
Setelah aura merah darah meluap dari tubuhnya, secara mengejutkan Darin mampu menekan balik Mandala dan memaksanya dalam posisi bertahan.
Mandala benar benar dibuat terkejut dengan kecepatan yang diperlihatkan Darin, dia bahkan harus menggunakan mata bulan Naraya untuk menghindari serangan serangan cepat yang datang secara beruntun.
"Tidak mungkin, tanpa ajian Langkah Dewa bagaimana bisa dia bergerak secepat ini," Mandala berusaha melepaskan diri dari tekanan dan memperlebar jarak tapi gerakan Darin justru semakin cepat.
"Aku tak menyangka tetua memiliki kekuatan sebesar ini," ucap Wardhana kagum.
"Ajian Pembakar Jiwa, dia sudah memutuskan untuk mati bersama Mandala," sahut Arsenio dengan suara bergetar, dia tidak menyangka sama sekali seorang pendekar yang memiliki prinsip hidup tinggi seperti Darin memutuskan menggunakan ajian terlarang seperti itu.
"Ajian pembakar jiwa?" tanya Wardhana terkejut.
"Ajian pembakar jiwa adalah ajian yang memaksa seluruh sendi tubuh bergerak di liar batas kewajaran. Jurus ini memang cukup mengerikan tapi efeknya akan menghancurkan tubuhnya dalam sekejap. Sepertinya dia sudah memutuskan untuk mati bersama Mandala. Bunuh diri adalah hal paling memalukan bagi seorang pendekar," jawab Arsenio lirih.
Wardhana terdiam dan larut dalam pikirannya, hatinya terasa sakit saat melihat seorang pendekar yang memiliki prinsip hidup seperti Darin pada akhirnya membuang semuanya dan menggunakan jurus terlarang untuk melindungi dunia persilatan yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.
"Kitab Sabdo Loji bukan hanya berhasil mencabut ribuan nyawa pendekar tapi juga merubah sifat manusia yang welas asih menjadi sangat kejam," ucap Wardhana dalam hati.
Rubah Putih yang melihat pertarungan dari jarak yang cukup jauh tak mengedipkan mata sedikitpun, dia tidak menyangka Darin memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi.
Mandala yang awalnya berada di atas angin dan sangat yakin mampu membunuh Darin dalam satu serangan seolah menghadapi lawan yang berbeda, walau hampir semua serangan dapat dihindarinya tapi Darin mampu mengunci gerakannya.
"Dari mana dia mendapatkan kekuatan sebesar ini dalam sekejap?" umpat Mandala yang terus bergerak menghindar.
Dia mencoba mengingat kembali isi kitab Sabdo Loji yang kini berada di tangan Agam karena seingatnya tidak ada petunjuk apapun mengenai jurus aneh yang digunakan lawannya itu.
"Sepertinya kini dunia persilatan sudah jauh lebih berkembang," Mandala merendahkan tubuhnya saat sebuah serangan cepat berusaha menjangkau lehernya.
"Pertahanan terbaik memang menyerang namun kau lupa satu hal, aku masih belum menggunakan seluruh kekuatanku," Mandala berputar cepat, sebelu menyerang titik buta Darin.
"Saatnya mengakhiri pertarungan ini," Mandala yang berada di posisi menguntungkan langsung menyerang cepat.
"Dia masih bisa lebih cepat?" Darin yang tidak menyangka Mandala bisa menyerang dalam posisi tertekan tampak tidak siap dengan serangan itu.
Saat semua orang yang melihat yakin Darin akan tewas dalam serangan kali ini, gerakan Mandala tiba tiba melambat dan memberi waktu Darin untuk menghindari serangan itu.
"Ada yang aneh dengan gerakannya?" Rubah Putih tiba tiba bergerak masuk pertarungan dan langsung menyerang Mandala.
"Ledakan tenaga dalam Iblis."
Tebasan golok Rubah Putih mengayun dengan cepat, namun Mandala mampu menghindar di detik terakhir.
"Kecepatannya kembali," Rubah Putih menarik serangannya saat golok pusaka hanya menebas udara.
"Jurus pedang menggetarkan langit tingkat dua : Amarah api neraka," tebasan demi tebasan pedang muncul dari sisi kirinya yang memaksa Rubah Putih menghindar.
"Suanggi!" teriak Rubah Putih sebelum menangkis serangan cepat dari arah belakang dan di saat bersamaan Darin menyerang dari sisi kanan.
Suara benturan terdengar dan memekakkan telinga saat pusaka mereka beradu. Rubah Putih dan Darin tampak terdorong beberapa langkah akibat efek benturan.
"Inikah kekuatan energi Mustika merah delima," umpat Rubah Putih sambil mengatur kembali kuda kudanya.
"Sial! aku masih belum bisa beradaptasi dengan tubuh baru ini," ucap Mandala dalam hati.
