Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Tanah Para Dewa I


__ADS_3

Sabrang menghentikan langkahnya saat Ciha merapal sebuah segel di pinggir jurang lembah tanpa dasar. Dia kembali teringat beberapa waktu lalu saat terjatuh di lembah tanpa dasar.


"Jadi segel itu yang menyembunyikan jembatannya ya?". Gumam Sabrang dalam hati.


"Tuan muda...". Panggilan Mentari membuyarkan lamunan Sabrang. Sabrang melangkah kearah jembatan, beberapa kali dia menoleh kedasar sungai yang sangat gelap.


"Jika dipikir lagi aku beruntung saat itu". Sabrang bergidik ngeri menatap dasar jurang yang sangat gelap.


"Aku sempat berfikir kau adalah monster saat kau selamat setelah jatuh kedasar jurang itu". Ucap Ciha seolah mengerti lamunan Sabrang.


"Lalu bagaiman kau sendiri bisa selamat? bukankah kaupun jatuh ke jurang ini?". Tanya Sabrang.


"Segel yang akan kau pelajari itu yang menyelamatkanku. Segel pelindung adalah sebuah segel yang ditemukan oleh tuan Birawa untuk melindungi tubuh kita dari serangan. Bagi kami yang tidak memiliki ilmu kanuragan itu sangat membantu jika suatu saat kami diserang musuh".


"Apakah masih sempat mempelajari segel itu? bukankah beberapa hari lagi gerbang itu akan terbuka".


"Kau tenang saja, segel pelindung sedikit berbeda dengan segel lainnya. Kalian cukup membuat perjanjian dengan batu merah pelindung maka batu itu akan memberikan auranya untuk melindungi tubuh kalian".


"Batu merah pelindung?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Konon batu merah pelindung berasal dari lembah merah Dieng, tuan Panca memberikan pada kami saat meminta bantuan bintang langit untuk menyembunyikan Dieng".


Sabrang mengangguk pelan, Sabrang merasa semua keanehan keanehan yang terjadi di dunia persilatan berasal dari Dieng.


"Kita sudah sampai, ayo masuk ketua sudah menunggu". Ciha bergegas masuk aula utama sekte bintang langit.


Sabrang berpapasan dengan Lingga yang baru keluar dari ruangan.


"Kau lambat sekali". Ucap Lingga dingin.


"Aku memerlukan persiapan yang tidak sebentar untuk menghancurkan Lembah siluman". Ucap Sabrang singkat.


Sabrang memasuki ruangan bersama Mentari dan disambut langsung oleh Birawa. Setelah sedikit berbasa basi birawa mengeluarkan sebuah batu berwarna merah dari kotak kayu dan meletakkannya di meja.


"Sedikit berbeda dengan udara diluar sini, di dalam Dieng terdapat kabut beracun yang bisa datang kapan saja. Kalian membutuhkan segel pelindung untuk tubuh kalian. Selain itu ada aura biru di gerbang pertama yang kami sebut sebagai Iblis pelumpuh. Aku tidak tau dari mana asal aura itu namun jika aura itu berhasil masuk ketubuh kalian maka selama beberapa hari kalian tak akan bisa bergerak dan segel pelindunglah yang akan melindungi kalian". Birawa menjelaskan mengenai segel pelindung.


"Apakah tempat itu selalu diselimuti kabut beracun?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Tidak selalu namun beberapa kali aku masuk kabut itu selalu menyambutku".


"Teteskan darah kalian di batu ini". Ciha membimbing Mentari dan Sabrang meneteskan darahnya.


"Saat aura batu ini menyelimuti tubuh kalian mungkin akan terasa sedikit panas awalnya namu itu hanya sementara. Prinsip segel ini mungkin sama dengan tenaga dalam, kalian bisa menggunakannya dengan merapal Mantranya".


Tak lama setelah mereka meneteskan darahnya aura berwarnah kuning meluap dari batu itu dan menyelimuti tubuh Mentari dan Sabrang.


