
Seluruh pasukan Majasari sudah melemparkan pedangnya ke tanah. Ratusan pasukan Saung galah dan angin selatan menghentikan serangannya setelah musuhnya meletakan pedang.
Pedang es Sabrang menempel dileher sang komandan pasukan Majasari.
"Bunuh saja aku, diberikan pengampunan oleh musuhnya merupakan penghinaan tersebar bagi seorang prajurit". prajurit itu berkata pelan.
"Aku tidak mengampunimu, aku hanya melepaskan mu sementara untuk memberi peringatan pada Majasari untuk tidak bertindak sewenang wenang". Sabrang masih menatap tajam prajurit itu.
"Apa bedanya? kau tetap mengasihani kami, kau pikir prajurit Majasari takut mati?".
Sabrang menggeleng pelan sebelum kembali melepaskan aura hitam di tubuhnya. Suasana kembali mencekam dengan keluarnya aura hitam di tubuh Sabrang.
"Kau pikir aku tidak akan membunuhmu? Jika aku mau akan kuberikan kematian yang sangat menyiksa untukmu".
Prajurit itu terdiam dan hampir hilang kesadarannya akibat tekanan tenaga dalam Sabrang.
"Bawa prajuritmu pergi bersama patihmu dari hadapanku sekarang sebelum aku berubah pikiran". Selesal Sabrang berkata demikian prajurit itu bergegas pergi sambil memapah Tunggul umbara yang setengah tubuhnya masih dilapisi es.
Pandangan tajam Tunggul umbara saat berpapasan dengan Sabrang menyiratkan dendam yang sangat besar. Merekapun memutuskan mundur dengan pasukan tersisa sambil menanggung malu. Sebuah kerajaan besar yang terkenal tidak terkalahkan hari ini dipaksa menyerah dengan wajah tertunduk oleh sisa sisa pengikut Arya Dwipa.
Alam seolah mengajarkan jika sekecil apapun kerikil yang menghalangimu suatu saat akan menjadi batu sandungan jika kau terlalu congkak dan meremehkan kerikil tersebut.
Tak lama puluhan pasukan angin selatan serentak melangkah mendekati Sabrang dan berlutut dihadapannya.
"Selamat atas kemenangan hari ini Yang Mulia Raja".
Semua pasukan Saung galah terdiam melihat apa yang dilakukan Restu dan pasukannya, bahkan Mentari secara refleks ikut berlutut.
"Anda akan menjadi Raja yang hebat kelak Yang mulia". Gumamnya dalam hati.
***
"Tuan, ada yang ingin aku sampaikan". Seorang prajurit menghadap Paksi tergesa gesa.
"Apa mereka telah merebut kadipaten Citra jaya? bukankah terlalu lambat bagi pasukan sebesar itu menaklukan sebuah kadipaten kecil?". Paksi berbicara penuh percaya diri.
"Pasukan kita terpukul mundur tuan, hanya beberapa puluh pasukan yang selamat". Prajurit itu berbicara terbata bata.
Bagai tersambar petir, Paksi hampir melompat dari tempat duduknya mendengar kabar kekalahan pasukan Majasari.
"Apa kau bilang? coba katakan sekali lagi!". Paksi berteriak pada prajurit itu.
"Pasukan kita kalah total tuan bahkan tuan patih terluka parah".
__ADS_1
"Ceritakan padaku secara lengkap". Paksi berteriak pada prajuritnya.
Prajurit itu menceritakan secara garis besarnya jika Saung galah telah membaca seluruh rencana Paksi dan bergerak seolah mereka masuk perangkap Paksi.
Tubuh Paksi bergetar hebat, siasat yang dia susun dari jauh hari dengan sangat hati hati dapat dibaca oleh Wardahana yang merupakan muridnya sendiri saat dia masih menjadi ahli siasat Malwageni.
"Kurang ajar kau Wardhana! kau seharusnya kubunuh dari dulu". Paksi merapatkan giginya.
"Kita harus segera pergi ke keraton Majasari tuan, akan sangat berbahaya jika kita tetap di sini".
Paksi menggeleng pelan "Tidak, kepala kita akan menjadi taruhannya jika kita kembali saat ini". Raut wajah Paksi pucat pasi, kepercayaan diri yang selama ini dimilikinya runtuh seketika.
"Kita akan bersembunyi sementara sampai keadaan membaik, bersiaplah kita pergi secepatnya".
"Baik tuan". Saat prajurit itu melangkah keluar terdengar pertarungan dari arah luar.
Paksi dan prajuritnya berjalan cepat melihat kearah sumber keributan.
Terlihat Wijaya dan Kertapati bersama beberapa pasukan angin selatan merengsek masuk kearah Paksi berdiri.
"Bagaimana mereka mengetahui lokasi persembunyianku?". Wajah Paksi makin pucat, sebagai seorang ahli strategi ilmu kanuragannya bisa dibilang tidak ada.
Wijaya menatap Paksi sesaat sebelum kembali melumpuhkan prajurit yang coba menghalanginya.
"Wardhana benar benar mengerikan". Wijaya bergumam dalam hati.
"Bagaimana kau tau Paksi bersembunyi di sana?". Wijaya menatap Wardhana penasaran.
"Jika Paksi membagi dua pasukannya maka untuk memudahkan mereka berhubungan dia akan memilih tempat persembunyian di tengah tengah kedua wilayah itu. Jarak antara keraton Saung galah dan Kadipaten Citra jaya cukup jauh, jika kita bisa tarik garis lurus maka tempat ini yang paling mungkin dia gunakan untuk bersembunyi" Wardhana menggambar beberapa garis dan lingkaran di tanah.
