Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Masa Lalu Ratu Malwageni


__ADS_3

Lingga kembali terpental setelah terkena serangan Kertasura, darah segar mengalir ditubuhnya. Terlihat beberapa sabetan pedang terlihat ditubuh Lingga.


Kertasura jelas terlihat lebih kuat dari Lingga dari segi apapun walau dia tidak menggunakan pedang langitnya.


"Aku akan membantumu," ucap Brajamusti yang berada didekatnya.


"Tidak tetua, ini adalah urusan murid dan gurunya, kuharap anda mengerti," balas Lingga pelan.


Brajamusti mengangguk pelan, dia dapat mengerti perasaan Lingga. Bukan rahasia lagi jika Lingga begitu dekat dengan Kertasura yang merupakan ketua iblis hitam sekaligus gurunya.


Lingga bahkan ditunjuk Kertasura sebagai ketua baru menggantikannya sesaat sebelum Iblis hitam hancur ditangan Masalembo namun Lingga menolaknya dengan alasan ingin mundur dari dunia persialatan.


"Ketua, aku tidak tau apa yang mereka lakukan pada anda namun aku pasti akan membalaskan apa yang telah mereka lakukan pada anda, maafkan murid tidak berbakti ini," Lingga menyarungkan pedangnya dan mengganti dengan pedang langit yang selalu berada dipunggungnya itu.


"Aku selalu membawa pedang langit ini untuk kuberikan jika bertemu dengan anda namun sepertinya tidak mungkin lagi," Lingga merapal kuda kudanya dan langsung menyerang.


Pertarungan guru dan murid tak dapat dihindari lagi, jika sebelumnya Lingga masih ragu menyerang Kertasura kini dia menggunakan segenap kemampuannya karena sadar saat ini gurunya tak jauh beda dengan para prajurit abadi.


"Pertarungan ini akan menjadi titik balik dalam perjalanannya sebagai seorang pendekar. Jika selama ini dia selalu berada dibawah bayang bayang Kertasura maka pertarungan ini akan mengukuhkannya sebagai pendekar kuat yang mungkin akan jauh melebihi Kertasura, semoga kau beruntung," gumam Suliwa dalam hati.


Serangan Lingga kini jauh lebih cepat dan mematikan setelah menggunakan pedang langit, bagaimanapun pedang langit adalah salah satu pusaka terkuat Dieng yang hanya setingkat dibawah Pedang Naga api.


Lingga terus mendekat sambil melepaskan aura ditubuhnya namun Kertasura tampak tak gentar sambil memainkan jurus andalannya.


"Gerakannya cepat seperti biasanya, aku benar benar harus hati hati," ucap Lingga pelan.


Setelah bertukar puluhan jurus, Lingga mulai bisa mengimbangi Kertasura. Latihan tertutup yang dia lakukan bersama Ciha di sekte Bintang langit membuat kemampuan Lingga semakin tinggi.


Lingga bergerak ke sisi kiri ketika melihat celah yang ditinggalkan Kertasura, dia menarik pedangnya kedepan.


"Pedang tunggal naik ke langit tingkat II", Lingga mengayunkan pedangnya namun Kertasura dengan sigap menangkisnya.


"Aku sudah hafal hampir semua gerakan yang guru tunjukkan saat melatihku," Lingga merubah gerakan di detik terakhir. Dia menurunkan sedikit kecepatan sambil memutar arah pedangnya.


"Tarian iblis pedang," sebuah tebasan penuh tenaga dalam.menghantam tubuh Kertasura yang membuatnya terpental.


Lingga menghunuskan pedangnya kearah Kertasura dengan wajah penuh amarah.


"Kalian mungkin bisa merebut tubuhnya dan semua jurusnya namun pikiran, reflek bertarung tak akan bisa kalian tiru. Kau jauh lebih lemah dari guruku," ucap Lingga dingin.


Kertasura kembali bangkit sambil bersiap menyerang, untuk sesaat Lingga melihat senyum terukir dibibir Kertasura seolah bangga melihat perkembangannya.


"Guru?" gumam Lingga pelan, dia yakin tadi melihat Kertasura tersenyum padanya.


"Anda tersenyum padaku?" ucap Lingga sambil menarik pedangnya kedepan wajahnya, lengan kirinya menyentuh punggung pedang.


"Anda akan selalu menjadi guruku sampai kapanpun, terima kasih telah menyelamatkan nyawaku saat itu. Tak ada hal yang paling membuatku bahagia setelah kematian orang tuaku selain menjadi murid anda. Istirahatlah dengan tenang dan lihatlah murid bodohmu ini menghancurkan Masalembo," Lingga bergerak dengan menggunakan hampir seluruh tenaga dalamnya.


