
(Sekte Api dan Angin, Daratan Hujung Tanah)
"Sekte Langit merah telah hancur?" Krisna tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya setelah mendengar kabar yang disampaikan Candrakurama.
Selama puluhan tahun mereka mencoba melacak keberadaan Langit merah namun tak pernah berhasil.
Yang membuat Krisna makin terkejut adalah Langit merah dihancurkan oleh organsisasi Hibata. Sebuah organisasi yang baru didengarnya hari ini.
"Hibata?" gumam Krisna dalam hati.
"Itu yang kudengar dari beberapa orang yang kusebar di Jawata guru" jawab Candrakurama.
"Apa kau sudah mengetahui identitas Hibata?".
Candrakurama menggeleng pelan "Sangat sulit melacak keberadaan mereka, selain karena ini kemunculan pertama mereka didunia persilatan, praktis tak ada lawan yang dibiarkan hidup".
Krisna menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya.
"Setelah kemunculan pemuda misterius yang kabarnya mampu menghancurkan sebuah sekte seorang diri beberapa waktu lalu, kini muncul Hibata. Sepertinya mereka semua mengincar kitab Paraton".
"Apa yang akan kita lakukan guru?".
"Tak mudah menghadapi mereka semua, apalagi jika pengguna Naga api ikut bergerak. Persiapkan semua pendekar untuk bertempur, kita harus menjaga kitab itu walau nyawa taruhannya. Aku tidak ingin ada kekacauan yang lebih besar jika kitab itu jatuh pada orang yang salah karena cepat atau lambat mereka akan menemukan kita".
"Baik guru". jawab Candrakurama.
***
Setelah memerintahkan anggotanya untuk kembali ke Tapak es utara, Tungga dewi bergerak kearah Kadipaten Rogo geni dengan menghindari pos perbatasan.
Dia sengaja mengambil jalan memutar untuk menghindari keramaian.
Tungga dewi menghentikan langkahnya sesaat sebelum melompat pagar kadipaten, dia bergerak lincah diantara atap bangunan dan mendarat disebuah ruangan.
Tungga dewi melepaskan penutup wajah dan capingnya setelah memastikan tidak ada yang melihatnya.
Dia kemudian berjalan santai untuk menghindari kecurigaan.
"Maaf tuan, dimana aku bisa menemui tuan Adipati?" tanya Tungga dewi ramah saat berpapasan dengan salah satu prajurit Rogo geni.
"Tuan Adipati? maaf nona sepertinya hari ini dia tidak bisa ditemui. Tuan Adipati sedang ada pertemuan dengan Yang mulia, mungkin ada yang bisa kusampaikan?".
"Ah tidak perlu tuan, Yang mulia memerintahkanku untuk menyampaikan langsung padanya. Aku akan menunggu sampai beliau selesai" jawab Tungga dewi.
Raut wajah prajurit itu seketika berubah setelah mendengar ucapan Tungga dewi.
__ADS_1
"Anda diminta Yang mulia datang?" tanya prajurit itu.
Tungga Dewi mengangguk pelan.
"Maafkan atas ketidaktahuan ku nona, mari aku antarkan keruangan Adipati" prajurit itu bergegas mengantarkan Tungga dewi.
Prajurit itu menghentikan langkahnya didepan sebuah ruangan dan mengetuk pintu.
"Maaf Yang mulia, hamba mengantarkan nona Tungga dewi" ucap Prajurit itu sopan.
"Biarkan dia masuk" jawab Wardhana dari dalam.
Tungga dewi melangkah masu ruangan dan langsung berlutut dihadapan Sabrang.
"Hamba kembali Yang mulia" ucap Tungga dewi sopan.
"Duduklah, jangan terlalu sungkan, aku tak biasa kau memperlakukanku seperti ini. Aku lebih suka saat kau hampir membunuhku di sekte Tapak es utara" goda Sabrang sambil tersenyum.
"Yang mulia" jawab Tungga dewi pelan.
Sabrang tertawa melihat reaksi Tungga dewi, dia kemudian mempersilahkan Tungga dewi duduk.
"Hamba telah membawa apa yang anda minta" Tungga dewi mengeluarkan gulungan dari balik pakaiannya.
"Mereka sudah mengetahui keberadaan Masalembo Yang mulia" ucap Wardhana pelan.
