Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertempuran di Sekte Rajawali Emas


__ADS_3

Saat Lasmini berjalan menuju ruang pertemuan bersama Tungga dewi tiba tiba dia menghentikan langkahnya. Sikapnya menjadi waspada, dia memegang pedangnya. "Aura ini siapapun pemiliknya jelas bukan orang sembarangan".


"Tak kusangka ada pendekar wanita hebat di Sekte ini. Sayang aku harus membinasakan kalian semua" Sesosok tubuh melayang diudara. Auranya sangat menekan Lasmini dan yang ada di sana.


Lasmini mundur beberapa langkah, firasatnya mengatakan orang itu bukan lawan yang bisa di hadapi dengan mudah.


"Larilah nak dia bukan lawan yang mudah dihadapi. Aku akan menghadapinya" Wulan sari berbicara pada Tungga Dewi.


Beberapa detik kemudian ki Barja telah muncul dihadapan Lasmini, belum sempat menghindar pukulan ki Barja telah mendarat di wajah Lasmini. Dia terpental beberapa meter. "Kecepatannya luar biasa" Lasmini bangkit dan mulai menyerang ki Barja.


"Tarian Rajawali tingkat III" serangan Lasmini makin bervariasi, gerakannya meningkat cepat namun ki Barja tetap tenang mengimbangi ilmu Pedang Lasmini.


Puluhan pendekar tiba tiba muncul menyerang Sekte Rajawali Emas. Tungga dewi tak luput dari serangan mereka. Dia mengeluarkan pedangnya menyambut serangan para pendekar miaterius itu.


Sudarta tiba tiba muncul menyerang Ki Barja. Ki Barja mundur beberapa langkah. "Kemampuanmu semakin baik tua bangka" ki Barja kesal kesenangannya diganggu oleh Sudarta.


"Bantulah Dewi biar aku yang menghadapinya". Sudarta langsung menyerang Ki Barja dengan sekuat tenaganya. "Akan ku buat kau menyesal telah mencari masalah dengan Rajawali Emas".


Lasmini bergerak ke arah Tungga dewi yang sedang bertarung dengan beberapa pendekar lainnya. Dia melihat murid lainnya terdesak oleh pendekar aliran hitam.


"Lancang sekali kalian berani menyerang sekte kami" seorang tetua lainnya menyerang kumpulan pendekar aliran hitam. Dia mengayunkan pedangnya dengan sangat lincah membuat para pendekar alirah hitam ciut melihatnya.


Setelah bertukar puluhan jurus, Ki Barja terlihat terdesak oleh Sudarta,nafas nya terputus putus dan mulutnya mengeluarkan darah segar. "Hebat juga kau tua bangka, tidak salah kau disejajarkan dengan sepuluh pendekar terhebat aliran putih". Ki Barja mundur beberapa langkah, dia sadar bukan tandingan Sudarta.


Ki Barja menoleh ke arah Tungga Dewi bertarung, dia kemudian tersenyum licik.


"Jangan harap kau dapat melakukan apa yang kau pikirkan" Aura di tubuh Sudarta makin besar dan menekan semua yang ada di sana. Dia kembali menyerang dengan cepat membuat ki Barja tak sempat mengambil nafas.


Tungga dewi terlihat mundur beberapa langkah sejenak, tenaganya sudah hampir mencapai batasnya. Dia melihat gurunya sedang bertarung dengan beberapa pendekar ahli. Terlihat goresan bekas pedang di tubuhnya.


"Aku harus mengatur nafasku, jika tidak maka stamina ku akan cepat habis". Beberapa pendekar kembali menyerangnya. Dia menggeleng pelan, dia merasa mereka tak ada habisnya.

__ADS_1


Sekte Rajawali Emas kini layaknya medan perang, bau darah dan mayat ada dimana mana. Saat Tungga dewi akan menyerang maju tiba tiba pendekar yang menyerangnya roboh ke tanah.


"Semoga aku tidak terlambat, akan kutuntut balas atas setiap tetes darah Rakyat Malwageni". Seorang pria bertopeng berjalan pelan melewati tumpukan mayat. Lasmini menatap sesaat sebelum melanjutkan pertarungannya. "Semoga dia bukan musuh, habis sudah jika dia adalah lawan saat kondisi kami sudah seperti ini".


"Jurus Pedang Elang Putih" tubuh Wijaya menghilang dari tempatnya. Tak lama kemudian beberapa pendekar aliran putih kembali tumbang meregang nyawa.


Lasmini menatap Wijaya lega, ternyata pendekar itu membantu Rajawali Emas.


