
Sebuah anak panah melesat cepat dan menancap di tubuh ayam hutan yang sedang berlari.
"Tak ada yang bisa lepas dari anak panahku," ucap Pandita sambil tertawa bangga.
"Anda memang yang terbaik tuan," balas Elang menyanjung.
Mendapat pujian dari orang kepercayaannya itu, wajah Pandita semakin bangga. Dia melangkah menuju tenda kecil yang memang khusus disediakan untuknya.
"Apa sudah ada kabar dari tuan Adiwilaga?" tanya Pandita pada Elang.
"Belum tuan, sepertinya dia sekarang jauh lebih hati hati dalam melangkah mengingat lawan kita adalah Wardhana namun sepertinya tuan Adiwilaga sudah mengutus seseorang untuk bertemu dengan pangeran Pancaka," jawab Elang cepat.
Pandita tampak memejamkan matanya sesaat, ada sedikit keraguan terlihat diwajahnya.
"Elang, apa menurutmu yang kulakukan ini salah?" tanya Pandita tiba tiba.
"Maksud tuan? tanya Elang bingung.
" Lawan yang kita hadapi ini sangat berbeda bahkan dari Paksi sekalipun, aku merasa kita sedang bermain main dengan kematian," jawab Pandita pelan.
"Apa kita punya pilihan tuan? Gusti ratu saat ini berusaha merubah semua aturan keraton mengenai keuangan kerajaan dan jika anda tidak melawan, kita akan berakhir di tiang gantungan," jawab Elang.
"Begitu ya," balas Pandita lirih, dia merasa saat ini terjepit oleh permainan Adiwilaga. Sebagai menteri Pakirakiran posisinya sangat penting dalam merotasi para pejabat pemerintahan.
Melalui Pandita inilah Adiwilaga bisa leluasa menempatkan orang orangnya di posisi penting keraton, dan akhirnya mau tidak mau dia ikut terseret kedalam konflik dengan Wardhana.
"Permainan panah anda begitu menakjubkan tuan, semoga kita tidak menjadi lawan," suara Lembu Sora mengagetkan Pandita.
"Kau terlalu memuji Sora, ilmu pedangku tak sebaik dirimu," jawab Pandita pelan.
"Kadang Ilmu pedang kalah oleh tipu muslihat tuan," balas Lembu Sora sinis.
Pandita tersenyum kecut, dia sangat memahami maksud ucapan Sora yang menyindirnya.
"Berburu adalah salah satu caraku untuk melepaskan penat dengan semua urusan kerajaan dan aku tidak suka di ganggu, jika tidak ada yang ingin dibicarakan silahkan pergi," Pandita bangkit dari duduknya dan mengambil busur panah sebelum melangkah pergi.
"Aku membawa pesan dari tuan Patih untuk anda, mohon diterima," jawab Sora.
"Letakkan di meja itu, aku akan membacanya nanti," Pandita mulai membidik panahnya kembali tampa memperdulikan kehadiran Lembu Sora.
"Terima kasih tuan, dan satu lagi pesan yang disampaikan tuan patih padaku, dia meminta waktu bertemu dengan anda untuk membicarakan mengenai nyonya selir Anjani," Lembu Sora menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.
Wajah Pandita berubah seketika setelah mendengar nama Anjani, dia menarik busurnya cepat dan kali ini panahnya meleset jauh dari sasaran.
"Tunggu!" teriak Pandita.
Lembu Sora menghentikan langkahnya sambil tersenyum kecil.
"Anda paling pintar mempermainkan sisi lemah orang lain tuan Patih," ucap Lembu Sora dalam hati takjub.
"Apa kalian mencoba mengancamku?" tanya Pandita sedikit geram.
"Aku hanya pengantar pesan tuan, anda bisa menanyakan langsung pada tuan Patih tapi jika aku boleh memberi saran pada anda, hindari berhadapan langsung dengan tuan patih untuk kebaikan anda sendiri.
Yang mulia saat ini mungkin adalah pendekar terkuat yang bisa membunuh siapa saja dalam sekejap, tapi tuan patih tak kalah menakutkan. Dia akan membunuh lawannya perlahan dengan rasa sakit yang jauh lebih besar dari tebasan pedang Naga Api," jawab Sora sambil melangkah pergi.
