Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Jebakan Wardhana


__ADS_3

Singgih mematung di dalam kamarnya, pikirannya melayang entah kemana, tak lama pintu kamarnya diketuk seseorang.


"Masuk" Dia bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati pintu. Jinggo dan beberapa pendekar berpakaian serba hitam masuk kedalam kamarnya.


"Apa persiapannya sudah matang?" Singgih bertanya pelan.


"Anda bisa mengandalkanku tuan" Jinggo tersenyum lebar.


"Besok adalah puncak acaranya, aku harap semua berjalan sesuai rencana tuan" Suara pelan singgih menggambarkan kekhawatiran yang besar dalam dirinya.


"Anda tidak perlu khawatir, semua akan berjalan sesuai rencana" Jinggo meyakinkan Singgih.


"Semoga tuan". Singgih memandang langit malam dari kamarnya. Entah kenapa semua terasa begitu mudah baginya, dia merasa ada yang sedikit janggal yang mengganggu pikirannya namun dia belum mengetahui apa itu.


Pikirannya kembali saat berbicara dengan Wardhana, entah kenapa sorot mata Wardhana begitu yakin dan tak ada sedikitpun rasa takut.


"Bagaiman dengan mahapatih?".


"Aku tidak bisa membaca pikirannya, namun sepertinya dia tidak menyadarinya".


"Bagus jika demikian semua sesuai rencana awal kita". Jinggo pamit dan melangkah keluar kamar namun saat dirinya tepat berada di depan pintu dia menoleh kearah Singgih.


"Anda tenang saja beberapa pendekar Iblis hitam sudah berada di sekitar sini". Jinggo menenangkan Singgih seolah mengerti kekhawatiran yang dirasakan Singgih.


***


Jaladara memasuki Aula utama dengan dikawal lima orang berseragam putih dan memakai topeng.


Semua yang melihatnya seolah menahan nafas, mereka mengenali seragam pasukan yang mengawal Jaladara.


Pasukan Topeng Galah adalah pasukan tempur elit milik Saung Galah. Dengan jumlah sekitar 1000 prajurit pasukan Topeng galah termasuk pasukan paling ditakuti. Selain menguasai ahli strategi dan pedang Pasukan topeng galah juga menguasai ilmu kanuragan yang cukup tinggi.


"Bahkan tuan patih membawa pasukan topeng galah" perasaan Singgih makin tak karuan. dia menatap Jinggo yang tak jauh darinya yang juga menatap Jaladara.


"Pastikan semua berjalan lancar, perketat penjagaan di Penjara" Singgih berbisik pada prajuritnya.


"Baik tuan".


****


Semua terpukau menyaksikan pertunjukan tari Pedang yang ditampilkan kecuali Singgih.


Dia terlihat sedikit gelisah dan sesekali menatap Jinggo.


"Kau mendidik pasukanmu dengan baik" Jaladara menoleh ke arah Singgih yang duduk disebelahnya.


"Ah sebenarnya mereka adalah penari keliling yang sering tampil di beberapa acaraku tuan Patih".

__ADS_1


"Namun sepertinya perawakan mereka tidak seperti penari" Jaladara mengernyitkan dahinya.


Tiba tiba saat pertunjukan sedang berlangsung dua orang penari melesat cepat ke arah Jaladara duduk dan menghunuskan pedangnya.


Seketika dua orang Pasukan topeng galah melesat menangkis pedang yang terarah pada Jaladara.


Dua penari tersebut terpental menerima serangan Pasukan Topeng Galah. Tiga prajurit lainnya siaga mengelilingi Jaladara dengan pedang terhunus.


Puluhan orang dalam ruangan berlarian menyelamatkan diri melihat patih Galadara diserang. keadaan ruangan seketika kacau akibat keributan tersebut.


"Siapa kalian? berani sekali menyerang tuan Patih?" Singgih bangkit dan langsung menyerang penari tersebut.


Jaladara masih bersikap tenang, dia menatap Prajurit Topeng galah yang ada disampingnya.


"Kami siap mati demi Malwageni" Seorang penari berteriak sebelum menyerang Singgih.


Dalam hitungan detik penari tersebut mati di tangan Singgih.


Singgih kemudian berlutut dihadapan Jaladara membuat Jaladara mengernyitkan dahinya. Pasukan topeng galah tetap dalam posisi siaga walaupun para penyerang tadi sudah tewas di tangan Singgih.


"Hamba pantas mati tuan patih, kami lalai sehingga penyusup Malwageni hampir menyerang tuan Patih".


Galadara seketika murka dan memerintahkan pasukannya untuk membunuh siapa saja yang mencurigakan.


Harga dirinya sebagai Mahapatih terkoyak karena kejadian ini.


Empat orang Pasukan topeng galah melesat menyerang beberapa penari tersisa yang sedang bertarung dengan pasukan Kadipaten Ligung.


