Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Rencana Berbahaya Arina


__ADS_3

Hilangnya Wardhana yang tiba tiba mulai tercium oleh para utusan Arkantara, mereka merasa ada yang tidak beres karena dalam beberapa pertemuan Tungga Dewi tidak didampingi Wardhana.


Walau Tungga Dewi sudah menjelaskan jika Wardhana sedang pergi untuk menjalankan misi rahasia, mereka tidak percaya begitu saja karena perginya Wardhana penuh dengan kejanggalan.


Para utusan itu akhirnya mencoba memanfaatkan situasi dengan meminta Pancaka bergerak, mereka ingin memancing Wardhana keluar andai dia memang baik baik saja.


Beberapa kabar memang sempat berhembus di dalam keraton jika ada yang melihat Wardhana di bawa keluar oleh seseorang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Walau Tungga Dewi berusaha membungkam kabar angin itu namun para utusan sudah terlanjur mendengarnya.


Pancaka yang juga mendapat kabar itu dari utusan Arkantara mulai menunjukkan sikap sedikit menentang walau telah diperingatkan oleh Putri Andini. Saung galah bahkan terang terangan menunda upeti yang seharusnya di kirim setiap purnama dengan alasan menunggu keputusan para menteri.


Hal ini memantik amarah Tungga Dewi yang sejak awal memang tidak menyukai adik tiri Sabrang itu, dia mengirim Paksi ke Saung Galah untuk mencari tau apa sebenarnya yang membuat kiriman upeti terhambat.


Tungga Dewi juga meminta Paksi untuk mencari tau diam diam rencana sebenarnya Pancaka di balik keterlambatan pengiriman Upeti.


Situasi Tungga Dewi semakin terjepit saat mendengar kabar jika Agam yang merupakan patih Arkantara sedang dalam perjalanan menuju Jawata.


Kedatangan patih tertinggi Arkantara itu seolah menekan secara halus Malwageni untuk menyetujui tawaran kerjasama dari mereka. Tungga Dewi memang bisa menolak tawaran itu tapi resiko dari keputusannya bisa memanaskan hubungan dua kerajaan, karena mereka akan tersinggung dan merasa tidak dihargai saat Saragi sudah mengutus orang kepercayaannya itu.


Tungga Dewi akhirnya memerintahkan Wijaya untuk menemui Sabrang dan meminta pendapatnya di Air terjun lembah pelangi.


Wijaya tampak terkejut saat mendengar Sabrang masih hidup dan Wardhana disembunyikan di Air terjun lembah pelangi karena terluka parah.


Setelah mempersiapkan semua keperluannya, Wijaya bergerak pada malam hari agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Wijaya membelah hutan larangan diantara dinginnya malam, rasa lega dan bersalah berkecamuk dalam hatinya. Dia lega karena ternyata Sabrang masih hidup setelah terkubur di reruntuhan Gunung padang namun di sisi lain dia merasa bersalah karena lagi lagi tidak dapat melindungi Sabrang seperti kejadian Arya Dwipa dulu.


Wijaya merasa gagal dan tak memiliki muka lagi untuk menemui Sabrang namun dia terpaksa menahan semua rasa malu itu karena keadaan Malwageni saat ini jauh lebih penting.


Wijaya menghentikan langkahnya saat berada di tengah hutan larangan, dia kemudian menatap sekitarnya untuk memastikan ciri ciri tempat yang disebutkan Tungga Dewi padanya.


Tungga Dewi mengatakan Arung selalu berjaga di pintu masuk Air terjun lembah pelangi untuk memudahkan jika Tungga Dewi mengirim utusan karena tanpa suatu segel, Air terjun itu tidak akan bisa ditemukan.


Dan benar saja, saat Wijaya sedang bersiap menyalakan api untuk memberi tanda andai Arung berada didekatnya, sesosok tubuh muncul dari balik pohon.


"Tuan, apa terjadi sesuatu di keraton?" ucap Arung tiba tiba.


