Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Manusia hasil Percobaan


__ADS_3

Wardhana tampak kembali mendatangi ruang rahasia yang kemarin mereka buka, Jika kemarin dia sempat bimbang dan merasa tidak yakin sehingga tak terlalu fokus memperhatikan sekitarnya kini dia telah mantap dan memutuskan bahwa ada yang salah dengan ruangan itu.


Dukungan yang diberikan Sabrang membuatnya yakin dan semakin bersemangat membongkar rahasia besar yang disembunyikan Umbara.


"Aku ikut denganmu tuan" Ciha muncul tiba tiba dibelakang Wardhana.


"Kau?" Wardhana mengernyitkan dahinya.


"Aku pernah salah membaca petunjuk Dieng dan hampir membahayakan Sabrang, aku akan ikut memastikan agar tak ada yang mengganjal lagi dihatiku".


Wardhana tersenyum kecil "Terima kasih atas bantuanmu, ayo kita liat lagi apa yang kemarin terlewat didalam sana".


Wardhana terus menatap ruang rahasia dihadapannya, sesekali dia menyentuh ruangan itu seperti mencari sesuatu.


Pandangan matanya berhenti disebuah dinding yang sepertinya sedikit berbeda dari dinding lainnya.


"Lembab?" gumam Wardana heran.


Wardhana mengernyitkan dahinya, seingatnya di tiga Rumah para dewa lainnya tak pernah ditemukan dinding ruangan yang lembab karena rumah para dewa dibangun sangat detail. Sirkulasi udara menjadi ciri khas setiap rumah para dewa karena yang membangunnya tidak ingin kelembaban merusak apa yang tersimpan didalamnya.


"Jangan jangan" Wardhana tampak mencabut pedangnya dan menghantamkannya kediding ruangan. Beberapa bagian dinding hancur dan berserakan di lantai.


"Tuan apa yang anda lakukan?" Ciha mendekati Wardhana, dia merasa Wardhana sedang frustasi karena bingung dengan semua misteri selama ini.


"Bangunan ini baru dibuat". ucap Wardhana tiba tiba. "Apa yang selama ini mengganggu pikiranku ternyata ini" ucap Wardhana bersemangat.


Ciha terdiam saat melihat reruntuhan bangunan itu, dia benar benar takjub pada Wardhana.


Ciha tidak bisa membayangkan jika Wardhana tidak menyadarinya, mereka akan pergi dari Balidwipa dengan kunci palsu yang mungkin sudah dipersiapkan Umbara.


"Lalu dimana ruangan asli itu tuan?". tanya Ciha penasaran.


"Tak jauh dari sini, jika mereka menggunakan logika yang tadi kugunakan maka seharunya diruang ketua sekte itulah letaknya".


"Tapi bukankah kita sudah memeriksanya beberapa kali tuan? tak ada apapun disana".


"Aku menyadari sesuatu saat Yang mulia menyerahkan catatannya. (Semua yang kau lihat belum tentu kenyataan dan semua yang semu mungkin kenyataan yang tersembunyi).

__ADS_1


Beberapa misteri di ruang rahasia sebelumnya mengajarkanku bahwa pemuda misterius itu sangat menyukai mempermainkan orang, namun dia tak sadar permaian yang dia buat justru menuntun kita semakin dekat dengannya. Dia sepertinya sangat tertarik pada misteri bersusun. Kau tau kenapa ruang rahasia palsu ini dibuat disini bukan ditempat lain?". Wardhana melangkah kesudut ruangan tempat sebuah obor tertancap didinding ruangan.


"Seperti kebiasaanya membuat misteri bersusun, dia membuat ruangan ini untuk mempermainkan kita sekaligus menyembunyikan tuas ruang rahasia itu. Obor ini bukan untuk menerangi ruangan namun tuas yang terhubung dengan ruang rahasia sebenarnya". Wardhana menarik obor itu kebawah sebelum melangkah keluar.


"Sebaiknya kita periksa lagi ruang ketua sekte". ucapnya sambil tersenyum kecil.


"Aku kalah segala galanya" Ciha tersenyum kecut sesaat sebelum melangkah mengikuti Wardahan.


***


Wardhana dan Ciha tampak menuruni tangga dan berjalan dilorong gelap. Tepat seperti dugaan Wardhana, ruangan ketua Sekte Kerta putih digunakan untuk menyembunyikan ruang rahasia yang selama ini mereka cari.


Sedikit berbeda dengan ruang rahasia lainnya, ruangan ini tampak jauh masuk kedalam tanah. Terowongan panjang dan sempit menyambut mereka selama berjalan.