Wijaya maju beberapa langkah dan terus menghabisi beberapa pendekar Aliran hitam. Pedangnya seolah haus darah dan terus merenggut nyawa mereka, tak perduli tubuhnya berlumuran darah para pendekar aliran hitam.


Beberapa pendekar lainnya merasa ciut nyalinya melihat kemampuan Wijaya. Ini menjadi celah yang dimanfaatkan Lasmini dan lainnya untuk menyerang mereka.


Wajah ki Barja berubah, dia sadar kini situasi telah berubah. Kedatangan Sudarta dan pendekar bertopeng itu membuat semangat Rajawali emas kembali membara.


"Siapa pria bertopeng itu? Kemampuannya lumayan hebat, harusnya dia sudah mempunyai nama di dunia persilatan tapi aku tak pernah mendengarnya".


"Pedang Tarian Rajawali tingkat V" Sudarta menyerang Ki Barja saat sedang lengah. Hantaman jurus Sudarta mengenai telak ki Barja membuatnya tersungkur beberapa meter jauhnya.


"Lembah Tengkorak tak akan membiarkan ini begitu saja. Kalian akan dihabisi".


Tubuh Sudarta bergerak cepat mendekat, terlihat pedangnya dialiri tenaga dalam yang sangat besar.


"Tarian Rajawali tingkat V".


Seketika tubuh ki Barja tumbang, darah segar mengalir di tubuhnya. Tak berapa lama yang lainnya pun mampu mengatasi perlawanan pendekar aliran hitam.


Tungga dewi menarik nafas panjang, tubuhnya benar benar telah mencapai batasnya. Tiba tiba matanya mulai gelap, tubuhnya ambruk dan dia mulai hilang kesadaran.


..................................


Wijaya mulai membuka topengnya, dia menatap semua yang ada dihadapannya. Terlihat wajah mereka sangat terkejut, bahkan ada yang masih belum percaya dengan apa yang mereka lihat.

__ADS_1


"Bagaimana tuan patih bisa selamat?" Lasmini memecah keheningan.


"Ceritanya panjang nona, seseorang menyelamatkanku saat ajalku hampir tiba".


"Jadi benar kabar yang kami dengar selama ini, pemuda itu adalah Pangeran Malwageni". yang lain menimpali


Sudarta mengangguk pelan. Dia sudah mengetahui saat terakhir kali dia berkunjung ke Sekte Pedang Naga Api.


"Sukurlah jika Pangeran baik baik saja" tiba tiba perkataan Wijaya terhenti menyadari sesuatu. Tubuhnya bergetar hebat.


"Apakah Yang mulia ratu juga baik baik saja?. Semua yang hadir menjadi diam tak ada yang berkata satu patah kata pun.


"Aku mohon maaf tuan patih, Yang mulia ratu tidak selamat" terlihat penyesalan di wajah Sudarta. Tubuh Wijaya bagai tersambar petir mendengar kabar tersebut. Hatinya berkecamuk timbul rasa bersalah yang sangat besar. Tubuhnya terjatuh dalam posisi bersujud membungkuk.


"Aku pantas mati Yang mulia raja". Terdengar suara lirih Wijaya semakin mengecil. Semua yang hadir tak berani berkata apapun, mereka hanya mematung.


..............................................


"Kau sudah tumbuh dewasa nak" Seorang kakek berbaju hitam dengan janggut yang panjang tersenyum lembut pada Sabrang.


Sabrang menatap kakek itu sambil menyipitkan mata. Dia tidak dapat mengenali siapa kakek yang ada dihadapannya.


"Tidak lama lagi aku akan menuntunmu menemuiku Sebagai Pewaris trah Malwageni. Kemarilah nak biarkan aku menjabat tanganmu".


Sabrang berjalan mendekati kakek tua itu, tangannya berusaha menjabat kakek itu. Saat mereka berjabat tangan muncul kobaran api di seluruh tubuh Sabrang. Kakek itu dengan cepat menarik tangannya sebelum hangus terbakar. Wajah kakek itu berubah tegang


"Siapa kau? Bagaimana kau ada ditubuh anak ini?" Kakek itu menatap Sabrang tak percaya.


"Pergilah!!! Jika kau mendekat sekali lagi aku akan membakar hangus Ruh mu tanpa sisa". Suara Naga Api meninggi menatap tajam kakek tua itu.


Tiba tiba Sabrang terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sakit.

__ADS_1


"Aku bermimpi itu lagi, mimpi yang sama selama tiga hari berturut turut. Siapa sebenarnya kakek tua itu?".


__ADS_2