
Lembu sora kembali berlutut setelah mereka berkumpul dipenginapan Sabrang. Wajahnya menunduk tak berani menatap Sabrang.
Mentari dan Kurawa hanya diam mematung melihatnya.
Sabrang berkali kali meminta Lembu sora untuk berdiri namun Lembu sora tetap berlutut dan memohon ampun.
"Paman berdirilah, aku sudah bilang tidak ada yang perlu dimaafkan. apa yang paman lakukan tadi semua demi kebaikan Malwageni".
"Bagaimana tadi aku bisa menyerang Pangeran, aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika Pangeran terluka" Lembu sora masih menunduk.
"Paman, jika memang paman merasa menyerangku tadi adalah sebuah kesalahan aku ingin paman menebusnya dengan mencari keberadaan Paman Wardhana".
Lembu sora mulai mengangkat wajahnya, dia menatap Sabrang.
"Hamba mendapat kabar jika penjara milik Ligung terpisah dari gedung utama, hamba berniat memeriksanya tadi".
"Lalu apakah paman mendapatkan petunjuk?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Ada beberapa titik yang menurut hamba kemungkinan letak penjara mereka namun dengan kehadiran Mahapatih Saung galah sedikit menyusahkan kita karena penjagaan begitu ketat dimana mana Pageran".
"Sepertinya aku mempunyai jalan keluar untuk masalah ini namun akan sedikit merepotkan".
Lembu sora menatap Sabrang namun tak berani bertanya tentang rencananya.
"Jika aku bisa bertemu paman Gardika mungkin dia mau membantuku sekali lagi".
Lembu sora mengangguk pelan, dia belum memiliki rencana lainnya. Dalam situasi saat ini sangat sulit bergerak tanpa mengundang perhatian. Penjagaan tingkat tinggi dikerahkan karena keberadaan orang penting dari Saung galah.
"Keberadaanku tidak akan mengundang kecurigaan mereka, besok aku akan mencoba berkeliling melihat situasi. Untuk sementara paman jangan membuat gerakan apapun".
"Tapi pangeran" Kurawa mengkhawatirkan keselamatan orang paling penting bagi Malwageni tersebut.
"Tidak apa apa paman, aku bisa menjaga diri."
Tubuh Sabrang yang kecil memang tidak akan dengan mudah dicurigai orang lain. dia bisa sedikit leluasa bergerak daripada Lembu Sora dan kurawa.
"Aku ingin meminta sesuatu pada paman, tolong sampaikan pada orang kita yang berada disekitar perbatasan untuk siap bergerak kapanpun dibutuhkan. aku merasa situasi kali ini lebih rumit dari kemarin. Kumpulkan semua kekuatan yang kita miliki untuk mengantisipasi keadaan yang tidak kita inginkan".
"Hamba menerima perintah" Lembu sora dan kurawa serentak menjawab.
Beberapa saat setelah Lembu sora dan kurawa pamit mundur Mentari pun undur diri setelah membereskan kamar Sabrang.
"Sebentar nona, aku ingin berbicara denganmu" Sabrang menahan Mentari yang akan melangkah keluar. Mentari duduk kembali ditempat semula.
"Aku ingin meminta maaf padamu" Sabrang berkata pelan.
"Tuan muda jangan berkata seperti itu" Mentari sedikit terkejut Sabrang tina tiba meminta maaf padanya.
__ADS_1
"Aku berjanji akan mengantarmu pulang namun sampai hari ini aku selalu membawamu dalam bahaya" Sabrang berkata pelan.
Mentari menggeleng pelan "Tidak tuan anda tidak bersalah, aku sendiri yang ingin mengikuti tuan. Semenjak tuan menyelamatkanku dari cengkraman gerombolan perampok itu aku sudah bertekad untuk mengikuti tuan, anda telah menyelamatkan nyawaku tuan".
"Tidak nona, kau tau hidupku selalu dikelilingi bahaya. Perjuangan kami untuk dapat merebut kembali Malwageni tidak mudah. Kau akan melewati hidupmu dalam bahaya jika selalu bersamaku".
"Jika tuan Wardhana, tuan Wijaya rela bertaruh nyawa demi tuan muda ijinkan aku berjuang bersama tuan dengan caraku sendiri" Mentari berlutut dihadapan Sabrang.
"Hei bangunlah nona, kenapa semua hari ini berlutut padaku" Sabrang menjadi serba salah.
"Aku akan berdiri jika tuan mengabulkan permintaanku".
"Baik bangunlah nona aku akan mengikuti permintaanmu".
"Terima kasih tuan" Mentari tersenyum manis. Berkelana bersama Sabrang dan bertemu dengan Gundala, Wardhana dan lainnya membuat Mentari belajar arti kesetiaan dan pengabdian tulus.
