
Di halaman padepokan sekte Pedang Naga api terlihat puluhan pendekar gabungan aliran hitam. Tampak ki Barja berdiri paling depan memimpin pasukan sambil berteriak keras.
"Ageng! keluar kau," teriak ki Barja angkuh.
Tak lama ki Ageng terlihat muncul bersama beberapa murid andalannya.
"Ada angin apa sampai salah satu tetua Lembah Tengkorak bertandang di padepokanku?” tanya ki Ageng.
Ki Barja menatap asal suara tersebut. “Tak usah basa basi Ageng, aku datang untuk mencabut nyawamu” balas ki Barja sambil melepaskan aura hitam dari tubuhnya.
“Sekte Pedang Naga Api telah menarik diri dari dunia persilatan dan aku merasa tidak memiliki masalah dengan kalian, apa yang sebenarnya kalian inginkan?” ki Ageng masih berbicara pelan.
“Aku tak perlu alasan untuk memusnahkan sekte Pedang Naga Api," tepat setelah selesai bicara ki Barja melesat cepat kearah ki Ageng. Diikuti semua pendekar aliran hitam yang bersamanya.
***
Percakapan Suliwa dengan Wulan sari terhenti saat seorang gadis muncul di gua Kegelapan.
“Guru, maaf ada kabar buruk yang harus aku sampaikan," ucap Tantri sambil mengatur nafasnya yang terseggal akibat berlari dari padepokan Teratai Merah hingga gua kegelapan.
Wajah Wulan berubah seketika setelah melihat reaksi Tantri.
“Cepat katakan kabar apa yang kau bawa,” tanya Wulan sari gusar.
“Sekte Pedang Naga Api diserang kelompok gabungan aliran hitam,” jawab Tantri terbata bata.
"Diserang?" ucap Wulan sari dan Suliwa bersamaan.
"Benar guru, aku mendapat kabar dari salah satu pedagang yang biasa membawakan bahan makanan untuk kita," balas Tantri.
"Sekte Pedang Naga Api sudah lama mundur dari dunia persilatan, apa sebenarnya yang mereka cari dan rencanakan?" ucap Wulan sari sambil menatap Suliwa yang juga tampak bingung.
"Sepertinya mereka sudah mulai bergerak nona," jawab Suliwa yang tampak sedikit gelisah.
__ADS_1
"Mereka selama ini menahan diri bukan karena sekte Pedang Naga Api menarik diri dari dunia persilatan tetapi lebih karena ketakutan mereka akan kekuatan Pedang Naga Api. Jika kali ini mereka bergerak berarti ada sesuatu yang membuat mereka percaya diri," ucap Suliwa melanjutkan.
"Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Ilmu Pedang Langit yang mereka kuasai?" tanya Wulan Sari Penasaran.
Suliwa menggeleng pelan. "Aku tidak tau apa yang sebenarnya mereka rencanakan, tetapi bisa saja karena ilmu itu, sepertinya Kertasura mulai yakin dengan kemampuannya," balas Suliwa.
Suliwa kembali teringat saat terakhir kali berhadapan dengan Ketua Sekte Iblis Pedang itu. Dia begitu bernafsu untuk mendapatkan Pedang Naga Api.
"Jika benar Ilmu Pedang Langit berhasil dia kuasai bukankah tak ada pedang yang paling cocok dengan ilmu tersebut selain Pedang Naga Api?" tanya Wulan sari
Suliwa mengangguk pelan sambil terus berfikir untuk mengatasi masalah yang dihadapi sektenya itu.
"Jika benar demikian, maka akan sangat berbahaya jika Pedang Naga Api jatuh ke tangan mereka, apa yang akan anda lakukan tetua?" tanya Wulan Sari.
Suliwa terlihat memejamkan matanya sesaat, jika dia kembali ke sekte nya pun jelas bukan tandingannya, tenaga dalamnya sudah tidak sekuat dulu sejak dia memusnahkannya.
“Kakek apa yang kudengar tadi benar? Sekte Pedang Naga Api diserang oleh aliran hitam?” tanya Sabrang yang tiba tiba muncul khawatir.
"Tidak kek, aku harus kembali ke sekteku," jawab Sabrang.
"Apa kau sudah gila? saat ini mereka bukan tandingan mu, apa yang kau pelajari selama ini belum cukup untuk menghadapi mereka," ucap Suliwa.
"Apa aku harus menunggu disini saat sekte Pedang Naga Api diserang? apapun yang terjadi aku akan tetap kembali kesana," balas Sabrang sedikit kesal.