Kertasura pun terlihat menyambut dengan jurus yang sama.


Kedua pedang dengan tenaga dalam yang besar hampir saja beradu sebelum Lingga menarik sedikit pedangnya dan memutar tubuhnya dan menggunakan lengan kiri sebagai pijakannya.


"Gunakan hatimu dan masukkan kedalam pedangmu maka gerakanmu tak mudah terbaca, itu yang akan membuatmu bisa mengimbangi pendekar dengan bakat alam seperti Sabrang, aku selalu mengingat pesan guru."


"Pedang tunggal terbang ke laingit tingkat 8," gerakan pedang cepat Lingga tak mampu dihindari Kertasura, tubuhnya terkoyak dan terpental diudara.


"Sudah kuduga cepat atau lambat dia akan melampaui Kertasura, aku sangat bersyukur dia berada dipihak kami," ucap Suliwa.


Lingga menancapkan pedangnya di tanah dan langsung melesat menyambar tubuh Kertasura yang hampir membentur tanah.


"Terima kasih guru atas segala kebaikan anda padaku," Lingga menaruh mayat Kertasura di tanah hati hati dan mencabut pedangnya.


"Kalian semua akan menerima balasannya," Lingga melepaskan aura dari tubuhnya sambil bergerak maju, dia ingin melampiaskan amarahnya dengan membantai prajurit abadi tanpa sisa. Lingga seolah ingin berkata pada gurunya bahwa dia tidak salah memilih murid.

__ADS_1


***


Wardhana berlari keluar bangunan dengan wajah buruk sambil memegang gulungan yang dia temukan didalam.


"Paman?," ucap Sabrang sambil mengernyitkan dahinya, sangat jarang Sabrang melihat wajah Wardhana begitu buruk.


"Mereka tidak ada disini Yang Mulia," ucap Wardhana terbata bata.


"Mereka?" tanya Sabrang penasaran.


"Lima pemimpin dunia tidak disimpan di Masalembo, tubuh mereka disembunyikan di suatu tempat," ucap Wardhana sambil membuka gulungannya.


"Bukankah Naraya mengatakan mereka semua disimpan disalah satu bangunan di tempat ini?" tanya Sabrang bingung.


"Setelah berkhianat nya Naraya dan Arjuna yang merupakan dua pendekar masa depan Masalembo, mereka merubah rencananya dan memindahkan tubuh para pemimpin dunia untuk mengantisipasi jika Naraya dan Arjuna berhasil menghimpun kekuatan," Wardhana menunjukkan catatan administrasi milik Masalembo.


"Arjuna?," Sabrang mengernyitkan dahinya sambil mengingat nama yang seperti belum pernah didengarnya.


Wardhana menunjukkan catatan lainnya yang ditulis menggunakan aksara palawa.


"Ini adalah catatan para pengkhianat masalembo, ada dua orang pendekar muda yang saat itu berkhianat. Naraya Dwipa dan menyusul Arjuna beberapa tahun setelah Naraya tewas.


Arjuna lah yang mengalahkan sepuluh dewa Kumari kandam yang sudah dipersiapkan sebagai penerus para penjaga Masalembo. Arjuna adalah pengguna pertama pusaka Megantara sekaligus yang memecah kunci Telaga khayangan api menjadi beberapa bagian.


Sepertinya dia berniat mengubur Telaga khayangan api agar tak ada lagi pendekar dunia persilatan yang dijadikan percobaan Masalembo", ucap Wardhana pelan.


"Tunggu paman, ada yang janggal dari penjelasan paman. Bukankah mereka tetap bisa keluar Masalembo walau tidak membuka Telaga khayangan api dan mencari para pendekar untuk dijadikan bahan percobaan? untuk apa Arjuna menyegel Khayangan api?"


"Sepertinya saat itu mereka belum bisa menguasai jurus ruang dan waktu sehingga jalan satu satunya adalah melalui Telaga khayangan api. Mungkin itu yang ada dipikiran Arjuna saat itu," jawab Wardhana.


"Jika memang Arjuna berkhianat apakah keturunannya masih hidup?"


