Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kekuatan Sekte Lembah Tengkorak II


__ADS_3

Lingga kembali menyerang Waranggana dengan pedangnya, kali ini dia menggunakan hampir seluruh tenaga dalamnya. Lingga cukup yakin kecepatannya tidak terlalu jauh dari Waranggana namun entah kenapa pedang Waranggana terasa lebih cepat saat menebas lawannya.


Keduanya kembali bertukar jurus dengan sangat cepat, dalam beberapa tarikan nafas mereka telah bertukar puluhan jurus.


Suara dentingan logam beradu terdengar sangat keras di udara. Lingga terlihat unggul dalam pengalaman bertarung sehingga refleknya terlihat lebih halus namun Waranggana yang unggul sedikit dalam kecepatan memanfaatkannya untuk terus menekan Lingga.


"Semua yang kau lakukan sia sia saja, kuakui kau lebih unggul dalam pengalaman bertarung namun itu tidak akan bisa menutupi perbedaan kemampuan yang sangat besar di antara kita". Waranggana tersenyum congkak sebelum dia kembali meningkatkan kecepatannyan dan menekan Lingga.


Beberapa saat kemudian mulai terlihat Lingga kembali terpojok, serangan Jurus miliknya dapat dipatahkan semua oleh Waranggana.


"Pedang petir Kegelapan". Waranggana mengayunkan pedangnya dengan cepat.


"Kau terlalu terburu buru, jarak pedangmu terlalu jauh dariku". Lingga memutuskan melompat mundur untuk menghindari serangan namun tiba tiba tubuhnya tersayat pedang Waranggana.


"Bagaimana bisa? Pedang itu seperti memanjang". Lingga terpental beberapa langkah dan terjatuh di tanah.


"Kau sudah tau rasanya putus asa?". Waranggana tertawa lantang.


Wajah Lingga mengeras menahan amarahnya "Pedang itu benar benar merepotkan jika bisa memanjang sendiri, aku harus memastikannya".


"Apa yang dilakukannya? jika terus begitu dia akan benar benar kalah". Sabrang sesekali melirik kearah Lingga yang terus terdesak.


"Bukan saatnya kau mengkhawatirkan orang lain bukan?". Tinju paku jagat milik Sakuta menghancurkan perisai es dan membuat Sabrang terdorong mundur.


"Tuan Muda". Mentari berusaha membantunya namun delapan pendekar Lembah tengkorak terus menekannya.


"Gunakan Tiupan angin neraka nak". Keris di tangan Sabrang terlihat ingin melepaskan diri dari tangan Sabrang namun Sabrang menahannya.


"Jika ku gunakan jurus itu di sini, Mentari juga akan ikut terluka". Sabrang kembali menghindar setelah Sakuta melesat cepat kearahnya dengan pedang yang telah dialiri tenaga dalam.


Sabrang merapatkan giginya menerima serangan yang terarah padanya. Setiap serangan Sakuta semakin lama semakin kuat.


"Dasar bodoh, buat apa kau mengkhawatirkannya, dia bahkan lebih kuat darimu, pikirikan saja musuh yang ada dihadapanmu". Ucap Naga api tiba tiba.


Sabrang sedikit terkejut mendengar Naga api membentaknya, pikirannya kembali terfokus pada pertarungannya. Dia menoleh kearah Lingga yang sedang bertarung kemudian kearah Mentari yang mulai bisa mengimbangi serangan pendekar Lembah tengkorak.


Sabrang terlihat tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya, dia menyadari ada yang salah dengan sikapnya selama ini. Sejak kekuatannya meningkat pesat ditambah keris penguasa kegelapan berada ditangannya dia mulai kehilangan kepercayaan pada orang disekitarnya. Dia menganggap jika hanya dia yang bisa melindungi orang orang terdekatnya tanpa melihat jika orang sekitarnya ikut berkembang pesat.

__ADS_1


Sabrang mengumpat dalam hati, bagaimana dia bisa mengkhawatirkan Lingga yang kekuatannya saat ini jauh diatasnya. Begitu juga Mentari yang mulai meningkat ilmu kanuragannya seiring makin sering mereka bertarung. Setiap pendekar mempunyai cara sendiri membaca pertarungan dan memenangkan pertarungan.


"Aku terlalu sombong untuk mengakui jika banyak yang lebih kuat dariku". Sabrang tersenyum kecil sambil melihat Lingga bertarung.


"Terima kasih Naga api, kau membuatku sadar begitu bodoh pikiranku selama ini". Sabrang mulai menggunakan Energi bumi untuk mengimbangi kecepatan Sakuta yang dari tadi menekannya. Konsentrasinya telah kembali dan mempercayakan pertarungan lain pada dua orang disekitarnya.


Naga api terlihat menyeringai menatap Sabrang "Sekarang cepat hancurkan mereka, bagaimana kau berfikir memasuki Dieng jika dengan lawan begitu saja kau terlihat terdesak".


Sabrang mengangguk pelan sebelum melepaskan aura yang lebih besar dari tubuhnya.


"Auranya terlihat berbeda dari yang pertama kurasakan, apa yang terjadi padanya". Sakuta memutuskan menjaga jarak setelah mendapat tekanan aura yang sangat besar.


"Anak itu selalu membuatku terkejut". Lingga tersenyum sesaat sebelum meningkatkan kecepatannya.


"Jika perkiraanku benar seharunya pedang itu akan kembali memanjang". Lingga terus melepaskan tapak peregang sukmanya kearah Waranggana.


"Percuma kau menyerangku dengan membabi buta seperti itu, hasilnya akan sama". Waranggana menghilang dari pandangan dan muncul diatas Lingga dan mengayunkan pedangnya dengan cepat.


