
"Yang Mulia memanggil hamba?" tanya Wardhana bingung saat Arya Dwipa memanggilnya pagi pagi sekali.
Arya Dwipa mengangguk pelan, dia memberi tanda pada Wardhana untuk duduk dihadapannya.
Wardhana menundukkan kepalanya memberi hormat, dia tampak canggung karena baru mengetahui jika orang yang dibantunya melarikan diri dari Trowulan adalah seorang raja.
"Apa kau betah tinggal di keraton?" tanya Arya Dwipa lembut.
Wardhana mengangguk pelan, "Apa yang anda berikan sudah sangat cukup Yang mulia," jawab Wardhana.
"Syukurlah, belajarlah dengan tekun pada Paksi, aku akan sangat mengandalkan mu kelak" balas Arya Dwipa lega.
"Mengandalkan hamba?" Wardhana mengernyitkan dahinya bungung.
"Ada satu hal yang tak bisa kuceritakan padamu saat ini walaupun aku ingin, sebuah dosa besar masa lalu leluhurku yang akan ditanggung seluruh keturunannya.
Aku memanggilmu untuk meminta bantuan, kuharap kau sudi membantuku," ucap Arya Dwipa.
"Mohon jangan berkata seperti itu Yang mulia, hamba akan melakukan apapun yang anda minta," jawab Wardhana pelan.
"Setiap manusia memiliki kelebihan masing masing, termasuk dirimu. Aku ingin kau menggunakan apa yang ada didalam dirimu sebagai senjata rahasiaku kelak," balas Arya Dwipa.
"Senjata rahasia?" tanya Wardhana makin bingung.
"Kau akan mengetahuinya kelak, saat ini aku ingin kau terus meningkatkan kemampuanmu. Saat kau mengecoh pasukan Majasari di Trowulan, aku menyadari jika kau memiliki sesuatu yang bahkan tidak dimiliki Paksi, Semangat pantang menyerah dan kecerdasanmu benar benar anugrah alami dari alam.
Kau bisa memanfaatkan semua yang ada di sekitarmu menjadi senjata mematikan. Menghadapi mereka tak hanya dibutuhkan ilmu kanuragan yang tinggi, kita harus memiliki ahli strategi terbaik untuk menutupi kekurangan yang kita miliki. Teruslah berkembang dan jadilah simbol kekuatan Malwageni bersama keturunanku kelak," ucap Arya Dwipa.
"Yang Mulia," Mata Wardhana tiba tiba terbuka.
"Aku bermimpi itu lagi," ucapnya dalam hati sambil mencoba bangkit perlahan dari tidurnya.
"Sepertinya tubuhku mulai terbiasa bergerak di dimensi ini," Wardhana menggerakkan tangan dan kakinya perlahan, tak ada lagi rasa sakit saat dia menggerakkan anggota tubuhnya.
Hal ini sangat berbeda ketika pertama kali dia sadar, sedikit saja dia menggerakkan tubuhnya, rasa sakit yang luar biasa akan muncul tiba tiba.
Wardhana bahkan harus tidur diantara tumpukan mayat yang sudah membusuk selama beberapa hari karena belum mampu menggerakkan tubuhnya.
Wardhana menatap sekelilingnya, sudah hampir dua minggu sejak dia sadar dari pingsan dan menemukan dirinya berada diantara tumpukkan mayat ditengah hutan.
Dia kembali mengingat kejadian paling berbahaya dalam hidupnya, ketika tusukan pedang Bima menembus tubuhnya.
__ADS_1
Jika Sabrang saat itu tidak menggunakan mata bulannya tepat waktu mungkin dia kini sudah menjadi mayat.
Darah miliknya yang bercampur dengan darah hewan yang sudah dia persiapkan untuk mengelabui Masalembo masih terlihat ditubuhnya.
Wardhana memang berhasil sedikit membaca rencana Masalembo setelah mengetahui gerakan tidak biasa Lembu sora saat mengintrogasi Airin dan Daritri atas kejadian terusir nya Mentari dari kerajaan.
Lembu sora secara tidak terduga mempertanyakan keputusan Sabrang dalam masalah Mentari (Chapter 335 : Keputusan Sabrang Damar), hal yang sangat diharamkan oleh prajurit angin selatan sejak kepemimpinan Arya Dwipa.
Setelah mengetahui jika orang yang selalu bersamanya bukan Lembu sora, Wardhana mulai menjebaknya. Dia mengatakan rencana rencana palsu pada Lembu sora palsu untuk memancingnya.
Wardhana akhirnya mengetahui jika dia adalah target utama Masalembo untuk melemahkan Sabrang. Setelah berfikir cukup lama, dia memutuskan menyusup dengan memanfaatkan rencana Masalembo yang ingin menjebaknya.
Wardhana kemudian membuka kembali gulungan catatannya yang dia gunakan selama berada di dimensi ruang dan waktu. Ada sebuah gambar besar dengan beberapa titik didalamnya.
"Letak gerbang dimensi berada didekat rumah kehidupan yang merupakan tempat mereka bersembunyi selama ini, lalu bagaimana agar aku bisa menuju pintu dimensi ini tanpa diketahui mereka," gumamnya sambil menunjuk titik kecil yang tak jauh dari rumah kehidupan.