__ADS_1
Mandala mulai menyesali keputusannya untuk meninggalkan Swarna Dwipa lebih cepat dari yang diminta Agam. Walau dia memiliki Ilmu kanuragan tinggi namun tak mudah beradaptasi dengan tubuh baru setelah ribuan tahun terkurung dalam segel keabadian.
Namun Mandala terlalu percaya diri dengan ilmu yang dimilikinya sehingga memutuskan keluar dari gua es lebih cepat. Dia tidak menyangka ilmu kanuragan sudah berkembang pesat di dunia persilatan.
"Aku yakin beberapa kali gerakannya tadi melambat, sepertinya dia masih membutuhkan waktu beradaptasi dengan tubuh Naraya. Jika kami menyerang bersamaan mungkin bisa mengalahkannya," Rubah Putih memberi tanda pada Lingga untu membantu sebelum bergerak menyerang kembali.
Melihat Rubah Putih dan Darin menyerang, Lingga menarik pedangnya dan bergerak mengikuti mereka.
"Jadi kalian memutuskan menyerang bersamaan? baiklah, dengan begini akan jauh lebih mudah membunuh kalian semua," luapan Energi Mustika merah delima yang seolah tak ada habisnya langsung menekan sekitarnya.
Area pertarungan menjadi melebar, gesekan tenaga dalam yang keluar dari tubuh mereka menghancurkan apapun yang dilewatinya.
Satu yang akhirnya disadari Rubah Putih setelah mereka bertiga menyerang bersamaan, Mandala jauh lebih kuat dari Lakeswara.
Setelah Rubah Putih berhasil menyempurnakan Ledakan tenaga dalam Iblis, dia cukup yakin mampu mengalahkan Lakeswara namun Mandala berhasil mengimbanginya bahkan setelah Darin dan Lingga membantu.
Mandala bahkan sesekali melakukan serangan balik yang cukup merepotkan mereka bertiga.
"Tarian Iblis pedang," Lingga tiba tiba bergerak cepat saat melihat celah pertahanan, namun sekuat apapun dia menyerang Mandala selalu berhasil menghindari serangannya bahkan menyerang balik dengan Jurus pedang menggetarkan langit.
Rubah Putih dan Lingga berhasil menghindari serangan itu namun tidak dengan Darin yang seolah sengaja menerima serangan Mandala.
Ledakan Tenaga dalam kembali menekan area pertarungan saat Mandala berhasil mencuri serangan dan membuat Darin terlempar di udara.
"Jurus pedang Sabdo Palon tingkat dua : Cahaya penghancur Iblis," Darin kembali merubah gerakan tubuhnya dan menggunakan udara yang memadat disekitarnya sebagai pijakan untuk menyerang tiba tiba.
"Bagaimana mungkin?" Mandala yang tak menyangka Darin mampu bergerak bebas di udara terlambat bereaksi, dia membentuk perisai tenaga dalam untuk menghentikan serangan dahyat yang terarah padanya.
Ledakan besar menghancurkan semua yang ada disekitarnya saat energi pedang Darin membentur perisai tenaga dalam milik Mandala.
"Sepertinya tubuhku sudah mencapai batasnya, saatnya membawamu mati bersamaku," Darin mencengkram leher Mandala sebelum memusatkan tenaga dalam di sekitar dadanya.
Mandala tidak tinggal diam, dia berusaha melepaskan diri dengan menusuk pedangnya ke tubuh Darin.
Darin tersenyum kecil, dia sebenarnya sudah menunggu serangan itu untuk menyelesaikan rencananya.
"Sekarang saatnya," Rubah Putih dan Lingga tiba tiba bergerak bersamaan dan mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.
"Suanggi!"
"Kemamang,"
"Naga Api," Sabrang muncul tiba tiba dari dalam hutan dengan kobaran api besar di pedangnya dan langsung melesat bersama Lingga dan Rubah Putih.
Seolah digerakkan sesuatu, mereka langsung menyerang bersamaan saat ada kesempatan kerena sadar kekuatan yang ditunjukkan Mandala jauh di atas mereka terlebih Sabrang yang hampir separuh tenaganya sudah terkuras akibat pertarungan dengan Agam.
Andai Darin sang pertapa sakti tidak menggunakan Ajian terlarang miliknya, Rubah Putih pun sedikit ragu mampu mengalahkannya.
Tiga Energi besar datang bersamaan kearah Mandala yang masih berusaha melepaskan diri dari Darin.
Merasa sesuatu akan terjadi, Hanggareksa tiba tiba bergerak cepat menyambar tubuh Wardhana dan membawanya menjauh bersama Arsenio.
"Apa yang kau lakukan?" bentar Wardhana kesal.
__ADS_1
"Aku menyelamatkan nyawamu bodoh!" balas Hanghareksa cepat.
"Andai tubuh sialan ini bisa aku kuasai sepenuhnya, kalian semua sudah mati di tanganku," Mandala melepaskan energi Mustika Merah Delima dari tubuhnya sebelum waktu tiba tiba berhenti.