"Beberapa tahun sebelum serangan Majasari yang menghancurkan Malwageni, Yang mulia Arya dwipa pernah menghilang hampir satu purnama yang membuat geger keraton. Hamba bahkan berfikir jika Yang mulia ditangkap Majasari dan telah menyiapkan serangan balasan namun beliau tiba tiba muncul kembali dan membawa seorang gadis dan menjadikannya sebagai ratu Malwageni," Wardhana menghentikan ucapannya, dia terlihat sedikit ragu untuk melanjutkan ucapannya.


Wardhana hanya menganggukkan kepalanya.


"Lalu hubungannya dengan Arjuna apa paman? penjelasan paman terlalu berbelit belit," ucap Sabrang tak sabaran.


"Hamba adalah kepala administrasi saat itu, dan sudah menjadi peraturan Malwageni jika Raja mengangkat ratu dari luar istana maka akan ditelusuri semua keturunannya untuk memastikan masa lalunya.


Hamba bertugas menelusuri masa lalu Yang mulia Ratu dan tak ada yang bisa hamba temukan kecuali leluhur Ratu adalah pendatang di sekte Tapak es utara.


Setelah Arjuna mengalahkan dewa Kumari kandam, dia menghilang bagai ditelan bumi. Banyak yang mengatakan jika dia mati dalam pertarungan, bahkan catatan Masalembo ini mengatakan jika Arjuna telah tewas.


Namun ada yang menarik yang hamba temukan, hilangnya Arjuna bertepatan dengan munculnya leluhur Yang mulia Ratu."


"Jadi maksudmu ibu keturunan Arjuna?"


"Hamba yakin seperti itu, hampir setahun hamba mencari jejak leluhur Ratu namun tak berhasil. Catatan di sekte Tapak Es utara hanya menjelaskan jika leluhur Ratu datang malam hari dan memohon untuk bergabung dengan Tapak es utara," jawab Wardhana.


"Jadi ayah?" Sabrang mengenyitkan dahinya.


Wardhana mengangguk pelan, "Sepertinya Yang mulia raja tau masa lalu Ratu, hilangnya dia selama hampir satu purnama sepertinya menyelidiki keberadaan Ratu. Yang mulia telah merencanakan ini sejak lama."


"Dia merencanakannya?."


"Bangunan yang hamba periksa adalah ruang penelitian mereka. Semua catatan penelitian mereka ada didalam dan hamba sudah membakarnya namun hamba menyisakan beberapa catatan.


Catatan ini menjelaskan jika Naraya menjadi bahan percobaan pertama mereka. Mereka memasukkan energi Iblis terkuat Mariaban kedalam tubuh Naraya untuk membangkitkan Mata bulan. Rencana mereka sepertinya berhasil namun ada harga yang harus dibayar," Wardhana menunjukkan catatan kecil digulungannya.


"Trah Dwipa memiliki bakat alami yang luar biasa namun efek energi Mariaban akan membuat bakat seluruh garis keturunannya hilang, itulah yang membuat seluruh keturunan Dwipa tak ada yang bisa sehebat Naraya dan selalu mati muda. Energi Mariaban akan menggerogoti energi kehidupan perlahan.


Hamba sempat bingung karena hanya anda dan Naraya yang bisa menaklukkan sisi gelap Mariaban namun sekarang hamba mengerti bakat besar anda berasal dari Ratu yang merupakan keturunan Arjuna."

__ADS_1


"Jadi ayah ingin memutus kutukan Dwipa dengan menikahi ibu," ucap Sabrang yang mulai mengerti.


"Yang mulia raja telah banyak berkorban, kini saatnya kita membalas pengorbanan beliau," ucap Wardhana pelan.


Semua terdiam setelah mendengar kenyataan yang diucapkan Wardhana. Mereka tidak menyangka jika dunia yang mereka pijak ini masih terus melawan ambisi mengerikan Masalembo melalui dua pendekar hebat yang berkhianat.


"Jika bukan tubuh para pemimpin dunia yang mereka simpan disini, lalu siapa yang mereka lindungi?," tanya Sabrang.


"Perkiraan hamba adalah sepuluh dewa Kumari kandam. Mereka harus berhati hati untuk membangkitkan para pemimpin dunia, dan mereka butuh bahan percobaan agar tidak melalukan kesalahan. Berbeda dengan para pemimpin dunia, Sepuluh dewa Kumari kandam tak membutuhkan jamur emas untuk membangkitkan nya karena mereka hanya disegel oleh Arjuna.


Kita harus cepat menghentikannya Yang mulia, sepuluh dewa Kumari kandam berbeda dengan Penjaga Masalembo yang merupakan hasil percobaan. Dewa Kumari kandam memiliki bakat alami seperti anda, mereka akan jauh lebih menakutkan jika bangkit," balas Wardhana.


