Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertempuran di mulai


__ADS_3

"Semua persiapan malam ini sudah selesai? Aku tidak ingin ada yang terlewatkan".


"Semua sudah selesai ketua, penjagaan di semua tempat sudah diperketat, aku juga meliburkan jadwal Latihan bagi murid Kencana Ungu".


Seorang Pria tua paruh baya mengangguk pelan.


"Aku ingin kau bertindak tegas bahkan terhadap putriku sendiri jika ingin menggagalkan pertemuan dengan Lembah tengkorak". Aura pekat tiba tiba menyelimuti tubuh Pria tersebut. Namannya Damarsunu, dia adalah Ketua Sekte Kencana Ungu.


"Aku akan melakukan yang terbaik untuk anda ketua" Sudawirat menatap takjub aura yang menyelimuti tubuh Damarsunu.


Sudawirat adalah wakil ketua sekte Kencana Ungu, dia merupakan orang terkuat kedua di sekte Kencana Ungu.


"Apakah ada yang mencurigakan dari kamar anakku?".


Sudawirat mengagguk "Sebenarnya beberapa hari ini orang ku mengawasi kamar nona Nilam ketua". Sudawirat kemudian mendekat kepada Damarsunu dan membisikan sesuatu.


"Sudah kuduga dia akan melakukan itu, tempatkan beberapa pendekar Ahli di sana, aku ingin dia terkurung disana". Terpancar amarah dari wajah Damarsunu.


"Baik tetua".


..................................


Indra sena berjalan cepat menuju kediaman Nilam sari, wajahnya penuh dengan kekhawatiran.


"Nona sepertinya ketua menyadari sesuatu, penjagaan dikediaman nona makin diperketat. Bahkan aku melihan beberapa pendekar ahli ditempatkan di setiap sudut tempat ini".


Nilam sari agak terkejut mendengarnya, seingatnya dia dan Indra sena sangat berhati hati dalam bertindak.


"Bagaimana dengan tuan Wijaya? Apakah sudah masuk ke dalam sekte?" Wajah Nilam sari mulai menampakan kekhawatiran.


"Aku belum mengetahuinya nona, kita tidak diijinkan keluar masuk Sekte saat pertemuan".


"Kita tidak dapat menunggu terlalu lama, aku khawatir mereka telah mendapatkan kitab tersebut".


"Tapi beberapa pendekar Ahli telah ditempatkan di kediaman nona, kita tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini, kita perlu rencana".

__ADS_1


"Aku akan pergi dengan atau tanpa mereka". Wajah Nilam sari terlihat kalut, dia tidak bisa membayangkan jika kitab golok terbang jatuh ketangan Aliran hitam maka akan terjadi kekacauan di dunia persilatan.


Tiba tiba Lasmini muncul di jendela kamar dan langsung masuk kedalam kamar.


"Nona penjagaan malam ini makin ketat, Sepertinya Ada yang tidak beres. Kita harus berhati hati perasaanku mengatakan ini bukan hal baik" Lasmini berbisik pelan pada Nilam sari.


"Tapi aku harus segera menuju aula pertemuan, jika tidak maka kitab itu akan menjadi milik Lembah tengkorak".


"Nona nilam bersabarlah, Tuan Wijaya sedang merencanakan sesuatu. Kita harus menunggu sebentar".


Lasmini menatap kesekelilingnya seperti sedang mencari sesuatu. Pandangannya terhenti ke tempat penyimpanan pakaian Nilam sari.


"Nona aku ingin meminta bantuan anda sedikit".


Nilam sari mengernyitkan dahinya mendengar permintaan Lasmini namun dia tidak bertanya terlalu banyak. Dia berjalan ke arah lemari pakaiannya dan mengambil sesuatu.


...........................


Pintu kamar Nilam sari terbuka, terlihat Nilam sari dan Indra sena berjalan keluar. Tiba tiba beberapa pendekar yang berjaga menghadangnya.


