Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sebuah Awal Baru


__ADS_3

"Jadi dia sudah benar benar menghilang ya?" Lingga menyarungkan kembali pedangnya dan menarik semua energi Kemamang setelah yakin Mandala sudah benar benar menghilang.


"Sepertinya kita harus mulai dari awal lagi untuk mencari keberadaan Mandala dan menghentikannya. Aku benci mengakuinya tapi saat ini itulah yang terbaik untuk kita di saat tenaga dalam anak ini sudah habis," balas Rubah Putih pelan.


"Kau benar, tanpa bantuan tetua Darin kita pasti dalam kesulitan besar," Lingga mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.


"Aku masih belum cukup kuat," ucapnya dalam hati.


"Apa terjadi sesuatu tuan?" tanya Wardhana yang sudah berani mendekat setelah Rubah Putih dan Lingga sudah menarik tenaga dalamnya.


"Mandala berhasil lolos dari serangan tetua Darin," jawab Rubah Putih cepat.


"Lolos? bagaimana mungkin dengan ledakan seperti itu?" tanya Wardhana terkejut.


"Aku pun berfikir sama sepertimu, tapi itulah yang terjadi Wardhana. Lawan yang kali ini kita hadapi sepertinya jauh lebih kuat dari Lakeswara, terlebih dia berhasil menggunakan tubuh Naraya," balas Rubah Putih pelan.


"Naraya? maksud anda tubuh Mandala tadi..."


"Aku tidak tau bagaimana dia bisa mendapatkannya, tapi itu memang tubuh Naraya Dwipa, salah satu pendekar paling berbakat yang dimiliki trah Dwipa. Dia tewas saat ilmu kanuragannya masih berkembang, andai saat ini Naraya masih hidup aku yakin kemampuannya jauh melampaui aku," ucap Rubah Putih pelan.


Wardhana terdiam setelah mendengar ucapan Rubah Putih, dia tidak bisa membayangkan betapa kuatnya Mandala saat mampu menggabungkan tubuh Naraya dengan energi Mustika Merah Delima.


"Tetua..." ucap Arsenio lirih.


"Tuan, tetua Darin mati sebagai ksatria dalam pertarungan demi membela apa yang dia anggap benar. Sebagai pendekar, kau tentu mengerti jika kematian seperti itu adalah sebuah kebanggan tertinggi," sahut Rubah Putih berusaha menghibur.


"Tuan Rubah Putih benar, sebaiknya kita kembali ke keraton untuk merawat Yang mulia dan menguburkan tetua Darin dengan layak. Aku akan mengirim pasukan Angin selatan untuk mengurus para prajurit yang sudah tewas, setelah itu ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian yang sepertinya berhubungan dengan kitab Sabdo Loji," ucap Wardhana.


Arsenio mengangguk pelan sebelum mengangkat tubuh Darin. "Beristirahatlah dengan tenang tetua, aku akan memastikan anda tidak akan mati sia sia."


Setelah memastikan tidak ada yang selamat, mereka segera kembali ke Ibukota dengan wajah lesu, tak ada sedikitpun aura kemenangan setelah mengalahkan kerajaan terbesar di Swarna Dwipa.


Mereka sadar, selain kemenangan ini harus dibayar dengan banyak nyawa termasuk Darin, Mandala yang merupakan musuh terkuat justru masih berkeliaran.


"Kekuatan para pendekar Hibata masih jauh dari harapan, aku harus mencari cara menjadikan mereka salah satu kelompok terkuat di dunia persilatan untuk membantu Yang Mulia," ucap Wardhana dalam hati.


"Tuan, bisakah aku meminta bantuan anda?" ucap Wardhana pada Rubah Putih pelan saat mereka mulai memasuki Ibukota.


"Meminta bantuan?" Rubah Putih mengernyitkan dahinya.


***


Beberapa hari setelah perang usai, kabar kemenangan Malwageni menyebar dengan cepat di seluruh daratan Nuswantoro.


Kemenangan yang awalnya dianggap mustahil oleh sebagian orang karena perbedaan kekuatan yang cukup besar ini membuat Malwageni berubah menjadi kekuatan baru yang cukup ditakuti.


Beberapa aliran putih dan hitam yang awalnya menjaga jarak kini mulai menawarkan diri untuk bekerja sama demi melindungi kepentingan mereka masing masing.


Sosok Wardhana yang paling mendapat sorotan dalam perang kali ini, kemampuannya meramu startegi untuk membalikkan keadaan di saat yang tepat membuat semua yang mendengarnya geleng geleng kepala.


Perlahan namun pasti, anak yang dulu ditemukan secara tidak sengaja oleh Arya Dwipa di sebuah desa kecil bermana Trowulan menjelma menjadi orang yang paling berpengaruh di Nuswantoro mengalahkan Sabrang dan Rubah Putih yang setelah pertempuran besar itu lebih memilih menarik diri sementara waktu dari dunia persilatan dan pergi ke sisi gelap alam semesta.


