
"Maaf aku terlambat tuan," ucap Wardhana saat memasuki aula utama dan melihat dua utusan Arkantara sudah menunggu di ruangan.
"Jangan terlalu sungkan tuan patih," dua utusan itu berdiri dan menyambut Wardhana ramah.
Wardhana menoleh kearah Candrakurama sebelah utusan itu sebelum duduk dihadapan mereka.
"Tunggulah di luar," ucap Wardhana pelan.
"Baik tuan," Candrakurama memberi hormat sebelum melangkah pergi.
"Maaf tuan, Gusti ratu tidak bisa hadir karena perutnya mulai sakit, sepertinya tidak lama lagi akan melahirkan dan beliau mempercayakan semuanya padaku," ucap Wardhana membuka obrolan.
"Kami mengerti tuan, kelahiran pangeran harus diutamakan, semoga dia akan menjadi raja yang besar suatu saat," jawab Tama basa basi.
"Terima kasih tuan, semoga tanpa kehadiran Gusti ratu tidak membuat anda kecewa," Wardhana menarik nafasnya perlahan sebelum melanjutkan ucapannya. "Bisa kita mulai pertemuan ini?"
Tama mengangguk pelan, dia menoleh kearah Parulian sebelum bicara.
"Seperti yang aku katakan kemarin, kami adalah utusan dari kerajaan kecil di ujung Swarna Dwipa yang sedang berkembang. Yang mulia Saragi sangat mengagumi Malwageni sebagai sebuah kerajaan besar. Beliau kemudian mengutus kami untuk menyampaikan permohonan bekerja sama antara dua kerajaan," ucap Tama pelan.
"Bekerja sama? kami sangat menyambut baik niat Arkantara untuk bekerja sama dan aku yakin ini akan menjadi hubungan yang hebat antar dua kerajaan tapi sistem di Malwageni sedikit berbeda, kami harus meminta pendapat semua pejabat tinggi keraton," jawab Wardhana.
"Tidak masalah tuan, kami akan menunggu dengan sabar," jawab Tama sedikit kecewa, dia merasa Wardhana sedang mengulur waktu.
"Gusti ratu akan memutuskan dalam beberapa hari tuan, ku harap anda bersabar," Wardhana mencoba meyakinkan Tama untuk menunggu setelah melihat wajahnya sedikit berubah.
"Terima kasih tuan, semoga kami mendapatkan kabar baik karena sebagai kerajaan yang masih berkembang, Arkantara membutuhkan bimbingan Malwageni yang terkenal memiliki pasukan tempur terbaik," balas Tama.
"Anda terlalu merendah, Kekuatan Arkantara dengan pasukan kuil sucinya sudah sering kudengar, sepertinya pasukan Angin selatan yang harus banyak belajar," ucap Wardhana sambil tertawa.
Pertemuan penuh tawa namun saling berusaha membaca gerakan lawan itu berlangsung cukup lama hingga Wardhana terpaksa menyudahi karena dia sudah memiliki janji bertemu Sabrang.
Satu yang akhirnya dipahami oleh Wardhana dari pertemuan itu, Arkantara ingin lebih fokus pada kerjasama dalam bidang militer dan berusaha menggiringnya untuk melihat lebih dekat suasana aula prajurit dengan alasan ingin melihat kekuatan Malwageni yang mampu menaklukkan dua kerjaan besar di Jawata.
Wardhana yang mulai menyadari rencana mereka kemudian mencoba mengulur waktu untuk memasang perangkap sebagai awal dari rencana panjangnya menaklukkan Swarna Dwipa.
"Aku pasti akan menemani anda berkeliling tapi tidak hari ini tuan karena kami ada pertemuan dengan para menteri untuk membicarakan tawaran kerjasama Arkantara, jika anda mau bersabar sedikit, besok aku pasti akan mengantar berkeliling," jawab Wardhana.
"Baik tuan, kami akan bersabar menunggu, Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi kami mohon undur diri dan terima kasih sudah menyambut kami dengan baik," Tama bangkit dari duduknya dan memberi hormat sebelum melangkah pergi.
"Malwageni akan menyambut siapapun yang menawarkan persahabatan yang menguntungkan kami," jawab Wardhana pelan.
"Arkantara akan mengingat itu tuan."
Wardhana menatap kepergian para utusan itu sambil tersenyum kecil, dia menoleh ke salah satu ruangan sebelum memanggil gurunya.
"Guru sudah mendengar maksud kedatangan mereka bukan? apa pendapat guru?" tanya Wardhana pelan.
"Seperti yang sudah kita perkirakan kemarin, mereka memang mengincar Malwageni dan berusaha merusak dari dalam. Namun ada hal yang masih belum bisa aku mengerti, dengan kekuatan yang dimiliki Arkantara, seharusnya mereka bisa langsung menyerang," jawab Paksi yang dari tadi bersembunyi di ruangan itu.
