
Satu purnama setelah hancurnya Nagari Siang Padang, Sabrang masih belum ditemukan. Puluhan prajurit kepercayaan Wardhana terus dikerahkan diam diam untuk mencari kemungkinan jalan keluar rahasia dari reruntuhan bangunan terbesar di Nuswantoro itu.
Wardhana memang merahasiakan terkuburnya Sabrang karena tidak ingin keadaan keraton tambah kacau setelah berperang dengan Saung Galah. Dia mengatakan jika saat ini Sabrang sedang tapa brata untuk mempersiapkan ilmu barunya.
Wardhana bahkan sengaja mencopot jabatan Arung sebagai komandan pasukan Api Malwageni dan menggantinya dengan Wijaya agar lebih leluasa bergerak diam diam mencari keberadaan Sabrang.
Sementara itu tahta kerajaan sampai saat ini masih kosong karena kuatnya penolakan dari beberapa pejabat Menteri terhadap rencana pengangkatan Tungga Dewi sebagai ratu.
Para pejabat korup itu merasa terusik karena Tungga Dewi sejak awal memang mengincar mereka sebagai langkah awal melakukan pembersihan para pengkhianat didalam keraton.
Para pejabat yang terusik melakukan apa saja termasuk menghimpun kekuatan untuk menggagalkan rencana penobatan Tungga Dewi sebagai ratu Malwageni.
Wardhana yang sejak awal sudah memperkirakan penolakan akan terjadi bukan tidak tau rencana mereka, tapi dia memilih diam terlebih dahulu untuk menghindari suasana keraton semakin gaduh.
Konsentrasinya masih terpecah antara mencari keberadaan Sabrang dan mengatur pemerintahan Saung Galah yang saat ini menjadi daerah kekuasaan Malwageni.
Jaladara memang ditemukan tewas bunuh diri, sang komandan tertinggi Saung Galah itu lebih memilih mati daripada harga dirinya sebagai ksatria terinjak karena menyerah pada lawan namun sama seperti di keraton Malwageni, Wardhana juga harus berhadapan dengan para bekas Menteri Saung galah yang memiliki banyak kepentingan.
Wardhana harus berhati hati dan memastikan proses transisi kekuasaan Saung Galah kepada Malwageni tidak menimbulkan gejolak yang bisa dimanfaatkan para menteri untuk mengambil keuntungan. Dia menempatkan Paksi di Saung galah untuk meredam mereka untuk sementara waktu.
Perlawanan para menteri Saung galah dilakukan diam diam dengan menghasut putri mahkota Saung Galah untuk meminta keistimewaan dalam memerintah Saung Galah walau berada dibawah kekuasaan Malwageni.
Dalam situasi yang kacau dan semakin terdesaknya posisi Tungga Dewi yang kini menjadi target para pejabat Malwageni untuk disingkirkan, Wardhana mulai menyusun jebakan untuk menumpas para pejabat itu.
Para meteri yang di pimpin oleh Adiwilaga sebagai Menteri Penegak Paningkah (sejenis Menteri hukum kerajaan) menghasut yang lainnya dengan mengatakan jika sampai Tungga Dewi berkuasa, itu akan menentang tradisi keraton yang mengharuskan raja berasal dari keturunan Dwipa.
Adiwilaga lebih memilik Pancaka sebagai raja sementara daripada harus berurusan dengan Tungga Dewi.
"Aku sudah memutuskannya," ucap Wardhana saat memanggil Wijaya dan para pejabat yang masih setia padanya.
"Tuan, apa anda akan mengikuti permintaan mereka dengan mengangkat pangeran Pancaka sebagai raja? Pangeran memang sudah banyak berubah namun mereka akan dengan mudah menghasutnya," jawab Wijaya khawatir.
"Kakang Wijaya, apa kita punya pilihan lain? saat ini separuh lebih para Menteri telah berpihak pada mereka, jika tuan Patih memaksakan kehendak maka akan terjadi kekacauan di keraton dan Saung Galah akan memanfaatkannya," balas Lembu Sora yang tidak suka melihat Wijaya mempertanyakan keputusan Wardhana yang diberi kuasa penuh oleh Sabrang untuk mengawal transisi kekuasaan.
"Tapi inilah jalan terbaik saat ini untuk meredam mereka, kita bisa menempatkan orang kepercayaan disekitar pangeran untuk mengawasi gerakannya," jawab Wijaya kesal.