"Kadipaten Wesi brani?".
Wardhana mengangguk pelan "Karakter wilayah Wesi brani sedikit berbukit dan merupakan kadipaten yang paling kuat pasukannya diantara kadipaten lainnya di Saung galah. Anda pernah mendengar istilah tempat persembunyian yang paling aman adalah di wilayah musuh. Tidak akan ada yang mengira Paksi berani bersembunyi di Kadipaten terkuat di Saung galah dan dia memanfaatkan psikologis semua orang untuk bersembunyi.
Jika kita melihat kebiasaannya yang selalu berfikir dipinggir sungai sambil mendengar aliran air maka tempat yang paling cocok untuknya bersembunyi adalah di bukit hitam yang dilalui sungai besar. Aku yakin tuan akan menemukannya jika menyusuri sungai ini".
"Bagaimana kau bisa berfikir sampai sedetail itu?" Wijaya berdecak kagum pada pemikiran Wardhana.
"Untuk mengalahkan musuhmu kamu harus menjadi seperti mereka". Wardhana tersenyum kecil.
***
"Sepertinya kau terburu buru Paksi, sudah lama sejak kita terakhir bertemu". Wijaya menghunuskan pedangnya ke arah Paksi yang hendak melarikan diri.
__ADS_1
"Tak kusangka kau masih hidup Wijaya, kudengar rombonganmu dulu disergap pasukan Majasari saat kau melarikan diri bersama Ratu". Paksi mencoba tenang sambil tersenyum menatap Wijaya.
"Aku tak akan mati sebelum Malwageni kurebut kembali".
Paksi terkekeh mendengar ucapan Wijaya "Kau masih setia pada Malwageni? apa yang telah Malwageni berikan padamu?".
"Prajurit bayaran sepertimu tak akan mengerti arti kesetiaan". Wijaya langsung menyerang dengan cepat membuat Paksi terpojok. Beberapa saat kemudian pedang yang ada digenggaman Paksi terlepas.
Wijaya dengan sigap menempelkan ujung pedangnya di leher Paksi.
"Kau sudah kalah Paksi, menyerahlah atau aku harus bertindak keras padamu". Wijaya menatap tajam Paksi.
"Apakah dia baik baik saja?". Paksi bertanya pada Wijaya.
"Wardhana sangat baik saat ini bahkan dia lebih baik dari saat terakhir kita bertemu. Kau tau paksi, Naga yang tertidur itu kini telah bangun dan siap menghancurkan siapa saja yang menghalanginya.
Kau yang memberinya julukan Naga yang tertidur jadi kau pasti mengerti seberapa besar potensinya jika dia bisa membangkitkan potensinya".
Paksi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut "Siapa yang menyangka keputusanku dulu mengajarinya semua ilmu perang yang kumiliki menjadi senjata makan tuan".
***
"Mau sampai kapan kau melamun nona? Sudah waktunya kita pergi ke keraton Saung galah". Sabrang tiba tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Mentari membuatnya hampir berteriak saking kagetnya.
"Dia masih bodoh seperti biasanya, kukira pikiranku terlalu berlebihan tentang menjadi Raja yang hebat". Mentari mendengus kesal dan memalingkan wajahnya yang mulai merah merona.
"Tuan muda sudah aku katakan.....". Belum selesai Mentari berkata Sabrang sudah memotongnya.
"Racun di tubuhmu bisa melukaiku? Aku sudah bosan mendengar itu. Setelah urusan di Saung galah selesai aku akan membawamu ke Dieng untuk mencari Air kehidupan dan mengobatimu. Wajah murungmu tak akan menyelesaikan masalah, ayo kita pergi kita hampir tertinggal rombongan". Sabrang memegang pergelangan tangan Mentari dan setengah menyeretnya untuk berjalan.
"Tuan muda anda....". Mentari mengernyitkan dahinya melihat tangan Sabrang menyentuh kulitnya namun tidak ada reaksi keracunan pada Sabrang.
"Sudah kubilang tubuhku ini kebal racun, jadi jangan terlalu menjaga jarak dariku".
Mentari terseyum lega mendengar penjelasan Sabrang, setelah dia menguasai jurus ajian lebur sukma tidak ada yang bisa menyentuh kulitnya secara langsung.
"Terima kasih tuan muda". Mentari berjalan cepat di depan Sabrang, dia tidak ingin tangis bahagianya dilihat oleh Sabrang.
"Bukankah kau terlalu berlebihan nak? mau sampai kapan kau menggunakan tenaga dalammu untuk menekan racun mawar hitam saat bersamanya seolah tubuhmu benar benar kebal racun?". Anom bertanya pelan.
"Sampai kita menemukan Air kehidupan dan mengobatinya, bukankah kau sendiri yang mengatakan jika air kehidupan mampu menghilangkan racun di tubuhnya". Ucap Sabrang sambil mengatur nafas dan mengalirkan energi bumi ke seluruh tubuhnya untuk menghilangkan racun yang masuk ketubuhnya.
"Dieng bukan tempat yang bisa kau datangi sesukamu nak".
__ADS_1
"Aku tau Anom, maka aku akan menjadi lebih kuat secepatnya dan mencari penawar racun untuknya. Lagi pula aku harus membuat perjanjian dengan Naga api di gua kabut".
"Kau terlalu bermimpi bocah". Suara Naga api meninggi membuat Sabrang terkekeh mendengarnya.