Tubuh Pandita bergetar hebat, dia kembali membayangkan nasib para pejabat yang terlibat dalam pengusiran Mentari beberapa purnama yang lalu. Mereka terkurung di ruang tahanan tanpa tau kapan mereka bebas dan tanpa ada pengadilan terlebih dahulu, Wardhana seolah ingin membuat mereka membusuk di ruang tahanan.
"Tuan," ucap Elang hati hati.
"Aku tau, mereka berusaha menggunakan keterlibatanku dalam rencana pemberontakan yang dilakukan nyonya selir dulu, sepertinya Wardhana berusaha menggunakan apapun untuk membuatku berlutut dihadapannya," jawab Pandita.
"Lalu apa yang akan anda lakukan tuan? apa tidak sebaiknya kita memberitahukan masalah ini pada tuan Adiwilaga," ucap Elang khawatir.
__ADS_1
"Apa kau bodoh hah? pengkhianatan pada Malwageni hukumannya mati dan Adiwilaga tidak akan bisa membantuku jika masalah ini kembali dibuka, aku tidak mau mengakuinya namun saat ini yang bisa membantuku hanya Wardhana," bentak Pandita kesal.
Elang langsung menundukkan kepalanya saat melihat tuannya marah, dia tidak menyangka Pandita akan semarah itu.
"Kita kembali ke keraton dan persiapkan pertemuanku dengan Wardhana, dan pastikan jangan ada yang tau termasuk Adiwilaga," perintah Pandita sambil melangkah pergi.
"Baik tuan," jawab Elang cepat.
"Aku telah memilih pihak yang salah," gumam Pandita lemas, sudah terbayang dalam pikirannya bagaimana Wardhana akan menekannya dengan memanfaatkan kasus pemberontakan puluhan tahun lalu.
***
"Bagaimana kakek bisa mengambil air di sungai dan membawanya ke puncak gunung setiap hari?" ucap Sabrang sambil mengatur nafas, dia menaruh dua wadah air di tanah dan beristirahat sejenak.
Setelah kondisi tubuhnya mulai pulih, Sabrang memutuskan membatu Wahyu Tama mengambil air dan mencari tanaman obat. Dia merasa tidak enak jika hanya tidur dan membiarkan Wahyu Tama bekerja sendirian.
Namun Sabrang tidak menyangka jika jarak sungai yang ada di lereng gunung sangat jauh dan jalurnya pun tergolong sulit dan menguras tenaga.
"Jika caramu membawa air seperti itu, ketika sampai di puncak gunung, wadah itu akan kosong," ucap Wahyu Tama sambil menunjuk wadah air milik Sabrang yang hanya terisi separuh.
Sabrang menoleh kearah wadah air yang dibawa Wahyu Tama, dia tampak terkejut melihat air yang dibawa pria itu tidak tumpah sama sekali.
"Jika kedua pergelangan tanganmu kuat, seharusnya kau bisa meredam getaran wadah air itu saat kau berjalan," Wahyu Tama meletakkan wadah air dikedua tangannya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Ilmu pedang dan pedang itu sendiri hanya alat atau perantara, hal yang paling penting dalam belajar seni pedang adalah tubuhmu sendiri terutama kedua pergelangan tanganmu. Ilmu pedang sehebat apapun tak akan terlalu berguna selama pergelangan tanganmu lemah.
Setiap perubahan gerakan pedang baik dalam suatu jurus atau pun perpindahan tingkatan jurus membutuhkan pergelangan tangan yang kuat agar gerakan pedangmu halus dan mematikan. Jurus jurus yang kau gunakan saat menghadapiku sebenarnya sangat kuat namun kedua tanganmu yang membuatnya melemah.
Aku memang terkejut saat kau bisa meniru jurus Pedang Pencakar langit tapi jika aku menghadapi jurus itu untuk kedua kali, kau tidak akan bisa bertahan dari seranganku," ucap Wahyu Tama pelan.
"Pergelangan tangan?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Semua ilmu pedang mengandalkan kecepatan dan perubahan arah pedang untuk menekan lawan dan kunci dari semua itu adalah pergelangan tangan. Saat kau bertarung menggunakan jurus pedang, beban berat bukan berada di kedua kakimu tapi di pergelangan tangan.
