Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Senyum Bahagia Mentari


__ADS_3

Emmy mengernyitkan dahinya saat membuka pintu kamarnya dan menemukan Tungga dewi sudah berdiri dihadapannya.


"Apa kalian berjaga semalaman didepan kamarku?" Emmy melirik kearah Mentari yang terlihat berjalan menjauh namun sudah terlanjur terlihat.


"Aku hanya mengantarkannya yang ingin menemuimu" ucap Mentari sambil berjalan mendekat.


"Mengantarku? siapa yang kemarin berkata ingin membunuh seseorang?" balas Tungga dewi sinis.


Emmy menggeleng pelan melihat tingkah dua gadis cantik dihadapannya. Dia melangkah keluar tanpa memperdulikan kehadiran mereka.


"Kalian benar benar bodoh" ucap Emmy pelan.


"Tunggu" Tungga dewi menyilangkan pedang dihadapan Emmy.


"Apa kau sebegitu ingin bertarung denganku?" Emmy menatap Tungga dewi tajam.


Mentari yang terlihat tenang mencoba menengahi namun Tungga dewi sudah terbawa emosi.


"Apa kalian akan bertarung ditempatku?" bentak Mantili tiba tiba.


"Ah tidak bi, kami hanya sedang bicara" ucap Tungga dewi sambil menyarungkan kembali pedangnya.


"Bicara? dengan pedang terhunus?" sindir Mantili.


"Anda salah paham bi, kami bermaksud....." Mentari tidak melanjutkan ucapannya saat tangan kanan Mantili memberi tanda untuk diam.


"Kalian bertiga ikut aku" ucap Mantili sambil melangkah kesebuah ruangan.


Setelah memasuki ruang makan sekte Tapak es utara, Mantili meminta salah satu muridnya untuk membawakan beberapa makanan untuk tiga gadis itu.


Dia sedikit banyak mengetahui jika pusat permusuhan mereka bertiga adalah keponakannya.


Mantili memejamkan matanya sesaat sebelum melepaskan aura dari tubuhnya.


"Makanlah dulu setelah itu kalian bicarakan baik baik perselisihan diantara kalian dan aku tidak ingin mendengar ada keributan apapun! Mengerti?" ancam Mantili.


Tiga gadis itu mengangguk cepat sambil memakan makanan yang telah disediakan.


"Siapa namamu kemarin?" tanya Mentari dingin setelah Mantili meninggalkan ruang makan.


"Emmy" jawab gadis itu singkat.


"Apa hubunganmu dengan pangeran?" kejar Tungga dewi.


Emmy terlihat berfikir sejenak "Hubungan kami sangat dekat bahkan dia pernah menyentuh tubuhku" ucap Emmy polos, dia kembali teringat saat pertama bertemu Sabrang dan hampir membunuhnya dan secara tidak sengaja Sabrang menyentuh tubuh sensitifnya.


"Dia menyentuhmu?" Tungga dewi mengepalkan tangannya menahan emosi.


Emmy mengangguk pelan sambil menatap Mentari yang dari tadi hanya diam. Mentari memang bukan tipe seperti Tungga dewi yang meledak ledak. Emmy sengaja mengatakan itu karena ingin melihat reaksi Mentari.


"Hei kau mau meracuni kita semua?" ucap Tungga dewi setelah melihat racun mawar hitam terlihat meluap dari tubuh Mentari.


"Kita buat kesepakatan" ucap Mentari tiba tiba.

__ADS_1


"Kesepakatan?" ucap Emmy dan Tungga dewi berbarengan.


***


Seorang pemuda berpakaian aneh tampak tersenyum diatas sebuah pohon sambil memainkan pisau kecil ditangannya.


Dia terlihat begitu menikmati pembantaian yang dilakukan Sabrang.


"Kuakui tuan Adipatimu diluar rencanaku, Kecerdikannya sangat mengejutkanku namun sepertinya semua sudah kembali kejalur yang seharunya. Kalian adalah pion pion kecil demi membangkitkannya, teruslah bergerak sesuai rencanaku. Ini baru awal dari sebuah rencana besar dan kalianlah yang akan menyempurnakan rencanaku" Pemuda misterius itu meremas pisau itu sampai hancur menjadi debu. Dia melesat pergi dengan senyum penuh kemenangan.


***


"Apa Kertasura ditemukan?" tanya Wardhana saat melihat Arung merawat luka Lingga.


Arung menggeleng pelan "Aku sudah menelurusi gua ini namun tak menemukan siapapun kecuali mayat para pendekar Iblis hitam".


Wardhana mengangguk pelan sambil mendekati Sabrang yang sedang bersila memulihkan tenaganya.


"Yang mulia, sebaiknya kita kembali sepertinya dia telah pergi". ucap Wardhana pelan.


"Dia? jadi pemuda itu ada disini?" Sabrang membuka matanya.


Wardhana mengangguk "Sesuai dugaanku dia mengamati kita sejak awal, aku menyadarinya saat menemukan beberapa ranting pohon yang patah, melihat dari bekas patahannya itu baru terjadi beberapa saat sebelum kedatangan kita. Aku yakin dia memastikan rencananya berhasil dan mengamati dari suatu tempat".


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Arung pelan.


