
Sebuah ruangan berukuran cukup besar dengan corak emas dengan gambar gambar aneh menyambut Wardhana saat pintu batu itu terbuka sepenuhnya. Dia begitu takjub dengan ruangan yang sepertinya di bangun dengan perhitungan yang sangat matang.
(Ilustrasi ruang rahasia di teras dasar Kuil Khayangan : Foto asli : Ruang rahasia Piramida mesir)
Tak ada tanda tanda kelembaban yang terjadi di dalam ruangan itu seperti yang sering dia temukan di tempat lainnya, sirkulasi udara yang entah dari arah mana begitu sempurna sehingga mampu menjaga suhu ruangan walau jarang di buka.
Wardhana melangkah mendekati salah satu dinding gua dan menyentuhnya perlahan.
"Ruangan ini mampu menjaga suhunya sendiri," ucap Wardhana takjub.
Hanggareksa yang berjalan di belakang Wardhana tampak terkejut, ruangan kosong yang didalamnya hanya terdapat beberapa kursi dari batu dan sebuah meja kayu melingkar tidak sesuai dengan bayangannya selama ini.
"Ruangan ini kosong? kemana hilangnya semua peninggalan peradaban terlarang itu?" tanya Hanggareksa bingung karena tidak sesuai dengan cerita Ajidarma.
Ajidarma memang sering bercerita pada para pendekar Kalang bahwa ruang rahasia itu dipenuhi dengan peninggalan peradaban terlarang dan harus di lindungi dari orang orang dunia persilatan yang serakah.
Akan sangat berbahaya jika pusaka dan kitab sejenis Sabdo Loji jatuh ke tangan para pendekar dunia persilatan seperti yang terjadi pada Mandala.
"Peninggalan? sejak awal ruangan ini kosong dan Ajidarma tau itu, dia hanya menggunakan cerita tentang ruangan penuh peninggalan peradaban terlarang untuk memanfaatkan kalian. Dia hanya tidak ingin kuil yang menyimpan jalan rahasia menuju peradaban terlarang di ketahui banyak orang dan kalian lah yang secara tidak langsung menjauhkan dunia persilatan dari tempat ini.
Tempat ini jelas hanya sebuah ruang persembunyian terakhir jika terjadi sesuatu pada mereka, apalah peradaban maju seperti mereka akan membangun gerbang rahasia menuju peradabannya di tempat yang mudah di temukan?" balas Wardhana sambil tersenyum mengejek.
"Orang tua sialan itu harus menerima akibatnya!" umpat Hanggareksa kesal.
"Jadi kita hanya perlu mencari gerbang rahasia itu, paman?" tanya Sabrang pelan.
"Hamba sebenarnya sudah tau di mana gerbang rahasia itu berada Yang mulia tapi ada sesuatu yang membuat hamba khawatir," balas Wardhana pelan.
"Khawatir?" tanya Sabrang bingung.
"Semua bangunan peninggalan peradaban terlarang masih dalam kondisi bagus, itu artinya tempat ini ditinggalkan tanpa ada pertarungan atau pertempuran apapun, lalu apa yang memaksa mereka harus pergi dari tempat yang dengan susah payah dibangun ini?" jawab Wardhana bingung.
"Jadi menurutmu ada sesuatu yang mengharuskan mereka pergi dari tempat ini?" tanya Hanggareksa cepat.
"Benar, dan mungkin sesuatu yang lebih menakutkan dari peperangan," balas Wardhana pelan sambil melangkah ke sudut ruangan lainnya.
"Lemuria?" ucap Wardhana sambil mengernyitkan dahinya.
"Lemuria?" Sabrang yang sedang memperhatikan gambar di dinding lainnya menoleh kearah Wardhana.
"Sepertinya itu nama peradaban mereka Yang mulia," Wardhana memperhatikan gambar di dinding yang seolah bercerita bagaimana peradaban Lemuria sangat maju sebelum hilang oleh sesuatu.
"Gambar ini seperti menjelaskan bagaimana ilmu pengetahuan dan kanuragan mereka sangat tinggi, jika perkiraan hamba benar gerbang rahasia yang kita cari adalah jalan menuju tempat ini," Wardhana menunjuk gambar sebuah tempat dengan bangunan menjulang tinggi dan di kelilingi sungai besar yang cukup besar.