Atas izin Sabrang, Wardhana langsung membuat gebrakan untuk semakin menancapkan pengaruh Malwageni di bumi Nuswantoro. Setelah meminta Emmy menjadi ratu di Arkantara, dia juga menunjuk Lingga sebagai mahapatih dan Arina sebagai penasihat kerajaan untuk mendampingi Emmy.

__ADS_1


Wardhana juga memberi tugas khusus pada Arung untuk diam diam mencari para pendekar berbakat dari seluruh Nuswantoro untuk menjadi anggota organisasi rahasia Hibata. Mereka akan dilatih langsung oleh Rubah Putih dan Candrakurama bersama beberapa pendekar pilihan Wira dari sekte Api dan Angin.


Wardhana sadar, dengan kemampuan Hibata saat ini cukup sulit melindungi Malwageni jika Mandala kembali menyerang dan untuk itulah dia bertekad membuat organisasi yang dipimpin oleh Candrakurama itu menjadi lebih kuat.


Dibawah arahan Wardhana, semua bergerak kembali membangun apa yang sempat hancur akibat perang dan perlahan mulai sedikit melupakan hilangnya Mandala.


Namun ada yang aneh dengan keputusan Wardhana kali ini, disaat sebagian orang yang terlibat dalam perang besar mendapat peran masing masing, dia seolah melupakan Wijaya.


Tak pernah sekalipun Wardhana mengundang Wijaya dalam pertemuan pertemuan yang dia lakukan. Wijaya seolah tersisihkan sejak pengkhianatan yang dilakukannya saat berhadapan dengan Masalembo. Hal inilah yang menjadi pertanyaan besar diantara para prajurit Angin selatan namun mereka tak berani bertanya.


Wardhana justru memberi peran yang lebih besar pada Arung untuk memimpin pasukan Angin selatan dan menjadikannya sebagai orang kepercayaan.


"Semoga Arung mampu menemukan para pendekar hebat untuk memperkuat Hibata," ucap Wardhana sambil memijat kening dan memejamkan matanya, Rasa kantuk karena selama beberapa hari tidak tidur mulai menyerangnya.


Namun baru saja Wardhana terlelap, sebuah ketukan membangunkan dia kembali.


"Tuan Patih, Yang mulia memanggil anda ke aula utama," ucap seorang prajurit dari balik pintu.


"Yang mulia sudah kembali?" Wardhana langsung bangkit dari duduknya dan melangkah keluar.


"Panggil kakang Wijaya dan katakan Yang mulia menunggunya di Aula utama," ucap Wardhana sebelum melangkah pergi.


"Ba...baik tuan," jawab prajurit itu terkejut.


***


"Lama tak bertemu, Wardhana," Rubah Putih menyambut Wardhana di pintu masuk aula.


"Bukan aku, tapi anak itu yang semakin kuat," jawab Rubah Putih sambil tersenyum penuh makna.


Wardhana mengernyitkan dahinya bingung, dia merasa Rubah Putih menyembunyikan sesuatu dalam senyumnya. Saat dia ingin menanyakannya, Wijaya muncul dengan wajah bingung.


"Tuan Patih, apa benar Yang mulia memanggilku?" tanya Wijaya pelan.


Wardana mengangguk pelan, "Ada yang ingin Yang mulia bicarakan berdua dengan kakang Wijaya setelah pertemuan ini," jawab Wardhana pelan.


"Apa aku berbuat salah?" ucap Wijaya khawatir.


"Sepertinya aku terlalu cepat datang, aku akan kembali setelah pertemuan selesai," balas Wijaya sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak kakang, kau justru harus ikut pertemuan ini," ucap Wardhana cepat.


"Aku ikut pertemuan?" wajah Wijaya semakin khawatir, dia dapat melihat semua yang hadir dalam pertemuan itu adalah orang kepercayaan Sabrang.


"Ayo masuk, jangan biarkan Yang mulia menunggu terlalu lama," ajak Wardhana sambil melangkah masuk.


"Hormat pada Yang mulia," ucap mereka bersamaan saat melihat Sabrang sudah menunggu bersama Arsenio, Candrakurama, Rubah Putih, Hanggareksa dan Lingga Maheswara.


"Duduklah paman," jawab Sabrang lembut.


Setelah Wardhana dan Wijaya duduk, Sabrang mulai menjelaskan tujuannya memanggil mereka semua.


"Paman masih ingat alasan Ciha tiba tiba mundur dari Malwageni setelah pertarungan kita dengan Lakeswara?" tanya Sabrang tiba tiba.

__ADS_1


"Dia melihat seorang pendekar misterius membunuh para pemimpin tertinggi Masalembo dengan mudah di dimensi ruang dan waktu," jawab Wardhana cepat.


Sabrang menganggukkan kepalanya, "Saat bertarung dengan Agam, aku dikejutkan dengan kemunculan seorang pendekar misterius yang mampu menangkis jurus pedang Sabdo Palon dengan mudah.


"Ketika kami akan bertukar jurus, Ciha muncul bersama Dewi dengan segel kabutnya dan memintaku mundur karena pendekar misterius itu adalah orang yang sama dengan yang dilihatnya membunuh para pemimpin Masalembo di dimensi ruang dan waktu," ucap Sabrang pelan.


