
Umbara menatap daratan yang dulu pernah di kunjungi nya, Umbara memejamkan matanya sambil tersenyum kecut kala mengenang saat itu.
Dia tak akan pernah lupa pertarungannya bersama Prabaya yang hampir menghilangkan nyawanya. Tangannya menggenggam erat pisau yang selalu berada ditangan kanannya, amarahnya selalu memuncak jika mengingat kejadian saat itu.
"Kali ini akan kupastikan kepalamu terpenggal di tanganku" gumam Umbara dalam hati.
"Tuan" salah satu pendekar Masalembo terlihat mendekatinya.
"Bawa dua orang untuk mengamati situasi di danau warna warni, aku akan singgah terlebih dahulu di sekte kelelawar penghisap darah untuk menyusun rencana selanjutnya karena lawan kita kali ini bukan hanya pengguna Naga api itu". ucap Umbara sambil mengarahkan lengannya ke kapal yang bersandar tak jauh darinya. Beberapa saat kemudian kapal besar itu hilang seketika.
"Baik tuan". ucap Bena sopan.
Saat Umbara bicara terlihat pendekar lainnya hanya diam dan mengikuti semuanya karena sadar sosok dihadapannya itu bukan orang sembarangan.
Umbara yang merupakan salah satu dari sembilan dewa penjaga Masalembo memang terkenal paling kejam diantara dewa penjaga lainnya. Dia tak segan membunuh anggotanya jika melakukan kesalahan dan membahayakan empat orang yang mereka sebut penguasa dunia.
Bena dan dua pendekar lainnya langsung melesat kearah markas sekte Api dan angin sesuai perintah Umbara.
"Kita pergi" ucap Umbara memberi perintah pada anggotanya.
Berbeda dengan sekte Elang langit yang tak mau tunduk pada Umbara karena ambisi mereka yang besar, Kelelawar penghisap darah rela tunduk demi ilmu kanuragan yang dijanjikan Masalembo. Melalui merekalah Umbara bisa mengetahui perkembangan dunia persilatan di Hujung tanah termasuk mengawasi pergerakan sekte Api dan angin.
Sekte kelelawar penghisap darah menjadikan hutan Paloh yang terletak di pedalaman dan diselimuti kabut sepanjang waktu sebagai markasnya.
Tak mudah menembus hutan Paloh karena selain kabut tebal yang bisa menyesatkan siapapun yang datang, hutan ini dilindungi oleh puluhan jebakan alam berupa rawa dan lumpur penghisap.
Amurti, yang merupakan wakil ketua Kelelawar penghisap darah tampak menyambut Umbara dan rombongan di perbatasan hutan Paloh.
"Selamat datang kembali tuan, ketua mengirimku untuk menjemput anda". ucap Amurti sopan.
"Apa kalian sudah mempersiapkan semua yang kuminta?" tanya Umbara dingin.
"Semua sudah siap tuan namun jika aku boleh tau untuk apa anda meminta mengumpulkan seluruh pendekar sekte kami tuan?".
"Kita akan menyerang sekte Api dan angin, sudah saatnya aku mengambil sesuatu yang tersembunyi ditempat itu".
***
Setelah meminum ramuan yang diberikan Mentari, rasa mual akibat mabuk laut yang selama ini dirasakan Sabrang mulai menghilang.
Sabrang melangkah keluar dan berdiri di dek kapal, dia memandang sebuah daratan yang mulai terlihat walau masih sangat kecil.
"Anda baik baik saja Yang mulia?" suara Mentari mengagetkan Sabrang.
Sabrang mengangguk pelan sambil menunjuk sebuah daratan yang terlihat.
"Itu adalah tujuan terakhir kita, semua jawaban atas apa yang kita cari selama ini sepertinya ada di sana. Jangan pergi terlalu jauh dariku, kita tidak tau apa yang akan kita hadapi di sana".
"Baik yang mulia". jawab Mentari sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Ketika kapal mulai mendekat, puluhan orang tampak muncul dari dalam hutan dan menyambut mereka.
Sabrang tersenyum kecut sambil menatap puluhan orang yang menyambutnya. Dia sadar mereka bukan berniat menyambut baik baik.
"Panggil paman Wardhana dan yang lainnya, katakan pada Arung untuk tidak membawa kapal ke tepian terlebih dahulu. Aku takut kapal ini akan hancur jika diserang mereka" ucap Sabrang pelan.
Tanpa menunggu jawaban Mentari, Sabrang melompat turun walau kapal masi cukup jauh dari daratan.
Dia terlihat melayang di udara sebelum kedua kakinya mulai diselimuti bongkahan es.
Ketika telapak kaki Sabrang menyentuh air, tiba tiba air disekitarnya membeku dengan cepat sampai kepinggir daratan.
Mahawira bersama puluhan pendekar sekte Api dan angin tampak takjub dengan ilmu kanuragan yang diperlihatkan Sabrang.
Hawa dingin yang pekat tampak meluap dari tubuh Sabrang.
"Bagaimana dia memiliki tenaga dalam sebesar ini?" gumam Mahawira dalam hati.
Dia sadar, untuk menciptakan hawa dingin sedikit saja akan membutuhkan tenaga dalam yang tidak sedikit, dan orang yang ada dihadapannya itu mampu membekukan hampir separuh pantai.
Mentari yang hendak membantu Sabrang dan melompat turun ditahan oleh Arung.