"Sistem perairan mereka begitu sempurna, sungai sungai ini sepertinya berfungsi untuk mengontrol ketinggian air sekaligus sumber kehidupan mereka," lanjut Wardhana menjelaskan sambil menunjuk gambar sungai sungai kecil yang ada di dalam kota yang di dominasi warna hijau itu.
"Lemuria? aku belum pernah mendengar nama itu," ucap Hanggareksa bingung.
"Wajar anda tidak pernah mendengarnya, melihat struktur bangunan kuil Khayangan dan pintu rahasia yang disembunyikan di suatu tempat sepertinya mereka memang tidak ingin diketahui orang lain," balas Wardhana cepat.
"Jika memang mereka tidak ingin diketahui, kenapa membangun kuil khayangan yang suatu saat akan ditemukan oleh orang lain?" kejar Hanggareksa.
"Aku masih belum mengerti tapi pasti ada alasannya," jawab Wardhana singkat. Dia mengeluarkan gulungan dari balik pakaian dan mulai menyalin gambar gambar itu.
Cukup banyak informasi yang dia dapatkan di ruangan itu tentang Bangsa Lemuria termasuk kehidupan mereka yang sebenarnya tidak suka peperangan. Itu terlihat dari gambar kota yang lebih banyak menggambarkan lahan perkebunan dari pada tempat latihan.
Namun satu yang belum bisa dipahami oleh Wardhana, sebuah gambar aneh yang berada di pusat kota.
Gambar sebuah bangunan dengan corak merah dan dikelilingi api membara tampak sangat mencolok diantara bangunan hijau lainnya.
Puluhan gambar manusia tampak mengelilingi bangunan itu sambil berlutut, mereka seperti sedang melakukan persembahan pada sesuatu.
"Api?" ucap Wardhana dalam hati sambil menoleh kearah Sabrang yang masih sibuk mengamati gambar dinding gua bersama Cokro.
"Kau juga merasakannya bukan? gambar api ini sangat mirip dengan Naga Api, apa mungkin ada kaitannya?" bisik Hanggareksa.
Wardhana terdiam, walau ingin membantah namun yang dikatakan Hanggareksa benar. Gambar api yang mengelilingi bangunan itu begitu mirip dengan kobaran api yang biasa menyelimuti tubuh Sabrang dalam pertarungan.
"Aku belum bisa menjawabnya tapi kemungkinan itu kecil. Jika itu adalah Naga Api, bagaimana mungkin dia tidak ingat tentang peradaban Lemuria. Kau harus berhati hati dengan ucapanmu," balas Wardhana pelan.
"Bisa saja dia berpura pura tidak mengingat atau mungkin ada sesuatu yang sedang direncanakan Naga Api," balas Hanggareksa cepat.
"Maksudmu Naga Api memiliki ambisi? jangan bercanda, ruh pedang seperti mereka tidak mungkin memiliki itu. Pusaka akan menjadi jahat atau baik semua tergantung penggunanya, mereka hanya memanfaatkan keserakahan penggunanya untuk bersenang senang dan bertarung.
Apa kau pernah mendengar sebuah ruh pedang merencanakan sesuatu untuk menguasai dunia persilatan? mereka hanya mengerti bertarung sampai tuannya hancur dan akan terus seperti itu," jawab Wardhana.
"Kau benar...mungkin aku salah, tapi tak ada yang lebih mirip dari gambar itu selain Naga Api dan kau tidak bisa membuang kemungkinan itu hanya karena dia rajamu," balas Hanggareksa sambil melangkah ke sudut ruang lainnya.
"Pasti ada penjelasan untuk gambar Naga Api ini," ucap Wardhana dalam hati.
"Apa terjadi sesuatu paman?" tanya Sabrang penasaran, dia sempat melihat Hanggareksa berbisik sesuatu pada Wardhana.
__ADS_1
"Ah, tidak Yang mulia," jawab Wardhana cepat sambil mengalihkan pembicaraan dan menunjukkan gambar lainnya.
"Hamba merasa ada yang aneh dengan tempat ini Yang mulia, melihat dinding ruangan yang kering menandakan suhu udara di sini terjaga dengan baik dan itu artinya ada sirkulasi udara di ruangan ini tapi selama kita berada di sini tidak ada sedikitpun angin yang berhembus," ucap Wardhana melanjutkan.