Sejak sadarkan diri dan mulai bisa menggerakkan tubuhnya, Wardhana memang mengelilingi tempat itu diam diam. Dia mulai menggambar dan menandai beberapa titik untuk mengetahui seberapa luas ruang dimensi dan waktu.
Satu yang mulai dia pahami mengenai ruang dimensi itu, ternyata hanya ada satu pintu dimensi dari semua jurus ruang dan waktu.
Saat Wardhana dibawa oleh Bima masuk kedalam dimensinya, dia akhirnya menyadari jika pintu dimensi yang dilihatnya bersama Bima sama persis saat Tungga Dewi menariknya dulu. Berwarna merah darah sebelum tiba tiba dia terhisap dan sadarkan diri di atas tumpukan mayat.
Wardhana pun mulai menyadari jika ruang dimensi milik Sabrang, Tungga Dewi, Lakeswara dan semua yang memiliki jurus itu akan melewati satu gerbang dimensi.
Ruang dimensi dan waktu seperti tidak memiliki tepi, hal itulah yang membuat pengguna jurus itu tak akan mungkin bisa bertemu satu sama lain dalam ruang hampa itu.
"Jika aku bisa menyegel gerbang dimensi ini maka akan menahan mereka sementara waktu sambil mempersiapkan semuanya. Namun konsekwensi tersegelnya gerbang ini, semua pengguna jurus ruang dan waktu tidak akan bisa menggunakan jurus ini sementara waktu termasuk Yang mulia." gumamnya pelan.
Wardhana terus memperhatikan titik titik yang dia buat di gulungannya. Dia masih memikirkan bagaimana cara mendekati gerbang utama dimensi itu yang berada di dekat rumah kehidupan milik Lakeswara.
Wardhana semakin dibuat bingung karena belum memiliki cara untuk berkomunikasi dengan Sabrang.
"Semoga Ciha berhasil," batinnya lagi.
Saat ini yang bisa menyegel gerbang dimensi itu hanya Ciha dengan segel kegelapan abadi. Wardhana memang memintanya mengembangkan segel itu sebagai persiapan dari rencananya.
"Waktu yang dimiliki untuk menyegel gerbang dimensi hanya satu detik sebelum terserap masuk lorong dimensi, Ciha harus benar benar tepat menggunakan segelnya," ucapnya lirih.
Setelah menyimpan kembali gulungan didalam pakaiannya, Wardhana merebahkan tubuhnya sambil memejamkan matanya.
"Berfikirlah Wardhana, saat ini semua tergantung padamu."
__ADS_1
***
"Hamba menghadap Yang mulia," Arung dan Ciha berlutut dihadapan Sabrang dan Mentari yang sedang berada di pinggir sungai air terjun lembah pelangi.
"Apa kau berhasil?" tanya Sabrang pelan.
"Seperti yang dikatakan tuan Patih malam itu, dia memang bukan Lembu Sora Yang mulia. Hamba bersama Gusti ratu sudah membunuhnya," jawab Arung cepat
"Begitu ya," jawab Sabrang pelan.
"Apa tuan Patih belum ditemukan?" tanya Arung hati hati.
Sabrang menggeleng pelan, terlihat kekhawatiran di wajah Sabrang.
"Maaf Yang mulia, kita yang harus menemukan tuan Wardhana bukan sebaliknya," ucap Ciha tiba tiba.
Sabrang mengernyitkan dahinya sambil menatap Ciha.
"Menemukannya? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Sabrang dingin.
Sabrang memang merasa ada yang aneh saat Wardhana menjelaskan rencananya. Dia sama sekali tidak melihat Ciha terlibat dalam rencana yang dibuat Wardhana. Hanya Sabrang, Arung, Candrakurama dan Rubah Putih yang paling awal mengetahui rencana gila ini.
Sesuatu hal yang sangat jarang terjadi karena biasanya Ciha selalu mendampingi Wardhana dalam setiap rencananya.
"Hamba adalah orang pertama yang diberitahu mengenai rencana ini Yang mulia, saat itu dia meminta hamba menyempurnakan segel kegelapan abadi milik Bintang Langit.
Hamba sempat menentang keras rencananya karena ini sama saja misi bunuh diri, menyegel dimensi ruang dan waktu milik mereka tak akan mudah. Jika dia ikut tersegel didalamnya maka saat itulah kematiannya.
Namun dia meyakinkan jika ini satu satunya cara untuk menghadapi mereka saat ini. Saat ini semua rencana tergantung dari apa yang tuan Patih temukan didalam ruang dimensi itu, tanpa petunjuknya segel yang ku buat tak akan berguna," jawab Ciha.
"Lalu bagaimana aku menemukan dia di dimensi ruang dan waktu milik mereka?" tanya Sabrang kesal.
"Naga Api! kuncinya adalah Naga Api," Ken Panca muncul dari dalam gua dan langsung mendekati Sabrang.
"Naga Api?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Ikut denganku, akan ku jelaskan padamu bagaimana memaksimalkan energi Naga Api. Aku menciptakan pusaka yang kau pegang itu bukan semata sebagai senjata pembunuh," ajak Ken Panca.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Khusus hari ini Author hanya bisa update 1 Chapter karena sedang ada kesibukan, besok PNA akan kembali update 3 Chapter yang digabung jadi satu.
__ADS_1
Terima kasih atas pengertiannya.....