Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Perlawanan Malwageni


__ADS_3

Kembalinya Wardhana tidak hanya membuat semangat tempur para prajurit berkobar tapi juga merubah keadaan dengan cepat. Bersama Pendekar Kalang dan ksatria pisau tumbuk lada ditambah kekuatan Rubah Putih dan Lingga, mereka berhasil melumpuhkan pasukan pembuka jalan yang hampir menghancurkan pertahanan terakhir Malwageni.


Setelah berhasil melumpuhkan pasukan lawan, malam itu juga Wardhana meminta izin pada Sekar Pitaloka untuk bicara berdua dengan Arina.


Dia ingin meminta penjelasan pada Arina mengenai situasi perang secara singkat termasuk posisi pasukan musuh dan apa saja yang sudah dilakukan Arina.


Wardhana cukup terkejut saat mendengar penjelasan Arina terlebih setelah mengetahui posisi mereka kini sudah sangat terjepit, pergerakan musuh dari berbagai arah seolah menutup semua pergerakan Malwageni.


"Hamba mohon maaf tidak dapat berbuat banyak tuan patih, semua telah hamba lakukan untuk lepas dari kepungan mereka namun pergerakan Arkantara benar benar tidak bisa di tebak," ucap Arina menutup penjelasannya.


Wardhana mengangguk pelan sambil menarik nafas panjang, dengan lawan sekuat Arkantara, bisa bertahan sejauh ini adalah sebuah keajaiban bagi Arina yang tidak memiliki pengalaman berperang.


"Kau sudah berusaha nona, terima kasih telah melindungi keraton selama aku pergi, serahkan sisanya padaku," Wardhana kemudian membuka gulungan gulungan yang sudah penuh dengan coretan Arina.


"Kapan kau menggambar posisi mereka ini?" tanya Wardhana pelan.


"Kemarin tuan, hamba juga menggali parit parit besar di sekitar hutan sini untuk menahan pasukan Saung Galah dari arah kadipaten Wanajaya tapi..."


"Tapi mereka tidak bergerak dari arah sana dan memutar melalui Rogo Geni bukan?" potong Wardhana cepat.


"Benar tuan, pergerakan mereka sangat sulit di tebak," jawab Arina.


"Dengar nona, dalam perang tidak ada yang pasti, semua yang kita dan mereka lakukan hanya sebuah perkiraan dari mengamati pergerakan lawan dan itu hanya bisa didapat dari pengalaman berperang. Aku tidak meremehkan Saung Galah tapi semenjak Jaladara tewas, mereka tidak lagi memiliki ahli strategi yang berpengalaman.


"Pergerakan yang dilakukan Saung Galah saat ini sangat mustahil jika hanya mengandalkan insting Pancaka yang belum pernah berperang. Lalu bagaimana mereka bisa membaca semua rencana yang kau buat? satu lagi keanehan yang baru saja terjadi, bagaimana pasukan Arkantara yang baru mendarat di Jawata tau dengan pasti lokasimu dan melakukan penyerangan?" tanya Wardhana sambil tersenyum.


Wajah Arina tampak terkejut setelah mendengar penjelasan Wardhana, dia tidak pernah berfikir sejauh itu.


"Maksud anda ada mata mata dalam pasukan kita?" tanya Arina pelan.


"Benar, jika mereka dapat membaca semua gerakan yang kau lakukan dengan sempurna maka dipastikan ada mata mata yang selalu membocorkan rencanamu," jawab Wardhana.


"Pantas saja aku merasa pergerakan mereka aneh, lalu bagaimana anda akan menemukan mata mata itu?"


"Cukup mudah sebenarnya menemukan siapa pengkhianat itu karena aku tau pasti seberapa besar kesetiaan prajurit Angin selatan padaku dan dari pertempuran tadi aku sudah tau siapa orangnya tapi aku akan membiarkan dia bebas bergerak di tempat ini.