"Apa mungkin udara masuk dari pintu keluar itu?" balas Sabrang pelan.
"Hamba sudah memeriksa pintu itu sebelum kita masuk, tidak ada celah sama sekali Yang mulia," jawab Wardhana cepat.
"Tidak ada celah sama sekali di ruangan ini dan itu artinya siapapun yang terkurung ditempat ini akan mati perlahan." Ajidarma tiba tiba muncul di pintu keluar sambil tersenyum sinis.
"Tuan Agung?" Hanggareksa tersentak kaget saat melihat Ajidarma berdiri tegak di depan pintu batu itu dengan kedua kaki yang sempurna.
Wardhana tak kalah terkejut, saat pertama kali datang ke kuil Khayangan diapun yakin salah satu kaki Ajidarma memang putus.
"Bagaimana mungkin?" ucapnya pelan.
"Hanggareksa, apa kau lupa dengan sumpah setia padaku?" bentak Ajidarma kesal.
"Sumpah? kau telah membohongi kami selama ini dengan berpura pura lumpuh, apa kau pikir aku akan setia pada orang sepertimu?" balas Hanggareksa cepat.
"Kau sama saja seperti adikmu, kalian terlalu ingin tau urusanku. Aku sudah menganggap kalian sebagai anakku sendiri, seharusnya kita tidak berakhir seperti ini," Ajidarma menggeleng pelan sambil tangan kanannya menggeser sesuatu di dinding.
"Gawat! dia ingin mengurung kita di tempat ini," Wardhana tampak berlari kearah pintu keluar sebelum tiba tiba tubuh Sabrang sudah berada di hadapan Ajidarma.
Saat Sabrang berusaha melepaskan jurus tapak es utara tiba tiba tekanan aura yang meluap dari tubuh Ajidarma mendorong tubuhnya mundur.
Tubuh Wardhana bahkan terpental dan membentur dinding gua.
"Tuan," Cokro berlari kearah Wardhana yang tergeletak di tanah.
"Sial, tenaga dalam macam apa ini, energi Naga Api bahkan tak mampu menahan efek tekanannya," Sabrang menggunakan Ajian inti Lebur saketi untuk menekan balik dan bergerak menyerang.
Gesekan dua kekuatan besar sempat menggetarkan gua itu, Ajidarma terlihat terkejut setelah melihat kekuatan Sabrang.
Namun saat Sabrang hampir mencengkram leher Ajidarma, pintu batu itu sudah tertutup sepenuhnya dan mengurung mereka semua.
"Sial," umpat Sabrang sambil mengeluarkan pedang Naga Api.
"Mundur," teriak Sabrang sebelum melepaskan jurus pedang pemusnah raga untuk menghancurkan pintu batu itu.
Ledakan besar disertai percikan api terdengar akibat benturan pedang Naga api dengan pintu batu itu namun anehnya tidak ada goresan sedikitpun di pintu itu.
Sabrang terus mencoba beberapa kali namun hasilnya sama, tidak ada goresan sedikitpun.
"Yang mulia, sebaiknya hentikan serangan anda, sejak awal aku merasa kuil ini dibangun bukan dengan batu biasa," ucap Wardhana sambil mencoba bangkit.
"Bukan batu biasa?" Sabrang menoleh kearah Wardhana.
"Sepertinya ini berhubungan dengan terbentuknya danau purba ini," ucap Wardhana pelan.
"Batu langit," jawab Hanggareksa pelan.
"Batu langit?" balas Sabrang semakin bingung.
"Menurut tuan Agung, di salah satu kitab sabdo Loji menjelaskan tentang pembuatan kuil ini. Menurut kitab itu, danau ini terbentuk secara alami karena benturan batu besar yang jatuh dari langit yang membuat lubang yang sangat besar. Sepertinya batu itulah yang digunakan peradaban terlarang untuk membangun kuil ini," jawab Hanggareksa.
"Pantas saja aku merasa danau ini bentuknya tidak beraturan, jadi itu sebabnya," sahut Wardhana.
Sabrang memasukkan kembali pedang Naga Api kedalam tubuhnya sambil mengangguk mengerti.
"Pantas saja pedangku tidak bisa menghancurkannya," ucap Sabrang pelan.
"Sepertinya kita akan mati di sini, tak kusangka selama ini kami melindungi orang yang salah," Hanggareksa tertawa keras.