"Maksud paman?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Ilmu kanuragan ruang dan waktu yang dikuasai langit merah sepertinya kompensasi yang diberikan atas tunduknya mereka pada Masalembo namun mereka tidak benar benar tunduk. Penyerangan pada tapak es utara adalah bukti pembelotan mereka. Sepertinya pemuda itu telah menyusup kebanyak sekte dengan imbalan ilmu kanuragan. Kita harus berhati hati, saat ini kita tidak tau siapa lawan dan kawan karena bisa saja dia menyusup ke sekte aliran putih".
"Gawat, Bibi Mantili besok akan mengumpulkan tokoh aliran putih dan netral untuk membicarakan pembentukan aliansi untuk menghadapi Masalembo. jika ada penyusup disana maka Masalembo akan mengetahui rencana paman". ucap Tungga dewi khawatir.
Wardhana menggeleng pelan "Tidak nona, pertemuan ini justru kesempatan yang paling baik untuk membuka topeng mereka dan Hibata yang akan membuka topeng mereka dan menegaskan kita tidak ada hubungannya dengan Hibata".
"Maksud tuan?". Tungga dewi mengernyitkan dahinya.
"Masalembo bukan lawan yang mudah mudah dihadapi, dengan ilmu pengetahuan dan jaringan informasi yang mereka punya, aku yakin mereka dengan mudah mencari hubungan kita dengan Hibata namun jika Hibata menyerang Tapak es utara? apa ada yang berfikir kita beraliansi dengan Hibata?".
"Menyerang tapak es utara? aku?" Tungga dewi tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
Wardhana kemudian menjelaskan rencanannya pada Tunga dewi.
"Kita akan mendapat dua keuntungan saat ini, selain membuka topeng para pendukung Masalembo kita juga akan terbebas dari tuduhan hubungan dengan Hibata. Gerakan Hibata tidak akan mudah terbaca dan menjadi senjata mematikan Masalembo".
"Lalu apa yang harus kulakukan untuk meyakinkan mereka?".
__ADS_1
"Membunuh Yang mulia". jawab Wardhana pelan.
"Apa kau sudah gila?" bentak Tungga dewi setelah mendengar ucapan Wardhana. Tungga dewi bahkan hampir mencabut pedangnya anda Wardhana bukan orang kepercayaan Sabrang.
"Tinggalkan kami berdua paman" ucap Sabrang tiba tiba. Dari awal Sabrang sudah tau akan seperti ini, Tungga dewi tak mungkin mau menyerangnya.
"Baik Yang mulia" ucap Wardhana pelan.
"Yang mulia, hamba tak mungkin menyerang anda". ucap Tungga dewi pelan.
"Aku tau" jawab Sabrang singkat.
"Lalu rencana itu?".
"Apa paman berani membunuhku?". tanya Sabrang.
Tungga dewi menggeleng pelan "Tapi Yang mulia".
Sabrang menciptakan energi keris ditangannya dan langsung menancapkan tepat dijantungnya.
Tungga dewi menjerit ketakutan saat keris itu terlihat menancap didada Sabrang namun tak lama raut wajahnya berubah lega saat tak melihat darah dari tubuh Sabrang.
"Bagaimana bisa?" ucapnya heran.
"Aku menciptakan energi ruang dan waktu ditubuhku, keris ini memang terlihat seperti menancap ditubuhku namun sebagian keris ini berada didimensi lain. Lakukan dengan cepat besok tepat ditempat ini".
"Tapi yang mulia, aku tidak bisa Aku takut salah menyerang dan melukai anda".
Sabrang meraih lengan Tungga dewi dan menggenggamnya.
"Ibu menjodohkanku denganmu itu artinya kau adalah calon Ratu Malwageni. Besok adalah saat yang paling penting apakah rencana paman Wardhana akan berjalan lancar. Tanggung jawabmu sama seperti yang kuemban, merebut Malwageni dari Majasari. Masalembo merupakan batu sandungan terbesar Malwageni, kuharap kau membantuku".
"Tapi bagaimana bila aku salah perhitungan dan melukai anda?".
"Aku percaya padamu, lakukan seperti biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan. Kepergian kami ke Hujung tanah sudah terlalu lama tertunda, kuharap masalah ini cepat selesai agar kami tidak menunda kembali perjalanan mencari kepingan kunci terakhir".
Tungga dewi sedikit ragu sebelum menganggukan kepalanya. Wajahnya tampak begitu terkejut setelah mendengar Sabrang menyebutnya sebagai calon Ratu Malwageni.
"Apa aku salah bicara?" tanya Sabrang saat melihat Tungga dewi terdiam.
"Tidak Yang mulia, hamba akan berusaha melakukannya dengan baik". ucap Tungga dewi sambil menundukkan kepalanya.
\=\=\=\=\=
Vote Mbang
__ADS_1