Berbeda dengan aura di tubuh Mentari yang langsung meresap masuk ketubuhnya aura ditubuh Sabrang terlihat berputar cepat seolah ada yang menahannya untuk masuk.


Birawa mengernyitkan dahinya, dia benar benar tak mengerti mengapa tubuh Sabrang seperti menolaknya.


"Ada sesuatu dalam tubuh anak itu yang menolak segel pelindung". Ucap Birawa bingung.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan?". Sabrang bertanya pada Anom dan Naga api.


"Tubuhmu yang menolaknya nak". Ucap Anom heran.


Tak lama aura itu kembali masuk kedalam batu dengan cepat. Terlihat beberapa ratakan kecil di batu merah pelindung.


"Apa yang terjadi ketua?". Ciha bertanya bingung.


Birawa menggeleng pelan "Aku tidak tau, tubuh anak ini menolak segel pelindung". Birawa terus memperhatikan tubuh Sabrang.


"Boleh kuperiksa tanganmu nak?".


Sabrang mengangguk dan mengulurkan tangannya. Birawa menyentuh pergelangan tangan Sabrang dan memeriksa urat nadinya.


"Kau? bagaimana bisa?". Birawa tersentak kaget setelah memeriksa Sabrang.


"Ada yang salah dengan tubuhku?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


Birawa menggeleng pelan "Ti... tidak sepertinya aku salah. Bagaimana kau memiliki struktur tubuh suku Iblis petarung". Ucap Birawa terbata bata.


Sabrang makin bingung dengan ucapan Birawa, namun tidak dengan Mentari. Dia sudah mendengar tentang suku iblis petarung dari Rakiti. Tangannya terlihat menyentuh bungkusan yang dia selipkan di pakaiannya.


"Sepertinya kau tidak membutuhkan segel pelindung untuk masuk ke Dieng nak". Ucap Birawa pelan.


Sabrang masih bingung dengan keadannnya namun dia memutuskan tak bertanya lebih lanjut.


"Kami akan berangkat besok pagi ketua, terima kasih untuk semuanya". Sabrang menundukan kepalanya memberi hormat diikuti Mentari beberapa saat kemudian.


"Apakah anda yakin tidak salah memeriksa ketua?". Ciha bertanya setelah Sabrang meninggalkan ruangan.


"Aku tidak mungkin salah, Aku tidak mungkin salah". Birawa mengulang ucapannya berkali kali.


"Kau pernah mengatakan bisa membaca aksara Palawa bukan?". Birawa bertanya pelan pada Ciha.


Ciha mengangguk heran "Saat kami terjatuh di Lembah tanpa dasar kami menemukan aksara Palawa di dinding gua".


"Aku ingin kau ikut anak itu masuk Dieng dan membantunya menterjemahkan batu tulis di sana. Aku yakin semua pertanyaanku akan terjawab disana. Berhati hatilah, jika perkiraanku benar kau sedang berjalan bersama iblis terkuat yang bisa bangkit sewaktu waktu". Birawa menelan ludahnya.


"Baik ketua". Ucap Ciha singkat.


***


Suliwa terlihat memasuki sebuah penginapan bersama Wulan sari.


Wulan sari meminta pelayan untuk membawakan beberapa makanan hangat sebelum melangkah kearah Suliwa yang sudah memilih kursi kosong satu satunya yang tersedia dipenginapan itu.


Suasana oenginapan memang lebih ramai dari biasanya. Beberapa pendekar terlihat sedang menyantap makanannya.


Tak lama seorang pelayan mengantarkan makanan yang dipesan Wulan sari.


"Apakah tempat ini selalu ramai dikunjungi nona?". Suliwa bertanya pada pelayan yang sedang menyuguhkan makanan.