"Jadi begitu, itulah kenapa dalam satu jurusnya saja gerakan pedangnya sangat rumit dan mematikan, ternyata kuncinya adalah pergelangan tangan," ucap Naga Api mengerti.
"Jadi maksud kakek ilmu pedangku?" tanya Sabrang makin penasaran.
"Jika aku boleh menilai, apa yang kau lakukan selama ini bukan meniru jurus, semua yang kau tunjukkan itu benar benar jurus asli. Aku tidak tau apakah itu bakat atau kutukan tapi kau memang bisa mempelajari apa saja sekali lihat dan itu sangat mengerikan jika kau berwatak jahat.
Selama ini jurusmu terlihat tiruan karena pergelangan tanganmu masih lemah, aku memakluminya karena bahkan pendekar kuat pun sering melupakan hal kecil namun penting ini. Jika kau melatih kedua pergelangan tanganmu sampai kuat dan dengan bakat yang kau miliki, akan sulit mencari pendekar yang bisa menandingimu," ucap Wahyu Tama.
Wahyu Tama mengambil dua wadah air itu kembali sebelum melompat beberapa langkah ke depan. Sabrang tampak takjub saat melihat tak ada sedikitpun air yang tumpah dari wajah itu.
"Berlatihlah untuk meningkatkan kekuatan tanganmu, setelah itu ada yang ingin aku tunjukkan padamu," ucap Wahyu Tama sambil menyerahkan wadah air itu pada Sabrang.
"Mengambil air lagi?" wajah Sabrang berubah masam, dia kembali teringat saat masih berada di sekte Naga Api. Saat itu ki Ageng selalu selalu memerintahkannya mengambil air tanpa mengajari ilmu pedang sedikitpun.
Kini, dia mulai mengerti maksud gurunya itu, bahwa ilmu kanuragan sehebat apapun membutuhkan tubuh yang kuat untuk memaksimalkannya.
"Kakek, sudah lama tidak bertemu denganmu, semoga kau baik baik saja," ucap Sabrang dalam hati sambil mengangkat kedua wadah air itu, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat air itu kembali tumpah.
"Sial," umpat Sabrang kesal.
Sabrang terus mengumpat dalam hati, dia sudah berjalan sangat lambat namun air tetap saja tumpah karena kondisi jalan yang terjal. Beberapa kali dia terpaksa harus menghentikan langkahnya saat air tumpah makin banyak.
Dan tanpa dia sadari, Wahyu Tama memperhatikannya dari jauh sambil memegang kitab Sabdo Palon.
"Apa tindakanku kali ini benar? Kitab Sabdo Palon sepertinya dibuat oleh dia sebagai tandingan dari Sabdo Loji yang saat itu sangat meresahkan dunia persilatan. Berbeda dari Sabdo Loji yang menjelaskan tentang ilmu pengetahuan, seni perang, Ramalan dan Ilmu pedang, Sabdo Palon khusus membahas seni pedang tingkat tinggi.
Aku tidak bisa membayangkan sekuat apa anak itu saat bakat alaminya ditempa oleh kitab ini," ucap Wahyu Tama pelan.
***
__ADS_1
Beberapa dayang keraton tampak bingung saat melihat Mentari keluar dari kamarnya dengan pakaian pendekar, dengan perut yang sudah mulai membesar baju itu tampak sedikit kekecilan.
"Nyonya," ucap salah satu dayang menyapanya.
"Antarkan aku menemui Gusti ratu," balas Mentari pelan, wajahnya masih menampakkan kesedihan yang mendalam.
"Baik Nyonya," jawab dayang itu cepat.
Saat mereka mulai berjalan keluar, Sekar Pitaloka tampak berjalan kearah paviliun selir bersama beberapa dayang kerajaan.
"Gusti Ratu?" Mentari buru buru berjalan menyambut Sekar Pitaloka dan memberi hormat.
"Hormat pada Gusti ratu," ucap Mentari sopan.
"Tari? apa yang kau lakukan dengan pakaian itu?" tanya Sekar Pitaloka bingung.
Mentari tampak bingung untuk menjawab, dia mengajak Sekar Pitaloka masuk kedalam ruangannya.