"Arda Sukma berusaha menyembunyikan kitab itu dengan nyawanya karena mungkin menemukan petunjuk gerbang rahasia itu dan kau dengan mudahnya menyerah?" balas Wardhana sinis.
"Kau harusnya yang paling mengerti jika ada yang bisa menghancurkan pintu itu maka anak itu dengan kekuatan Naga Apinya lah orangnya tapi kau lihat sendiri bukan, bahkan batu itu tidak tergores sedikitpun," ucap Hanggareksa lirih.
"Kini aku mengerti mengapa adikmu lebih memilih menanggungnya sendiri daripada menceritakan padamu," Wardhana berjalan ke salah satu dinding gua.
"Apa katamu? lalu apa bedanya denganmu yang hanya pintar berandai andai," Hanggareksa yang tersulut emosinya berusaha mencabut pedangnya, namun gerakan Sabrang lebih cepat.
Dia sudah berada di dekat Hanggareksa sambil menahan gagang pedang yang hampir keluar dari sarungnya dengan tangan kanan.
"Kau!" Hanggareksa mengalirkan tenaga dalam untuk mencabut pedang itu namun tidak berhasil, pedang itu bahkan perlahan masuk kembali akibat dorongan tenaga Sabrang.
"Tenaga dalamnya terus meningkat," ucap Hanggareksa terkejut.
"Sebaiknya kakek tenangkan diri, jangan sampai kita saling bunuh dalam situasi seperti ini," ucap Sabrang sedikit mengancam.
Cokro yang melihat kekuatan Sabrang tampak menelan ludahnya, dia berjalan mendekati Hanggareksa hati hati.
"Yang dikatakan tuan ini benar ketua, dalam situasi seperti ini kita sebaiknya bekerja sama," ucap Cokro sambil mengatur nafasnya yang mulai tidak teratur, aura yang masih meluap dari tubuh Sabrang seperti meremukkan tulangnya perlahan.
__ADS_1
Hanggareksa akhirnya menarik kembali energinya dan melepaskan tangannya dari gagang pedang.
"Baik, lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Hanggareksa pada Wardhana.
"Tempat ini jelas di bangun sebagai benteng pertahanan terakhir jika terjadi sesuatu pada peradaban Lemuria jadi tidak mungkin mereka berniat mati di tempat ini. Aku yakin ada jalan keluar lain andai pintu itu rusak karena berusaha di buka dari luar," jawab Wardhana pelan sambil meraba dinding gua.
"Jalan keluar lain? sudah jelas dinding ruangan ini tidak ada celah sama sekali bagaimana mungkin ada jalan lain," balas Hanggareksa masih tidak percaya.
"Lalu bagaimana kau menjelaskan suhu ruangan yang tetap terjaga ini tanpa ada udara masuk? kau lihat sendiri pintu itu tertutup rapat, aku hanya perlu mencari dari mana dan kapan udara itu masuk ke ruangan ini."
Wardhana yang terus berkeliling sambil meraba dinding ruangan tiba tiba menghentikan langkahnya saat mencium sesuatu.
"Bunga Wijaya kusuma?" ucapnya saat mengenali wangi bunga itu.
"Wijaya Kusuma?" tanya Sabrang cepat.
"Walau hanya sesaat, hamba yakin tadi mencium aroma bunga Wijaya Kusuma Yang mulia, itu artinya ada celah di dinding ini," jawab Wardhana cepat.
"Mengapa aroma bunga itu cepat sekali menghilang, apa ada sesuatu yang menghalangi udara dari luar? tapi dimana celah itu," ucap Wardhana dalam hati.
Wardhana kembali merasakan sedikit angin berhembus beberapa kali namun kali ini Sabrang dan yang lainnya ikut merasakan hembusan angin walau lemah.
"Jangan jangan...." Wardhana mulai mengingat kembali beberapa keanehan di kuil khayangan.
"Maaf Yang mulia, bisakah anda memunculkan api dari tubuh anda?" pinta Wardhana tiba tiba.
Sabrang mengangguk pelan sambil mengalirkan energi Naga api di tangannya sebelum kobaran api menyelimuti lengan kanan Sabrang.
Cukup lama Wardhana menatap kobaran api itu sebelum bergerak gerak seperti terkena angin. Dia menoleh kearah dinding di sisi kanannya dan menyentuhnya dengan cepat.