"Sehari sebelum kita menyerang ke gua ini aku sudah meminta Ciha memasang segel udara disekitar sini untuk mendeteksi musuh. Segel udara adalah salah satu segel yang paling sulit dideteksi oleh pendekar tangguh sekalipun karena menyatu dengan udara. Kita hanya perlu menunggu laporan Ciha apakah segelnya mendeteksi sesuatu".


"Anda benar benar telah merencanakan semua ini dengan matang tuan" ucap Arung kagum.


***


Ciha tampak gelisah sambil berjalan kesana kemari didepan gerbang Tapak es utara. Wajahnya sedikit lega saat melihat Wardhana dan yang lainnya dari kejauhan.


"Wajahmu mengatakan ada hal buruk yang akan kau sampaikan?" ucap Wardhana sambil tersenyum kecut.


Ciha mengangguk pelan sambil mengajaknya keruangan yang biasa mereka gunakan.


Wardhana meminta ijin pada Sabrang terlebih dahulu sebelum mengikuti Ciha.


Sabrang terlihat menarik nafas panjang sambil menggerak gerakan tubuhnya yang sedikit sakit. Mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya saat pertarungan tadi membuat tubuhnya terasa sakit.


"Sebaiknya aku menemui Mentari, beberapa masalah belakangan ini membuatku belum bisa menemuinya sejak kembali ke Jawata. Beristirahatlah untuk memulihkan tenaga kalian" ucap Sabrang pada Arung dan Lingga sebelum melangkah pergi.


Sabrang menghentikan langkahnya saat melihat seorang wanita sedang berlatih ilmu pedang dihalaman belakang.


Sabrang mengernyitkan dahinya saat melihat jurus pedang yang dimainkan wanita itu, dia merasa belum pernah melihat jurus pedang itu.


"Sepertinya aku belum pernah melihat jurus itu" ucap Sabrang sambil mendekati wanita itu.


Mentari langsung menghentikan latihannya saat mendengar suara yang sangat dikenalnya.


"Tuan muda, anda sudah kembali?" Mentari menundukkan kepalanya memberi hormat. Bau anyir darah masih tercium ditubuh Sabrang walaupun dia sudah membersihkannya.

__ADS_1


"Ikut denganku sebentar" ucap Sabrang sambil menggandeng tangan Mentari.


Mereka berhenti disebuah danau kecil yang berada dibelakang sekte Tapak es utara. Sabrang duduk disebuah batu didekat danau diikuti Mentari yang duduk disebelahnya.


"Aku telah membunuh ratusan pendekar Iblis hitam untuk membalas kematian ayah namun tidak merasa puas saat melihat ratusan mayat disekitarku" ucap Sabrang lirih.


"Anda jangan terlalu menyalahkan diri sendiri tuan muda, aku mungkin akan melakukan hal yang sama jika berada diposisi anda".


"Begitu ya". Sabrang terlihat mengambil sebuah kalung emas disakunya yang dia dapatkan di Wentira dan menyerahkannya pada Mentari.


"Pakailah, hanya ini yang bisa kuberikan padamu. Aku masih harus pergi mencari beberapa rumah para dewa lainnya, kuharap kalung itu bisa menggantikanku selama aku pergi".


"Tuan muda ini...." ucap Mentari ragu.


"Berbaliklah, biar aku pakaikan". ucap Sabrang sambil mengambil kembali kalung itu dan memakaikannya.


Jantung Mentari berdegup kencang saat lengan Sabrang merangkulnya untuk memakaikan kalung itu. Wajah cantiknya memerah dan bibir kecilnya tersenyum bahagia.


"Anda harus tetap menjaga kesehatan tuan muda, pedang kadang bisa merubah anda menjadi orang lain yang tidak kukenal" ucap Mentari pelan.


"Begitu ya" Sabrang tersenyum kecut.


"Mendekatlah" ucap Sabrang tiba tiba.


"Biarkan aku mengistirahatkan tubuhku sejenak" Sabrang meletakkan kepalanya dipundak Mentari. "Tubuhku terasa sangat lelah".


Mentari hanya terdiam sambil menatap danau kecil dihadapannya, dia benar benar tidak ingin waktu cepat berlalu untuk saat ini.


"Apa jurus pedang tadi ciptaanmu?" tanya Sabrang.


Mentari mengangguk pelan "Jurus pedang embun perusak hati" jawab Mentari.


"Perusak hati? apa tidak ada nama yang lebih baik?".


Mentari tersenyum kecil mendengar pertanyaan pemuda yang sangat dicintainya itu. Dia tidak mungkin mengatakan jika dia menciptakan jurus pedang itu saat hatinya dibakar api cemburu pada Sabrang.


"Terima kasih tuan muda" ucap Mentari pada Sabrang.


"Tuan muda?" Mentari kembali memanggil karena tidak mendapat jawaban dari Sabrang.


Dia menoleh kearah pemuda yang sudah tertidur lelap dipundaknya. Mentari terlihat sedikit ragu sebelum tangannya terlihat membelai rambut yang masih bau anyir darah itu.


"Terima kasih tuan muda, anda sudah mengembalikan hatiku seperti semula. Aku akan melakukan apapun untuk mendukung semua ambisi anda walau nyawa taruhannya". gumam Mentari.


Senyum Mentari merekah sore itu sambil menggenggam kalung emas bertuliskan Wentira yang ada dilehernya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bagi yang ingin mendukung Author bisa mengunjungi


https://karyakarsa.com/ Rickypakec


hapus spasi didepan huruf R

__ADS_1


Terima kasih.....


__ADS_2