"Mungkin jawabannya adalah uang, mengerahkan pasukan dalam jumlah banyak ke Jawata membutuhkan uang dan logistik yang tidak sedikit. Tanpa itu semua, sekuat apapun mereka akan hancur dengan mudah. Itulah sebabnya mereka mencoba melemahkan Malwageni terlebih dahulu dengan alasan bekerja sama sebelum menyerang," jawab Wardhana.
"Jika memang seperti itu, bukankah lebih mudah menjebak mereka masuk kedalam lubang?" timpal Paksi cepat.
"Itu yang sedang aku lakukan guru." Wardhana tampak berfikir sejenak sambil menulis sesuatu di gulungannya.
__ADS_1
"Guru bisakah aku meminta bantuan anda untuk mengawasi pangeran Pancaka?" tanya Wardhana tiba tiba.
"Mengawasinya?"
"Mereka pasti mencari semua celah untuk melemahkan kita dan satu satunya celah terbesar adalah ambisi pangeran Pancaka. Pangeran bisa menjadi kelemahan besar Malwageni tapi jika di gunakan dengan baik, dia bisa menjadi pusat semua rencana untuk menguasai Swarna Dwipa," Wardhana kemudian menjelaskan secara detail rencana yang telah dia susun termasuk menggunakan Pancaka sebagai pancingan awal.
"Kau menggunakan Pancaka sebagai umpan?" Paksi menggeleng pelan, dia tidak habis pikir dengan muridnya itu, bagaimana bisa menggunakan pangeran Malwageni yang juga keturunan Arya Dwipa sebagai umpan.
"Aku hanya ingin menyelesaikan dua masalah dengan satu gerakan karena bagaimanapun pangeran tetap akan menjadi musuh dalam selimut. Guru mungkin menganggap aku gila tapi apapun akan kulakukan untuk memastikan Yang mulia terus berkuasa," balas Wardhana tegas.
"Kesetiaanmu pada Yang mulia benar benar mengagumkan," ucap Paksi dalam hati.
***
"Maaf Yang mulia, hamba terlambat," ucap Wardhana pada Sabrang yang duduk di atas pohon sambil membaca kitab Sabdo Palon.
"Apa pertemuannya sudah selesai?" Sabrang menutup kitab itu dan melompat turun.
Wardhana mengangguk pelan, "Seperti yang hamba perkirakan, mereka memang ingin menyerang Malwageni."
Wardhana kemudian menjelaskan semua hasil pertemuan dan rencana yang dia buat untuk mengatasi masalah ini.
"Pancaka ya...adikku itu memang selalu menjadi sumber masalah, jika rencana paman bisa membuka matanya maka lakukanlah, sudah saatnya dia tidak berlindung dibalik nama ayah," jawab Sabrang pelan.
"Maaf Yang mulia jika hamba lancang terhadap pangeran," balas Wardhana.
"Tidak paman, dia memang harus diberi pelajaran, aku tidak mungkin bisa melindunginya terus. Dia harus berdiri di atas kakinya sendiri dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya."
"Rencana ini akan mulai berjalan saat Candrakurama bergerak, hampa akan melaporkan setiap perkembangan apapun pada anda," ucap Wardhana menimpali.
"Paman, aku ingin paman membantuku memecahkan kata kata ini."
Wardhana terlihat mengernyitkan dahinya, dia membaca tulisan itu perlahan.
"Mengayunkan pedang bersamaan dengan jiwamu yang semakin kuat, tak ada pedang yang tajamnya melebihi kekuatan hati, menghancurkan musuh dengan kelembutan karena kekerasan akan merusak makna pedang."
"Itu adalah kunci untuk mempelajari ilmu pedang yang saat ini sedang kuperdalam," balas Sabrang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mengayunkan pedang bersamaan dengan jiwamu yang semakin kuat? apa mungkin ini berhubungan dengan tekad Yang mulia?" ucap Wardhana sambil membaca tulisan berikutnya.
Saat mereka sedang berusaha memecahkan arti tulisan itu, Candrakurama tiba tiba muncul dengan wajah tergesa gesa.
"Hormat pada Yang mulia," Candrakurama menundukkan kepala sebelum melanjutkan ucapannya. "Selamat Yang mulia, Gusti ratu sudah melahirkan seorang pangeran, hamba di minta ibu ratu untuk memanggil tuan Patih."
"Dewi sudah melahirkan?" tanya Sabrang terkejut, tampak kebahagiaan terpancar di wajahnya.