Tiba tiba entah datang dari mana puluhan pendekar berpakaian hitam dengan penutup wajah menyerang masuk Aula pertemuan.


Mereka menyerang pasukan Ligung maupun prajurit Topeng galah.


"Hati hati Tuan patih sepertinya mereka adalah gerombolan pemberontak Malwageni, berani sekali kalian mencari masalah dengan Saung galah" Singgih bersiap melindungi Galadara.


Namun tanpa diduga Jinggo dan beberapa pendekar yang mengelilingi Jaladara menyerang cepat ke arah Jaladara.


Singgih mundur perlahan melihat Jaladara diserang tiba tiba.


Jaladara mencabut pedang yang ada di sampingnya dan langsung menangkis serangan mereka.


Namun serangan Jinggo begitu cepat dari arah belakang hampir mengenai Jaladara. Seorang Prajurit topeng galah berhasil mematahkan serangan Jinggo di detik terakhir membuat Jinggo mundur beberapa langkah.


"Siapa kau? kau bukan Prajurit topeng galah?" Seketika raut wajah Jinggo berubah. Serangan yang dia lancarakan adalah serangan mematikan, bagaimana mungkin topeng galah dapat menangkisnya dengan mudah. Dia sudah sangat yakin serangannya tepat mengenai tubuh Jaladara.


Raut wajah Singgih mulai berubah, diapun melihat gerakan prajurit topeng galah begitu cepat.


"Beraninya kalian mencoba mengkambinghitamkan Malwageni" Suara Wijaya terdengar lantang dari balik topeng yang dia kenakan.

__ADS_1


Wijaya memandang sekitarnya dia coba menghitung pendekar berpakaian hitam yang ada disekelilingnya.


"Benar apa yang dikatakan Wardhana, mereka telah masuk ke kadipaten kadipaten Saung galah dan mencoba melemahkan Saung galah dari dalam.


Wijaya kembali teringat percakapannya dengan Wardhana sesaat setelah mereka memukul mundur Pasukan Tangan besi dari Kadipaten Wanajaya


((Percakapan ada di Chapter 55 Pesan Untuk Majasari))


"Jika diizinkan aku mempunyai sebuah rencana untuk memperuncing pertikaian Majasari dan Saung galah tuan patih". Wardhana menoleh kearah Patih Wijaya.


"Apa rencanamu? kau harus berhati hati dan pastikan jangan sampai keterlibatanmu terbaca oleh Saung galah dan Majasari".


Wardhana mengangguk pelan " Hamba akan pastika itu tuan patih".


Wardhana memejamkan matanya sesaat.


"Aku mencium gerakan mencurigakan beberapa Kadipaten di Saung galah. namun belum dapat kupastikan Kadipaten mana yang bermain mata dengan Majasari. Namun ini bisa kita manfaatkan untuk memperuncing hubungan dua Kerajaan ini setelah kejadian di Wanajaya. Jika hubungan mereka semakin panas akan menguntungkan kita untuk melemahkan Majasari".


"Bagaimana kau bisa membuktikan mereka bermain mata? Saung galah tidak akan percaya begitu saja dengan kita".


Aku akan membuat perangkap dengan aku sendiri sebagai umpannya" Wardhana berkata pelan.


Wijaya terkejut mendengar perkataan Wardhana "Aku tidak akan menyetujuinya. terlalu berbahaya untuk dirimu" Wijaya berkata tegas.


"Tuan aku mohon biarkan aku menebus kesalahanku. Dulu aku masuk perangkap jebakan Majasari sehingga kita hancur. ini kesempatan terbaik untuk kita menarik Saung Galah untuk bekerja sama dengan kita" Wardhana berlutut dan memohon pada Wijaya.


Wijaya terdiam sejenak lalu mengangguk pelan "Aku ikuti rencanamu namun jika keadaan tidak terkendali aku akan membatalkan rencanamu dan kita mundur".


"Baik tuan"


"Kau benar benar Ahli siasat terbaik Malwageni Wardhana".


Wijaya melesat menyerang Pendekar berpakaian hitam tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Tuan patih dia penyusup yang mencoba membunuhmu" Singgih berkata keras menunjuk Wijaya yang melesat dengan pakaian Prajurit topeng galah yang dia kenakan".


"Kau meremehkanku Singgih, Tidak ada seekor semutpun bisa menyusup dalam pasukan topeng Galah tanpa seijinku".


Galadara mengarahkan pedangnya pada Singgih dengan tatapan Tajam


***Sekali lagi saya mengharapkan dukungan teman teman semua baik dalam bentuk like maupun Vote 🙏


Kunjungi juga novel ke dua Saya berjudul


"Tentang kita (Komedi Romantis)"


Terima kasih dan semoga sukses selalu untuk kita semua***

__ADS_1


__ADS_2