"Tapi bagaimana mungkin..." balas Wardhana terkejut.


"Aku tidak tau tapi yang pasti dia sangat kuat, itulah sebabnya aku memanggil kalian semua hari ini karena jika sampai dia berada di pihak yang sama dengan Mandala, kita semua dalam masalah," jawab Sabrang.


"Lalu apa yang harus hamba lakukan Yang mulia?" tanya Wardhana kemudian.


"Aku sudah bicara dengan Candrakurama akan mengambil alih pimpinan Hibata sementara waktu termasuk memilih sendiri para pendekar yang akan menjadi anggotanya. Kita harus bersiap dengan semua kemungkinan terburuk dan salah satunya adalah memperkuat organisasi Hibata.


Candrakurama, tuan Arsenio dan kakek Hanggareksa akan masuk kedalam Hibata untuk membantuku menyelidiki siapa pendekar itu selama aku mencari anggota baru. Tugas paman adalah membantu mereka mencari petunjuk tentang pendekar misterius itu karena Naga Api yakin dia adalah salah satu pendekar dari peradaban Lemuria," jawab Sabrang.


"Naga Api? bagaimana dia bisa yakin saat kalian belum sempat bertukar jurus," sahut Hanggareksa.


"Energinya, dia merasakan energi batu satam meluap dari tubuh pendekar itu," jawab Sabrang cepat.


"Tapi bagaimana bisa Naga Api mengenali energi para pendekar Lemuria?" Arsenio ikut bicara.


"Ruh Naga Api tercipta dari batu Satam yang menyerap energi alam," sahut Wardhana.


Wardhana kemudian menjelaskan semua yang dia temukan saat berhasil masuk ke Puncak Suroloyo termasuk kemungkinan masih hidupnya orang orang Lemuria yang saat ini bersembunyi di suatu tempat.


"Jadi maksudmu pendekar misterius itu adalah salah satu orang Lemuria yang selamat saat Atlantis menyerang?" ucap Rubah Putih penasaran.


"Aku masih belum tau tuan, semua yang berhubungan dengan Lemuria sangat membingungkan karena menurut catatan yang ada di Puncak Suroloyo mereka adalah orang yang paling tidak suka kekerasan sebelum Atlantis menyerang tapi mengapa pendekar itu justru menyelamatkan Agam dan menantang Yang mulia," balas Wardhana.


Semua terdiam setelah mendengar jawaban Wardhana termasuk Wijaya yang sampai saat ini masih belum mengerti mengapa Sabrang memanggilnya.


"Apa paman bisa menelusuri kembali Puncak Suroloyo dan mencari tau kemana penduduk Lemuria pergi karena sepertinya jawaban dari semua pertanyaan ini termasuk bagaimana kitab Sabdo Loji yang seharusnya ada di tempat itu bisa muncul ke dunia persilatan berada di tangan mereka," pinta Sabrang pelan.


"Hamba akan mencobanya Yang mulia," jawab Wardhana.


"Terima kasih paman, aku selalu bisa mengandalkan paman dalam situasi seperti apapun," balas Sabrang lembut sebelum menoleh kearah Wijaya.


"Aku ingin meminta sedikit bantuan pada paman," ucap Sabrang tiba tiba.


"Apapun akan hamba lakukan untuk anda Yang mulia," jawab Wijaya cepat sebelum berlutut dihadapan Sabrang


"Sama seperti ayah, aku sebenarnya berharap banyak pada kemampuan paman namun sejak kejadian di daratan Hujung tanah, paman sedikit berubah. Paman seolah mengubur semua kelebihan yang dulu sempat membuat ayah kagum. Aku selama ini lebih memilih diam karena ingin memberi waktu paman untuk berfikir.


"Pengkhianatan yang paman lakukan memang sempat membuatku kecewa tapi bukankah aku sudah memberi ampun? jika rasa bersalah itu yang membuat potensi paman terkubur sebaiknya hentikan karena seorang ksatria Malwageni akan menebus kesalahan yang pernah dilakukan dengan membuktikan kemampuannya," ucap Sabrang tajam.


"Yang mulia... hamba...hamba..." Wijaya tak dapat melanjutkan ucapannya karena semua yang dikatakan Sabrang benar. Rasa bersalah atas pengkhianatan yang pernah dia lakukan selalu menghantuinya.


"Pergilah bersama kakek Rubah Putih ke sisi gelap alam semesta dan saat aku kembali nanti buktikan jika paman adalah salah satu pendekar Hibata yang bisa aku andalkan. Lupakan semua masalah yang menghantui pikiran paman dan jadilah pendekar yang akan melindungi Malwageni," ucap Sabrang cepat.


"Kakang Wijaya adalah salah satu orang yang sejak awal diharapkan Yang mulia akan memimpin Hibata suatu saat, kembalilah menjadi Wijaya yang dulu sangat ditakuti Majasari, itulah cara menebus kesalahan seorang ksatria Malwageni," timpal Wardhana.


"Terima kasih Yang mulia...." Wijaya bersujud dihadapan Sabrang sambil mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


__ADS_2