"Benar Yang mulia, itu yang dikatakan Ibu ratu saat memanggilku," jawab Candrakurama cepat.
"Syukurlah, paman bantu aku masuk keraton, aku ingin melihat wajah anakku," ucap Sabrang bersemangat.
***
"Dewi, selamat atas kelahiran pangeran, dia terlihat sangat tampan seperti Yang mulia," ucap Sekar Pitaloka sambil menggendong pangeran kecil.
"Terima kasih ibu ratu," balas Tungga Dewi terharu, matanya terus menatap bayi laki laki yang ada di pelukan Sekar Pitaloka.
__ADS_1
"Apa kau sudah memiliki nama untuk anak ini?" tanya Sekar penasaran.
Tungga Dewi menggeleng pelan, "Hamba ingin Yang mulia yang memberikan nama pada pangeran," jawab Tungga Dewi lirih, ada rasa sedih yang tiba tiba hinggap di hatinya.
"Dewi, dengarkan ibu, saat ini yang paling penting adalah pangeran dan dirimu dalam keadaan sehat. Aku yakin cepat atau lambat dia akan kembali," balas Sekar Pitaloka, dia bisa merasakan ada kesedihan terpancar di wajah Tungga Dewi.
"Terima kasih ibu," Tungga Dewi tersenyum lembut, dia berusaha tersenyum di hadapan Sekar Pitaloka.
"Aku harus pergi dulu Dewi, tuan Rubah Putih meminta bertemu hari ini, aku akan kembali dan sering mengunjungimu," Sekar Pitaloka menyerahkan bayi kecil itu, dia mencium cucu pertamanya itu sebelum melangkah pergi.
"Pangeran, kau mirip sekali dengan Yang mulia," Tungga Dewi mencium lembut kening bayi mungil itu.
Tak lama, bayi kecil itu menangis keras dan membuat Tungga Dewi bingung, dia terus mengayun lengannya untuk menghentikan tangis anaknya namun tak berhasil.
Beberapa dayang tampak berlari masuk setelah mendengar tangis bayi yang tak kunjung berhenti.
"Maaf Gusti ratu, apa yang terjadi dengan pangeran?" ucap dayang itu khawatir.
"Aku tidak tau, dia tiba tiba menangis," jawab Tungga Dewi bingung.
"Gusti ratu, mungkin pangeran sedang lapar," ucap salah satu dayang sopan.
"Lapar?" Tungga Dewi yang masih belum mengerti harus bagaimana hanya mengikuti petunjuk dayang istana itu.
Tak lama setelah minum susu, pangeran kecil itu tertidur di pelukan Tungga Dewi.
"Beliau sangat mirip dengan Yang mulia, Gusti ratu," ucap salah satu dayang bersemangat.
Tungga Dewi tersenyum sambil mengangguk pelan, rasa sakit yang tadi dia rasakan seolah hilang seketika saat menatap wajah pangeran.
Namun tak lama, wajah Tungga Dewi berubah seketika saat merasakan sebuah energi yang sangat dikenalnya.
"Tinggalkan aku sendiri," ucap Tungga Dewi tiba tiba, dia terlihat merapihkan rambut indahnya.
"Baik Gusti ratu, kami mohon diri," balas dayang itu cepat sebelum melangkah keluar.
"Hamba tau anda masih hidup Yang mulia," suara Tungga Dewi bergetar, tak lama sesosok tubuh yang mengenakan pakaian prajurit angin selatan muncul dari balik pintu.
"Hormat pada Gusti ratu," goda Sabrang sambil tersenyum lembut.
"Yang mulia," Air mata mulai menetes di pipinya bersamaan dengan suara tangis bayi kecil dalam pelukan Tungga Dewi seolah tau jika ayahnya datang.
"Pangeran Sutawijaya Maheswara Damar, aku sudah menyiapkan nama itu sejak lama," balas Sabrang sambil berjalan mendekat.
"Maheswara?" Tungga Dewi mengernyitkan dahinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah bertapa selama ribuan tahun, Kitab Tuna Asmara akhirnya terbit, ada sedikit kesalahan karena seharusnya kitab ini terbit malam minggu.
Setau saya untuk novel baru memerlukan review selama tiga hari jadi saya memutuskan menerbitkan kemarin pagi dengan harapan malam minggu sudah terbit tapi ternyata pagi tadi sudah terbit.
Silahkan kunjungi Kitab tuna Asmara dengan mengetik di kolom pencarian atau klik saja akun saya. Kitab yang paling dicari itu sudah mulai bisa di baca.
Kitab tuna Asmara dibuat sebagai alat untuk berkomunikasi dengan kalian jadi jangan tersinggung. Buat yang baperan dilarang untuk membaca.
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih dan selamat membaca Kitab Tuna Asmara