
Wardhana tak dapat menyembunyikan rasa amarahnya ketika Lembu sora dan Pancaka saling menghunus pedang.
"Sora, apa yang kau lakukan?". Wardhana membentak Lembu sora yang masih menghunuskan pedang pada Pancaka.
Melihat kedatangan Wardhana yang penuh amarah, Lembu sora segera menyarungkan pedangnya dan menunduk kearah Wardhana.
"Maaf Tuan Adipati, aku hanya menjalankan tuggas. Pangeran memaksa masuk kekediaman Yang mulia raja, hamba terpaksa menghadang".
"Namun apa pantas prajurit rendahan sepertimu menghunuskan pedang padaku". Pancaka membentak Lembu sora.
"Pangeran mohon bersabar, sudah aku katakan Yang mulia raja tidak ingin diganggu sampai pemulihan lukanya sembuh. Mohon jangan memaksa kami". Ucap Wardhana pelan.
"Kau pikir sedang bicara pada siapa? Bagaimanapun dia adalah keturuan Yang mulia raja, bagaimana kalian berani bertindak tidak sopan padanya". Mandaka merasa tersinggung melihat Wardhana sedikit membentak Pancaka.
"Aku bukan orang yang tidak tau tatakrama, Aku hanya melaksanakan perintah yang mulia". Wardhana masih terlihat tenang. Dia merasa keributan ini sengaja dibuat oleh Pancaka untuk memancing Sabrang keluar.
"Lalu jika aku memaksa apakah kau akan membunuhku juga?". Pancaka tersenyum mengejek Wardhana, dia yakin sekali Wardhana tak akan berani melukainya karena bagaimanapun dia adalah keturunan Arya Dwipa namun reaksi Wardhana diluar perkiraan pancaka.
"Jika memang terpaksa, matipun akan kulaksanakan perintah Yang mulia". Wardhana menggeser tubuunya kedepan dan menghalangi jalan Pancaka.
"Kau". Pancaka telag hilang kendali, dia mencabut pedangnya dan menyerang Wardhana membabi buta. Mendapat serangan tita tiba, Wardhana terlihat tidak siap. Tubuhnya terkena sabetan pedang Pancaka cukup telak.
"Tuan Adipati". Lembu sora semakin geram meihat tingkah Pancaka langsung menyerang maju namun gerakannya dihentikan Mandaka yang bergerak lebih cepat darinya.
Mandaka memutar tubuhnya dan melepaskan beberapa pukulan yang membuat Lembu sora terdorong mundur.
"Cepat sekali". Lembu sora tak menyangka Mandaka memiliki ilmu kanuragan setinggi itu. Lembu sora bukan tak mengenal Mandaka, mereka pernah bahu membahu membela Malwageni sebelum selir Anjani diusir Arya Dwipa karena berkomplot dengan para pemberontak namun kali ini ilmu Pancaka jauh diatasnya.
"Semua sudah berubah Sora, kini kita berada dipihak yang berlawanan kuharap kau mengerti". Mandaka mencabut pedangnya dan bersiap menyerang.
"Kau selalu mengambil jalan yang salah". Sora menggeleng pelan sebelum menyambut serangan Mandaka. Sedangkan Wardhana terpaksa meladeni serangan Pancaka karena Pancaka terus menyerangnya membabi buta.
"Ada yang direncanakannya". Gumam Wardhana dalam hati, dia merasa jika Pancaka memaksakan pertempuran ini terjadi. Beberapa pasukan angin selatan mulai merengsek masuk setelah melihat pertarungan Wardhana. Saat itukah Wardhana baru menyadari jika ini jebakan yang dipersiapkan untuknya.
Pancaka tau jika pasukan angin selatan begitu setia pada Wardhana dan tidak mungkin berdiam diri saat Wardhana diserang. Jika Mereka menyerang Pancaka bersamaan dan dia terluka maka Sabang pasti akan sedikit menyalahkan Wardhana.