"Apa yang sebenarnya dipikirkan Masalambo sampai harus melakukan hal mengerikan seperti ini," Sabrang benar benar tak mengerti jalan pikiran para pemimpin dunia.


"Ambisi dan kehidupan abadi, mereka telah dirasuki keserakahan, mereka bahkan tidak perduli jika harus melawan apa yang sudah digariskan sang pemilik hidup," Candrakurama kali ini ikut bicara.


"Kita dalam masalah besar jika sampai dewa Kumari kandam bangkit," Ciha yang dari tadi diam saja ikut bicara.


"Maksudmu? kupikir dengan kekuatan kita saat ini masih ada kemungkinan untuk menang," balas Candrakurama.


"Kau yakin? Arjuna saja menggunakan pedang Megantara untuk mengalahkan mereka dan akibat pertarungan itu pusaka Megantara sampai hancur. Apa kau pikir pedangmu mampu mengalahkan mereka?," ucap Ciha sambil melirik kearah Pedang Naga api yang masih berada digenggaman Sabrang, pedang pusaka terkuat itu terlihat retak dibeberapa bagian.


"Apa paman sudah tau letak mereka menyimpan tubuh dewa Kumari kandam?"


Wardhana mengangguk, "Mereka menyebutnya ruang kehidupan, tak jauh dari sini ada sebuah bangunan yang cukup besar, sepertinya di sana letak ruang kehidupan."


Sabrang langsung memerintahkan Wijaya untuk mencari tim Lingga dan mengarahkannya ke ruang kehidupan, sementara Wardhana menjelaskan rencananya untuk menyerang ruang kehidupan.


"Hanya tersisa tiga dewa penjaga Masalembo dan satu komandannya, aku ingin kalian semua bergerak sesuai rencanaku. Kita tak bisa mengalahkan mereka seorang diri, butuh kerjasama tim.


Wukir Sagara Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera) pernah kugunakan saat melawan iblis petarung di Dieng dan cukup berhasil dengan para pendekar seadanya.


Semua bergerak atas komando Candrakurama, sedangkan Arung, nona Tungga dewi akan menjadi penyerang inti saat yang lainnya bergerak. Tugas berat ada pada anda nona Mantari, Anda akan bergerak persis saat melawan Iblis petarung. Segel bayangan anda kunci strategiku kali ini namun yang harus anda ingat Dewa Masalembo jauh lebih kuat dari Iblis petarung jadi berhati hatilah."


"Baik tuan," jawab Mentari kemudian.


"Yang mulia," ucap Wardhana menunggu perintah.


"Baik, hancurkan dulu dewa Kumari kandam baru kita cari dimana mereka menyembunyikan para pemimpin dunia. Tugas paman akan sangat berat kali ini," Sabrang menoleh kearah Wardhana.


"Hamba akan temukan dimana mereka menyembunyikan para pemimpin dunia dengan segala kekuatan yang hamba miliki."


"Bagus, kita pergi," ucap Sabrang.


"Pantas saja tubuh anak ini mampu menerima energiku, ternyata dia keturunan Arjuna. Akan sangat menarik melihat darah Arjuna bersatu dengan trah Dwipa dalam tubuhnya," ucap Eyang wesi bersemangat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih atas dukungannya setelah sebelumnya PNA berhasil masuk 8 besar... Masih ditunggu Votenya jika kalian merasa cerita ini makin menarik.....


Sekali lagi terima kasih.....


Oh ya ada satu pengumuman lagi....


Begitu besarnya antusias terhadap Pedang Naga Api membuat saya tertarik untuk membuat Spinoff perjalanan Wardhana sampai sebelum hancurnya Malwageni.


Cerita kali ini akan menitikberatkan pada Wardhana dan Arya Dwipa, tentu dengan sedikit kepingan misteri khas Naga api yang membantu kalian menemukan hubungan Trah Dwipa dengan Masalembo yang tidak dijelaskan detail di PNA...


Jangan takut terbengkalai ya karena cerita pendek ini akan langsung tamat dan paling banyak mungkin hanya 20 Chapter...


Cerita ini akan terbit di Mangatoon / Noveltoon.


Bagaimana Arya dwipa menemukan Sekar pitaloka yang merupakan keturunan Arjuna? apa rencana Arya dwipa pada Sabrang? dan mengapa dia tidak ingin bersatu dengan Anom seperti Sabrang saat ini?

__ADS_1


Ditunggu ya misteri khas Naga Apinya...


__ADS_2