Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kesetiaan Tungga Dewi


__ADS_3

Setelah berkemas dan memastikan semua rencana dan strategi penyerangan matang, pagi itu Sabrang dan rombongan berlayar meninggalkan Hujung tanah dan menuju Jawata.


Krisna dan Mahawira tampak mengantar kepergian mereka sampai kapal berlayar namun tanpa mereka sadari, Prabaya yang merupakan ketua sekte Elang langit memperhatikan mereka dari jauh.


"Kenapa anda tidak segera bertindak ketua?, bukankah ini saat yang tepat untuk merebut apa yang ada ditangan mereka?", tanya Wasta bingung.


Prabaya menggeleng pelan, "Aku bisa saja menyerang saat pengguna Naga api itu terluka akibat pertarungan dengan Umbara namun sepertinya ada yang jauh lebih menarik dari sekedar apa yang terkubur di dalam sekte Api dan angin. Ikuti mereka dan jangan sampai kehilangan jejak, setelah mereka mendapatkan apa yang dicari kita akan merebutnya," perintah Prabaya pada Wasta.


"Baik ketua", balas Wasta.


Perjalanan pulang ke tanah Jawata kali ini sedikit berbeda karena kehadiran Candrakurama yang secara mengejutkan memutuskan mengabdi pada Sabrang.


Candrakurama menolak posisi ketua yang diberikan Krisna dan memilih memberikannya pada Mahawira. Tekadnya sudah bulat untuk mengabdi pada pendekar yang dia kagumi, Sabrang damar.


Mahawira sempat tak percaya kakak seperguruannya yang terkenal tidak suka diatur mau mengikuti Sabrang namun mereka akhirnya merelakan kepergian salah satu murid paling berbakat milik sekte Api dan angin itu setelah melihat tekadnya.


Candrakurama tampak berdiri di dek kapal sambil menatap guru dan adik seperguruannya yang sudah mengecil, dia sesekali menundukkan kepalanya untuk memberi hormat pada gurunya.


"Dia adalah guru yang hebat," ucap Sabrang yang berdiri disampingnya.


"Yang mulia", Candrakurama menundukkan kepalanya.


"Tenaga dalam mu begitu besar sampai membuatku terkejut saat kita bertarung namun kau belum mampu memaksimalkannya. Jurus pedang penghancur Naga sepertinya lebih menitikberatkan pada ledakan tenaga dalam dari pada kecepatan. Aku menyadarinya saat meniru jurus mu dalam pertarungan melawan Umbara.


Kecepatan mu yang luar biasa kadang membuat tenaga dalam mu terbagi, itulah yang membuat efek serangan mu belum terlalu mematikan. Kurangi kecepatan tubuhmu saat merapal jurus itu maka serangan mu akan jauh lebih mematikan," ucap Sabrang pelan.


Candrakurama terlihat terkejut setelah mendengar ucapan Sabrang, dia baru mengerti apa kesalahan yang membuat jurusnya kadang tidak terlalu mematikan.


Dia yang selama ini terlalu mendewakan kecepatan tak pernah berfikir jika kecepatan justru melemahkan jurusnya.


"Pengamatan anda benar benar tajam," balas Candrakurama.

__ADS_1


"Apa aku boleh meminta sesuatu padamu?," tanya Sabrang tiba tiba.


Candrakurama mengangguk pelan, "Jika hamba bisa mengabulkannya maka akan hamba usahakan".


"Cara bertarung mu hampir mirip dengan Tungga dewi yang mengandalkan kecepatan, yang membedakan hanya jurusnya yang menuntut kecepatan. Aku ingin memintamu mendampinginya di Hibata dan membimbingnya. Dia tak mungkin selamanya di orgnisasi Hibata, sampai saatnya tiba dia mundur aku ingin kau menggantikannya menjadi ketua."


"Hibata?", Candrakurama mengernyitkan dahinya.


"Hibata adalah organisasi rahasia pelindung Malwageni yang kelak akan menjadi pasukan penjaga keluarga Raja, aku yakin kau adalah orang yang tepat menduduki posisi itu".


Candrakurama terdiam sejenak sebelum menyetujuinya, dia awalnya hanya ingin membantu Sabrang yang kini menjadi pendekar yang diseganinya.


Candrakurama tak pernah berfikir Sabrang akan begitu cepat memberinya posisi tinggi mengingat mereka pernah menjadi musuh beberapa hari lalu.


Perjalanan selama beberapa hari dilalui tanpa kesulitan berarti hingga sampailah mereka di tanah Jawata.


Sabrang yang terus berlatih didampingi Tungga dewi selama perjalanan pulang mulai bisa menguasai beberapa tingkatan jurus Pedang jiwa.


Kedekatan diantara Raja dan Ratu Malwageni itu mulai terlihat saat Tungga dewi menemani Sabrang berlatih.


