
Setelah bertukar puluhan jurus, kini mulai terlihat perbedaan kekuatan dan pengalaman yang dimiliki Prabaswara. Dia mulai bisa menekan Mentari yang sempat merepotkannya dengan segel bayangan.
Emmy dan Mentari bukan pendekar lemah, bimbingan Brajamusti dan bakat yang dimiliki Emmy tidak bisa dianggap remeh namun lawan yang mereka hadapi kali ini adalah pendekar terkuat.
Sebuah energi pedang tiba tiba muncul saat Mentari sedang mencari celah agar segel bayangannya bisa menyentuh bayangan Prabaswara.
"Sial" Mentari yang tak sempat menghindar langsung membentuk perisai es untuk menangkis serangan tiba tiba itu.
Tubuh Mentari terdorong mundur akibat efek serangan yang cukup besar.
Melihat Mentari terkena serangan cukup telak, Emmy bereaksi. Dia mencoba menekan Prabaswara untuk memberi waktu Mentari memperbaiki kuda kudanya namun nasib Emmy tak beda jauh dari Mentari.
Prabaswara menarik pedangnya untuk memancing Emmy masuk, setelah jaraknya cukup dekat dia melepaskan jurus pedang ilusi untuk menghantam tubuh Emmy.
Mentari menempelkan telapak tangannya ditanah dan membentuk perisai es didepan Emmy untuk melindunginya.
Mentari bernafas lega melihat perisai esnya melindungi Emmy tepat waktu, jika Mentari telat bereaksi beberapa detik saja maka Emmy pasti sudah terluka parah.
"Kalian benar benar merepotkanku, sepertinya selama aku menghilang dunia persilatan telah berkembang pesat". Prabaswara bersiap menghabisi Mentari.
Mantili yang bertarung tak jauh dari mereka bersiap membantu namun para pendekar yang mengepungnya tak membiarkan Mantili bergerak.
"Kusarankan untuk memikirkan keselamatanmu sendiri tetua" ucap Salah satu lawannya sambil tertawa mengejek.
"Ku pastikan kalian akan menerima balasannya" ucap Mantili geram.
Prabaswara bergerak dengan kecepatan tinggi untuk menyerang Mentari, dia merasa harus melumpuhkan Mentari terlebih dahulu karena segel bayangannya bisa menyerang kapan saja dan dari mana saja.
Mentari yang sudah terpojok menggunakan sisa sisa tenaga dalamnya untuk membentuk perisai es, dia berharap perisai itu mampu meredam sedikit serangan Prabaswara.
"Kalian masih terlalu hijau untuk menghadapiku". Prabaswara mengalirkan tenaganya kedalam pedang.
Mentari menarik perisai es kedepan untuk menangkis serangan itu namun dia salah perhitungan. Prabaswara merubah gerakannya didetik terakhir, dia melompat diudara sebelum mendarat tepat dibelakang Mentari.
Saat Prabaswara hendak mengayunkan pedangnya tiba tiba dua buah energi keris muncul tepat dihadapannya.
"Keris?" Prabaswara terpaksa menarik serangannya demi menghindari energi keris yang melesat kearahnya namun tiba tiba tubuhnya terasa dingin saat dia merasakan sesuatu menyentuh punggungnya.
"Hembusan dewa es abadi" Sabrang berdiri dibelakangnya dengan bongkahan es ditelapak tangannya.
Saat bongkahan es mulai menjalar, tiba tiba tubuh Prabaswara menghilang.
"Jurus ini?" Sabrang menjadi siaga, dia menajamkan matanya sesaat sebelum Prabaswara muncul didekatnya dan langsung menyerang.
Sabrang dengan cepat memunculkan pedang Naga api dan menangkisnya. Tubuhnya terdorong beberapa langkah akibat efek serangan Prabaswara.
Semua menoleh kearah Sabrang dan Prabaswara yang kini berdiri dan saling menatap. Mereka baru saja merasakan dua energi kuat yang berbenturan.
__ADS_1
Wajah Mentari dan yang lainnya tampak lega setelah melihat kedatangan Sabrang tepat waktu.
"Kalian baik baik saja?" tanya Sabrang pada Mentari dan Emmy.
Mereka mengangguk bersamaan.
Sabrang menoleh kearah Brajamusti yang sedang terluka cukup parah.
"Bawa kakek menjauh dan bantu yang lainnya, aku akan mencoba menghadapinya".
"Baik tuan Muda" ucap Mentari sambil bergegas memapah tubuh Brajamusti bersama Emmy.
Brajamusti tampak tersenyum saat memandang punggung pemuda itu. "Akhirnya aku bisa mundur dari dunia persilatan dengan tenang". gumamnya.
"Kau terlalu meremehkan aku, selama ini aku tidak membunuhmu karena menunggu kalian mengumpulkan kunci telaga khayangan api tapi sepertinya sudah tidak perlu, aku sendiri yang akan mengambil kunci terakhir itu setelah membunuh kalian semua". Prabaswara mulai merapal jurusnya.
"Rasa percaya diri itu suatu saat akan membunuhmu". Sabrang memutuskan bergerak leboh dulu untuk mengukur kemampuan Prabaswara.
Pertarungan dua pendekar itu kembali terjadi, Sabrang terlihat terus menekan dengan serangan cepatnya. Puluhan energi keris terbentuk diudara seolah mengikuti kemana Sabrang bergerak.
Sabrang terlihat unggul dalam hal kecepatan namun pengalam bertarung yang dimiliki Prabaswara mampu sedikit menutupi kekurangannya.
Prabaswara terus merubah gerakan jurusnya secara cepat karena sadar mata bulan Sabrang mampu membaca gerakan yang terlihat monoton. Pengalaman bertarung ribuan tahun telah melatih Prabaswara mengambil keputusan cepat dalam pertarungan.