Tubuh Sabrang, Lingga dan Rubah Putih tampak mematung dan melayang di udara, tak ada satupun yang mampu bergerak disekitar pertarungan termasuk debu akibat serangan darin sebelumnya.
"Gawat, jurus ini," Sabrang langsung menggunakan ajian Inti Lebur Saketi tingkat akhir untuk menarik semua energi Naga Api dan anom untuk memaksa bergerak.
"Mata bulan Naraya aktif?" umpat Rubah Putih menyesal, dia seharusnya sudah bisa memperkirakan sejak awal.
"Kalian semua akan mati, tak ada yang bisa menghentikan aku," Mandala mencabut pedangnya dan mengayunkan ke leher Darin untuk membunuhnya.
"Puncak dari ajian pembakar jiwa adalah menghancurkan tubuh penggunanya dan mati bersama lawannya. Mandala, ikutlah bersamaku dan biarkan dunia persilatan bergerak seperti seharusnya karena alam tak akan mungkin bisa kau lawan," aura yang menyelimuti tubuh Darin sudah berubah sepenuhnya menjadi merah darah.
Tanah tiba tiba bergetar bersamaan dengan munculnya cahaya biru di tubuh Darin, dengan sisa sisa tenaganya dia memeluk erat Mandala yang hampir terlepas.
"Guru tugasku akhirnya selesai, semoga tidak ada Mandala lainnya. Aku serahkan sisanya pada anda tuan Rubah Putih, berhati hatilah karena sebenarnya ada yang lebih menakutkan dari Mandala," Darin menatap Sabrang sebelum ledakan besar menghancurkan sekitarnya.
"Gawat, mereka bisa mati karena ledakan ini," Mata Bulan Sabrang aktif tiba tiba bersamaan dengan munculnya Api merah pekat yang membentuk Naga raksasa dan mengurung ledakan besar itu.
Gesekan energi Ajian pembakar Jiwa dan Mustika Merah delima membuat ledakan jauh lebih besar.
"Hentikan tindakan bodohmu itu! tubuhmu bisa hancur dan kau akan mati seketika!" teriak Naga Api.
"Jika kakek Darin bisa melakukan itu karena melindungi apa yang menurutnya benar, apa kau pikir aku akan diam saja," luka seperti sayatan pedang mulai bermunculan di tubuh Sabrang.
Sabrang sebenarnya merasakan rasa sakit yang luar biasa namun dia menahannya sekuat tenaga.
Sementara itu di tempat yang cukup jauh, tepatnya di reruntuhan Gunung Padang tanah tiba tiba bergetar seolah bereaksi dengan kekuatan Sabrang.
Tanah disekitar reruntuhan mulai terbelah sebelum ledakan besar dari dalam tanah melemparkan sebuah pedang yang memancarkan aura jahat.
Pedang tersebut tampak berputar cepat di udara dan melesat cepat kesatu arah dan menghilang seolah menembus dimensi ruang dan waktu.
Ledakan ajian pembakar jiwa perlahan mengecil dan hilang akibat tekanan energi Naga Api.
"Syukurlah, aku berhasil," ucap Sabrang sebelum pandangannya menjadi gelap dan tubuhnya jatuh ke tanah.
"Apa kau tidak bisa sekali saja tidak membuatku terkejut? hampir saja sesuatu yang buruk tadi terjadi," Rubah Putih tiba tiba sudah berada di dekat Sabrang dan menangkap tubuhnya.
"Berakhir dengan baik ya," Lingga berjalan mendekati pusat ledakan namun wajah leganya tiba tiba berubah seketika saat hanya melihat tubuh Darin yang sudah hancur.
"Hati hati di sekeliling kalian, Mandala menghilang," teriak Lingga sambil mencabut pedangnya.
"Menghilang?" Rubah Putih kembali menarik goloknya dan bersiap dengan segala kemungkinan.
"Bagaimana mungkin dia bisa selamat dari ledakan yang bahkan Naga Api saja sulit menekannya?" ucap Rubah Putih terkejut sambil menatap sekitarnya.
Cukup lama mereka berdua mematung dengan nafas tertahan, Hanggareksa, Arsenio dan Wardhana bahkan belum berani mendekat saat melihat wajah menyeramkan Rubah Putih.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Wardhana yang menatap mereka dari kejauhan.
"Aku tidak yakin tapi wajah tuan Rubah Putih menunjukkan jika pertarungan ini seolah belum berakhir," balas Arsenio pelan.
__ADS_1
"Belum berakhir? bukankah Mandala sudah mati bersama ledakan itu?" tanya Wardhana semakin bingung.
"Mereka belum mengendurkan kewaspadaannya, aku tidak tau apa yang sedang terjadi tapi sepertinya tidak baik," jawab Hanggareksa pelan sambil menatap Sabrang yang masih belum sadarkan diri.