Wajah Wardhana tersenyum puas saat melihat sebuah ruangan diujung gua, dia melangkah cepat mendekati ruangan itu dan membuka tuas yang ada dindinding gua.


Sebuah ruangan yang selama ini mereka cari terbuka, ruangan yang dihiasi emas tampak menyambut mereka.


Wardhana mengernyitkan dahinya saat melihat tulisan di dinding ruangan.


"(*Masalembo adala**h* sebuah kesalahan sejak awal, Para penguasa dunia menyembunyikan segalanya disana termasuk tubuh mereka agar bisa bangkit kembali suatu saat. Kami yang mempunyai sedikit kelebihan bakat dan fisik ditangkap dan dijadikan alat percobaan ilmu abadi dan kanuragan terkuat.


Trah dwipa dianugrahi tubuh tujuh bintang yang menarik perhatian mereka. Mereka memasukkan sesuatu ketubuhku yang membuatku berubah. Keputusasaan membawaku pada jurang kehancuran namun diakhir hidupku aku menemukan secercah harapan baru. Mungkin darah iblis ditubuh kami adalah kutukan hasil ujicoba mereka namun jika bisa menguasainya akan menjadi satu satunya harapan untuk mengalahkan ilmu tertinggi milik para penguasa dunia.


Trah dwipa dan keturunannya selamanya akan menanggung darah ini tapi kuharap siapapun kalian yang berhasil menemukan pesan ini gunakan darah kutukan ini untuk menghancurkan mereka. Aku hanya mampu menyegel mereka sementara waktu, kuharap kalian mengerti takdir Dwipa).


Wardhana hampir tak bisa bernafas setelah mengetahui fakta ini.


"Tuan" Ucap Ciha lirih.


"Trah Dwipa adalah hasil ujicoba mereka, rahasiakan ini dari Yang mulia sementara waktu". ucap Wardhana lirih.


"Tak perlu paman, aku sudah mendengar semuanya". ucap Sabrang pelan.


"Yang mulia" Wardhana menundukkan kepalanya dan berlutut dihadapan Sabrang.


"Jadi kami adalah salah satu alat ujicoba mereka?" suara Sabrang bergetar.

__ADS_1


"Yang mulia mohon...". Wardhana menghentikan ucapannya saat Sabrang memberinya tanda untuk diam.


Sabrang terlihat menahan amarahnya, untuk beberapa saat tubuhnya diselimuti kobaran api namun tak berlangsung lama.


"Temukan Masalembo apapun caranya, akan kuhancurkan mereka sampai tak bersisa".


"Hamba akan berusaha sekuat tenaga Yang mulia". ucap Wardhana pelan.


"Kita pergi sekarang juga, persiapkan diri kalian". ucap Sabrang dingin sambil melangkah pergi.


"Tapi yang mulia" Wardhana berusaha menahan Sabrang.


"Apa paman mau membantah ucapanku?".


"Hamba tak berani Yang mulia".


Wardhana masih berlutut setelah kepergian Sabrang. Dia benar benar terkejut Sabrang untuk pertama kalinya membentaknya.


"Dia membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan ini. Biarkan dia sendiri untuk menenangkan diri, sebaiknya kita cepat bersiap sesuai perintahnya". Ciha menepuk pundak Wardhana untuk menenangkannya.


"Bantu aku temukan para penguasa dunia itu, akan kupastikan mereka menerima balasannya walau nyawakuntaruhannya".


Ciha mengangguk pelan "Aku pasti akan membantu anda sampai semua ini selesai tuan, kita akan hancurkan mereka bersama sama".


Wardhana melangkah gontai menuju ruangannya bersama Ciha. Pikirannya benar benar kacau saat ini. Di satu sisi dia berhasil mengalahkan rencana Umbara namun disisi lain dia merasa menyesal telah menemukan tempat rahasia itu dan membuka rahasia masa lalu trah Dwipa.


"Saat ini kita membutuhkan pikiran yang jernih tuan, jika Sabrang saat ini sedang dikuasai amarah maka anda yang harus berfikir jernih. Seperti yang dikatakan tetua Brajamusti, Naga kembar akan saling melengkapi. Pikirkan ucapanku baik baik tuan". Ciha menundukan kepalanya dan melangkah kekamarnya untuk mempersiapkan keberangkatan mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bagi yang ingin mendukung Author bisa mengunjungi


https://\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*.com/ Rickypakec


hapus spasi didepan huruf R


Terima kasih.....

__ADS_1


__ADS_2