__ADS_1
"Dia ingin memisahkanku dengan Yang mulia raja, apa yang sebenarnya direncanakannya". Wardhana terus menahan serangan Pancaka tanpa berniat menyerang sama sekali. Kali ini dia sudah bisa membaca rencana Pancaka.
Wardhana memberi tanda pada Kertapati untuk mundur dan tidak ikut campur. "Aku tak akan masuk perangkap seperti ini". Gumam Wardhana yang mulai sesekali menekan Pancaka.
Jika pertarungan Pancaka dan Wardhana terlihat seimbang lain hal dengan Lembusora. Lawan yang dihadapinya adalah pendekar kuat dimasanya. Mandaka pernah mendapat julukan pendekar jenius dimasanya sebelum selir Anjani mempekerjakannya jadi pengawal pribadi.
Mandaka terus menekan Lembu sora dengan jurus jurus andalannya. Lembu sora yang masih belum pulih akibat luka yang didapat di Dieng semakin kesulitan menerima serangan serangan cepat Mandaka.
"Menyerahlah Sora, kita tak harus melakukan ini". Mandaka menggeleng pelan. Bagaimanapun dia dan Sora pernah berperang bersama dibawah panji Malwageni.
"Kau tau arti dari titah Raja bukan?, nyawakupun akan kuberikan untuk melaksanakan perintahnya". Ucap Lembu sora.
Madaka menggeleng pelan sebelum meningkatkan kecepatannya, dia memutar pedangnya dan mengarahkan punggung pedang pada Lembu sora. Dia hanya ingin melumpuhkan Lembu sora bukan membunuhnya.
Saat Mandaka merapal jurus andalannya, tiba tiba jantungnya seperti berhenti berdetak ketika hawa dingin terasa dipunggungnya.
"Siapa dia? bagaimana aku tidak menyadari hawa keberadaannya". Mandaka berusaha memutar tubuhnya sekuat tenaga namun telapak tangan Sabrang lebih dulu menyentuh punggungnya.
"Hembusan dewa es Abadi". Seketika tubuh Madaka kaku tak bergerak terbungkus bongkahan es. Sabrang kemudian mengarahkan telapak tangannya kearah Pancaka yang cukup jauh darinya seperti membidiknya. Yang terjadi berikutnya tubuh Pancaka seolah terhisap sesuatu, dia terlempar cepat mendekati Sabrang. Yang berikutnya terjadi adalah lehernya telah berada dalam cengkraman Sabrang.
Mandaka terdiam dengan bulu kuduk berdiri sambil menelan ludahnya. Sepanjang dia jadi pendekar belum ada pendekar semuda Sabrang menguasai ilmu kanuragan tingkat tinggi.
"Siapa pendekar kuat ini?". Gumam Pancaka dalam hati sambil menatap Mata biru muda Sabrang.
"Lepaskan! Siapa kau berani menyerangku". Pancaka meronta ronta berusaha melepaskan diri.
"Hormat kami pada Yang mulia". Wardhana dan seluruh pasukan yang ada disekitarnya berlutut dihadapan Sabang.
"Apa terjadi sesuatu selama aku bermeditasi?". Sabran dapat melihat kekacauan yang baru saja terjadi.
"Yang mulia? jangan jangan dia....". Raut wajah Mandaka menjadi buruk setelah mengetahui pendekar yang menyerangnya.
Butuh waktu agak lama bagi Pancaka untuk menyadari jika pendekar hebat dihadapannya adalah kakaknya.
"Kakang?". Ucap Pancaka lirih.
__ADS_1
***
"Jika tidak ada yang dibahas lagi, aku mohon diri ketua". Ciha menundukan kepala pada Birawa dan yang lainnya sebelum melangkah pergi. Beberapa minggu ini Ciha memang disibukan oleh laporan yang harus disampaikan pada para tetua bintang langit. Dengan terkuburnya Dieng selamanya maka tugas Sekte Bintang langit melindungi Dieng otomatis berakhir.