"Cukup! apakah ini saatnya kalian bertengkar?!" bentak Wardhana.
Lembu Sora dan Wijaya menundukkan kepalanya saat melihat kedua tangan Wardhana mengepal menahan amarah.
"Tuan patih, hamba mohon menghadap," ucap salah satu prajurit penjaga dari luar.
"Masuklah," balas Wardhana dari dalam.
Prajurit itu melangkah masuk, dia menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Maaf tuan patih, para menteri sudah menunggu anda di aula utama," ucap prajurit itu.
"Mereka benar benar memaksakan kehendak, baik jika itu yang kalian inginkan, akan kubuat kalian semua menyesal," balas Wardhana sambil menyerahkan gulungan kecil pada Lembu Sora.
"Berikan itu pada Ibu ratu, katakan aku menunggu di aula utama," perintah Wardhana pelan.
"Ibu ratu?" Lembu Sora mengangguk pelan dengan wajah bingung.
"Kakang, bawa seratus pasukan Api Malwageni ke aula utama dan tunggu perintahku, jika situasi memanas jangan takut untuk masuk dan menangkap mereka," ucap Wardhana.
"Masuk? bukankah prajurit dilarang masuk aula utama tanpa perintah Yang mulia tuan?" tanya Wijaya terkejut.
__ADS_1
"Apa kau meragukanku? ikuti saja perintahku, ini adalah saat yang paling tepat untuk menekan mereka," jawab Wardhana sambil melangkah pergi.
Setelah menahan diri selama beberapa hari dan memikirkan rencana untuk menyingkirkan Adiwilaga dan para pendukungnya secara perlahan, Wardhana sudah memutuskan untuk mulai menyerang balik.
Dia ingin menggunakan tekanan para pendukung Adiwilaga untuk memulai rencananya.
Adiwilaga dan para menteri lainnya memang memberikan tenggat waktu pada Wardhana untuk mengangkat Pancaka yang saat ini adalah satu satunya keturunan Dwipa sebagai raja sementara atau mereka akan menyeret Wardhana ke pengadilan kerajaan karena mencoba merusak tatanan keraton yang dibuat para leluhur.
Sementara itu suasana Aula utama sudah ramai oleh para menteri dan pejabat kerajaan. Suasana aula tampak tegang karena saat ini pejabat Malwageni terpecah menjadi tiga kelompok besar dalam menyikapi situasi tahta kerajaan.
Kelompok pendukung Adiwilaga adalah yang terbesar, sedangkan dua kelompok lain adalah para menteri yang setia pada Wardhana dan sisanya memilih netral.
Wardhana melangkah masuk bersama Ciha, dia tetap menunjukkan wajah tenang walau terlihat jelas terlihat suasana Aula utama tegang.
"Hormat pada tuan patih," ucap mereka bersamaan.
Wardhana hanya mengangguk sebelum duduk di kursi yang biasa digunakan Sabrang.
"Kuharap kalian memiliki alasan yang kuat dengan membuatku datang pagi pagi sekali karena transisi kekuasaan di Saung Galah jauh lebih penting daripada keluhan kalian," ucap Wardhana lantang yang membuat situasi semakin tegang.
"Anda terlalu memaksakan kehendak tuan patih, aku tau Yang mulia memang memberikan perintah pada anda untuk mengawal proses peralihan kekuasaan namun sepertinya anda sudah melewati batas.
Hampir satu purnama kekuasan kosong karena anda bersikeras mengangkat gusti ratu menggantikan Yang mulia. Aku tidak meragukan perintah beliau mengangkat ratu sebagai pengganti sementara namun melihat situasi saat ini, aku ragu Gusti ratu mampu memimpin Malawageni.
Malwageni adalah tanah kelahiran kita semua, dan hamba melakukan ini demi Malwageni. Saat ini hanya Pangeran Pancaka yang memiliki darah trah Dwipa, aku mohon anda bijak dan mendengarkan permintaan kami semua," ucap Adiwilaga pelan.
"Pangeran Pancaka? bukankah kita semua sudah mendengar sendiri dia menolak menjadi raja? apa yang sebenarnya kalian rencanakan?" tanya Wardhana sinis.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, kami hanya tidak ingin Malwageni kembali hancur seperti dulu. Mohon dipertimbangkan," jawab Adiwilaga yang terus berusaha menekan Wardhana.