Sabrang bukan tak menyadari kelebihan Prabaswara namun dia masih mencari celah sambil berusaha memancing lawannya menggunakan jurus menghilang yang sama seperti yang digunakan pemuda misterius itu.
Ketika tubuhnya sudah cukup dekat dengan Prabaswara, Sabrang menajamkan mata bulannya dan memutar pedangnya.
"Jurus Pedang pemusnah raga".
Prabaswara tersentak kaget saat merasa waktu tiba tiba berhenti bergerak beberapa saat sebelum sebuah tebasan pedang menyentuh kulitnya.
Namun sama seperti sebelumnya, Prabaswara seperti menghilang diudara dan tebasan pedangnya hanya membelah udara.
"Jurus itu benar benar merepotkan" umpat Sabrang sambil menjaga jarak, namun saat dia sedang mengatur kuda kudanya Prabaswara kembali muncul didekatnya dan menyerang balik.
"Pedang ilusi pembelah langit".
Sadar tak dapat menghindar, Sabrang membentuk perisai es sambil melompat mundur namun sejauh apapun dia mundur efek serangan masih terasa ditubuhnya.
"Apa kau terkejut? aku menyebutnya jurus ruang dan waktu". ucap Prabaswara sambil tertawa mengejek.
"Jurus ruang dan waktu?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Seorang pemuda memberikan kitab ruang dan waktu padaku, tak kusangka ada jurus sehebat ini".
"Kalian telah diperalat oleh pemuda itu untuk menutupi rahasia yang jauh lebih besar dari Telaga khayangan api".
__ADS_1
Prabaswara tertawa lantang sambil menatap tajam Sabrang.
"Tak pernah ada pemberian yang cuma cuma dan aku menyadari itu namun selama aku terus menjadi kuat itu bukan masalah".
Prabaswara kembali menyerang dengan cepat, tak ada rasa takut sedikitpun karena dia yakin jurus ruang dan waktunya mampu menghindari serangan secepat apapun.
"Kau harus segera menemukan cara menangkal jurus itu karena setelah tubuhnya menghilang dia bisa muncul dimana saja. Mata bulanmu memiliki batas, kau tidak mungkin memaksakan menggunakan mata itu terus menerus" ucap Anom dalam pikiran Sabrang.
"Aku hanya perlu lebih cepat darinya sebelum mencoba mata baru ini".
"Mencoba mata baru?" Anom mengernyitkan dahinya.
"Aku jadi sedikit mengerti mengapa para pemimpin dunia menggunakan leluhurku untuk menjadi alat percobaan. Yang mereka incar bukan tubuh tujuh bintang tapi mata bulan yang hanya bisa dibangkitkan oleh pemilik tubuh tujuh bintang".
"Jadi maksudmu?" Anom mulai mengerti arah ucapan Sabrang.
"Jurus ruang dan waktu tercipta karena penelitian mereka terhadap mata ini. Mari kita lihat apakah mataku bisa menciptakan ruang dan waktu".
Sabrang menarik energi Naga api dan memusatkan dimatanya, kemudian menggunakan energi Anom untuk meningkatkan kecepatannya dan membentuk puluhan energi keris diudara.
Prabaswara sebenarnya sedikit terkejut saat melihat kecepatan Sabrang namun dia terlihat masih tenang karena yakin hasilnya akan tetap sama.
Sabrang menarik puluhan energi keris diudara untuk memecah konsentrasi Prabaswara. Saat Prabaswara sibuk menghindari energi keris yang menyerangnya, Sabrang bergerak mendekat dan melepaskan jurus Pedang pemusnah raga tingkat IV : Segel jiwa.
"Apapun yang kau lakukan percuma, jurusmu tak akan mampu mengenai tubuhku". Sebuah energi tampak tercipta disekitar Prabaswara dan menyerapnya dengan cepat.
Saat tubuh Prabaswara kembali muncul sesuatu terjadi pada tubuhnya. Dia merasakan panas seperti terbakar dibagian perutnya.
"Sudah kuperingatkan kepercayaan dirimu akan membunuhmu suatu saat". ucap Sabrang yang sudah berada dibelakangnya. Terlihat Pedang naga api menancap ditubuh Prabaswara hingga tembus kedepan.
"Bagaimana kau masuk ruang waktuku?" Prabaswara tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Setiap pengguna jurus itu memiliki ruang dan waktu sendiri.
"Kau terlalu percaya diri dan menganggap hanya kau lah yang menguasai jurus ruang dan waktu. Ketika sebuah ruang dan waktu terbuka didekatmu maka kau pikir itu adalah jurusmu dan masuk tanpa curiga".
"Jangan jangan kau?" Prabaswara berusaha menggunakan jurus ruang dan waktu namun sesuatu seperti menariknya kembali.
"Jurus ruang dan waktu adalah sebuah jurus yang tercipta dari penelitian mereka tentang mata bulan. Ruang waktu yang tercipta didekatmu tadi adalah milikku".
"Tidak mungkin... tidak mungkin" Prabaswara masih tidak percaya mata bulan mampu menciptakan ruang dan waktu.
"Membusuklah dalam ruang dan waktuku".
Semua orang yang berada disana terbelalak tak percaya saat melihat Prabaswara seolah menghilang diudara.
"Aku masih belum terbiasa menggunakannya" Sabrang memejamkan matanya sesaat karena merasakan sakit dimatanya.
Tak lama dia kembali membuka matanya dan melepaskan aura hitam yang sangat besar.
__ADS_1
"Kalian selanjutnya". Sabrang menghilang menggunakan jurus barunya dan muncul tepat ditengah tengah pertarungan dengan puluhan energi keris yang berputar diudara.