"Arung? aku diperintah Gusti ratu untuk menemui Yang mulia," Wijaya menunjukkan sebuah lempengan perak sebagai tanda titah Tungga Dewi.


Arung mengangguk dan mengajak Wijaya masuk ketika sebuah kabut tiba tiba muncul.


Wijaya tampak terkejut saat melihat pemandangan yang jauh berbeda saat menembus kabut putih itu, dia seolah masuk ke dimensi berbeda.


Setelah berjalan cukup lama, sebuah air terjun menyambutnya. Langkahnya terhenti saat melihat Sabrang sedang berlatih ilmu pedang bersama Darin.


"Yang mulia," ucapnya lirih, rasa bersalah itu kembali muncul dihatinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaiman perjuangan Sabrang untuk keluar dari reruntuhan gunung padang sedangkan dia hanya bisa tinggal di dalam keraton.


"Yang mulia, Gusti ratu mengutus tuan Wijaya untuk menemui anda," ucap Arung pelan saat Sabrang sedang mengatur nafasnya.


"Dewi?" Sabrang menoleh kearah Wijaya khawatir.


***


"Jadi mereka sudah curiga dengan hilangnya paman Wardhana?" tanya Sabrang setelah mendengar semua cerita Wijaya.


"Benar Yang mulia, sepertinya kedatangan patih Arkantara adalah bagian rencana mereka untuk menekan Malwageni sekaligus menguji apakah tuan Wardhana akan muncul atau tidak," balas Wijaya sopan.

__ADS_1


"Mereka jelas mengambil kesempatan tidak munculnya tuan patih untuk memuluskan rencana kerjasama ini Yang mulia," timpal Arung.


Sabrang tampak berfikir sejenak, ini pertama kalinya dia mengambil keputusan besar tanpa Wardhana di sisinya.


Kehilangan Wardhana saat situasi seperti ini memang sangat mengguncang Malwageni dan itu akhirnya disadari oleh Sabrang jika selama ini dia terlalu bergantung dengan Wardhana. Itu terlihat dari tidak siapnya dia mengambil keputusan cepat yang menyangkut masalah sebesar ini.


"Aku akan menemui mereka di keraton, katakan pada Dewi untuk mempersiapkan pertemuanku dengan patih Arkantara itu," ucap Sabrang pelan.


"Tapi Yang mulia, dengan identitas anda yang pernah menyusup ke Arkantara akan membuat situasi semakin memanas, mereka akan menganggap kita sedang menyusun penyerangan," balas Arung cepat.


"Apa aku punya pilihan? memanggil paman Paksi kembali membutuhkan waktu beberapa hari sedangkan pertemuan akan dilakukan besok dan aku tidak mungkin membiarkan Dewi menanggung semua ini," jawab Sabrang.


"Bagaimana jika kita mengundurkan waktu sampai tuan Paksi kembali dari Saung Galah?" ucap Wijaya pelan.


"Tidak paman, mengubah waktu pertemuan justru akan membuat mereka semakin curiga dan itu akan sangat berbahaya bagi kita. Jika sampai kondisi paman diketahui semua orang bukan hanya tekanan semakin besar yang akan kita dapatkan tapi juga semangat tempur pasukan Malwageni akan menurun. Aku tidak ingin mengambil resiko itu.


Persiapkan saja pertemuanku besok, aku akan kembali ke keraton setelah berbicara dengan guru Wulan," jawab Sabrang.


"Baik Yang mulia," balas Wijaya cepat.


"Sebaiknya anda tidak melakukan itu Yang mulia. Maaf jika sedikit mencuri dengar tapi seperti yang hamba katakan kemarin, hamba akan membantu anda jika mengabulkan permintaanku," ucap Arina tiba tiba.


"Kau?" Wijaya tampak terkejut saat melihat Arina tiba tiba muncul dan berjalan mendekati mereka.


"Dia adalah temanku," ucap Sabrang seolah tau kebingungan Wijaya.