"Kunci utama dalam perang adalah memanfaatkan semua yang ada di sekitarmu menjadi sebuah kekuatan walau itu adalah kelemahan terbesarmu. Disusupi mata mata musuh tak selalu menjadi sebuah kelemahan, jika kau mampu memanfaatkannya untuk menyerang balik maka dia bisa menjadi senjata terbaik kita," jawab Wardhana pelan, dia kemudian menjelaskan rencananya dan meminta Arina untuk membantunya menyempurnakan rencana itu.


"Bagaimana anda bisa berfikir sejauh ini?" ucap Arina takjub.


"Seperti yang aku katakan tadi, seni perang hanya soal insting membaca pergerakan lawan dan mengambil keputusan disaat yang tepat dan itu hanya bisa didapatkan dari pengalaman," balas Wardhana.


Wardhana kembali fokus pada gulungan di hadapannya, walau dia sudah memiliki gambaran rencana untuk mengecoh dan menyerang balik tapi dengan posisi mereka yang sudah sangat terjepit cukup sulit menerapkannya karena kemampuan prajuritnya tidak sama. Dia harus benar benar memilih orang yang tepat posisi yang tepat.


"Jika aku tidak salah jalur dari Rogo Geni akan melewati sebuah sungai yang cukup besar didekat sini, tapi akan butuh waktu mengerahkan pasukan ke tempat ini kecuali..." Wardhana menghentikan ucapannya dan menggambar sesuatu.


Arina menatap kagum pria yang dijuluki Naga tidur dari Malwageni itu, kini dia mulai mengerti mengapa Tungga Dewi masih tetap percaya diri walau mereka sempat tersudut dan hampir hilang harapan.


Kecepatan dan ketenangan Wardhana membaca situasi disaat genting dan memanfaatkan semua yang ada di sekitarnya menjadi kekuatan sangat mengagumkan.


Wardhana bukan tidak paham jika ini adalah situasi tersulit yang pernah dia hadapi selama hidupnya, belum lagi keberadaan Sabrang yang sangat dibutuhkan saat ini juga diketahui tidak diketahui tapi dia masih sangat tenang dan mengambil alih komando sementara waktu seolah dia yakin Sabrang akan datang tepat waktu.


"Dia sepertinya dilahirkan memang untuk berperang," ucap Arina dalam hati.


Setelah berkali kali mencoba membuat simulasi perang, Wardhana kemudian mengumpulkan para pendekar Aliansi yang akan memimpin pasukan dengan peran masing masing.


Wardhana sebenarnya ingin menunggu Tungga Dewi namun karena waktu yang semakin sempit akhirnya dia meminta izin pada Sekar Pitaloka.


Rubah Putih, Lingga, Hanggareksa, Arsenio diminta datang ke tenda khusus yang digunakan Wardhana sebagai pusat komando. Tak lama kemudian Arung, Mahawira, Wulan sari, Emmy dan yang lainnya ikut bergabung setelah berhasil kembali ke ibukota.


Ketegangan tampak terpancar di wajah sebagian yang hadir karena mereka sadar mungkin ini adalah perang terbesar dalam sejarah Nuswantoro dengan lawan yang sangat kuat. Pasukan Kuil suci dan kemungkinan kebangkitan Mandala jelas mempengaruhi mental para prajurit yang akan mereka pimpin.


"Sebelumnya aku minta maaf karena sampai saat ini belum bisa menemukan cara yang paling tepat untuk mengalahkan mereka, perbedaan kekuatan terlalu jauh sehingga kita tidak akan bisa melawan dengan cara biasa. Aku harus menyampaikan ini terlebih dahulu karena bisa dikatakan perang kali ini adalah misi bunuh diri.

__ADS_1


"Namun aku bukan orang yang ingin mati sia sia, masih ada celah yang bisa kita manfaatkan untuk memenangkan perang kali ini walau itu sangat sulit. Aku akan menjelaskan semua rencananya termasuk tugas masing masing pasukan setelah mendengar pendapat kalian semua.