Perdebatan langsung terjadi antara dua pendukung Wardhana dan Adiwilaga, mereka saling mempertahankan argumen masing masing.
"Posisi raja tidak boleh kosong sampai Yang mulia kembali, mohon percepat pengangkatan pangeran Pancaka," ucap Adiwilaga.
"Benar tuan patih, mohon pertimbangkan pendapat tuan Adiwilaga, jika sampai Saung Galah mengetahui masalah ini semua akan semakin rumit. Tolong jangan melanggar tradisi keraton," sahut lainnya.
"Bagus, semua sesuai dengan yang aku rencanakan, sekarang tinggal menunggu tuan Patih mengangkat pangeran dan semua akan berjalan seperti biasa," ucap Adiwilaga dalam hati.
Wajah Adiwilaga terlihat tersenyum penuh kemenangan, dia yakin telah memegang kendali situasi karena hampir semua menteri yang netral mulai mengerti penjelasannya.
"Melanggar tradisi keraton? aku tidak berniat melanggar semua aturan karena aku adalah ksatria Malwageni," balas Wardhana tenang.
Mendengar jawaban Wardhana, senyum Adiwilaga makin merekah. Pancaka saat ini mungkin telah sadar dan mendukung Sabrang namun dia yakin dengan sedikit hasutan, Pancaka akan kembali berambisi merebut tahta yang sudah ada ditangannya.
"Perlahan namun pasti aku akan merebut posisi maha patih," ucap Adiwilaga dalam hati.
"Sesuai aturan kerajaan Malwageni tentang posisi raja yang mengharuskan keluarga inti kerajaan dan keturunan langsung trah Dwipa, hari ini aku, Wardhana yang diberi kuasa oleh Yang mulia raja untuk mengawal peralihan kekuasaan selama beliau tapa brata akan mengangkat seorang raja atau ratu sementara sampai Yang mulia kembali.
Setelah memperhatikan kondisi keraton saat ini yang membutuhkan banyak keputusan cepat menyangkut Saung Galah yang kini menjadi daerah kekuasaan kita, aku memutuskan untuk mengangkat seseorang yang memiliki keahlian dalam memerintah. Seperti yang dikatakan tuan menteri, saat ini hanya ada satu orang yang paling tepat untuk menggantikan Yang mulia, dia adalah Ibu ratu SEKAR PITALOKA," ucap Wardhana lantang.
Semua tersentak kaget termasuk Adiwilaga setelah mendengar keputusan Wardhana, dia tidak menyangka Wardhana akan memilih Sekar Pitaloka menggantikan Sabrang.
"Tuan Ganendra selaku menteri keraton dalam akan mencatat semua keputusanku dan mengikat kita semua tanpa terkecuali sampa Yang mulia kembali," tutup Wardhana.
"Maaf tuan Patih, aku bukan tidak menghormati keputusan anda tapi...," belum selesai Adiwilaga bicara, Wardhana langsung memotong ucapannya.
"Tuan Adiwilaga apa kau mau menentang tradisi keraton? pengangkatan Ibu ratu sudah sesuai dengan aturan tentang posisi raja yang mengharuskan keluarga inti kerajaan dan keturunan langsung trah Dwipa. Ibu ratu memang bukan keturunan trah Dwipa tapi dia adalah keluarga ini sekaligus ibu dari Raja Malwageni saat ini, apa kau meragukan Ibu ratu?" bentak Wardhana cepat.
__ADS_1
Semua terdiam setelah mendengar ucapan Wardhana, tak ada yang cukup gila untuk menentang pengangkatan Sekar Pitaloka yang merupakan istri Arya Dwipa sekaligus ibu dari Sabrang itu.
Adiwilaga mulai menyadari kepintaran orang kepercayaan Sabrang itu, tak ada yang akan berfikir Wardhana akan memilih Sekar Pitaloka untuk menutup akses Pancaka menuju tahta.
Semua sudah yakin jika tak akan ada yang bisa menghalangi Pancaka naik tahta kali ini sampai Wardhana menyebut nama Sekar Pitaloka.
"Aku tidak meragukan Ibu ratu sama sekali tuan namun kudengar beliau sedang terluka, bukankah sebaiknya kita tidak memberikan beban besar ini demi kesehatannya?" Adiwilaga mencoba kembali mempengaruhi menteri lainnya.