"Jadi menurutmu aku salah?" tanya Sabrang pelan.


Arina menggeleng pelan, dia menundukkan kepalanya memberi hormat sebelum duduk di dekat Sabrang.


Hamba memang tidak mengerti kekuatan pasukan tempur Malwageni tapi hamba yakin jika kita berperang saat ini hanya akan menemui kekalahan. Jika diizinkan hamba bisa mengulur waktu sampai tuan patih sadar tanpa sedikitpun menimbulkan kecurigaan dari mereka," balas Arina sopan.


Wijaya dan Arung saling berpandangan, mereka terlihat ragu dengan wanita dihadapannya itu. Menghadapi patih Arkantara yang terkenal ahli dalam siasat perang membutuhkan rencana yang sangat matang agar tidak bisa dibaca.


"Mengulur waktu?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Aku mungkin tak mampu jika harus beradu siasat dengan patih Arkantara tapi aku cukup yakin bisa sedikit menipu mereka sampai tuan Patih sadarkan diri jadi kita bisa sedikit mengulur pertempuran sambil mempersiapkan semuanya," jawab Arina.


"Baik, kau semakin membuatku tertarik, katakan apa rencanamu?"


Arina kemudian menjelaskan rencananya untuk menjebak Agam dan melepaskan diri dari tekanan Arkantara.


"Kau akan menemuinya sendiri?" tanya Sabrang terkejut setelah mendengar rencana Arina.


"Itu jika anda percaya padaku," balas Arina cepat.


"Apa yang membuatmu berfikir aku akan percaya padamu begitu saja? menjadi perwakilan Malwageni dalam suatu pertemuan sama saja mewakili keraton secara keseluruhan, aku mungkin tidak bisa mengizinkan untuk satu hal itu," ucap Sabrang.


"Aku tidak bisa membantah jika anda sudah memutuskan tapi mohon dipertimbangkan kembali Yang mulia. Aku datang bersama anda hanya untuk mendapatkan hidup yang lebih baik dan membalas dendam pada Pangeran Saragi.


Mereka telah membunuh keluargaku dengan sangat kejam, dan jika aku memiliki kesempatan untuk membalasnya apapun akan kuberikan termasuk nyawaku. Apa anda pikir aku akan membuang kesempatan ini dengan mengkhianati anda?" balas Arina.


Sabrang memejamkan matanya sejenak, dia masih menimbang keputusan yang akan diambilnya. Arina bukan orang jahat, dia bisa merasakannya setelah beberapa hari selalu bersama tapi masalah kali ini menyangkut masa depan Malwageni.


"Baik, aku akan mengabulkan permintaanmu dengan satu syarat, Arung harus menemanimu dalam pertemuan itu," jawab Sabrang tegas.

__ADS_1


"Hamba?" wajah Arung berubah seketika.


"Tidak masalah selama dia tidak mengganggu rencanaku," balas Arina cepat.


Sabrang mengangguk pelan sebelum memerintahkan Wijaya kembali ke keraton.


"Paman berikan pakaian kerajaan pada Arina, dia tidak mungkin menemui utusan Arkantara dengan pakaian itu. Persiapkan pasukan di titik titik tersembunyi untuk mengantisipasi jika perundingan kali ini gagal. Aku akan berada di sekitar keraton untuk memastikan semua berjalan sesuai rencana."


"Baik Yang mulia, hamba menerima perintah," jawan Wijaya.


"Arung gunakan kesempatan ini sebaik baiknya," ucap Sabrang sambil tersenyum penuh arti.


"Gunakan kesempatan sebaik baiknya?" Arung masih belum mengerti maksud ucapan Sabrang.


***


Sebuah kapal megah dengan corak kebesaran Arkantara tampak mendekati dermaga yang berada di wilayah Malwageni.


Puluhan prajurit terlihat berjajar rapih di atas dek kapal mengelilingi lima orang yang mengenakan pakaian kerajaan.