Mentari sudah memutuskan untuk mengabdi dan membantu Sabrang merebut Malwageni seperti tekad Patih Gundala selama ini.
***
Kurawa terlihat memasuki penginapan Lembu Sora, dia disambut beberapa orang pengikut Lembu sora.
"Tuan aku mendapatkan informasi letak penjara Ligung dari beberapa pedangang. Aku mencari Pangeran namun menurut nona Mentari dia sudah pergi sejak pagi".
Lembu sora terlihat berpikir mendengar laporan Kurawa. Kehadiran Sabrang membuatnya tidak berani mengambil keputusan kali ini. namun ini kesempatan terbaik untuk menyelidiki penjara tersebut mengingat di Aula utama sedang ada upacara penyambutan, dia yakin konsentrasi pasukan pengamanan dipusatkan di sana.
"Baik tuan"
Lembu sora berjalan menyusuri jalan setapak penuh kewaspadaan, dia mengikuti petunjuk yang diberikan Kurawa padanya.
Tak lama terlihat sebuah bangunan yang lumayan besar diatas bukit. Beberapa prajurit tampak berjaga lengkap dengan pedang.
"Sepertinya ini tempatnya" Lembu sora menatap para penjaga dari jarak yang cukup jauh.
"Aku harus melihat lebih dekat" Lembu sora mulai melompat dari satu pohon ke pohon lainnya dengan ilmu meringankan tubuhnya. dia berhenti di sebuah pohon tak jauh dari bangunan tersebut.
"Sepertinya memang benar penjagaan dipusatkan di Aula pertemuan". Lembu sora melompat ke atap bangunan dengan perlahan. ilmu meringankan tubuh membantunya meredam efek gerakannya.
Dia melihat kebawah melalui celah di atap dan menemukan sebuah ruangan yang disekat besi menjadi beberapa bagian.
"Sepertinya ini memang penjara Ligung" Dia mengamati setiap orang yang terkurung di ruangan tersebut. Matanya berhenti pada seseorang yang dikenalnya sedang duduk mematung dengan luka di tubuhnya.
"Tuan Wardhana" Lembu sora tak percaya dengan apa yang dilihatnya. dia melihat sekelilingnya tidak terlihat prajurit yang menjaga didalam ruangan.
Lembu sora berusaha masuk melalui celah antara dinding dan atap tak jauh dari tempatnya jongkok.
Dia turun dengan lincah tanpa menimbulkan suara. Jarinya menempel di bibirnya saat beberapa tahanan mencoba memintanya membebaskan mereka.
__ADS_1
"Aku akan membebaskan kalian tapi tidak hari ini, kita perlu rencana untuk keluar dari sini".
Lembu sora berjalan kearah ruangan Wardhana ditahan.
"Tuan anda baik baik saja" Lembu sora berkata pelan.
Wardahana terkejut melihat Lembu sora ada dihadapannya.
"Aku baik baik saja Sora, bagaimana kau bisa ada disini?".
"Pangeran memerintahkanku untuk melacak letak Penjara Ligung karena beliau merasa anda ditahan disini". Lembu sora berbisik pada Wardhana.
"Pangeran ada di sini?". Lembu sora mengangguk pelan.
"Apakah tuan Patih Saung galah sudah tiba?" Wardhana berkata pelan.
Lembu sora mengernyitkan dahinya, bagaimana bisa Wardhana bertanya tentang Patih Saung galah saat situasi genting seperti ini.
Lembu sora mengangguk pelan. terlihat senyuman merekah di bibir Wardhana membuat Lembu sora makin tak mengerti jalan pikiran Wardhana.
"Kemarilah Sora ada yang harus aku sampaikan padamu".
Lembu sora mendekat kemudian Wardhana membisikan sesuatu membuat raut wajah Lembu Sora berubah.
"Anda?".
Wardhana mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Sekarang pergilah sampaikan Pada Pangeran rencanaku, kau tak perlu mengkhawatirkan keselamatan ku. Aku akan mengurus sisanya disini".
"Baik tuan" Sesaat sebelum Lembu sora pergi Wardhana menahannya.
"Kau harus pastikan keselamatan Pangeran walau taruhannya myawamu".
"Aku mengerti tuan".
Tubuh Lembu sora kembali melompat dari satu pohon kepohon lainnya dengan hati hati.
"Tuan Wardhana memang sangat mengerikan tak salah tuan patih pernah mengatakan jika tuan Wardhana adalah Naga yang sedang tertidur".
***Sekali lagi saya mengharapkan dukungan teman teman semua baik dalam bentuk like maupun Vote 🙏
Kunjungi juga novel ke dua Saya berjudul
"Tentang kita (Komedi Romantis)"
Terima kasih dan semoga sukses selalu untuk kita semua***
__ADS_1