__ADS_1


"Ah tidak juga tuan, tempat ini sedikit terpencil jadi hanya beberapa pendekar yang kebetulan lewat sini saja yg sering menginap namun beberapa hari ini memang banyak pendekar lewat sini tuan". Pelayan itu menundukan kepalanya.


"Mereka semua menuju Dieng, ini sangat aneh". Ucap Suliwa pelan.


"Maksud anda?". Wulan sari mengernyitkan dahinya.


"Jika tujuan mereka adalah Dieng bagaimana mereka mengetahui tempat itu? sepertinya ada yang tidak beres".


Wulan sari tampak mengangguk menyetujui ucapan Suliwa. Mereka terlihat bukan dari sekte besar, beberapa orang dikenali Wulan sari dari sekte racun selatan. Walaupun pada masanya Racun selatan adalah salah satu sekte yang ditakuti namun saat ini mereka mengalami kemerosotan tajam.


"Apa tidak sebaiknya kita meminta bantuan? jika benar mereka menuju ke Dieng akan sangat merepotkan jika harus berhadapan dengan musuh sebanyak ini".


Suliwa menggeleng pelan, tidak setuju dengan rencana Wulan sari.


"Anda pasti masih mengingat ucapanku jika aku mencurigai salah satu ketua sekte aliran putih adalah pendekar Lembah siluman. Kita tidak tau siapa penyusup itu, aku tidak mau mengambil resiko kita salah meminta bantuan. Untuk saaat ini Kertasura dan Sabrang yang bisa kita percaya. Semoga dia bisa sampai tepat waktu". Suliwa menghela nafasnya panjang.


Untuk saat ini mau tidak mau mereka bergantung pada Sabrang karena hanya dia dan Kertasura yang dapat mengimbangi Lembah siluman saat ini.


"Semoga anak itu cepat menyusul". Ucap Suliwa dalam hati sambil memperhatikan pendekar yang ada disekelilingnya.


***


Raut wajah Sabrang tiba tiba berubah saat melihat Lingga menunggunya dipinggir jurang bersama Ciha.


"Kenapa harus pergi bersamanya sih". Sabrang bersingut melihat Lingga yang menatapnya datar.


"Bukankah beberapa waktu lalu kita juga berjalan bersamanya saat mencari Sekte bintang langit?. Mentari menatap Sabrang heran.


"Orangnya terlalu kaku". Jawab Sabrang singkat.


Mentari tertawa mendengar alasan Sabrang, dia merasa sebenarnya mereka berdua bisa menjadi sepasang pendekar yang ditakuti di dunia persilatan jika bersatu namun entah kenapa dua orang ini seperti saling membenci satu sama lain.


"Lalu kenapa kau ikut dengan kami? Bukankah kalian dilarang keluar sekte oleh tuan Birawa?". Sabrang menatap Ciha yang tersenyum padanya.


"Kau akan menemukan banyak aksara Palawa di sana, jika bukan aku yang membacanya bagaimana kalian mengerti artinya?". Ucap Ciha bersiap.


"Ayo kita pergi, membutuhkan waktu sehari perjalanan menuju Tebing bukit kelam". Ciha melangkahkan kakinya dijembatan putih yang terbentang didepannya.


"Jika kau menjadi beban saat di Dieng jangan salahkan aku membunuhmu". Lingga berjalan mengikuti Ciha.


"Kau menasehati dirimu sendiri?". Sabrang tersenyum sinis.


"Kau!". Lingga memutar tubuhnya dan siap menyerang Sabrang.


Saat mereka hendak merapal jurus masing masing tiba tiba Mentari mengeluarkan dua buah bunga mawar merah dari sakunya.


Aura biru keluar dari bunga itu menandakan jika bunga itu beracun.


"Lupakan". Ucap Sabrang dan Lingga hampir bersamaan setelah melihat bunga beracun itu berada di tangan Mentari.


Mentari tersenyum kecil sambil memasukan kembali bunga itu kedalam sakunya.

__ADS_1


__ADS_2