Suliwa terdiam saat mendengar jawaban Sabrang, dia kemudian menarik nafasnya panjang, pilihannya kali ini benar benar sulit.
Dia merasa belum saatnya Sabrang menerima Pedang Naga Api, tetapi melihat kemampuan Sabrang saat ini hanya dia yg dapat membantu Sekte Pedang Naga Api. Suliwa kemudian menatap Sabrang beberapa saat sebelum bangkit dan berjalan menuju kearah kotak kayu. Dia menatap sebuah pedang untuk beberapa saat sebelum lengannya menyambar pedang terbungkus kain putih.
Wulan sari menatap Suliwa tidak percaya, dia tau pedang apa yang terbungkus kain putih itu.
"Tetua, apa yang sebenarnya kau rencanakan? tubuhmu saat ini tak mampu menggunakan pusaka itu."
"Aku akan bertaruh padanya, kau boleh menganggapku gila," ucap Suliwa sambil melemparkan Pedang itu kearah Sabrang yang secara reflek ditangkapnya.
__ADS_1
“Kuserahkan Pedang itu padamu, berhati hatilah menggunakannya," ujar Suliwa memperingatkan.
Sabrang menerimanya dengan bingung, dia menatap pedang itu cukup lama, instingnya mengatakan ada sesuatu yang aneh dengan pedang yang berada ditangannya itu.
“Nona Wulan, aku ingin meminta bantuan sedikit padamu,” belum sempat Suliwa menyelesaikan perkataannya Wulan sari sudah mengangguk.
“Ikut denganku anak muda, akan kutunjukan jalan tercepat menuju sekte Pedang Naga Api," ucap Wulan Sari sambil melangkah keluar.
"Terima kasih guru, aku akan mengingat pesan guru padaku," Sabrang menundukkan kepalanya memberi hormat sesaat sebelum bergegas pergi mengikuti Wulan Sari dan Tantri.
Suliwa menatap kepergian mereka dengan tersenyum, “Aku harap kau ingat janjimu Naga Api, dia sangat berbeda denganku, ada sesuatu dalam tubuhnya yang jika dilatih akan membuatnya menjadi pendekar terkuat dunia persilatan."
***
Sementara itu di sekte Pedang Naga Api, Ki Ageng dan ki Barja telah bertukar beberapa puluh jurus hanya dalam waktu singkat, mereka saling menyerang tanpa ada yang berusaha mengalah. Pertarungan tampak seimbang,
“Ilmu Api Abadi ternyata sehebat yang didengungkan banyak orang, perubahan gerakannya benar benar menyulitkan, aku benar benar mengagumi jurus itu,” ucap ki Barja sambil tertawa keras.
Ki Ageng hanya diam dan terus menyerang sambil sesekali mengamati sekelilingnya untuk melihat murid muridnya bertarung. Ki Ageng memang bertarung dengan membagi konsentrasinya. Dia sangat khawatir dengan para muridnya, walaupun kemampuan mereka cukup menjanjikan namun sekte Pedang Naga Api sudah lama mundur dari dunia persilatan, sehingga praktis para muridnya belum pernah merasakan pertarungan sesungguhnya.
Apa yang di khawatirkan ki Ageng menjadi kenyataan, dia melihat Satria, salah satu murid kesayangannya mulai terpojok, pengalaman bertarung dan kecepatannya kalah jauh dari lawannya.
"Aku harus secepatnya melumpuhkannya dan membatu Satria, atau dia akan dalam masalah besar," gumam ki Ageng dalam hati.
Ki Ageng kembali meningkatkan kecepatannya, dia terlihat bergerak lincah sambil melepaskan jurusnya ketika melihat celah pertahanan ki Barja.
“Jurus Pedang api abadi tingkat 2 : tarian pedang Api," Tubuh ki Ageng tiba tiba menghilang dari hadapan ki Barja, dia muncul kembali tepat di sisi kanan dan mengayunkan pedangnya sekuat tenaga
"Sial, dia semakin cepat," ki Barja merubah sedikit tubuhnya sambil menarik pedangnya.
“Golok Setan tingkat dua : hawa iblis neraka,” kedua pedang pusaka beradu di udara yang membuat ledakan kekuatan tenaga dalam yang sangat besar.
Kedua pendekar itu sama sama terdorong mundur beberapa langkah, mereka saling menatap sambil mengatur nafas masing masing.
__ADS_1