"Kita lihat dulu keadaannya" ucap Arung pelan.
Kedua lengan Mentari tampak sudah diselimuti es dan bersiap menyerang namun dia memutuskan mengikuti ucapan Arung.
Sabrang menghentikan langkahnya tepat dihadapan Mahawira.
"Bukankah harusnya aku yang bertanya, untuk apa kau datang kemari?", balas Mahawira.
"Kami datang hanya ingin memastikan sesuatu, jika itu mengganggu kalian aku mohon maaf namun kurasa tidak harus mengepung dengan senjata terhunus seperti itu bukan?", Sabrang mulai melepaskan aura ditubuhnya untuk menekan Mahawira.
"Memastikan sesuatu? Paraton?", jawab Mahawira sinis.
Sabrang mengernyitkan dahinya setelah mendengar ucapan Mahawira.
"Kalian salah paham, bukan Paraton yang sedang kukejar namun sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari kitab itu".
"Sesuatu yang jauh lebih berbahaya?" Mahawira mengernyitkan dahinya.
"Jika kau ingin bicara maka perintahkan orang orang mu untuk menurunkan pedangnya namun jika kalian ingin bertarung aku tak akan sungkan lagi".
Mahawira tampak diam namun tidak mengendurkan sedikitpun kewaspadaannya, dia sebenarnya diperintahkan gurunya untuk mengawasi kapal misterius yang dia lihat sebelumnya namun entah kenapa kapal itu lenyap tak berbekas.
Saat dia akan pergi tiba tiba kapal Sabrang muncul dari kejauhan.
"Apa kau pikir aku akan mempercayaimu begitu saja?" tanya Mahawira sinis.
"Kau sepertinya salah paham, aku tak pernah memintamu mempercayaiku. Aku hanya memberimu pilihan, kau mau bicara baik baik atau kuhancurkan", Mata bulan Sabrang mulai bersinar seiring dengan kobaran api yang menyelimuti tubuhnya.
__ADS_1
Air yang tadi membeku akibat jurus dewa es abadi kini mencair dengan cepat akibat hawa panas yang keluar dari tubuh Sabrang. Sabrang tampak berdiri di atas air sambil memainkan anom ditangan kanannya.
"Kekuatannya jauh di atas kakang Kurama, sekuat inikah pengguna Naga api?", Mahawira memberi tanda yang lainnya untuk bersiap, Dia takut jika Sabrang tiba tiba menyerang.
"Sepertinya kalian memang tidak bisa diajak bicara baik baik", ucap Sabrang sesaat sebelum tubuhnya menghilang dan muncul didekat ditengah pasukan yang dibawa Mahawira.
"Jurus menghilang?". Wira mencoba menyerang saat dua pendekar Api dan Angin roboh ditangan Sabrang namun Mata bulan sudah membaca gerakannya.
Sabrang merubah gerakan pedangnya sedikit sambil menarik Anom dengan tangan kirinya dan menyerang dua pendekar lainnya yang berusaha membantu Wira.
Sabrang mengayunkan pedangnya kearah Mahawira sambil terus menciptakan energi keris untuk memperlambat gerak Mahawira.
Beberapa pendekar lain yang berniat membantu harus sedikit menjauh karena Mentari sudah ada dihadapan mereka dengan pedangnya.
"Berani menyentuhnya, kupastikan kalian mati di tanganku", Mentari melepaskan beberapa jurus Embun perusak hati untuk menjauhkan mereka dari Sabrang.
Mahawira terlihat mulai terdesak, dia kalah segala hal dari Sabrang. Walaupun beberapa kali dia berhasil menyerang balik namun itu karena Sabrang yang memancingnya mendekat.
Mahawira bukan tidak sadar Sabrang terus memancingnya masuk namun dia juga tidak punya pilihan selain menyerang jika ada kesempatan, terus bertahan dari serangan mematikan seperi itu adalah tindakan bunuh diri.
Ketika Mahawira mulai terpancing, kobaran api ditubuh Sabrang tiba tiba menghilang. Dia melempar beberapa energi keris dan bergerak mendekat.
Sabrang mencengkram lengan Mahawira dan memutar tubuhnya.
Bongkahan es mulai menyelimuti tubuh Mahawira dengan cepat membuatnya tak bisa bergerak.
Tiba tiba sebuah energi keris muncul di udara dan melesat kearah wajahnya.
"Apa aku akan berakhir disini?", ucapnya ketakutan.
Saat Mahawira sudah merasa bahwa ini akhir hidupnya, tiba tiba Sabrang menangkap keris itu tepat sebelum melubangi kepala Mahawira.
"Aku bisa membunuhmu kapanpun jika aku mau, Apa kau pikir aku masih memerlukan kepercayaanmu?".
Sabrang menarik seluruh energinya saat Mentari berhasil melumpuhkan lawannya.
"Ayo kita pergi" perintah Sabrang pada Wardhana dan yang lainnya.
"Kenapa kau tidak membunuhku?" tanya Mahawira tiba tiba.
Sabrang menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Mahawira.
"Aku akan membunuh jika aku ingin, tak ada yang bisa mengatur hidupku termasuk dirimu".
Sabrang kembali melangkahkan kakinya bersama yang lainnya namun Mahawira kembali bicara.
"Aku akan mengantar kalian menemui guru, mungkin dia bisa membantumu", ucap Mahawira.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
PNA kemungkinan Update 1 kali hari ini namun jika sempat saya akan update lagi malam...