"Kenapa tidak kau tanyakan langsung pada Ibu ratu apakah dia bersedia?" jawab Wardhana cepat.
"Menanyakan langsung? bukankah wanita dilarang mengikuti pertemuan besar kerajaan tuan?" tanya Adiwilaga.
"Kau lupa aturan tentang hak keistimewaan raja, sejak aku membacakan keputusan ini, Ibu ratu adalah pemimpin tertinggi Malwageni terlepas beliau nanti menolak, apa kau ingin menghalangi ratu Malwageni ikut pertemuan?" balas Wardhana.
Adiwilaga terdiam sambil menahan amarah, kali ini dia benar benar dihabisi didepan umum oleh Wardhana.
"Aku menerima keputusan Yang Mulia raja melalui anda tuan patih, aku akan berusaha semampuku memimpin Malwageni sampai yang mulia kembali," Sekar Pitaloka masuk kedalam ruangan dengan jubah ratu Malwageni.
"Beri hormat pada ratu Malwageni," teriak Lembu sora yang berjalan mengikuti Sekar Pitaloka.
"Hormat pada Gusti ratu, semoga panjang umur dan selalu diberi kesehatan," teriak mereka bersamaan.
Wajah Adiwilaga lemas seketika, dia mulai menyadari kesalahannya dengan menentang orang yang dijuluki Naga tidur dari Malwageni itu.
"Sesuai dengan permintaan tuan Menteri Adiwilaga untuk tidak merusak aturan keraton yang telah dibuat para leluhur, aku berharap semua mematuhinya sehingga tidak ada yang perlu di hukum mati," Wardhana menatap Adiwilaga yang tertunduk lesu sambil mempersilahkan Sekar Pitaloka duduk di singgasana.
"Apa kau pikir aku akan diam saja melihat rencana yang kau buat, Adiwilaga? saat ini kau tak akan bisa bebas bergerak lagi. Tunggulah sebentar lagi, kau akan membusuk di tahanan," ucap Wardhana dalam hati.
***
"Tubuh ini benar benar sudah tua," umpat seorang pria tua sambil meletakkan ikatan ranting pohon yang dari tadi berada di pundaknya di pinggir gubuk.
Diantara ranting pohon itu ada beberapa ikat tanaman obat yang dia ambil di hutan.
"Baru kali ini aku melihat luka aneh itu, apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda itu?" ucap pria itu sambil mencuci tanaman obat.
Setelah menumbuk tanaman obat itu dan mencampurnya dengan beberapa bahan lainnya, dia masuk kedalam sebuah kamar.
Tampak seorang pemuda terbaring dengan luka yang hampir di seluruh tubuhnya. Pria tua itu menggeleng pelan sambil mengoleskan obat obatan di seluruh tubuh pemuda itu.
"Jika bukan karena ilmu kanuragannya tinggi, saat ini dia mungkin sudah tewas," pria itu menatap wajah pemuda itu cukup lama sebelum kembali menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana dia bisa masuk Ciremai ? aku sangat yakin sudah melindungi tempat ini dengan segel air, tidak mungkin ada yang bisa melewatinya," ucap pria itu bingung.
Dia berjalan keluar setelah memastikan luka pemuda itu mulai membaik. Cukup lama pria tua itu berdiri di depan pintu gubuknya sambil menatap pemandangan gunung Ciremai, tempat yang sudah cukup lama didiaminya setelah memutuskan mundur dari dunia persilatan.
"Apa sesulit ini mundur dari dunia persilatan? seolah selalu ada yang berusaha menarik aku untuk kembali ke dunia penuh permusuhan itu."
Pria tua itu kemudian mengambil sebuah kitab dari sakunya. Tangannya tampak bergetar saat aura hitam keluar dari kitab itu.
"Apa mungkin pemuda itu adalah orang yang selama ini ditunggu kitab Sabdo Palon."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Gunung Ciremai merupakan salah satu gunung tertinggi di Jawa Barat. Gunung ini memiliki kawah ganda, yakni Kawah barat yang beradius 400 m dan Kawah Timur yang beradius 600 m.
Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.
__ADS_1
Saat ini Gunung Ceremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), dengan luas keseluruhan sekitar 15.000 hektare.
Okeee monggo Vote