharap setelah semua ini berakhir, Malwageni tidak mengecewakan kami, lagi" jawab Agam pelan, dia terpaksa menerima tawaran Arina untuk meredakan amarah Malwageni.


Mengirim utusan ke daerah kekuasaan tanpa sepengetahuan Malwageni adalah sebuah penghinaan besar dan Agam berusaha meredamnya.


"Tidak, bukan aku yang harus kau kagumi tapi pembuat rencana ini," ucap Arung dalam hati sambil menatap Arina yang terlihat tenang sambil memikirkan permintaan Agam menempatkan pasukannya di Saung Galah.


Arung benar benar terkejut Arina mampu membuat rencana sebaik ini hanya dari ceritanya.


Arina memang meminta Arung menceritakan semua hal tentang Malwageni dan permasalahan dengan Arkantara. Dari cerita itulah, Arina akhirnya mengerti jika Pancaka mencoba memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan dan pada akhirnya gadis itu pun memutuskan memanfaatkan kembali ambisi Pancaka yang besar untuk memecahkan dua masalah sekaligus.


Tungga Dewi menoleh kearah Arina, kini dia mulai mengerti rencana gadis itu untuk menunda kesepakatan kerja sama dengan Agam sampai Wardhana sadarkan diri.


"Terima kasih tuan, aku sangat menghargai bantuan anda dan untuk kerjasama dua kerajaan, Arkantara akan menjadi prioritas utama jika memang saling menguntungkan," tutup Arina penuh percaya diri.


***


"Dulu, Pendekar kalang selalu dikucilkan karena dianggap lemah dan aneh karena ciri khusus tubuh kami. Kami akhirnya terbiasa hidup berpindah pindah dari hutan ke hutan.


Namun semua berubah saat kami menolong seorang kakek yang sedang terluka di hutan dekat bukit menoreh. Dia mengajari kami bagaimana hidup seperti yang lainnya dengan memaksimalkan kekurangan ini menjadi kekuatan.


Dia juga memberi kami tempat tinggal yang layak di sebuah bangunan megah yang tersembunyi di danau purba. Sejak saat itulah, kami berikrar setia padanya dan berjanji akan menjaga tempat itu seumur hidup kami," ucap Hanggareksa.


"Jadi aku adalah keturunan adik anda?" tanya Wardhana masih tak percaya.


Hanggareksa mengangguk pelan, "Arda Sukma adalah adikku satu satunya, hidup dalam pelarian dan berpindah pindah membentuk dia menjadi pribadi yang sedikit keras tapi dia bukan orang jahat. Hingga di suatu malam, dia menghilang tiba tiba bersama kitab Sabdo Loji.


Saat itu aku sangat terpukul karena adik yang paling kusayangi justru dikuasai ambisi dan mencuri kitab milik pemimpin tertinggi yang seharusnya kami jaga. Cukup lama aku mencari keberadaannya sampai akhirnya aku menemukannya tewas di kaki Gunung Sinabung," jawab Hanggareksa.

__ADS_1


"Apa anda yakin dia mencuri karena ambisi?" tanya Wardhana tiba tiba.


"Maksudmu?"


"Anda tadi mengatakan cukup lama mencari keberadaannya sampai dia ditemukan tewas bukan? dengan kitab sehebat Sabdo Loji seharusnya dia bisa menjelma menjadi pendekar yang lebih hebat dari Mandala. Lalu mengapa dia sulit d temukan? apakah dia berambisi menguasai kitab itu atau justru berusaha menyelamatkannya?" jawab Wardhana pelan.


"Dia mampu membaca situasi dari informasi yang sangat sedikit ini? kau memang benar benar keturunan adikku," ucap Hanggareksa dalam hati.


"Jadi maksudmu dia berusaha menyelamatkan kitab itu dari kami? apa kau pikir kami menginginkan kitab itu?" suara


Hanggareksa sedikit meninggi, ucapan Wardhana seolah menuduh pendekar Kalang ingin menguasai kitab Sabdo Loji.


"Aku tidak mengatakan semua pendekar Kalang tapi apa anda bisa menjamin mereka tidak tergiur dengan kitab pusaka itu? Hanya itu kemungkinan yang bisa menjelaskan mengapa adik anda menghilang dari dunia persilatan," jawab Wardhana.


Hanggareksa terdiam sesaat, dia ingin sekali membantah semua ucapannya tapi disisi lain apa yang dikatakan Wardhana ada benarnya.


Dalam kitab Sabdo Loji terdapat rahasia menuju gerbang penyimpanan semua peninggalan peradaban terlarang di bawah danau purba itu dan Hanggareksa memang tidak bisa menjamin anggotanya tidak tergiur dengan semua itu.


"Jika yang kau katakan benar, akan sangat sulit mencari siapa pengkhianat itu, bahkan jika saat ini aku bertindak hanya akan memecah persaudaraan pendekar Kalang dan pada akhirnya kami akan saling curiga," jawab Hanggareksa.


"Tidak begitu sulit untuk mencarinya, karena aku sudah terbiasa berada dalam situasi seperti itu, kita hanya perlu mempersiapkan sebuah jebakan untuk membuka topeng itu," balas Wardhana yakin.


"Mengapa kau jadi sangat peduli dengan pendekar Kalang? apa kau merencanakan sesuatu?" tanya Hanggareksa sinis, dia tidak bisa mempercayai Wardhana begitu saja karena bagaimanapun pria dihadapannya adalah keturunan Arda Sukma yang sampai saat ini masih dianggap pengkhianat.


"Anda tak perlu khawatir tuan, aku tidak tertarik dengan semua rahasia kalian. Aku mungkin keturunan pendekar Kalang tapi jalanku kini berbeda. Jika kalian bersumpah setia pada pemimpin tertinggi kalian, aku sudah menyerahkan hidupku pada Yang mulia dan Malwageni.


Anda telah membantu mengobati luka dalam di tubuhku jadi anggap saja aku membalas jasa dan jika benar Arda Sukma pendekar kalang adalah leluhurku maka aku harus membersihkan namanya," jawab Wardhana tegas.


Hanggareksa tertawa keras setelah mendengar jawaban Wardhana, dia semakin yakin jika Wardhana adalah keturunan adiknya.


"Kau sangat mirip dengannya, adikku yang keras kepala tapi sangat pintar benar benar hidup dalam tubuhmu. Lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Kitab yang ada pada kami adalah palsu yang sepertinya sengaja diletakkan di makam kuno bukit Setumbu. Bawalah kitab itu pulang dan anggap itu adalah Sabdo Loji yang asli," Wardhana kemudian menjelaskan apa yang harus dilakukan Hanggareksa untuk memancing sang pengkhianat keluar.


"Dengan begitu, dia akan membuka topengnya sendiri," tutup Wardhana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Maaf jika Update sedikit terlambat hari ini, saya benar benar sibuk.. besok saya usahakan update sore hari.... terima kasih....


__ADS_2