"Nona Nilam hanya ingin mencari udara segar, sudah beberapa hari dia dikurung di dalam kamar". Indra sena terlihat kesal melihat para penjaga menahan langkahnya.


"Ini perintah ketua tuan Indra, anda harusnya mengerti apa yang terjadi jika melawan perintah ketua". Pendekar tersebut menghardik Indra sena, dia tidak perduli apapun alasan Nilam sari.


"Tapi nona hanya ingin berjalan jalan sebentar saja, aku berjanji akan kembali bersama nona secepatnya". Indra masih meyakinkan para pendekar yang menghalangi jalannya.


"Tuan Indra harusnya lebih mengerti jika aturan Sekte di atas segalanya. apapun alasan kalian aku tidak akan mengijinkan siapapun melewatiku".


Indra tersenyum kecut, dia menoleh kearah Nilam sari meminta persetujuan, terlihat Nilam sari mengangguk pelan.


"Apakah harus dengan kekerasan terlebih dahulu agar kalian mau memberikan jalan pada Nona nilam?". Tatapan Indra tajam terarah pada pendekar tersebut.


"Anda akan menyesal tuan jika melakukan hal itu". Pendekar tersebut memegang pedangnya dalam posisi siaga.


Tiba tiba Indra menyerang pendekar itu dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


"Lari nona!!" Indra berteriak pada Nilam sari. Tiba tiba Nilam berlari kencang.


"Jangan sampai lolos tangkap dia!". Penjaga tersebut terlihat kesal. Beberapa pendekar mengejar Nilam sari.


"Kau akan menerima akibanya telah melawan ketua" pendekar tersebut menyerang Indra dengan cepat.


Indra mundur beberapa langkah mencoba menangkis serangan Pendekar tersebut.


"Kau selalu terbawa emosi Bongoh" Indra tersenyum penuh makna.


"Sudah lama aku ingin meminta petunjukmu tuan". Bongoh kembali menyerang indra dengan pedangnya. Kali ini dengan kecepatan yang berlipat ganda.


Indra terlihat masih dapat mengimbangi gerakan pedang Bongoh.


"Kecepatanya berbeda dari terakhir kali kami bertemu, apa yang terjadi padanya selama ini". Indra masih mengingat dengan jelas beberapa bulan lalu saat dia berhadapan dengan Bongoh. Saat itu kemampuan Bongoh jauh dari yang dia lihat hari ini.


"Pedang pemburu iblis" tubuh Indra bergerak cepat menyerang Bongoh. Gerakan pedangnya makin cepat membuat bongoh sedikit kewalahan.


Bongoh terpukul mundur dengan luka sayatan di tangannya. Kesempatan ini tidak di sia siakan indra.


Tubuhnya melesat cepat menyerang Bongoh. Pedangnya terlihat dialiri tenaga dalam yang besar. Saat pedang indra hampir mengenai Bongah tiba tiba seseorang melesat cepat menyerang indra. Indra mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan yang mengarah padanya.


...................................


"Mau pergi kemana lagi nona? Kau sudah terkepung. Mari ikut kami baik baik, ketua memerintahkan anda kembali ke kamar".


Terlihat 6 pendekar menengah mengepung Nilam sari, salah seorang pendekar terlihat berusaha terus membujuk Nilam sari untuk menyerah.


Nilam sari tiba tiba merapal sebuah jurus "Tarian Rajawali" pedang Nilam sari menyerang para pendekar tersebut membuat mereka terpental mundur.


"Kau bukan Nona nilam, siapa kau?". Salah satu pendekar menyadari jurus yang digunakan wanita tersebut bukan milik sekte Kencana ungu.


Wanita tersebut membuka penutup kepalanya. Perlahan terlihat wajah Lasmini dengan senyum dingin menatap mereka.


"Saatnya membuat perhitungan dengan kalian". Tubuh Lasmini tiba tiba menghilang dari pandangan para pendekat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2