Setelah duduk di ruangan, Sekar Pitaloka kembali bertanya hal yang sama.
"Ampun Gusti ratu, hamba ingin meminta izin untuk mengunjungi Ibu selir di Kelompok teratai merah," ucap Mentari pelan.
"Mengunjungi Wulan Sari?" Sekar mengernyitkan dahinya.
Mentari hanya mengangguk pelan, dia tidak berani menatap wajah Sekar karena dia yakin tak akan diizinkan keluar istana dengan kondisi perutnya yang sudah membesar.
"Aku tau kau masih bersedih dengan hilangnya Yang mulia, tapi kau harus memikirkan kandunganmu Tari. Bagi seorang wanita saat sudah mengandung, dia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaganya," ucap Sekar Pitaloka melanjutkan.
Air mata mulai keluar dari kedua bola mata indahnya, Mentari hanya menangis tanpa berkata apapun.
"Menangis lah untuk membuat hatimu lega tapi jangan pernah kehilangan keyakinan jika Yang mulia masih hidup, jagalah kandunganmu agar saat dia kembali, apa yang ada didalam perutmu akan menjadi hadiah terbaik untuknya," Sekar Pitaloka memegang kedua tangan Mentari.
"Hamba sangat yakin Yang mulia masih hidup tapi ada yang aneh Gusti Ratu, kekuatan tongkat cahaya putih sampai saat ini tidak berhasil menemukan keberadaan energi Naga Api," jawab Mentari.
"Lalu kau akan mencarinya? bagaimana jika dia kembali saat kau pergi? bagaimana jika kau dan kandunganmu terluka?" tanya Sekar Pitaloka.
Sekar Pitaloka menarik nafas panjang saat tangis Mentari kembali pecah.
"Aku tak akan mengizinkanmu keluar keraton sendirian tapi aku bisa mengajakmu ke suatu tempat untuk menenangkan pikiranmu," ucap Sekar Pitaloka.
"Gusti ratu?" Mentari mulai berani menatap wajah Sekar Pitaloka.
"Ikutlah denganku, ada sebuah gua rahasia di sekte Tapak Es utara yang selalu membuatku tenang saat pikiran sedang kacau," ajak Sekar Pitaloka.
"Tapi Gusti...," Mentari tidak melanjutkan ucapannya.
"Aku tau, kakak dan Tapak Es utara telah hancur, tapi mereka tidak akan menemukan gua yang menjadi tempat aku dan kakakku bersembunyi dulu," jawab Sekar Pitaloka
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Menteri Pakirakiran dalam struktur pemerintahan Majapahit adalah semacam dewan Pelaksana pemerintahan. Saya memang mengambil beberapa jabatan di keraton Malwageni dari struktur Majapahit.
Oh iya hari ini, kamis 22 Oktober 2020 PNA tepat menembus chapter ke 400... Terbit pertama kali pada Hari Rabu, tanggal 5 Februari 2020 pukul 14.00 Wib. Kenapa saya pilih tanggal 5 Februari bukan tanggal 6,7 atau seterusnya? karena setelah berdiskusi dengan beberapa dukun beranak, hari rabu adalah hari baik.
Konon di hari rabu banyak manusia manusia diputuskan cintanya sehingga saya memutuskan untuk berdiri di atas penderitaan para Tuna Asmara untuk membuat cerita ini.
Dan dihari ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada seluruh reader PNA yang telah mendukung karya pertama saya ini.
Terima kasih untuk pulsa, donasi di k4ryakarsa bahkan ada yang memberi saya sebuah hp Redmi 8.. terima kasih buat semuanya....
Setelah berfikir selama beberapa hari di antara ejekan pedas mantan yang kini telah menikah (Walaupun pasangannya kayak Tutup Panci, masih KEREN gw kemana mana) saya ingin membuat satu catatan penulis receh yang isinya akan banyak menghina para manusia yang tidak memiliki pasangan. Coretan itu akan saya kasih Judul Kitab Tuna Asmara, dan akan saya up di MT.
Buat yang merasa Gak laku, tolong jangan dibaca karena hinaan saya selalu PEDAS terhadap para Jomblo.
__ADS_1
VOTE