Agam, yang berdiri paling depan tampak takjub dengan pemandangan yang sudah lama tidak dilihatnya itu.


"Tempat ini tak pernah berubah, selalu mengingatkan tentang rasa sakit bagaimana mereka membunuh ayah dengan kejam. Tunggulah sebentar lagi, akan kuhancurkan kalian semua," ucap Agam dalam hati.


"Tuan, apa kita akan langsung ke ibukota?" tanya salah satu prajurit.


"Tidak, aku akan ke suatu tempat terlebih dahulu untuk mempersiapkan sesuatu, kalian cari penginapan di dekat sini dan beristirahatlah karena besok adalah hari yang paling menentukan bagi Arkantara. Jika mereka menolak bekerja sama, kalian harus melakukan apa yang kuperintahkan kemarin," balas Agam dingin.


"Tapi tuan, menculik pangeran Sutawijaya sama saja mengibarkan perang," prajurit itu tampak ragu dengan perintah Agam.


"Apa kau takut? siapapun yang berani meremehkan Arkantara harus di hancurkan," Agam melompat dari atas dek kapal dan melayang untuk beberapa saat sebelum mendarat di tanah.


"Ilmu kanuragannya sangat tinggi, aku yakin bahkan Yang mulia Saragi pun takut pada mereka," ucap prajurit itu dalam hati saat melihat ilmu meringankan tubuh Agam begitu sempurna.


"Para pendekar Kalang, semoga kalian masih ada di tempat itu," ucap Agam sambil melangkah pergi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Suku Kalang


Banyak yang belum mengetahui tentang Suku Kalang di Pulau Jawa. Mungkin kita lebih kenal dengan beberapa suku besar dan sudah dikenal umum. Seperti; Suku Sunda, Jawa, Madura, dan Betawi. Padahal, ada begitu banyak suku-suku di tanah Jawa. Namun, tidak tercatat dalam buku sejarah di sekolahan. Salah satunya, Suku Kalang.


Suku Kalang, merupakan suku yang cukup fenomenal. Diyakini sebagai salah satu Suku asli orang Jawa. Hidup ribuan tahun silam.


Menurut cerita yang dikutip Betawipos, pada zamannya, dahulu kala, pernah hidup suku bangsa kecil. Kebanyakan orang, menyebutnya dengan julukan Wong Kalang. Suku ini hidup di hutan-hutan. Akhirnya, hilang seiring dengan berkembangnya waktu.


Suku ini konon terkenal sakti mandraguna dan memiliki kepintaran yang luar biasa. Menurut mitos orang kalang adalah maestro pembuat candi yang secara fisik berbadan kuat dan tegap.


Terinspirasi dari suku Kalang, PNA akan menghadirkan sebuah kelompok yang menamakan diri Pendekar Kalang yang akan memiliki peran penting dari pertempuran Mandala dan Sabrang juga tentang siapa sebenarnya pembuat kitab Sabdo Loji.


Tapi hanya sedikit kepingan yang akan saya tunjukkan tentang siapa pembuat kitab Sabdo Loji karena untuk cerita utuhnya akan muncul di API DI BUMI MAJAPAHIT.


Update ABM memang sengaja saya tahan sementara waktu karena chapter selanjutnya akan membuka perlahan tentang pendekar kalang jadi mungkin ABM akan update setelah Agam bertemu dengan pendekar Kalang. Terima kasih buat yang sabar menanti...


Terakhir ada yang meminta Wardhana di munculkan kembali di ABM biar lebih seru. Sebelumnya saya mohon maaf, karena Wardhana meminta kontrak yang sangat besar untuk muncul di ABM (Mentang mentang banyak yang suka) dan saya tidak sanggup membayarnya jadi saya pastikan Wardhana cukup muncul di PNA wkwkwkwkw

__ADS_1


Wardhana memang gak akan muncul lagi di ABM dan kitab Sabdo Loji tapi ada kejutan besar yang saya janjikan muncul di ABM...


__ADS_2