Namun mereka masih menunggu beberapa purnama untuk memastikan Dieng benar benar terkubur dan tidak ada lagi jalan rahasia lainnya.
Langkah Ciha terhenti didepan sebuah gua didekat lembah tanpa dasar. Sudah beberapa hari ini dia selalu menyempatkan kegua ini.
"Kau terlambat lagi". Sebuah suara dari dalam mengagetkannya. Dia tersenyum kecil sambil melangkahkan kakinya masuk gua.
"Kau tak pernah bisa menyapa orang dengan cara menyenangkan". Ucap Ciha pada Lingga yang duduk didalam gua.
Setelah memutuskan mundur dari sekte Iblis hitam, Lingga banyak menghabiskan waktu di Wilayah sekte Bintang langit. Selain ingin memastikan jika Dieng benar benar telah terkubur, dia juga ingin memperdalam ilmu kanuragannya.
Ciha mengeluarkan batu tulis yang dia ambil dari Dieng dan menunjukkan pada Lingga.
"Lihatlah ini". Tunjuk Ciha pada sebuah tulisan dibatu itu.
"(Kitab Paraton berisi rahasia terbesar dunia dan ilmu pengetahuan. Siapapun yang memiliki kitab ini akan menguasai dunia. Kami akan menguasai dunia jika berhasil menemukan telaga yang dikelilingi api). Catatan ini sepertinya ditulis oleh suku Iblis petarung saat menemukan kitab itu. Namun tak ada petunjuk lainnya mengenai letak tempat yang dikelilingi api itu, sepertinya semua petunjuk telah terkubur bersama Dieng. Yang menarik perhatianku saat ini bukan telaga Khayangan api namun siapa yang menulis kitab itu. Jika benar dalam kitab itu terdapat rahasia terbesar dunia ini maka yang menulis kitab itu telah mengetahui semuanya". Ucap Ciha.
"Kau masih percaya jika tempat itu benar benar ada?". Lingga tersenyum mengejek.
"Kau lihat sendiri bukan jika Dieng dibangun dengan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi. Tempat itu dibangun dengan perhitungan yang rumit. Aku yakin mereka mendapatkan pengetahuan itu dari kitab Paraton. Bagaimana manusia jaman dulu bisa mempunyai ilmu pengetahuan semaju ini sedangkan saat inipun kita tidak menguasainya".
Lingga terdiam mendengar penjelasan Ciha, dalam hatinya dia juga setuju dengan apa yang dijelaskan Ciha. Raut wajahnya menjadi buruk jika teringat tentang Telaga khayangan api.
"Akan terjadi kekacauan yang lebih besar jika tempat itu sampai diketahui dunia persilatan, kau harus merahasiakan tulisan di batu itu". Lingga menggeleng pelan.
"Kau sudah mendengar jika sekte Kelelawar hijau dihancurkan seseorang?. Aku mendengar dari salah satu anggota Sekte Bintang langit yang baru pulang dari Dieng. Bukankah ini aneh?".
"Aneh? Sebuah sekte hancur dalam dunia persilatan itu sudah biasa, aku sudah sering melihatnya". Lingga mengernyirkan dahinya.
"Pertama, Kelelawar hijau baru pulang dari Dieng sama seperti kita lalu kenapa hanya mereka yang dihancurkan oleh pendekar misterius itu. Yang kedua, kudengar ada sebuah kitab yang pendekar misterius itu bawa dari sekte kelelawar hijau. Ilmu kanuragan para pendekar itu jelas jauh diatas sekte Kelelawar hijau, jika yang dia ambil adalah kitab ilmu kanuragan milik Sekte kelelawar hijau bukankah itu aneh?. Bagaimana jika tetua Bahadur ternyata menemukan kitab misterius di Dieng dan para pendekar itu mengambilnya kembali".
"Maksud mu kitab itu?". Tanya Lingga Penasaran.
__ADS_1
"Aku yakin kitab itu adalah kitab Paraton". Jawab Ciha yakin.