Lingga terlihat tersenyum sebelum tubuhnya kembali terhempas terkena serangan Waranggana.


Waranggana sempat melihat senyum terbentuk di bibir Lingga saat menyerangnya. Bulu kuduknya sedikit berdiri setelah melihat senyum itu. Senyum penuh kepercayaan diri itu selalu membuatnya muak.


Tubuhnya kembali bergerak menyerang Lingga Maheswara yang sedang mengalirkan tenaga dalamnya.


Suara keras benturan logam semakin sering terdengar menandakan mereka terus meningkatkan kecepatannya. Waranggana jelas lebih cepat dari Lingga namun pengalaman yang dimiliki Lingga membuatnya dapat menutupi kekurangannya.


"Akan kuhancurkan kau sebelum aku membunuh Kertasura". Waranggana kembali mengayunkan pedang andalannya namun kali ini reaksi Lingga lebih cepat beberapa detik sebelum dia mengayunkan pedangnya.


Lingga muncul tepat disisi kiri Waranggana dengan tangan diselimuti aura hitam.


Waranggana tersentak kaget melihat reaksi Lingga yang begitu cepat. Dia mencoba menghindar namun tapak peregang sukma lebih dulu menghantam tubuhnya membuatnya terjatuh beberapa meter di tanah.


Untuk pertama kalinya raut wajah Waranggana terlihat buruk.


"Kau! Bagaimana bisa.....". Waranggana batuk darah, Tapak peregang sukma benar benar menghantam tubuhnya dengan keras.


"Aku masih memaklumimu jika kau bermimpi membunuhku namun membunuh ketua ku? Kau terlalu berlebihan dengan kemampuanmu saat ini".

__ADS_1


Lingga melesat cepat menyerang Waranggana tanpa memberi kesempatan untuk bernafas.


Pertarungan pedang tingkat tinggi kembali terjadi antara dua pendekar beda generasi ini. Perlahan Lingga bisa memanfaatkan pengalamannya untuk menekan Waranggana. Terlihat reflek yang ditunjukan Lingga mampu menghindari serangan Waranggana dan sesekali serangannya mengenai Waranggana cukup telak.


Amarah di wajah Waranggana semakin terlihat, kini dia hanya berfikir untuk terus menyerang tanpa memperhatikan pertahanannya.


"Kau beruntung untuk pertama kalinya merasakan jurus baruku". Lingga memutar tubuhnya sambil mengayunkan pedang ditangannya.


"Pedang tunggal terbang kelangit". Pedang Lingga berputar makin cepat kearah Waranggana namun saat Waranggana mencoba menangkisnya gerakan pedang Lingga berubah berkali kali.


Waranggana memutuskan melindungi tubuhya dengan tenaga dalam setelah merasa sulit membaca gerakan pedang Lingga.


Saat dia ingin menjaga jarak tiba tiba tubuhnya terasa perih saat sebuah tebasan meluncur cepat tanpa bisa dia hindari.


Luka sayatan cukup besar mengaga dipunggungnya.


"Gerakan pedangnya berubah setiap detiknya". Waranggana menatap Lingga dengan wajah ketakutan. Untuk pertama kalinya dia merasa putus asa.


"Pengalaman bertarung dan insting membaca gerakan lawan tak akan bisa kau dapatkan dari Lembah siluman. Pedang pusakamu kuakui cukup merepotkan karena bisa memanjang sesuai dengan tenaga dalam yang kau alirkan namun mataku telah melihat ribuan jurus dari lawan yang pernah kuhadapi". Lingga menghunuskan pedangnya ke arah Waranggana.


"Kini saatnya melenyapkan Lembah tengkorak untuk selamanya".


"Kau akan mati". Waranggana merapal sebuah jurus yang membuat Lingga mengernyitkan dahinya.


"Tenaga dalamnya meningkat pesat? Bagaimana orang yang sudah terluka memiliki tenaga dalam sebesar itu?".


"Ajian pembakar sukma, jurus yang sangat merepotkan". Sabrang berbicara setelah melumpuhkan Sakuta dengan keris penguasa kegelapan.


Tubuh Sakurta tersungkur ke tanah dengan luka yang cukup parah.


"Bagaimana dia bisa bergerak secepat itu, bahkan aku tidak bisa bereaksi walau bisa membaca arah serangannya". Sakuta menatap sesosok tubuh dengan kobaran api menyelimuti tubuhnya dengan ngeri.


Melihat Waranggana mulai menggunakan Ajian pembakar sukma, Sakuta dan pendekar lainnya yang tersisa memutuskan menggunakan ajian yang sama. tak lama tenaga dalam meluap keluar dari tubuhnya.


"Ajian pembakar sukma? sejak kapan ajian itu muncul kembali di dunia persilatan?" Lingga mengernyitkan dahinya. Sepengetahuannya ajian terlarang itu telah lama hilang bersama pemiliknya yang terbunuh oleh Pendekar dalam legenda.


"Aku tidak tau namun saat ini kita menghadapi musuh dengan tenaga dalam yang sangat besar dan tidak mempunyai pikiran lain kecuali bertarung sampai tubuhnya hancur". Sabrang menggeleng pelan sebelum memanggil Naga api.

__ADS_1


Keris penguasa kegelapan kembali menjadi aura hitam dan masuk ketubuhnya berganti dengan Pedang Naga api yang perlahan keluar dari sarungnya dan berputar diudara sebelum menancap di tanah tepat dihadapannya.


"Habisi dengan cepat atau kau akan menghabiskan tenaga dalamu sia sia". Sabrang mencabut pedangnya dan mulai bergerak kearah Sakuta.


__ADS_2