"Perang kali ini bukan hanya soal Malwageni dan Arkantara tapi juga Nuswantoro karena memenangkan perang ini sama saja menghentikan Ambisi Mandala. Namun jika kalian tidak ingin bergabung dalam perang kali ini, kecuali pasukan Mawageni, aku akan mengizinkannya pergi," ucap Wardhana tegas.


"Pendekar akan selalu dekat dengan kematian dan kupikir semua juga merasakan hal yang sama jadi sebaiknya cepat jelaskan rencananya sekarang juga," balas Rubah Putih cepat yang dijawab anggukan semua orang.


"Teratai merah sejak awal sudah memutuskan untuk ikut berperang dan tidak akan merubah keputusannya," ucap Wulan Sari tiba tiba.


"Maaf tuan, kami adalah pendekar yang terbiasa bertarung menggunakan insting, anda harus menjelaskannya secara detail rencana anda agar kami tidak melakukan kesalahan," sahut Mahawira.


"Terima kasih tuan... aku akan menjelaskannya secara detail," jawab Wardhana lega, tak pernah terbayangkan sebelumnya jika pada akhirnya sekte sekte besar dunia persilatan yang memiliki kepentingan masing masing bersatu demi menyelamatkan dunia persilatan dari ambisi Mandala.


"Aku tidak akan menutupi jika posisi kita saat ini sudah sangat terjepit, serangan mereka tadi sepertinya hanya sebagai pembuka jalan dan untuk mengacaukan pergerakan kita dan itu berhasil karena kudengar kalian selalu berpindah tempat dan tampak bingung harus berbuat apa, tapi aku masih bisa memperbaiki keadaan dan berusaha membalikan keadaan perlahan.


"Aku akan membagi pasukan menjadi dua, tuan Rubah Putih dan Mahawira dari sekte Api dan angin akan memimpin pasukan untuk menghadang Arkantara dari arah barat dengan menggunakan formasi Siasat Perang Supit Urang dan Emprit Neba.


"Pergerakan pasukan Mahawira akan menjadi kunci sukses tidaknya formasi Emprit Neba yang baru aku kembangkan, dibutuhkan ilmu kanuragan dan kecepatan untuk membuat formasi ini mematikan dan aku ingin meminta bantuan nyonya selir, pendekar kalang dan ksatria tumbuk lada membantu tuan Wira menjalankan rencana ini.


"Posisi musuh kemungkinan berada di sini dan pasti melewati Trowulan untuk sampai keraton, kalian akan menjadikan bekas desaku dulu sebagai medan perang. Tebing tebing tinggi di sekitar perbatasan masuk Trowulan bisa digunakan Wira untuk menyergap setelah tuan Rubah Putih berhasil menarik mereka maju.


"Informasi dari telik sandi akan menjadi bagian penting rencana ku kali ini jadi pastikan tidak ada informasi yang salah," Wardhana kemudian menjelaskan secara detail tugas masing masing pasukan yang dipimpin Rubah Putih.


Semua tampak kagum dengan kepercayaan diri Wardhana yang menggunakan formasi yang belum pernah dia gunakan sebelumnya.


"Namun ada kelemahan besar yang belum bisa aku tutupi dari formasi ini. Jika pasukan musuh memiliki pendekar yang bisa menandingi Wira dan pasukannya maka formasi Emprit Neba akan mudah dihancurkan. Ketika itu terjadi gunakan insting kalian karena tak ada yang bisa kulakukan kali ini," tutup Wardhana.


"Kau tak perlu khawatir tuan, kami para pendekar dunia persilatan sudah terbiasa lepas dari bahaya. Asal tidak merubah formasi, aku bebas melakukan apapun bukan?" tanya Mahawira pelan.