Tungga dewi kadang mulai berani merajuk pada pria yang dicintainya itu, hal yang selama ini tak pernah dia lakukan.


Setelah menempuh setengah hari perjalanan, mereka sampai di lereng gunung merapi, tempat makam Sekar pitaloka. Sabrang duduk didepan makam itu sambil mengelus patok kayu yang berada di ujung makam.


"Ibu, aku datang kembali untuk menjenguk mu namun aku tidak datang sendiri kali ini. Aku bersama Tungga dewi, gadis yang ibu jodohkan denganku. Dia sekarang menjadi pendekar yang sangat kuat, kuharap ibu dan ayah kini bisa tersenyum melihatku", ucap Sabrang pelan sambil menoleh kearah Tungga dewi.


"Kemarilah dan sapa ibuku", ajak Sabrang.


Tungga dewi berlutut dihadapan makam Sekar pitaloka.


"Hamba menghadap Yang mulia ratu, mohon maafkan hamba jika belum mampu menjadi yang anda inginkan", ucap Tungga dewi.

__ADS_1


"Tunggulah sebentar, aku akan mencari buah buahan untuk mengisi perut", ucap Sabrang sambil melangkah pergi.


Cukup lama Tungga dewi mematung sebelum memberanikan diri bicara.


"Yang mulia, mungkin hamba tak pernah bertemu dengan anda namun hamba yakin anda adalah Ratu yang hebat. Jika anda mengizinkan, hamba ingin menjadi ratu yang hebat seperti anda dan memiliki keturunan seperti Yang mulia. Semoga anda tidak kecewa dengan gadis biasa seperti hamba. Hamba berjanji akan melakukan apapun untuk membantu Yang mulia mendapatkan apa yang diinginkannya", Tungga dewi menghentikan ucapannya saat melihat kedatangan Sabrang yang membawa beberapa buah ditangannya.


"Makanlah, kita akan tinggal disini selama beberapa hari untuk berlatih. Kau harus terus meningkatkan jurus pemusnah ragamu, aku akan membimbing mu disela latihan ku".


"Terima kasih Yang mulia", balas Tungga dewi.


***


"Perkiraan lokasi gerbang Telaga khayangan api berada disini namun aku sedikit ragu untuk masuk", ucap Wardhana pada Ciha dan Emmy.


"Ragu?", Emmy mengernyitkan dahinya.


"Lokasi ini terkenal dengan nama hutan larangan yang konon berdekatan dengan air terjun lembah pelangi namun tak ada yang tau apakah air terjun yang konon sangat indah itu benar benar ada atau hanya cerita khayalan karena tak ada yang berani masuk hutan larangan".


"Semenakutkan itukah hutan larangan?," tanya Emmy kembali.


"Banyak pendekar yang tak bisa kembali setelah masuk hutan larangan dan kejadian yang paling membuat orang takut adalah hilangnya seluruh anggota sekte Bunga darah yang berjumlah ratusan orang. Mereka nekat masuk kedalam hutan larangan karena ingin memastikan apa yang ada didalam hutan itu.


Jika dipikir lagi sepertinya hilangnya mereka ada hubungannya dengan Masalembo, jika benar gerbang utama Masalembo ada di hutan larangan maka mereka tak akan membiarkan orang masuk sembarangan. Kita harus berhati hati saat masuk kesana", Wardhana terlihat memberi tanda titik ditiga lokasi dekat hutan larangan.


"Aku akan membagi tim menjadi tiga gelombang, Tim pertama akan diketuai Lingga yang bertugas sebagai tim pembuka jalan. Mereka akan bergerak senyap menyisir area hutan dan memastikan keamanan tim utama. Tim kedua akan bertugas sebagai pendukung andai tim pembuka jalan menemui kendala. Sedangkan tim utama akan dipimpin langsung oleh Yang mulia, kita akan berkomunikasi melalui segel udara milik Ciha. Salurkan tenaga dalam kalian ke lengan kanan dan gerakkan dua kali jika menemui masalah, Ciha akan langsung merasakan tanda yang kalian kirimkan.


Semua komando utama ada ditangan Yang mulia, jangan bertindak sendiri sendiri atau akan mengacaukan formasi yang sudah ku bentuk.


Formasi akan berubah jika sudah masuk hutan larangan sesuai dengan kondisi didalam hutan maka komunikasi antar tim penyerang sangat menentukan keberhasilan kali ini, kuharap kalian semua mengingat itu", ucap Wardhana.


"Baik tuan, kami akan mengingatnya", ucap Ciha dan Emmy berbarengan.

__ADS_1


"Dua hari lagi kita akan bergerak menuju gunung tidar, masih ada waktu mempelajari taktik yang sudah ku buat. Jangan sampai ada kesalahan dalam pertempuran kali ini karena lawan yang kita hadapi bukan sembarangan".


__ADS_2