"Udara itu dari sini," ucap Wardhana sambil memperhatikan dinding itu.
"Angin ini jadi lebih sering berhembus? mengapa saat kami masuk tidak ada angin sama sekali?" ucapnya bingung.
"Bersiaplah, kita akan keluar dari tempat ini tidak lama lagi," ucap Sabrang pada Hanggareksa.
"Kau terlalu yakin nak, dia bahkan belum menemukan apapun," balas Hanggareksa.
"Sangat jarang melihat wajah paman seperti itu tapi jika kita sudah melihatnya tak akan ada misteri apapun yang mampu menghalanginya, aku pastikan itu," balas Sabrang sambil tersenyum.
"Tuan, apakah danau ini akan surut di waktu waktu tertentu?" tanya Wardhana tiba tiba.
"Bagaimana kau tau?" Hanggareksa tampak terkejut sebelum melanjutkan ucapannya. "Kuil khayangan di bangun dengan perhitungan yang sangat rumit di atas danau ini termasuk sistem pembuangan air jika terjadi banjir dari lereng bukit menoreh dan setumbu ataupun luapan dari mata air yang ada di dasar danau.
Ada sebuah celah pembuangan air yang menuju sungai di dekat bukit Menoreh dan kami biasanya membuka gerbang celah air itu setiap sore untuk mengurangi jumlah Air."
"Benar dugaanku, jalan rahasia ruangan ini sepertinya menuju jalan pembuangan air danau dan jika aku benar maka kunci pintu rahasia itu akan terbuka jika bersentuhan dengan air," Wardhana mengeluarkan wadah air minum yang terselip di pinggangnya dan menyiramkan pada dinding yang tadi mengeluarkan angin itu.
Tak lama setelah Wardhana menyiramkan air itu, sebuah keajaiban seolah terjadi, dinding berwarna emas itu seperti berubah warna untuk beberapa saat sebelum kembali seperti semula.
"Tipuan kecil," Wardhana menyentuh dinding yang tadi sempat berubah warna dan menekannya kuat.
Saat Wardhana melepaskan tekanannya tiba tiba di sisi berlawanan, dinding ruangan bergetar sebelum terbelah menjadi dua.
"Jalan keluar," ucap Sabrang pada Hanggareksa sambil menunjuk dinding gua yang telah terbuka.
"Dia jauh lebih pintar dari Sukma," ucap Hanggareksa dalam hati.
(Ilustrasi jalan rahasia yang dibuka Wardhana. Foto Asli : Jalan menuju salah satu ruangan di piramida Mesir)
Sebuah tangga dari tumpukan kayu tampak menjulang turun kebawah, membuat siapapun yang melihatnya akan bergidik.
"Hamba akan memeriksanya lebih dulu Yang mulia," ucap Wardhana tiba tiba.
"Tidak paman, aku takut tangga ini sudah rapuh, biarkan aku yang mencobanya lebih dulu," Sabrang melangkahkan kakinya ke tangga itu perlahan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Peradaban Lemuria
Lemuria konon hidup jauh sebelum Atlantis muncul dan banyak para ahli yang memperkirakan Lemuria berada di Indonesia.
Gagasan bahwa Benua Lemuria terlebih dahulu eksis dibanding peradaban Atlantis dan Mesir Kuno dapat kita peroleh penjelasannya dari sebuah karya Augustus Le Plongeon (1826-1908), seorang peneliti dan penulis pada abad ke-19 yang mengadakan penelitian terhadap situs-situs purbakala peninggalan Bangsa Maya di Yucatan.
Informasi tersebut diperoleh setelah keberhasilannya menterjemahkan beberapa lembaran catatan kuno peninggalan Bangsa Maya.
Dari hasil terjemahan, diperoleh beberapa informasi yang menunjukkan hasil bahwa Bangsa Lemuria memang berusia lebih tua daripada peradaban nenek moyang mereka (Atlantis).
Sumber : Google
Sekali lagi, benar atau tidaknya letak Lemuria berada di Nusantara jangan menjadi perdebatan karena sampai saat ini semua pendapat ahli hanya perkiraan.
__ADS_1
PNA hanya sebuah cerita Fantasi belaka, jadi mari nikmati tanpa ada perdebatan.
Author : Nikmatin sih nikmatin jangan lupa pencet tombol VOTE juga dong