Wardhana mengangguk pelan, "Aku bersama Yang mulia dan Arung akan memimpin pasukan untuk menghadang Pancaka dari Rogo Geni. Yang namanya tidak aku sebutkan akan berjaga di sini sambil menunggu kabar jika dua pasukan ini membutuhkan bantuan," jawab Wardhana pelan sambil menoleh kearah Lingga.


"Tugasmu akan menjadi yang paling berat kali ini tuan, kau akan memimpin pasukan pembuka untuk menghancurkan gerakan mereka sebelum tuan Rubah Putih menyergap tapi aku hanya bisa menjanjikan dua puluh pendekar Hibata yang menemanimu karena keterbatasan pasukan.


"Dalam perang kali ini yang paling dekat dengan bahaya adalah anda tuan, kumohon maafkan aku tapi anda adalah orang yang paling tepat memimpinnya," ucap Wardhana.


"Lakukan sesukamu karena yang terpenting bagiku adalah formasi mereka kacau sebelum sampai di titik ini. Hanya itu satu satunya cara untuk menyiasati perbedaan jumlah pasukan yang cukup besar," jawab Wardhana sambil menunjuk satu titik.


"Tak perlu khawatir, aku akan melakukan semampuku," balas Lingga sambil menggenggam erat gagang pedang pusaka nya.


"Pergilah lebih dulu ke titik ini dan usahakan kembali dengan selamat, aku mengandalkanmu," Wardhana bangkit dan memberi hormat pada Lingga.


Lingga hanya mengangguk sambil melangkah pergi diikuti para pendekar Hibata.


"Aku minta maaf atas perselisihan kita dulu, jika kau masih menyimpan dendam padaku kita akan menyelesaikannya setelah memenangkan perang ini," teriak Wardhana.


"Dasar bodoh!" umpat Lingga.


"Nyonya selir, anda bersama nona Lenny Darow dan Gusti ratu akan menjadi prajurit terakhir yang menjaga keraton. Hamba akan memimpin pasukan untuk bergerak menghadang Saung Galah, sekarang komando tertinggi hamba serahkan pada anda," ucap Wardhana pelan sambil menyerahkan lempengan tertinggi kerajaan yang diberikan Sabrang padanya.


"Paman, ini...." Emmy tampak ragu karena merasa belum mampu memimpin perang sebesar ini.


"Koordinasi yang cepat antar pasukan akan menjadi penentu perang kali ini dan hamba tidak mungkin berperang sambil memikirkan pasukan tuan Rubah Putih, anda adalah orang yang paling tepat saat ini memimpin kami semua," balas Wardhana pelan.


"Tapi..."


"Jika aku yang memintanya apa kau masih menolak?" Sabrang muncul bersama Wahyu tama, Tungga Dewi dan yang lainnya.


"Yang Mulia?" Wardhana dan Emmy langsung berlutut memberi hormat.


"Lakukan apa yang diminta paman Wardhana, aku percaya kau mampu melakukannya, Emmy," ucap Sabrang lembut.


"Baik Yang mulia," jawab Emmy pelan.


"Paman, apa semua sudah siap?" tanya Sabrang.

__ADS_1


"Hamba menunggu perintah anda Yang mulia," jawab Wardhana cepat.


"Aku akan mengambil jubah perang dan melihat anakku sebentar, persiapkan semua pasukan, kita pergi!" perintah Sabrang sambil melangkah keluar menuju tenda Mentari.


"Hamba menerima perintah!" jawab Wardhana.


Tungga Dewi mendekati Wardhana dan menjelaskan jika mereka berhasil memukul mundur pasukan Arkantara yang bergerak dari arah barat.


"Walau tidak semua berhasil kami tangkap tapi setidaknya mereka telah berkurang banyak," ucap Tungga Dewi.


"Terima kasih Gusti ratu, itu sudah cukup sebagai peringatan awal jika Malwageni akan melawan sampai akhir," balas Wardhana pelan.


"Sora, persiapkan keberangkatan kita secepatnya, aku tidak ingin terlambat di lokasi penjebakan," ucap Wardhana pada Lembu Sora.


"Baik tuan," Sora berlari keluar untuk mengumpulkan pasukannya.


"Sepertinya aku terlambat," seorang pria tampak bicara pada Sabrang di luar tenda.


"Tuan Panca?" Wardhana mengernyitkan dahinya, dia hampir melupakan keberadaan pendekar itu karena seolah menghilang.


"Aku punya hadiah untukmu tuan Wardhana," Ken Panca memukul mukul bungkusan yang dibawanya sambil melangkah mendekat.


"Hadiah untukku?"


***


Setelah berjalan cukup lama dan matahari sudah berada tepat di atas kepala, pasukan Arkantara yang dipimpin oleh Saragi dan Rengga mulai mendekati Trowulan. Mereka memutuskan beristirahat sejenak untuk menghemat tenaga pasukannya.


"Berapa lama lagi kita sampai?" tanya Saragi.


"Sepertinya tidak lama lagi Yang mulia, setelah melewati hutan ini, kita akan sampai di perbatasan," jawab Rengga pelan.


"Apa kau tidak merasa aneh? sepanjang perjalanan tidak terlihat satupun pasukan Malwageni, bahkan di titik yang kau perkirakan tadi," balas Saragi sedikit khawatir.


"Mohon jangan terlalu khawatir Yang mulia, serangan yang kita lakukan kemarin mungkin membuat mereka terkejut dan menarik semua pasukan untuk menjaga ibukota. Tapi itulah awal kehancuran mereka, bertahan di ibukota dengan pasokan makanan yang sedikit sama saja bunuh diri, kini hamba yakin perang ini tak akan lebih dari empat hari," jawab Rengga percaya diri.


"Sepertinya julukan Naga tidur dari Malwageni terlalu di besar-besarkan, jika dia memiliki julukan itu maka aku adalah Naga yang sedang mengamuk," batin Rengga dalam hati.


"Semoga kali ini kau benar," balas Saragi pelan, wajahnya tampak gelisah dan sesekali menatap prajuritnya yang sedang beristirahat.


Saragi merasa ada yang aneh karena begitu mudahnya mereka memasuki wilayah Malwageni yang kabarnya telah menaklukkan Majasari dan Saung Galah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Taktik perang Supit Urang dan Emprit Neba adalah salah dua dari seni perang yang ada di dunia pewayangan dalam perang Baratayudha.


Suprit Urang dan Emprit Neba sering digunakan Pandawa dalam peperangan yang mereka lakukan.


Sedikit gambaran tentang strategi yang akan digunakan oleh Wardhana dalam menghadapi Arkantara.


Supit Urang


(capit udang) adalah strategi yang sering digunakan Pandawa. Seperti halnya udang, taktik itu lebih terkesan hanya membela diri (bertahan). Kadang kala mundur dan mundur. Namun, tiba-tiba maju dan menjepit lawan dari sektor kiri dan kanan.


Emprit neba


Emprit ialah jenis burung kecil pemakan padi yang umumnya bergerombol dalam jumlah banyak. Mereka memiliki gerakan simultan. Neba artinya turun bersama-sama dari langit. Ini strategi perang dengan formasi seperti burung emprit dalam jumlah banyak yang menyerang bersama-sama.


Dengan kata lain, taktik itu mengandalkan serangan bersama-sama atau mengeroyok lawan. Dalam strategi itu, kemampuan setiap pasukan merata, tidak ada yang paling menonjol. Main keroyok itu baru berhenti bila lawan sudah tidak berkutik.


Masih banyak seni perang lainnya yang akan digunakan Wardhana dalam Pedang Naga Api untuk menutupi kekalahan jumlah pasukan dan semuanya terinspirasi dari dunia pewayangan jadi mari kita tunggu saja.


Bonus Chapter? mikir ini aja botak gw wkwkwkw.. sabar ya.. nanti pasti ada bonus...

__ADS_1


Vote


__ADS_2